Suasana di kantor pusat D&J Empires pagi itu terasa mencekam, kontras dengan cerahnya langit Astra City yang terlihat dari balik dinding kaca. Aroma kopi yang biasanya membangkitkan semangat, kini tercium hambar bagi Jennifer Lawrence. Ia duduk di depan meja kerja futuristiknya, jemarinya yang lentik dengan kuku yang dipulas merah darah mengetuk-ngetuk permukaan kaca meja dengan ritme yang tidak sabar. Matanya yang tajam, yang biasanya memancarkan kepercayaan diri seorang predator sosial, kini tampak lelah dengan lingkaran hitam tipis yang gagal disembunyikan oleh concealer mahal.
Semalam adalah mimpi buruk bagi tim IT mereka. Meskipun data Astra Medical secara misterius muncul kembali di server beberapa jam setelah kepergian Tuan Rastafara, ketenangan itu tidak bertahan lama. Jennifer merasa ada sesuatu yang merayap di dalam sistem mereka—sesuatu yang tidak terlihat, namun terasa nyata. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah serangan hacker kompetitor atau sekadar gangguan pada kabel bawah laut, namun intuisi terdalamnya membisikkan nama yang selalu ia coba lupakan. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan Zevarian yang jatuh ke dasar laut. "Dia sudah mati," bisiknya pada udara kosong. "Mati dan membusuk."
Gangguan berikutnya datang bukan dari server klien, melainkan dari jantung operasional Jennifer sendiri: Legacy Ledger, software akuntansi kustom yang ia banggakan karena memiliki enkripsi tiga lapis. Saat ia mencoba membuka modul laporan arus kas untuk menyiapkan dokumen final investasi Rastafara, layar monitornya mendadak berkedip putih selama beberapa detik.
Ketika tampilan kembali normal, Jennifer terkesiap. Seluruh kolom angka pada periode enam bulan terakhir tampak kacau. Angka-angka itu berubah-ubah dengan cepat di depan matanya, seperti mesin slot yang sedang berputar.
"Apa-apaan ini?" Jennifer memukul meja. Ia mencoba melakukan force close, namun sistem menolak.
Detik berikutnya, sebuah kotak dialog muncul di tengah layar: "Kritis: Struktur Data Korup. Memulai Pembersihan Otomatis."
"Tidak! Jangan!" teriak Jennifer. Ia mencoba mencabut kabel daya komputer, namun proses itu seolah berjalan di tingkat server-side. Di layar kedua, ia melihat direktori file keuangannya mulai menghilang satu per satu. File 'Pajak_D&J_2025.enc', 'Gaji_Karyawan_Maret.db', hingga yang paling krusial—'Catatan_Aset_Rahasia.xlsx'—lenyap dalam hitungan detik.
Kehancuran itu tidak berhenti di sana. Software tersebut secara otomatis mengirimkan notifikasi kesalahan ke seluruh terminal di departemen keuangan. Dalam hitungan menit, seluruh staf akuntansinya mulai panik, melaporkan bahwa mereka tidak bisa mengakses buku besar. Catatan keuangan yang menjadi bukti legalitas dan kesehatan perusahaan Jennifer sedang dihapus oleh kekuatan yang tak terlihat.
Daren menyerbu masuk ke ruangan Jennifer tanpa mengetuk pintu. Wajahnya merah padam, dasinya miring, dan napasnya memburu. "Jen! Apa yang terjadi dengan departemen keuangan? Manajer bank baru saja menelepon, mereka bilang ada anomali dalam laporan saldo kita yang dikirim secara otomatis oleh sistem!"
Jennifer menatap Daren dengan mata kosong, tangannya masih gemetar di atas papan ketik. "Sistem akuntansi kita... hancur, Daren. Semuanya terhapus. Bukan hanya data klien kali ini, tapi uang kita, catatan aset kita, semuanya korup."
"Bagaimana bisa?! Kita punya tim keamanan terbaik!" Daren berteriak, ia menendang kursi di dekatnya hingga terguling. "Pertemuan dengan Tuan Rastafara tinggal beberapa jam lagi untuk jamuan makan malam! Jika dia meminta bukti audit keuangan terakhir sebelum tanda tangan, apa yang akan kita berikan? Kertas kosong?!"
"Aku tidak tahu!" Jennifer membalas teriakan itu, egonya yang terluka membuatnya mulai menyerang balik. "Mungkin ini karena kau ceroboh dengan protokol keamananmu! Atau mungkin..." Jennifer berhenti sejenak, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Atau mungkin kau diam-diam memindahkan dana tanpa memberitahuku, dan sekarang kau mencoba menutupinya dengan merusak sistem?"
Daren tertegun, wajahnya berubah dari marah menjadi tidak percaya. "Kau menuduhku? Setelah semua yang kita lakukan bersama? Kau yang memegang kendali penuh atas Legacy Ledger, Jen! Jangan coba-coba melimpahkan kegagalan teknismu padaku!"
Di tengah ruangan yang dipenuhi ketegangan itu, mereka mulai saling melempar tatapan curiga. Benih paranoia yang ditanam Zevarian mulai tumbuh. Kesetiaan yang dibangun di atas pengkhianatan terbukti sangat rapuh; saat fondasi itu mulai bergoyang, hal pertama yang mereka lakukan bukanlah saling menguatkan, melainkan mencari siapa yang akan dijadikan tumbal.
Suasana mencekam itu terinterupsi oleh suara interkom. "Nona Jennifer, Rolls-Royce keluarga Rastafara sudah berada di lobi. Nona Guinevere ingin bertemu untuk berangkat bersama ke lokasi jamuan."
Jennifer menarik napas panjang, mencoba mengatur emosinya. Ia bercermin sejenak, memperbaiki tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. "Kita tidak punya waktu untuk berdebat sekarang. Kita harus bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja di depan Guinevere. Jika dia mencium ada yang salah, ayahnya akan menarik diri."
Daren merapikan jasnya, meskipun matanya masih memancarkan api amarah. "Selesaikan masalah ini malam ini juga, Jen. Aku tidak peduli bagaimana caranya. Panggil pakar forensik digital atau siapa pun. Aku ingin angka-angka itu kembali."
Mereka turun ke lobi dengan senyum palsu yang telah terlatih. Di sana, Guinevere sudah menunggu dengan gaun malam yang sangat mewah, tampak seperti putri bangsawan. Di sampingnya, BeJo berdiri dengan sikap sempurna, kacamata hitamnya memantulkan cahaya lampu lobi yang terang.
"Hai, kalian berdua! Kenapa lama sekali?" tanya Guinevere manja. "Ayo cepat, aku sudah lapar. Papi sudah menunggu di restoran."
"Maaf, Gwen. Ada sedikit urusan administrasi yang harus kami selesaikan," kata Jennifer sambil memeluk Guinevere dengan akrab, sebuah sandiwara yang biasa ia lakukan.
Zevarian, yang berdiri hanya beberapa langkah dari mereka, mengamati setiap detail. Ia melihat urat leher Daren yang masih tegang dan binar ketakutan di mata Jennifer yang berusaha ditutupi oleh maskara. Ia bisa mencium aroma kepanikan dari mereka—aroma yang jauh lebih memuaskan daripada parfum termahal mana pun di dunia.
Di dalam mobil, perjalanan menuju restoran berlangsung dalam keheningan yang canggung bagi Daren dan Jennifer, sementara Guinevere terus berceloteh tentang pesta yang akan ia datangi setelah jamuan makan malam ini. Zevarian mengemudikan mobil dengan kehalusan yang luar biasa, melewati kemacetan Astra City seolah-olah jalanan itu adalah miliknya.
Melalui spion tengah, Zevarian memperhatikan Jennifer yang terus-menerus mengecek ponselnya, kemungkinan besar mencoba menghubungi tim IT-nya secara rahasia. Daren hanya menatap keluar jendela, rahangnya terkatup rapat. Mereka berada dalam satu ruang sempit dengan pria yang mereka coba bunuh, namun mereka merasa 'BeJo' hanyalah bagian dari mesin yang membawa mereka.
"BeJo, kau bisa menyalakan musik?" tanya Guinevere tiba-tiba. "Suasananya terlalu sepi, aku tidak suka."
"Tentu, Nona," jawab Zevarian pelan.
Ia menekan sebuah tombol di panel kontrol. Bukannya lagu pop yang diinginkan Guinevere, yang terdengar adalah sebuah simfoni klasik yang sangat spesifik: Danse Macabre. Alunan biola yang menceritakan tentang tarian kematian itu memenuhi kabin mobil.
Jennifer tersentak. Lagu itu adalah lagu favorit Zevarian saat mereka masih bersama—lagu yang selalu ia putar saat sedang berkonsentrasi memecahkan kode rumit. Ia menatap ke arah kursi pengemudi dengan jantung berdegup kencang. "Matikan lagu itu," perintah Jennifer, suaranya sedikit gemetar.
"Maaf, Nona Jennifer. Apakah lagunya terlalu mengganggu?" tanya Zevarian dengan nada yang sangat sopan namun dingin.
"Ganti saja! Aku tidak suka musik seperti itu," sahut Guinevere menimpali, tanpa menyadari makna di balik lagu tersebut.
Zevarian mengganti frekuensi radio ke saluran berita umum, namun pesan itu sudah tersampaikan. Ia telah menyentuh memori bawah sadar Jennifer, membiarkan rintangan-rintangan kecil ini mulai meruntuhkan kewarasannya.
Jamuan makan malam di restoran mewah itu berlangsung dengan penuh kepalsuan. Tuan Rastafara tampak siap menandatangani dokumen komitmen investasi. Namun, tepat saat pelayan membawakan appetizer, ponsel Jennifer bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk dari manajer keuangannya.
Jennifer membukanya di bawah meja. Wajahnya seketika berubah menjadi sepucat kertas.
Pesan itu berbunyi: "Nona, masalahnya lebih buruk dari yang kita duga. Bukan hanya data yang hilang, tetapi sistem baru saja mengirimkan laporan audit 'palsu' yang menunjukkan kerugian besar ke alamat email pribadi Tuan Rastafara lima menit yang lalu. Kami tidak bisa membatalkannya."
Jennifer mengangkat kepalanya perlahan, menatap Tuan Rastafara yang sedang merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya yang berbunyi. Di ujung meja, Zevarian yang berdiri sebagai pengawal di dekat pintu, memberikan sedikit anggukan kepala—sebuah gerakan yang nyaris tak terlihat, namun bagi Jennifer, itu adalah vonis mati.
Tuan Rastafara membuka ponselnya, dan matanya seketika menyipit tajam saat membaca subjek email yang masuk.
"Daren, Jennifer..." suara Tuan Rastafara berubah menjadi sangat dingin, membuat suasana di meja makan itu membeku seketika. "Sepertinya ada beberapa hal yang lupa kalian jelaskan dalam presentasi kemarin mengenai... 'kesehatan' finansial kalian."
Dapatkah Daren dan Jennifer menjelaskan kebohongan sistem ini sebelum investasi jutaan dolar mereka hangus? Ataukah rintangan kecil ini akan menjadi jurang yang menelan mereka sepenuhnya?