"Mau kemana? Jangan ikut. Nanti kau rewel."
Marcuss Dion kembali berdecak untuk kesekian kalinya pagi ini. Setelah acara sarapan mereka terlewati tanpa kehadiran sang ibu yang masih sibuk di kamar, dan kembali berdebat kecil bersama adik tercinta yang keras kepalanya mengalahkan Marcuss Damien, ayahnya.
"Kenapa tidak boleh? Ada Kakak Dion yang akan menjagaku, kan?"
Dion menghela napas. Dia bisa saja berguling di lantai sekarang. Dan merengek pada ibunya untuk kembali memasukkan Marcuss Sera ke dalam perut. Karena demi gambar naga Lawson, Marcuss Sera jauh lebih membuat Dion naik darah ketimbang Himawari, adik Souma yang super tenang dan pengertian.
"Tidak. Tetap di rumah. Ajak saja Papa bermain barbie," gerutu Dion.
"Tidak mau!" Bocah berusia tujuh tahun itu balas menggeleng. Bersidekap dengan dagu terangkat tinggi. Persis Kamara Kiara kalau wanita itu sedang menolak sesuatu di meja makan.
Dion bergidik. Kalau ada satu hal yang paling ia hindari di rumah ini, itu adalah adiknya yang mewarisi seluruh sifat neneknya tanpa satu pun terlewat.
"Kau akan menyesal," ujar Dion datar. "Di sana panas. Tidak ada es krim. Tidak ada mainan."
"Aku tidak butuh mainan."
"Kau akan haus."
"Aku membawa botol minum."
"Kau akan mengeluh capek."
Sera memiringkan kepala. Menatap kakaknya dengan senyum lebar yang justru membuat tengkuk Dion meremang. "Kalau aku capek, Kakak Dion menggendongku."
Marcuss Dion memejamkan mata. Menarik napas panjang, dan mengembuskannya melalui mulut. Cara yang Gaana ajarkan padanya sejak dulu, setiap kali dia ingin membalas ucapan seseorang dengan kalimat yang tidak sopan.
Tidak berhasil. Sama sekali tidak.
"Sera," Dion berjongkok. Menyamakan tingginya dengan adik perempuannya yang masih bersidekap. "Aku tidak pergi ke taman bermain. Aku pergi ke tempat yang membosankan."
"Membosankan yang bagaimana?"
"Membosankan yang membosankan."
"Itu bukan jawaban," balas Sera cepat.
Sial.
Dion mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Delapan belas tahun hidup di dunia, dan tidak ada satu pun manusia yang mampu membuatnya kehabisan kalimat secepat ini. Bahkan Yamanaka Lawson, yang mulutnya tidak pernah berhenti bergerak sejak sekolah dasar, masih bisa dia bungkam dengan satu tatapan.
Adiknya tidak. Sera hanya akan menatap balik. Lalu tersenyum. Lalu menang.
"Kenapa kalian ribut pagi-pagi?"
Kedua kepala itu menoleh bersamaan. Menemukan Marcuss Damien menuruni tangga dengan dasi yang masih tersampir di leher. Belum terpasang. Pria itu tidak pernah memasang dasinya sendiri sejak sebelas tahun lalu, dan Dion tahu betul kenapa.
"Papa!"
Sera berlari. Melompat memeluk kaki ayahnya dengan bibir yang sudah dimajukan lebih dulu. Modal utama yang tidak pernah gagal.
"Kakak Dion tidak mau mengajakku."
Damien mengangkat alis. Menunduk menatap putrinya, lalu beralih pada putra sulungnya yang berdiri dengan raut kelewat datar. Sangat mirip dengan wajahnya sendiri di usia yang sama.
"Kau mau ke mana?"
"Toko bunga," jawab Dion singkat. "Mengambil pesanan Mama. Setelah itu, aku ke pemakaman."
Ekspresi Damien berubah. Tipis, hampir tidak kentara, tetapi Dion menangkapnya. Dia selalu menangkapnya.
"Ah."
"Ya," Dion mengangkat bahu. "Jadi, tidak. Sera tetap di rumah."
Sera mendongak. Bergantian menatap ayah dan kakaknya dengan kening berkerut. Ada sesuatu yang tidak dia mengerti, dan Marcuss Sera paling benci pada sesuatu yang tidak dia mengerti.
"Pemakaman itu apa?"
Dion terpaku.
Damien pun sama.
Delapan belas tahun Dion hidup, dan tujuh tahun Sera ada di dunia. Dan baru pagi ini, di antara piring-piring sarapan yang belum diangkat Gaana, pertanyaan itu jatuh begitu saja ke lantai ruang makan mereka.
***
Selena berdiri di anak tangga keempat dari bawah.
Tangan kanannya memegang pegangan tangga. Tangan kirinya memegang kotak persegi berbungkus kertas biru langit yang warnanya sudah tidak securah dulu. Sembilan belas tahun kotak itu berpindah dari laci ke laci, dan Selena tidak pernah sekali pun berniat menggantinya.
Dia mendengar semuanya. Dari kata pertama sampai pertanyaan terakhir.
"Mama."
Sera menoleh lebih dulu. Anak itu selalu tahu kapan ibunya masuk ke dalam ruangan, bahkan sebelum ada suara langkah kaki.
Selena menuruni sisa anak tangga. Menaruh kotak itu di atas meja konsol, dan berjalan mendekat. Menunduk, merapikan poni putrinya yang berantakan karena berlari-lari sejak subuh.
"Kau sudah sarapan?"
"Sudah. Dua roti. Papa yang menghitung."
"Bagus," Selena mengulas senyum. "Ambil sepatumu."
Kedua mata Dion melebar. "Mama—,"
"Ambil sepatumu, Sera. Yang putih. Bukan yang ada lampunya."
Sera memekik senang. Berlari ke rak sepatu dengan kaki telanjang, meninggalkan tiga orang dewasa yang tertinggal di ruang makan dengan keheningan yang tiba-tiba terasa berat.
"Mama tidak serius, kan?"
Selena menoleh pada putranya. Menatap Dion yang sudah setinggi ayahnya, dengan rahang yang mengeras persis Damien kalau pria itu sedang menahan sesuatu.
"Kenapa tidak?"
"Karena dia akan bertanya," balas Dion pelan. "Dia akan bertanya sepanjang jalan. Dia akan bertanya sampai Mama tidak bisa menjawab. Dan aku tidak mau melihat Mama seperti itu lagi."
Selena terdiam.
Delapan tahun lalu, di pemakaman yang sama, putranya berlutut dan menaruh mainan lego di atas nisan Sahara. Anak itu bertanya banyak sekali hari itu. Kenapa Bibi Sahara pergi. Kenapa Mama menangis. Kenapa nisan itu dingin sekali.
Dan Selena tidak menjawab satu pun.
Dion mengingatnya. Tentu saja dia mengingatnya. Anak itu mengingat segalanya, dan itulah yang paling Selena takutkan sejak dulu.
"Aku baik-baik saja," ujar Selena akhirnya.
"Mama selalu bilang begitu."
"Karena memang begitu."
Dion mendengus. Membuang pandangan ke arah lain, dan Damien menahan senyum di belakang keduanya. Perdebatan ini terlalu sering terjadi. Antara ibu dan anak yang sama-sama tidak mau kalah, dan sama-sama tidak tahu cara mengatakan bahwa mereka sedang mengkhawatirkan satu sama lain.
"Dion," Selena menyentuh lengan putranya. "Adikmu tujuh tahun. Usia yang sama denganku saat pertama kali Papa membawaku ke pemakaman ibunya. Aku bertanya banyak sekali hari itu. Dan Papa menjawab semuanya."
Dion mengangkat kepala.
"Aku tidak menjawab pertanyaanmu delapan tahun lalu. Itu kesalahanku," Selena menipiskan bibir. "Aku tidak mau mengulanginya dua kali."
Ada jeda panjang. Dion menatap ibunya lekat, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan dan berdecak pelan.
"Terserah."
"Terima kasih."
"Aku belum bilang iya."
"Kau sudah mengambil kunci mobil," Selena mengerling pada tangan putranya. "Jangan pura-pura."
Damien tertawa. Satu-satunya tawa yang lolos pagi itu, dan Dion melempar tatapan masam pada ayahnya sebelum berjalan ke garasi.
***
"Kau membawa adikmu?"
Yamanaka Lawson bersandar di kap mobil dengan dua batang es krim di tangan. Satu untuknya, dan satu lagi untuk Berry Souma yang berdiri di sampingnya sambil memegang ponsel.
Dion menutup pintu mobil. Baru enam bulan dia mengantongi izin mengemudi, dan sampai sekarang ibunya masih menghitung berapa menit yang dia butuhkan dari rumah sampai ke toko bunga.
"Bukan aku. Mama."
"Oh," Lawson mengangguk paham. Lalu berjongkok, menyodorkan es krim yang belum dibuka pada Sera yang baru turun. "Halo, Nona Kecil. Masih ingat aku?"
Sera menatap es krim itu. Lalu menatap Lawson. Lalu menatap es krim itu lagi.
"Kau paman yang pernah menumpahkan kuah ramen di celanamu sendiri."
Souma tersedak tawanya.
"Astaga," Lawson menoleh pada Dion dengan raut tidak percaya. "Kenapa dia mengingat yang itu? Dari sekian banyak hal, kenapa harus yang itu?"
"Karena kau melakukannya tiga kali," balas Dion datar.
"Dua kali!"
"Tiga."
Lawson menggerutu panjang. Menyerahkan es krim itu pada Sera yang menerimanya dengan bungkukan sopan, lalu berdiri sambil menepuk celananya sendiri.
Souma menyimpan ponselnya. Menatap Sera yang sudah sibuk membuka bungkus es krim, dan tersenyum tipis.
"Himawari menitipkan ini." Anak sulung Drian itu mengulurkan sebuah bungkusan kecil berpita. "Katanya, untuk Bibi Sahara. Dia menanyakan setiap tahun apa boleh ikut, dan setiap tahun Mama bilang belum."
Dion menerimanya. Menimang bungkusan kecil itu di telapak tangannya, sebelum memasukkannya ke saku jaket.
"Katakan terima kasih padanya."
"Katakan sendiri. Dia menunggu balasanmu sejak semalam."
"Aku tidak punya waktu."
"Kau punya," Souma mengangkat alis. "Kau hanya malas mengetik."
Lawson tertawa keras. Dan Dion memilih masuk ke dalam toko bunga tanpa membalas, meninggalkan kedua temannya yang masih tertawa di depan pintu.
Di dalam, aroma air dan batang bunga yang baru dipotong memenuhi ruangan. Pemilik toko, seorang wanita paruh baya yang sudah mengenal wajah keluarga Marcuss selama bertahun-tahun, mengangkat kepala dari meja kasir.
"Pesanan Nyonya Selena?"
"Ya."
Wanita itu berbalik. Mengambil satu buket besar krisan putih yang sudah diikat rapi dengan kertas cokelat polos. Tanpa pita. Tanpa kartu ucapan. Persis seperti pesanan yang sama, di tanggal yang sama, setiap tahun.
Sera menempel di sisi kakaknya. Menatap bunga itu dengan kepala mendongak.
"Kenapa putih semua?"
"Karena Bibi Sahara suka yang putih."
"Kenapa tidak merah?"
Dion menerima buket itu. Menunduk sedikit, agar adiknya bisa melihat kelopak yang tersusun rapat di ujung tangkai.
"Karena merah untuk orang yang masih bisa kau peluk," katanya pelan. "Putih untuk orang yang sudah tidak bisa."
Sera terdiam.
Anak itu tidak bertanya lagi sampai mereka keluar dari toko.
***
Mobil melaju pelan menyusuri jalan yang mulai menanjak.
Sera duduk di jok belakang dengan sabuk pengaman yang Dion pasang sampai dua kali, karena anak itu tidak berhenti bergerak sejak mesin dinyalakan. Buket krisan putih ada di pangkuannya, ditopang kedua tangan seakan dia sedang menggendong sesuatu yang bisa pecah.
"Kakak Dion."
"Hm."
"Bibi Sahara itu adik Mama?"
"Bukan."
"Kakak Mama?"
"Bukan."
"Lalu apa?"
Dion melirik kaca spion tengah. Menemukan adiknya menatap balik dengan kening berkerut, dan bibir yang mengerucut karena jawaban yang tidak memuaskan.
"Sahabat," jawabnya akhirnya. "Bibi Sahara sahabat Mama. Sama seperti Bu Guru Rola."
"Kalau sahabat, kenapa bukan keluarga?"
"Karena bukan."
"Tapi Mama menyimpan suratnya di kotak," Sera membalas cepat. "Mama tidak menyimpan surat Nenek di kotak."
Dion menahan senyum. Adiknya baru tujuh tahun, dan sudah pandai menyudutkan orang dengan cara yang persis ibunya lakukan pada rapat direksi.
"Ada orang yang bukan keluarga, tapi tempatnya di dalam," ujar Dion pelan. "Kau akan mengerti nanti."
"Kapan?"
"Nanti."
"Nanti itu kapan?"
"Sera."
Anak itu terkekeh. Menendang-nendang kaki kecilnya di udara, sebelum kembali menunduk menatap kelopak krisan yang tersusun rapat di pangkuannya.
"Kakak Dion punya sahabat?"
"Punya."
"Siapa?"
"Kau baru bertemu keduanya di depan toko bunga tadi."
"Paman tumpah ramen dan paman diam?"
Dion tertawa. Pendek, satu tarikan saja, tetapi Sera langsung mendongak karena kakaknya jarang sekali melakukan itu.
"Ya. Paman tumpah ramen dan paman diam."
"Kalau mereka pergi, Kakak Dion akan membawakan bunga putih juga?"
Tangan Dion mengerat di kemudi.
Ada beberapa detik di mana anak sulung keluarga Marcuss itu tidak menjawab apa pun. Hanya menatap lurus ke depan, pada jalan menanjak yang di ujungnya berdiri gerbang batu abu-abu yang sudah dia hafal sejak usianya sepuluh tahun.
"Ya," katanya lirih. "Aku akan membawakan bunga putih juga."
Sera mengangguk puas. Lalu memeluk buket itu lebih erat, seakan bunga di pangkuannya tiba-tiba menjadi jauh lebih penting dari sebelumnya.
"Kalau begitu, aku akan membantu Kakak Dion membawanya."
Dion tidak menjawab.
Dia hanya menepikan mobil di bahu jalan, mematikan mesin, dan duduk diam selama beberapa saat sebelum akhirnya turun untuk membukakan pintu adiknya.
***
Rola sudah menunggu di gerbang pemakaman.
Wanita itu berdiri dengan mantel abu-abu dan tas kain yang tersampir di bahu. Rambutnya lebih pendek dari tahun lalu, dan ada kacamata baru yang bertengger di hidungnya. Dua puluh tahun mengajar anak-anak sekolah dasar meninggalkan bekasnya sendiri.
"Bu Guru!"
Sera berlari lebih dulu. Melompat ke pelukan wanita itu tanpa aba-aba, dan Rola menangkapnya dengan tawa yang pecah begitu saja.
"Astaga. Kau berat sekali sekarang."
"Kata Mama aku kurus."
"Ibumu berbohong."
Sera cemberut. Dan Rola mencubit pipi anak itu gemas, sebelum menurunkannya ke tanah dan mendongak, menemukan Selena berjalan mendekat bersama Damien di belakangnya.
Rola menipiskan bibir. Menatap sahabatnya lekat, sebelum maniknya turun pada kotak biru langit yang Selena bawa di pelukan.
"Kau membawanya."
"Aku selalu membawanya."
"Tidak," Rola menggeleng. "Sembilan belas tahun, kau selalu meninggalkannya di mobil. Aku tahu, karena aku yang selalu menutup pintunya."
Selena tidak menjawab.
Mereka berjalan beriringan menyusuri jalan setapak. Damien di belakang, membawa buket krisan yang Dion serahkan padanya. Dion di samping, memegang tangan adiknya yang untuk pertama kali sejak pagi tidak banyak bicara.
Nisan itu masih di tempat yang sama.
Sahara Seika.
Rumput di sekelilingnya terpangkas rapi. Ada mainan lego berbentuk mobil yang catnya sudah memudar, masih berdiri di sudut nisan setelah delapan tahun. Tidak ada yang berani memindahkannya. Bahkan petugas pemakaman pun tahu, mobil kecil itu tidak boleh disentuh.
Sera melepas tangan kakaknya. Berjalan mendekat dengan langkah pelan-pelan, seakan takut membangunkan seseorang.
"Ini rumah Bibi Sahara?"
Selena berlutut di sisi putrinya. Menaruh kotak biru langit itu di atas rumput, dan membukanya.
Di dalamnya, ada belasan lembar kertas memo yang sudah menguning. Ada kelopak krisan putih yang mengering dan hampir hancur kalau tersentuh terlalu keras. Ada satu bandana kain berwarna pucat, dengan jahitan tangan yang tidak rapi di sisinya. Bentuknya melingkar. Kalau dipasang di kepala, mirip mahkota.
"Ini rumahnya sekarang," jawab Selena akhirnya. "Dulu, rumahnya bukan di sini."
"Di mana?"
"Di sebelahku."
Sera mengerutkan kening. Menoleh pada ibunya dengan tatapan bingung, dan Selena mengangkat kertas memo paling atas. Menyerahkannya pada tangan kecil putrinya dengan hati-hati.
"Bibi Sahara tidak bisa bicara, Sera. Sejak kecil. Jadi, kalau dia ingin mengatakan sesuatu, dia menulisnya di kertas seperti ini."
Sera menatap tulisan tangan yang terukir rapi di kertas itu. Anak itu baru bisa membaca lancar tahun lalu, dan bibirnya bergerak pelan mengeja satu per satu.
"A-ku me-nya-yangimu, Selena. Sangat."
Rola memalingkan wajah.
Damien menunduk, menatap ujung sepatunya sendiri.
Dan Dion berdiri diam di belakang ibunya. Tidak bergerak, tidak bersuara, tetapi tangannya terkepal di dalam saku jaket.
"Ini untuk Mama?"
"Ya."
"Kenapa Mama menyimpannya di kotak?"
Selena mengambil kembali kertas itu. Melipatnya seperti semula, dan menaruhnya di tempatnya.
"Karena kalau Mama menyimpannya di kepala, Mama akan lupa," katanya lirih. "Manusia itu pelupa, Sera. Semakin lama, semakin banyak yang hilang. Suaranya hilang lebih dulu. Lalu wajahnya. Lalu caranya tertawa."
"Wajah Bibi Sahara sudah hilang?"
"Belum," Selena mengulas senyum. "Karena Mama menyimpannya."
Sera mengangguk pelan. Anak itu tampak sedang berpikir keras, dengan kening berkerut dan bibir yang sedikit mengerucut.
"Kalau begitu, aku juga mau kotak."
"Untuk apa?"
"Untuk menyimpan Mama."
Selena terpaku.
Damien mengangkat kepala. Rola menoleh cepat. Dan Dion, untuk pertama kalinya sejak pagi, tidak punya satu pun kalimat untuk membalas adiknya.
"Kata Bu Guru, semua orang akan pergi. Nanti. Tidak sekarang," Sera menjelaskan dengan santai, seperti sedang menceritakan tugas sekolahnya. "Jadi, aku harus punya kotak. Biar wajah Mama tidak hilang."
Selena menarik napas. Dalam sekali.
Lalu menarik putrinya ke dalam pelukan, dan menyembunyikan wajahnya di rambut anak itu yang berbau sampo bayi dan es krim cokelat.
"Mama menangis?"
"Tidak."
"Bohong."
"Ya," bisik Selena. "Bohong."
***
Sebuah sedan hitam berhenti di belakang mobil Dion.
Damien menoleh lebih dulu. Menemukan sopir keluarga Kamara turun untuk membukakan pintu, dan seorang wanita tua dengan mantel hitam serta sanggul yang masih serapi dua puluh tahun lalu keluar dari sana.
"Nenek!"
Sera melepaskan diri dari pelukan ibunya. Berlari menuruni jalan setapak dengan kecepatan yang membuat Dion refleks berjalan mengekor di belakangnya.
Kamara Kiara menangkap cucunya. Menahan tubuh kecil itu dengan satu tangan, dan mencubit hidung Sera dengan tangan yang lain.
"Kau berlari seperti kuda."
"Kata Papa aku cepat."
"Ayahmu pembohong."
Sera terkikik. Dan Kiara membiarkan anak itu menggantung di lengannya sambil mendongak, menatap putrinya yang masih berlutut di depan nisan.
Selena berdiri perlahan.
Sembilan belas tahun.
Sembilan belas tahun Kamara Kiara tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki di tempat ini. Bukan karena sibuk. Bukan karena lupa. Melainkan karena wanita itu pernah menyebut persahabatan putrinya sebagai aib yang harus dilenyapkan dengan nyawanya sendiri, dan ucapan itu tidak pernah benar-benar hilang dari udara di antara mereka berdua.
"Mama."
"Jangan menatapku seperti itu," Kiara mendengus. Menurunkan Sera ke tanah, dan merapikan mantelnya sendiri. "Aku hanya lewat."
"Pemakaman ini bukan jalan menuju rumah Mama."
"Aku bilang, aku hanya lewat."
Selena menipiskan bibir. Menahan sesuatu di kerongkongannya, dan memilih tidak membalas.
Kiara berjalan mendekat. Berhenti sekitar dua langkah dari nisan, dan berdiri di sana dengan punggung yang tetap tegak. Wanita itu tidak berlutut. Tidak menunduk. Tidak juga melipat tangan.
Dia hanya berdiri, menatap nama yang terukir di batu itu selama waktu yang terasa panjang sekali.
"Dia yang bisu itu?"
"Namanya Sahara, Mama."
"Aku tahu namanya," balas Kiara ketus. "Aku selalu tahu."
Rola mengangkat kepala. Menatap punggung wanita tua itu dengan mata yang mendadak memanas, sebelum buru-buru memalingkan wajah ke arah lain.
Kiara mengulurkan tangan ke dalam tasnya. Mengeluarkan setangkai krisan putih tunggal yang batangnya sudah sedikit layu karena terlalu lama tersimpan, dan menaruhnya di atas nisan dengan gerakan kaku.
Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada penjelasan.
Kamara Kiara tidak pernah meminta maaf pada siapa pun seumur hidupnya.
"Sudah," wanita itu berbalik. Berjalan kembali ke arah mobilnya tanpa menoleh. "Aku ada janji makan siang."
Selena berdiri diam di tempatnya.
Menatap punggung ibunya yang menjauh, dengan bahu yang naik turun tidak beraturan, dan langkah yang jauh lebih pelan dari biasanya.
"Mama."
Kiara berhenti. Tidak menoleh.
"Terima kasih."
Ada jeda. Angin menerbangkan ujung mantel wanita tua itu, dan Kiara mengangkat tangan sekilas. Melambai tanpa berbalik, sebelum masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu.
Selena mengembuskan napas panjang.
Dan Damien, yang sejak tadi berdiri diam di belakang istrinya, akhirnya melangkah maju. Menaruh telapak tangannya di punggung Selena, dan membiarkan wanita itu bersandar tanpa perlu meminta.
***
Sore itu, mereka pulang dengan dua mobil.
Sera tertidur di jok belakang mobil ayahnya, dengan bungkusan kecil dari Himawari yang lupa dia serahkan masih tergenggam di tangan. Dion yang menyerahkannya, pada akhirnya. Ditaruh di sisi lego yang catnya sudah memudar.
Rola pamit di gerbang. Berjanji akan datang hari Minggu, membawa piyama untuk Sera, karena tradisi konyol yang mereka mulai dua puluh tahun lalu ternyata tidak pernah benar-benar berhenti.
Di rumah, Gaana sudah menyiapkan makan malam.
Meja itu ramai seperti biasa. Sera bercerita tanpa jeda tentang bunga putih, tentang neneknya yang datang dengan mobil hitam, tentang Bu Guru Rola yang mengatakan ibunya berbohong soal berat badannya. Dion mendengarkan sambil memisahkan wortel dari piring adiknya, memindahkannya ke piring sendiri tanpa berkata apa pun.
"Kakak Dion, aku melihatnya."
"Melihat apa?"
"Wortel."
"Tidak ada wortel."
"Ada. Di piringmu."
"Itu punyaku."
"Itu punyaku tadi."
Damien menahan tawa di balik gelasnya. Dan Selena hanya menggeleng, menatap kedua anaknya berdebat soal potongan wortel selama hampir lima menit penuh tanpa ada yang mengalah.
Dulu, meja makan rumah ini sunyi.
Sebelas tahun pertama pernikahan mereka, Selena makan lebih dulu dan Damien makan belakangan. Tidak ada yang bertengkar. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada suara sama sekali selain dentingan sendok yang menyentuh piring.
Selena menatap piringnya sendiri. Menahan sesuatu yang naik ke tenggorokannya, dan buru-buru menyesap air putih untuk menyembunyikannya.
"Mama tidak makan?"
"Makan," Selena mengulas senyum pada putrinya. "Mama hanya sedang mendengarkan."
"Mendengarkan apa?"
"Kalian."
Sera mengerutkan kening. Tidak mengerti, tetapi tetap mengangguk seakan mengerti. Lalu kembali menuding piring kakaknya dengan garpu, dan perdebatan wortel itu berlanjut sampai Gaana datang membawa buah potong.
Selena menaruh kotak biru langit itu kembali ke laci meja riasnya. Menutupnya perlahan, dan menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin. Ada garis halus di sudut matanya yang tidak ada sepuluh tahun lalu. Ada helai putih di antara rambutnya yang selalu Damien tarik diam-diam kalau pria itu mengira dia sedang tidur.
Pintu kamar terbuka.
"Dion sudah tidur?"
"Belum," Damien menutup pintu di belakangnya. "Dia di ruang tengah. Membongkar kotak legonya yang lama."
Selena mengangkat alis. "Untuk apa?"
"Katanya, adiknya minta kotak," Damien mengangkat bahu. "Dia sedang mengosongkan satu."
Selena tertawa. Pelan, hampir tanpa suara, tetapi Damien mendengarnya. Dan pria itu berjalan mendekat, berdiri di belakang kursi rias sang istri, menaruh kedua tangannya di bahu Selena.
"Kau baik-baik saja?"
"Kau tahu, aku benci pertanyaan itu."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kau tetap bertanya?"
"Karena kau selalu menjawab," Damien menunduk. Menatap pantulan mata istrinya di cermin. "Meski jawabannya bohong."
Selena mendengus. Mengangkat tangan, menutupi tangan suaminya yang ada di bahunya dengan telapak tangannya sendiri.
Sembilan belas tahun.
Sembilan belas tahun sejak seorang gadis berdiri di ballroom Hotel Acacia dengan gaun malam dan gelas jus melon di tangan, membenci seluruh laki-laki di dunia tanpa terkecuali. Sembilan belas tahun sejak dia menikahi pria asing yang tidak dia cintai, di depan orang-orang yang tidak dia pedulikan.
Dan pria asing itu masih di sini. Masih berdiri di belakang kursinya. Masih menunggu jawaban yang sama setiap tahun.
"Aku baik-baik saja," ujar Selena pelan. "Hari ini, aku benar-benar baik-baik saja."
Damien menipiskan bibir. Membungkuk, mengecup puncak kepala istrinya sekilas.
"Bagus."
"Damien."
"Hm?"
"Terima kasih," bisik Selena. "Karena tidak pernah memintaku melupakannya."
Tidak ada balasan. Hanya genggaman yang mengerat di bahunya, dan Selena memejamkan mata. Membiarkan dirinya bersandar pada suaminya, dan tidak berpindah sampai Gaana memanggil mereka dari lantai bawah.
***
Pukul sebelas malam, ponsel Damien bergetar di atas nakas.
Pria itu bangun perlahan. Melirik Selena yang sudah terlelap dengan napas teratur, dan turun dari ranjang tanpa suara. Berjalan ke balkon, menutup pintu kaca di belakangnya.
Nama Kaia Ankara terpampang di layar.
"Maaf mengganggu malam-malam, Tuan."
"Ada apa?"
Ada jeda di seberang sana. Jeda yang terlalu panjang untuk seorang Kaia, yang selama delapan tahun bekerja untuknya tidak pernah sekali pun ragu menyampaikan sesuatu.
"Berkasnya sampai ke meja saya sore tadi. Saya menahannya sampai malam karena saya tahu Anda sekeluarga pergi hari ini."
Damien mengeraskan rahang. "Katakan saja."
"Marcuss Regan mengajukan pembebasan bersyarat," Kaia menarik napas. "Dan permohonannya dikabulkan, Tuan. Dia keluar tiga minggu lagi."
Angin malam menampar wajah Damien.
Dari balik pintu kaca, dia bisa melihat lampu kamar putrinya yang masih menyala. Sera tidak pernah mau tidur dengan lampu mati. Dan di ruang tengah, lampu meja masih menyala juga, tempat Dion tertidur di atas sofa dengan kotak lego kosong di pangkuannya.
Dua alasan.
Dua alasan yang membuat Damien tidak pernah lagi tidur nyenyak sejak sebelas tahun lalu.
"Tuan?"
"Aku dengar."
"Apa saya perlu memberitahu Nyonya Selena?"
Damien memejamkan mata.
Membayangkan wajah istrinya sore tadi, saat wanita itu berlutut di depan nisan dan membiarkan putrinya membaca kertas memo yang selama sembilan belas tahun tidak pernah dia perlihatkan pada siapa pun.
Hari ini, Selena benar-benar baik-baik saja.
Hari ini.
"Jangan," ujar Damien akhirnya. Suaranya rendah, hampir hilang tertelan angin. "Belum."