Matahari pagi di Kota Astra tidak pernah benar-benar terasa hangat; ia selalu tampak pucat, terhalang oleh polusi dan deretan pencakar langit yang saling sikut berebut ruang di cakrawala. Di balik gerbang besi tempa setinggi tiga meter yang membatasi mansion megah keluarga Rastafara dengan dunia luar, seorang pria berdiri mematung. Ia mengenakan seragam sopir berwarna hitam legam yang disetrika sangat licin hingga tepian kerahnya terasa setajam silet. Kacamata hitam berbingkai perak menutupi tatapan matanya yang sedingin es, sementara topi pet yang ditarik rendah menyembunyikan sebagian besar garis wajahnya yang tegas.
Zevarian Galdur telah mati bagi dunia. Namun, di tempat ini, di bawah bayang-bayang pohon palem yang tertata rapi, ia lahir kembali sebagai BeJo. Nama yang terdengar polos, hampir konyol, namun itulah perisai terbaiknya. Sebuah identitas yang dirancang untuk tidak mencolok, untuk dianggap remeh, dan untuk dilupakan. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma bensin yang bercampur dengan parfum mawar dari taman depan mansion. Di tangannya, ia memutar kunci mobil Rolls-Royce Phantom yang berkilau seolah-olah baru saja keluar dari pabrik. Ini bukan lagi tentang kemewahan; baginya, mobil ini adalah pusat komando berjalan, sebuah senjata yang akan membawanya masuk ke jantung pertahanan musuhnya.
Suara langkah kaki yang terburu-buru dan dentuman sepatu hak tinggi memecah keheningan pagi. Guinevere Rastafara muncul dari balik pintu jati besar mansion dengan wajah yang ditekuk masam. Ia mengenakan gaun mini rancangan desainer ternama dan membawa tas tangan yang harganya cukup untuk membeli sebuah rumah di pinggiran kota. Di belakangnya, dua pelayan tampak kewalahan membawa tumpukan kotak belanjaan yang belum sempat dibuka dari kegiatan clubbing dan belanja impulsif semalam.
"Mana sopir baru itu?!" teriak Guinevere tanpa melihat ke arah Zevarian. suaranya melengking, penuh dengan nada bossy yang menjadi ciri khasnya sebagai anak tunggal yang terlalu dimanjakan. "Papi bilang dia sudah mengirim orang sejak jam enam pagi. Ini sudah lewat lima menit! Aku ada janji temu dengan instruktur yoga, lalu ke salon, dan aku tidak mau terlambat hanya karena seorang sopir lamban!"
Zevarian melangkah maju dengan tenang, nyaris tanpa suara. Ia membukakan pintu belakang mobil dengan gerakan yang sangat mekanis namun elegan. "Saya di sini, Nona Guinevere. Nama saya BeJo. Saya akan menjadi sopir pribadi Anda mulai hari ini."
Guinevere berhenti mendadak. Ia menatap Zevarian dari ujung kaki hingga ujung topi pet-nya. Matanya yang tajam memicing, mencoba mencari celah dari pria di depannya. "BeJo? Nama macam apa itu? Terdengar seperti nama kucing kampung. Dan kenapa kau pakai kacamata hitam di bawah bayangan pohon? Kau pikir kau agen rahasia?"
"Mata saya sensitif terhadap cahaya pagi, Nona. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya," jawab Zevarian datar, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar berat namun tetap sopan—sebuah nada yang jauh berbeda dari suara bariton Zevarian Galdur yang berwibawa.
Guinevere mendengus kasar, lalu masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk oleh AC. "Terserahlah. Yang penting kau bisa menyetir lebih baik dari sopir sebelumnya yang gemetaran setiap kali aku menyuruhnya mengebut. Jalan sekarang!"
Zevarian menutup pintu dengan dentuman solid yang kedap suara. Ia duduk di kursi pengemudi, menyesuaikan spion tengah sehingga ia bisa melihat pantulan wajah Guinevere yang sibuk memeriksa riasannya. Saat ia menghidupkan mesin, tangannya yang terbungkus sarung tangan putih menggenggam kemudi dengan presisi. Ia mulai menjalankan mobil keluar dari gerbang, meluncur mulus ke jalanan protokol Astra City.
Namun, di balik sikap diamnya, otak Zevarian sedang bekerja seperti prosesor supercepat. Melalui spion dan telinganya, ia mulai melakukan observasi awal. Guinevere bukan hanya sekadar target; dia adalah gerbang menuju Daren dan Jennifer. Setiap panggilan telepon yang dia lakukan, setiap pesan yang dia ketik, dan setiap tempat yang dia kunjungi adalah data berharga.
Tiba-tiba, ponsel Guinevere berdering. "Oh, Jen! Ya, aku sedang di jalan. Sopir baruku? Uh, dia kaku seperti robot dan namanya sangat aneh. BeJo! Bisa kau bayangkan? Hahaha... Ya, malam ini jadi kan? Di klub biasa? Aku dengar Daren juga akan ikut. Oke, sampai nanti, Babe."
Mendengar nama 'Jen' dan 'Daren' disebut dengan nada akrab, cengkeraman tangan Zevarian pada kemudi mengencang hingga buku jarinya memutih. Amarah yang ia tekan selama berbulan-bulan di dasar laut seolah ingin meledak keluar. Wanita yang dicintainya, Jennifer, dan pria yang dianggapnya saudara, Daren, kini adalah sahabat dekat bagi majikannya. Lingkaran setan ini ternyata lebih rapat dari yang ia duga.
"BeJo! Kenapa mobilnya melambat?!" Guinevere berteriak dari belakang, membuyarkan lamunan gelap Zevarian. "Lampu hijaunya masih lima detik lagi! Terjang saja!"
Zevarian segera mengendurkan cengkeramannya dan menginjak rem dengan lembut saat lampu berubah menjadi kuning. "Keselamatan Anda adalah prioritas saya, Nona. Saya tidak akan mengambil risiko yang bisa membahayakan Anda."
Guinevere memutar bola matanya dengan jengkel. "Kau ini benar-benar membosankan. Papi bilang kau punya referensi luar biasa dari militer atau semacamnya, tapi ternyata kau hanya sopir tua yang penakut. Dengar ya, BeJo, di mobil ini, aturanku yang berlaku. Kalau aku bilang tabrak, kau harus tabrak. Mengerti?"
"Saya mengerti, Nona," jawab Zevarian pelan. Di dalam hatinya, ia tersenyum pahit. Jika Guinevere tahu siapa pria yang sedang memegang kemudi ini—pria yang mampu meruntuhkan bursa saham dalam satu malam—mungkin gadis manja ini akan pingsan karena ketakutan. Namun untuk saat ini, ia membiarkan dirinya menjadi samsak lisan bagi Guinevere. Semakin dia dianggap tidak kompeten dan remeh, semakin bebas ia mengamati segalanya tanpa dicurigai.
Sepanjang perjalanan menuju pusat kebugaran elit di jantung kota, Zevarian terus memetakan rutinitas Guinevere. Gadis ini adalah makhluk kebiasaan. Dia menghabiskan tiga jam di salon, dua jam di gym, dan sisa harinya untuk berpesta. Namun, ada satu detail yang menarik perhatian Zevarian: Guinevere selalu memeriksa sebuah tablet kecil yang terhubung dengan sistem keamanan di rumah Daren Christ—sebuah akses yang diberikan Jennifer agar Guinevere bisa memantau proyek teknologi baru mereka secara eksklusif sebagai calon investor utama melalui dana ayahnya.
Itu dia. Pintunya sudah terbuka.
Zevarian menghentikan mobil di lobi salon mewah. Ia turun dan membukakan pintu untuk Guinevere. Saat gadis itu melenggang pergi tanpa mengucapkan terima kasih, Zevarian kembali ke dalam mobil dan segera membuka laptop rahasia yang tersembunyi di balik kompartemen dasbor.
"Marcus," bisiknya pada perangkat komunikasinya. "Aku sudah masuk. Guinevere punya akses backdoor ke jaringan rumah Daren. Aku akan mulai menyuntikkan virus 'Shadow Phoenix' ke dalam sistem mereka melalui tabletnya malam ini. Pastikan tim pemantau siap. Kita tidak hanya akan menghancurkan data mereka; kita akan menghancurkan kewarasan mereka."
Sore harinya, saat Zevarian sedang menunggu Guinevere di parkiran, ia melihat sebuah mobil sport merah berhenti tepat di samping Rolls-Royce-nya. Seorang pria keluar dari mobil itu dengan gaya flamboyan—Daren Christ. Daren tidak mengenali mobil itu sebagai milik keluarga Rastafara yang baru karena plat nomornya telah diganti.
Daren berjalan melewati Zevarian sambil asyik menelepon. "Ya, sayang... Jennifer sudah menyiapkan semuanya. Malam ini kita akan merayakan merger besar itu. Hidup ini indah sejak Zevarian tidak ada, kan? Hahaha... Hutan itu sekarang milik kita, tanpa ada singa yang mengganggu."
Daren berhenti tepat di depan Zevarian untuk merapikan rambutnya di kaca spion Rolls-Royce. Zevarian berdiri hanya satu meter di belakangnya, wajahnya tertutup bayangan topi pet. Tangan Zevarian perlahan masuk ke saku jasnya, menyentuh sebuah koin emas yang telah ia siapkan.
"Permisi, Tuan," suara Zevarian terdengar datar, namun di telinga Daren yang peka, suara itu entah kenapa terdengar seperti gema dari masa lalu. "Anda menghalangi jalan keluar nona saya."
Daren berbalik, menatap sopir di depannya dengan dahi berkerut. Ia merasa ada sesuatu yang sangat akrab dari postur pria ini, sebuah perasaan ngeri yang tiba-tiba merayap di tengkuknya tanpa alasan yang jelas. "Kau... siapa kau?"
Apa yang akan terjadi ketika Daren mulai merasakan aura yang tidak asing dari sosok 'BeJo'? Akankah penyamaran Zevarian terancam di hari pertamanya?