Cahaya lampu gantung kristal di ruang makan kediaman Daren Christ membiaskan spektrum warna pelangi yang menari-nari di atas permukaan meja marmer Italia. Malam itu, udara di dalam mansion terasa hangat, jenuh dengan aroma wagyu ribeye yang dipanggang sempurna dan sisa-sisa parfum mahal yang tertinggal di udara. Musik jazz klasik mengalun lembut dari sistem audio surround yang tersembunyi di balik panel dinding kayu ek, menciptakan suasana yang begitu tenang, begitu beradab, seolah-olah pengkhianatan dan darah tidak pernah menjadi fondasi dari kemewahan ini.
Daren Christ duduk di kursi utama, menyesap segelas red wine tahun 1982 dengan gerakan yang sangat santai. Di seberangnya, Jennifer Lawrence tampak mempesona dalam gaun sutra berwarna krem, wajahnya yang cantik memancarkan kepuasan seorang wanita yang telah mendapatkan semua yang pernah ia impikan. Mereka adalah potret kesuksesan Astra City—pasangan pengusaha muda di bidang jasa teknologi yang sedang naik daun, dipuja dalam kolom sosialita, dan disegani di ruang rapat. Tidak ada yang akan menyangka bahwa setengah tahun yang lalu, pria yang memberikan semua ini kepada mereka telah mereka dorong ke dasar laut yang dingin. Bagi dunia, Zevarian Galdur adalah tragedi masa lalu; bagi Daren dan Jennifer, dia hanyalah anak tangga yang sudah mereka injak hingga hancur.
"Kau tahu, Daren," Jennifer meletakkan pisau peraknya setelah memotong daging dengan presisi, "aku hampir lupa bagaimana rasanya hidup dalam kecemasan. Melihat Guinevere tadi sore, melihat betapa dia sangat bergantung pada opini-opiniku... itu membuatku sadar bahwa kita telah memenangkan permainan ini sepenuhnya. Dia benar-benar menganggapku sebagai kompas moral dan bisnisnya."
Daren terkekeh, suara tawa yang terdengar sangat puas dan penuh kemenangan. "Rastafara akan menandatangani kontrak investasi itu besok pagi. Sepuluh juta dolar pertama sebagai modal awal untuk proyek cloud medis kita. Dengan uang itu, kita tidak hanya akan menguasai pasar Astra, tapi seluruh negeri. Nama Galdur akan benar-benar terhapus dari sejarah teknologi, digantikan oleh D&J Empires. Kita bukan lagi sekadar penyedia jasa kecil, Jen. Kita adalah arsitek masa depan."
Namun, di balik kata-kata sombong itu, Daren sempat melirik ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Di sana, di bawah keremangan lampu jalan, ia bisa melihat siluet Rolls-Royce milik keluarga Rastafara yang masih terparkir menanti kepulangan sang putri. Ia teringat pada sopir baru Guinevere yang ia temui sebentar tadi di parkiran klub. Pria bernama BeJo itu. Meskipun hanya interaksi singkat, ada sesuatu yang mengusik nurani Daren yang paling dalam—sebuah perasaan ngeri yang tidak bisa ia jelaskan secara logis. Postur tubuh pria itu, cara dia berdiri, dan aura keheningan yang ia pancarkan terasa terlalu akrab, seperti bayangan yang pernah menghantuinya di malam yang kelam.
"Jen, apa kau tidak merasa sopir baru Guinevere itu... agak aneh?" tanya Daren tiba-tiba, merusak suasana makan malam yang romantis.
Jennifer mengangkat bahu, tampak tidak peduli sedikit pun sambil menyesap anggurnya. "Dia hanya seorang sopir, Daren. Guinevere bilang dia mantan militer yang putus asa mencari kerja, makanya dia kaku dan dingin. Jangan biarkan paranoia kecilmu merusak malam perayaan kita. Kita baru saja berhasil mengamankan masa depan kita. Nikmati saja anggurmu dan berhentilah melihat ke luar jendela seolah-olah hantu akan muncul dari balik semak-semak."
Daren mencoba mengikuti saran Jennifer, namun pikirannya terus berputar pada detail-detail kecil yang mengganggunya. Baginya, ketentraman ini terasa terlalu sempurna, hampir seperti sebuah jebakan yang belum tertutup. Ia berdiri dan berjalan menuju bar pribadinya untuk menuang gelas kedua, mencoba menenggelamkan rasa tidak nyaman itu dalam alkohol mahal. "Mungkin kau benar. Aku hanya sedikit kelelahan karena mengurus integrasi server baru kita. Terlalu banyak angka di kepalaku."
Tepat saat ia hendak meneguk anggurnya, Jennifer berdiri dan berjalan menghampirinya, melingkarkan tangannya di leher Daren dengan senyum manis yang mematikan. "Ayo kita bersulang sekali lagi, Daren. Untuk kita. Untuk kesuksesan kecil yang akan menjadi imperium besar. Untuk keberanian kita mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita sejak lama. Untuk malam-malam tanpa penyesalan."
Mereka mengangkat gelas kristal mereka tinggi-tinggi di tengah ruangan yang sunyi, membiarkan dentingannya bergema jernih, menandakan aliansi gelap mereka yang masih solid. Itulah puncak dari kebahagiaan mereka malam itu—sebuah momen di mana mereka merasa seperti dewa yang tak tersentuh oleh hukum manusia maupun Tuhan. Mereka merayakan keberhasilan mencuri identitas, bisnis, dan visi pria lain dengan penuh kebanggaan. Di mata mereka, dunia ini hanyalah ladang yang siap mereka panen, dan pengkhianatan adalah pupuk terbaik yang pernah mereka gunakan.
Namun, saat mereka saling melempar senyum kemenangan dan merencanakan langkah besar berikutnya, mereka tidak menyadari bahwa di luar sana, di balik kemudi Rolls-Royce yang gelap dan diam, 'penghalang' yang mereka anggap sudah musnah sedang menatap mereka melalui lensa termal yang canggih. Zevarian Galdur memperhatikan setiap gerak-gerik mereka, merekam setiap tawa sombong dan raut wajah puas mereka ke dalam memori kebenciannya yang sedalam samudra. Baginya, melihat mereka merasa aman adalah bagian terpenting dari rencana besarnya. Semakin tinggi mereka merasa terbang dalam ketentraman palsu ini, semakin menyakitkan saat ia mematahkan sayap mereka dan membiarkan mereka jatuh ke tanah yang keras.
Makan malam mewah itu berakhir dengan rencana-rencana besar lainnya yang memenuhi kepala mereka. Jennifer mulai membicarakan tentang liburan mewah ke Maladewa setelah kontrak ditandatangani, membayangkan dirinya berjemur di bawah matahari tropis tanpa beban. Sementara itu, Daren kembali sibuk menghitung proyeksi keuntungan di atas kertas tisu, seolah-olah ia sedang menyusun strategi perang untuk menaklukkan pasar global. Mereka benar-benar merasa telah lolos dari dosa masa lalu. Tidak ada hantu yang menuntut balas, tidak ada polisi yang mengetuk pintu, tidak ada audit yang mencurigakan. Hanya ada kemewahan, pengakuan sosial, dan masa depan yang berkilau.
"Aku akan memeriksa server sebentar di ruang kerja sebelum tidur," kata Daren sambil mengecup kening Jennifer dengan penuh kasih sayang palsu. "Hanya memastikan integrasi database klien aman untuk presentasi besok di depan Tuan Rastafara. Kita tidak boleh membuat satu kesalahan kecil pun di hadapan orang tua itu."
"Jangan terlalu lama, Sayang. Besok adalah hari bersejarah kita. Aku ingin kau tampil segar saat berjabat tangan dengan calon investor terbesar kita," jawab Jennifer lembut, memberikan dorongan ego yang selalu Daren butuhkan.
Daren melangkah menuju ruang kerjanya yang luas, sebuah ruangan yang dipenuhi dengan peralatan teknologi mutakhir dan koleksi jam tangan mewah. Semuanya tampak normal. Lampu indikator pada rak server yang tersusun rapi di sudut ruangan berkedip hijau dengan ritme yang stabil, menandakan data-data penting mengalir dengan lancar. Ia duduk di kursi kulitnya yang empuk, merasa benar-benar menjadi penguasa di kerajaannya sendiri. Ia merasa kuat, pintar, dan sangat beruntung. Ketentraman ini adalah haknya, pikirnya. Ia telah bekerja keras, berbohong dengan lihai, dan berkhianat dengan cerdas untuk mendapatkannya.
Di luar mansion, Zevarian menurunkan teropong termalnya dengan perlahan. Ia telah melihat cukup banyak sandiwara malam ini untuk meyakinkannya bahwa musuhnya sudah benar-benar lengah. Rasa jijik yang mendalam melihat kemesraan dua pengkhianat itu hampir membuat dadanya sesak, namun ia berhasil menekan emosi itu dengan kendali diri yang ekstrem. Kesabaran adalah senjata utama, dan ia memiliki stok yang tak terbatas untuk itu.
Guinevere akhirnya keluar dari mansion dengan langkah sedikit gontai, wajahnya tampak sangat senang setelah menghabiskan malam yang penuh dengan pujian dari Jennifer. Zevarian segera turun dari mobil, berdiri tegak dan membukakan pintu untuknya dengan gerakan 'BeJo' yang sempurna—patuh, tidak mencolok, efisien, dan tanpa ekspresi.
"Mereka pasangan yang sangat luar biasa, bukan begitu BeJo?" tanya Guinevere sambil menyandarkan kepalanya di jok belakang yang mewah saat mobil mulai bergerak meninggalkan kompleks elit itu. "Daren sangat sukses, dan Jennifer sangat cerdas sekaligus cantik. Mereka benar-benar definisi relationship goals. Suatu saat, aku ingin memiliki hidup yang sesempurna mereka. Tanpa drama, hanya kesuksesan."
Zevarian menatap jalanan yang gelap dan sunyi di depannya melalui kacamata hitamnya, meskipun malam sudah larut. Suaranya terdengar datar namun tajam melalui spion tengah, merayap ke telinga Guinevere seperti bisikan dingin. "Penampilan luar sering kali menipu, Nona. Terkadang, rumah yang tampak paling indah di permukaan sebenarnya dibangun di atas tanah yang paling rapuh dan dipenuhi rayap pengkhianatan."
Guinevere hanya mendengus, terlalu lelah dan senang untuk berdebat dengan sopirnya yang selalu terdengar filosofis dan misterius itu. "Kau ini benar-benar tidak asyik, BeJo. Terserahlah. Antar aku pulang secepatnya. Besok pagi aku harus bangun awal untuk menemani Papi ke kantor D&J untuk penandatanganan kontrak."
Zevarian mengemudikan mobil dalam diam, membiarkan Guinevere tertidur lelap di belakang dengan mimpinya yang dangkal. Namun, di tangannya yang tersembunyi di balik kemudi, ia memegang sebuah pengendali jarak jauh kecil yang terhubung langsung dengan sistem rumah pintar dan server pusat di mansion Daren yang baru saja ia tinggalkan. Perangkat itu adalah hasil karya Marcus yang dimodifikasi khusus untuk bypass enkripsi tingkat militer.
Sambil menekan sebuah tombol kecil berwarna merah dengan jempolnya secara perlahan, Zevarian bergumam dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti desisan ular, "Malam terakhirmu yang tenang sudah berakhir, Daren. Nikmatilah tidurmu, selagi kau masih bisa membedakan antara kenyataan dan mimpi buruk."
Tepat saat Rolls-Royce itu menghilang di tikungan jalan yang menuju ke kediaman Rastafara, jauh di dalam ruang kerja Daren yang sunyi dan terkunci, salah satu lampu indikator di rak server pusat yang tadinya berwarna hijau stabil, tiba-tiba berkedip merah sekali. Hanya sekali, namun sangat tajam, seolah-olah ada sesuatu yang baru saja menyelinap masuk ke dalam sistem operasi mereka tanpa meninggalkan jejak log satu pun. Sebuah riak kecil di permukaan air yang tenang, yang menandakan bahwa badai besar yang tidak kasat mata baru saja mengirimkan gelombang pertamanya untuk meruntuhkan segalanya.
Daren, yang saat itu sedang asyik membolak-balik dokumen kontrak investasi yang tebal, sama sekali tidak menyadarinya. Ia masih tersenyum penuh kemenangan, tidak tahu bahwa di balik layar monitornya yang canggih, sebuah proses enkripsi siluman yang tak terlihat baru saja dimulai, siap menelan data-data yang ia banggakan.
Dapatkah Daren mendeteksi ancaman ini sebelum semuanya terlambat? Ataukah "Getaran Pertama" akan menjadi awal dari keruntuhan total kerajaan D&J Empires?