Saat pesta berlanjut, Seungwoo meninggalkan aula dan mencari Ayana. Ia tidak mendekat tiba-tiba. Ia berhenti di ambang balkon dan meminta izin untuk berbicara.
"Aku boleh masuk?"
Ayana mengangguk. Miran tetap berdiri di dekatnya.
"Go Jeong akan terus menekan dengan aliansi itu," kata Seungwoo. "Aku ingin menolaknya secara terbuka, tetapi ia akan memakai isu pewaris untuk menyerangku."
Ayana memandang aula dari balik pilar. "Apa hubungannya dengan saya?"
"Jika kau mengizinkan, aku akan mengatakan bahwa kau mengandung anakku. Itu akan menjelaskan bahwa ada pewaris. Tapi pengumuman itu bisa membuatmu menjadi sasaran politik. Orang-orang akan membicarakanmu dan bayi ini."
Ayana terdiam. Ia teringat janji Seungwoo bahwa kehamilannya tidak akan diumumkan tanpa izin. Kini ia meminta izin, bukan mengambil keputusan sendiri.
"Apa yang akan terjadi kalau saya menolak?"
"Aku tetap akan menolak perjodohan. Aku tidak akan menyebutmu atau anak itu."
Miran menatap Ayana, menunggu keputusannya. Seungwoo tidak mendesak dan tidak menjanjikan bahwa semua orang akan menerima kabar tersebut.
Ayana akhirnya berkata, "Saya mengizinkan Yang Mulia menyebut nama saya dan mengatakan bahwa saya manusia yang mengandung anak Yang Mulia. Jangan jadikan saya alat aliansi atau ungkap hal pribadi lain tentang saya."
"Aku akan mengikuti batas itu."
Seungwoo kembali ke aula sendirian. Ayana tetap di balkon bersama Miran, memegang pagar batu dan menunggu. Ia telah memberikan izin, tetapi tetap merasa takut akan akibatnya.
Dari aula, suara Seungwoo terdengar meminta perhatian seluruh tamu. Ia bersiap menolak perjodohan Go Jeong dengan alasan yang telah disepakati bersama Ayana.
***
Seungwoo kembali ke aula. Para bangsawan menunggu jawabannya, sementara Go Jeong berdiri dengan senyum tenang di samping Putri Cha Yeon.
"Aku menolak perjodohan yang diumumkan malam ini," kata Seungwoo. "Aku tidak pernah menyetujuinya, dan tidak akan membiarkan keputusan tentang hidupku dibuat tanpa persetujuanku."
Go Jeong mengangkat alis. "Yang Mulia tentu memahami bahwa negeri membutuhkan kepastian mengenai pewaris."
"Namanya Ayana. Ia manusia dan sedang mengandung anakku," kata Seungwoo. "Anak ini adalah pewaris yang kalian tuntut, tetapi ibunya bukan alat perjanjian politik. Aku tidak akan menyerahkan hidupnya kepada siapa pun demi aliansi."
Bisik-bisik segera menyebar. Putri Cha Yeon tampak terkejut, sementara Go Jeong tetap tersenyum seolah kabar itu tidak mengejutkannya.
Seungwoo memandang ke arah balkon dan tidak memanggil Ayana. Namun Ayana memilih sendiri untuk melangkah masuk bersama Miran. Ia berdiri beberapa langkah darinya, memberi kesempatan kepada para bangsawan untuk melihat bahwa ia bukan rahasia yang bisa dipakai sebagai alat perjanjian. Tangannya gemetar, tetapi ia tetap tegak.
Go Jeong menundukkan kepala dengan sopan. "Selamat atas kabar baik itu, Yang Mulia." Senyumnya tidak berubah, tetapi sorot matanya tampak dingin.
Putri Cha Yeon menatap Go Jeong, lalu Seungwoo. Ia tidak ikut campur dalam pertengkaran politik itu. Seungwoo mengakhiri pengumuman dan memerintahkan pesta tetap berjalan.
Setelah kembali ke balkon, Ayana menarik napas panjang. Ia masih gemetar karena baru saja diperkenalkan di depan semua orang, tetapi Miran menggenggam tangannya.
"Ia menyebut namamu dan mengatakan bahwa kau manusia," kata Miran.
"Ya. Ia meminta izin lebih dulu dan mengikuti syaratku."
Namun Ayana tahu kehidupan mereka di istana tidak akan kembali tenang. Go Jeong kini tahu Seungwoo memiliki calon pewaris, dan ia tidak tersenyum seperti orang yang menerima kekalahan.
***
Sehari setelah pesta, atas permintaan Ayana, Seungwoo memanggil Hangyul, penjaga perbatasan yang menurut cerita Ayana selama ini diam-diam menolongnya. Ia ingin memastikan Ayana memiliki orang kepercayaan di istana, terutama setelah kehamilannya diumumkan di depan bangsawan.
"Eunha masih berada di dunia manusia?" tanya Seungwoo.
"Ya. Dia belum tahu keadaan Ayana yang sebenarnya."
"Bawa dia ke sini jika Ayana menginginkannya. Atur perjalanan melalui portal dengan penjagaan yang cukup."
Hangyul membungkuk. "Saya akan menanyakannya dulu kepada Ayana."
Ayana setuju setelah mendengar tawaran itu. Ia rindu pada Eunha dan ingin menjelaskan sendiri mengapa ia berbohong tentang pergi ke luar negeri. Namun ia khawatir perjalanan melewati portal akan menyakitkan Eunha.
Hangyul meyakinkan bahwa ia akan mendampinginya dan menunggu sampai tubuhnya pulih setelah tiba. Ia kemudian kembali ke dunia manusia untuk menjemput Eunha.
Eunha membawa tas kecil dan masih kesal karena Hangyul menolak menjelaskan apa pun lewat pesan. "Kalau ini soal Kak Ayana, aku ikut. Tapi setelah itu kalian berdua harus menjelaskan semuanya."
Hangyul mengangguk. Ia tidak memaksanya masuk portal sebelum ia siap. Mereka menunggu sampai penjaga membuka jalur dan memastikan tempat tujuan aman.
***
Cahaya portal berputar di antara pepohonan. Hangyul menggenggam tangan Eunha dan menjelaskan bahwa perjalanan itu akan terasa menyakitkan sebentar. Eunha menarik napas, lalu mengangguk.
Begitu melewati portal, tubuhnya terasa seperti ditarik dari segala arah. Ia meringis dan jatuh berlutut di tanah Taewon. Hangyul segera menopangnya sampai rasa sakit itu mereda.
"Aku baik-baik saja," kata Eunha dengan napas terputus-putus. "Tapi kalau ada perjalanan berikutnya, beri tahu dulu sebelum menyeretku ke cahaya aneh."
Hangyul tertawa kecil, lega melihatnya pulih. Ia mengantar Eunha ke istana, tempat Ayana sudah menunggu bersama Miran.
Eunha melihat Ayana lalu langsung memeluknya. "Kak Ayana! Kakak bilang pergi ke luar negeri untuk bertemu keluarga. Kakak tahu aku khawatir?"
Ayana membalas pelukannya. "Maaf. Aku tidak bisa menjelaskan waktu itu. Aku takut menyeretmu ke masalahku."
"Jangan putuskan sendiri apa yang sanggup kutanggung," kata Eunha, masih kesal. "Kalau kau butuh teman, bilang saja."
Ayana menunduk. "Kau benar. Maafkan aku."
Eunha memperhatikan perut Ayana yang mulai tampak. Ia tidak bertanya di depan semua orang, menunggu sampai mereka berada di kamar. Ayana menceritakan secukupnya tentang kehamilan dan alasan ia masuk istana. Ia belum membuka semua detail, tetapi Eunha mengerti bahwa Ayana membutuhkan dukungan.
Malamnya, Hangyul menemui Eunha di taman istana. Mereka berjalan pelan di antara pepohonan yang diterangi lentera.
"Aku takut kau akan membenciku setelah tahu siapa aku," kata Hangyul.
"Aku masih kesal karena kau sering menyembunyikan sesuatu," jawab Eunha. "Tapi aku tidak membencimu."
Hangyul berhenti. "Aku menyayangimu, Eunha. Aku tidak ingin terus berpura-pura bahwa kau hanya teman."
Eunha terdiam, lalu tersenyum kecil. "Aku masih perlu waktu untuk memahami semua ini. Tapi aku senang kau akhirnya mengatakannya dengan jujur."
Hangyul mengangguk. Ia tidak meminta jawaban lebih dari itu. Untuk malam itu, mereka berjalan berdampingan, memberi ruang bagi perasaan yang baru diungkapkan.