Seungyoun mengawal Ayana melewati lorong menuju aula. Dua penjaga mengikuti dari belakang, tetapi tidak mengikat tangannya. Ia sudah menerima perintah untuk memperlakukannya dengan baik sampai ada bukti yang jelas.
"Apa kau yakin tidak melihat siapa pun mendekati gelas itu?" tanyanya.
"Saya baru membawa nampan ketika mencium bau aneh. Sebelum itu, saya tidak berada di dapur."
"Apakah kau punya alasan untuk mencelakai Raja?"
Ayana terdiam sesaat. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Seungwoo adalah ayah bayinya dan mantan kekasihnya. "Tidak, Tuan."
Seungyoun mengamati wajahnya. Ia tidak melihat kemarahan atau kepuasan, hanya ketakutan yang berusaha disembunyikan.
Ketika tiba di aula, Ayana diminta menunggu di dekat tiang batu. Kirao datang beberapa saat kemudian bersama seorang penjaga. Ia mengulang tuduhannya di hadapan Madam Ra Mi, menyatakan bahwa Ayana mungkin memiliki alasan pribadi untuk mendekati Raja.
Ayana menahan napas. "Kau tidak tahu apa-apa tentangku."
"Justru itu masalahnya," jawab Kirao. "Kau datang entah dari mana, lalu tiba-tiba mendapat tugas di kamar Raja."
Madam Ra Mi meminta Kirao berhenti berbicara sebelum ada bukti. Seungyoun berdiri di sisi lain aula dan menunggu Seungwoo datang.
Ayana memandang pintu utama. Ia tidak tahu apakah Seungwoo akan mempercayai kata-katanya. Ia hanya ingin penyelidikan menemukan kebenaran sebelum siapa pun mengetahui kehamilannya.
***
Aula dipenuhi ketegangan. Seungwoo duduk di kursi utama, sementara Tabib Baek menjelaskan kembali hasil pemeriksaan. Racun itu benar-benar ditemukan di dalam anggur. Tidak ada yang menyangkal bahwa seseorang telah mencoba mencelakai Raja.
Seungwoo meminta setiap orang yang menyiapkan atau membawa minuman menjelaskan urutan pekerjaannya. Jawaban mereka belum memberi petunjuk jelas. Sebagian pelayan berada di dapur, sebagian lain mengurus hidangan berbeda.
Kirao berdiri di dekat Madam Ra Mi, menunggu kesempatan berbicara. Ayana tetap di sisi Seungyoun, tidak berani mengangkat wajah terlalu lama.
"Untuk sementara, semua yang berada di dapur akan diperiksa," kata Seungwoo. "Tidak seorang pun boleh meninggalkan istana."
Ayana merasakan jantungnya berdebar. Ia takut pemeriksaan akan mengungkap bahwa ia manusia, bukan serigala, dan sedang mengandung anak Raja. Namun ia juga tahu diam saja bisa membuat tuduhan Kirao semakin kuat.
Seungyoun membungkuk. "Saya akan menggeledah ruang kerja para pelayan dan memeriksa catatan akses dapur, Yang Mulia."
"Lakukan. Tabib Baek, simpan sampelnya."
"Aya tetap di aula?" tanya Madam Ra Mi.
"Untuk sekarang," jawab Seungwoo. "Kita belum selesai."
Ayana menunduk. Ia ingin menjelaskan bahwa indra penciumannya dapat mengenali bau racun, tetapi ia takut pengakuan itu menimbulkan pertanyaan baru. Seungwoo tampak sedang menimbang sesuatu, dan Kirao tetap menuduhnya dengan tatapan penuh keyakinan.
Penyelidikan baru saja dimulai. Belum ada bukti yang membebaskan Ayana, dan belum ada yang tahu bahwa orang yang menuduhnya mungkin sedang menyembunyikan rahasia sendiri.
***
Ayana masih berdiri di aula ketika penjaga mulai memeriksa barang-barang para pelayan. Ia meremas ujung celemeknya, berusaha menahan rasa takut dan kram ringan yang sesekali muncul di perut.
Seungwoo duduk di kursi utama. Wajahnya sulit dibaca. Di dekatnya, Tabib Baek menyimpan sampel anggur beracun dalam wadah tertutup. Seungyoun sedang mengatur pencarian di ruang para pelayan.
"Aya," panggil Seungwoo. "Jelaskan lagi apa yang kau cium."
Ayana mengangkat wajah sedikit, tetapi tetap menunduk. "Baunya pahit dan menusuk, Yang Mulia. Saya tidak tahu racun apa itu. Saya hanya tahu anggur itu tidak aman diminum."
"Kau punya pengalaman mengenali racun?"
"Tidak, Yang Mulia. Indra penciuman saya memang tajam. Saya bisa mencium aroma yang tertutup bau lain."
Kirao menyela dari sisi aula. "Itu alasan yang mudah dibuat setelah semua orang tahu ada racun."
Seungwoo memandang Kirao. "Aku belum meminta pendapatmu."
Kirao langsung terdiam. Ayana kembali menjelaskan bahwa ia hanya mencegah gelas itu dibawa kepada Raja. Ia tidak tahu siapa yang menaruh racun dan tidak menyentuh minuman sebelum mencium baunya.
Seungwoo menatapnya lama. Ada sesuatu pada cara Ayana berbicara yang membuatnya sulit berpaling. Ia tidak tahu mengapa suara itu terasa akrab, tetapi ia tidak ingin membiarkan perasaan tersebut memengaruhi penyelidikan.
Seungyoun kembali ke aula. "Kami belum menemukan pelaku, Yang Mulia. Pemeriksaan ruang para pelayan masih berjalan."
"Teruskan. Jangan berhenti sampai kita tahu dari mana racun itu berasal."
Ayana menunduk lagi. Ia ingin mengatakan lebih banyak, tetapi khawatir setiap penjelasan hanya akan menambah pertanyaan tentang dirinya. Ia menunggu, berharap bukti yang sebenarnya segera ditemukan.
***
Seungyoun memimpin pencarian ke kamar para pelayan yang bertugas di dapur. Para penjaga memeriksa lemari dan laci satu per satu. Madam Ra Mi ikut mengawasi agar tidak ada barang yang rusak atau disalahgunakan.
Saat tiba di kamar Kirao, Seungyoun melihat jendela terbuka. Tirainya bergerak tertiup angin, sementara tempat tidurnya tampak berantakan.
"Dia tidak ada," kata seorang penjaga.
Seungyoun memeriksa ruangan itu. Di bawah tempat tidur, ia menemukan botol kecil yang masih menyisakan cairan. Ia tidak menyentuhnya langsung, melainkan meminta Tabib Baek memeriksa.
Tabib Baek mengamati botol itu dan membandingkan isinya dengan sampel anggur. "Ini jenis racun yang sama."
Seungyoun menoleh ke jendela. Kirao kemungkinan sudah kabur melalui sana sebelum penjaga tiba.
Ia membawa botol itu kembali ke aula. "Kami menemukan ini di kamar Kirao. Ia menghilang dan jendelanya terbuka."
Kirao tidak ada untuk menjawab tuduhan. Bukti itu cukup untuk membebaskan Ayana dari kecurigaan sementara, meski pencarian terhadap Kirao harus berlanjut.
Seungwoo berdiri. "Kirim penjaga ke gerbang dan periksa jalur keluar istana. Tabib Baek, pastikan bukti ini disimpan."
Ayana mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan. Ia tidak merasa menang. Ia hanya lega tidak lagi dituduh sebagai pelaku.
Seungwoo menoleh kepadanya. "Kau menyelamatkan nyawaku dengan menghentikan minuman itu."
"Saya hanya melakukan yang seharusnya, Yang Mulia."
"Meski begitu, aku berutang terima kasih."
Ayana kembali menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Di tengah kesibukan penjaga, tatapan Seungwoo masih tertahan padanya sejenak sebelum ia memerintahkan penyelidikan dilanjutkan.
***
Setelah bukti ditemukan, Ayana diizinkan kembali ke kamar pelayan. Seungyoun memastikan seorang penjaga mengantarnya sampai ke lorong belakang. Tidak ada yang mengikat atau memperlakukannya seperti tersangka lagi, tetapi kabar tentang racun telah menyebar ke seluruh istana.
Miran menyambut Ayana dengan cemas. "Kau baik-baik saja? Aku dengar Kirao dituduh meracuni Raja."
"Bukti ditemukan di kamarnya. Aku tidak tahu ke mana dia pergi."
Miran menghela napas lega. "Syukurlah kau selamat. Tapi setelah ini, para pelayan pasti akan banyak bertanya."
Ayana duduk sebentar, merasa lelah setelah berdiri lama di aula. Ia tidak ingin orang lain mengetahui bahwa dirinya hampir pingsan karena ketakutan dan kram yang datang sesekali. Ia hanya mengatakan bahwa ia perlu beristirahat.
Di ruang utama, Seungwoo menerima laporan awal dari Seungyoun. Botol racun itu cocok dengan sampel anggur, dan Kirao belum ditemukan. Seungyoun juga menyebutkan bahwa Ayana tidak berusaha melarikan diri atau menyalahkan orang lain.
"Dia tetap mengatakan bahwa ia hanya mencium bau racun," kata Seungyoun. "Tidak ada bukti yang mengaitkannya dengan botol."
Seungwoo menatap gelas yang sudah disingkirkan. "Dia menyelamatkanku."
"Benar, Yang Mulia."
Seungwoo mengusap pelipis. Ia masih merasakan sesuatu yang aneh ketika Ayana berbicara. Bukan hanya aroma samar itu. Ada rasa kehilangan yang sulit dijelaskan, dan ia tidak tahu mengapa ia terus memikirkannya.
Malamnya, Ayana bersiap kembali ke kamar raja untuk menjalankan tugas. Seorang penjaga mengatakan bahwa Raja ingin bertemu dengannya setelah pekerjaan selesai. Ayana membeku mendengarnya.
Ia tidak tahu apakah Seungwoo ingin memberi penghargaan, meminta penjelasan, atau mengajukan pertanyaan yang selama ini ia hindari. Apa pun itu, ia harus tetap tenang dan menjaga rahasia Baby Wulf.