Raven berjalan di tengah kabut pekat. Setiap langkah terasa berat, seolah tanah menahan dengan sesuatu yang tak kasat mata. Dari balik kabut, perlahan muncul bayangan seorang pria berjubah hitam panjang. Potongan jubahnya longgar menjuntai hingga mata kaki, dihiasi motif bunga samar yang hanya tampak ketika terkena cahaya tertentu, memberi kesan elegan sekaligus misterius. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi sedikit bergelombang, dan matanya tajam namun teduh.
Aura yang dipancarkan pria itu menekan d**a Raven, membuat napasnya sesak. Di tengah kabut, ia duduk di sebuah paviliun kecil. Sebuah kuas tergenggam di tangannya, bergerak pelan di atas kanvas, melukis sosok seseorang yang tak sepenuhnya jelas. Wajah yang tergambar menampilkan senyum samar, namun mata sang pelukis kosong, seolah menyimpan duka yang dalam.
Raven hanya bisa menatap, bingung sekaligus penasaran. Suasana di sekitar pria itu damai, kontras dengan rasa mencekam yang menusuk dirinya.
Lalu ia sadar.
Mimpi ini... lagi.
Setiap kali tertidur, Raven selalu bertemu sosok yang sama. Kadang pria itu menulis, kadang menatap langit, kadang memainkan alat musik. Namun tatapannya selalu sama, hampa, penuh duka, tapi entah bagaimana terasa menenangkan.
Suara samar tiba-tiba menggema, memecah kabut.
"Raven... Raven..."
Bayangan pavilium dan pria berjubah hitam itu perlahan memudar, seakan tertiup angin. Suara panggilan makin jelas.
"Hei, aku sudah manggil kamu dari tadi!"
Raven mengerjap. Cahaya matahari yang menembus kaca bus menusuk matanya. Suara roda beradu dengan aspal berpadu dengan riuh obrolan para mahasiswa. Di luar jendela, pepohonan berlari mundur dengan cepat.
"Udah sampai?" Gumamnya setengah sadar.
"Belum lah! Astaga, bukannya ini saat yang tepat buat menikmati masa muda kita? Kita lagi study tour, bro! Bukannya kamu malah tidur sepanjang jalan!" oceh Kyle, temannya yang duduk di samping.
Raven melirik malas. Kyle terlihat begitu bersemangat, seolah sedang ada di festival.
Kyle memang mencolok, rambut cokelat gelap dengan gaya undercut tipis, mata cokelat keemasan yang selalu berkilat penuh semangat, dan mulut yang tak pernah berhenti mengoceh. Hari itu ia mengenakan hoodie putih oversized bergambar karakter anime, dipadu celana jeans biru muda dan sneakers putih bersih. Gayanya santai dan stylish, jelas menunjukkan ia suka jadi pusat perhatian.
"Ngapain dibangunin, Kyle? Biarin aja dia tidur. Mungkin lagi capek," Sahut suara lembut dari bangku depan.
Itu Hana. Gadis berpenampilan tenang dengan rambut hitamnya yang panjang jatuh menjuntai hingga melewati bahu. Wajah oval, kulit putih bersih, bibir tipis alami serta cantik dengan kesederhanaan yang memikat.
Tangannya menggenggam novel ringan, lebih betah membaca daripada ikut hiruk pikuk. Ia mengenakan cardigan abu-abu tipis di atas blus putih, rok plisket hitam selutut, dan flat shoes elegan.
"Sudahlah, Hana. Jangan manjain dia terus," sahut Karin, sahabat dekat Hana. Rambut sebahu berwarna pirang gelap memberi kesan sedikit liar. Tubuh atletisnya dibalut jaket bomber hijau army, kaos hitam polos, jeans robek, dan sneakers hitam. Gayanya energik, sedikit tomboy, tapi tetap menawan.
"Hey! Kyle, bisakah kamu diam sebentar? Serius deh, udah seharian kamu ngoceh nggak jelas," Tegur suara lain dengan nada ketus.
Itu Lisa, gadis berkacamata dengan rambut cokelat kemerahan yang panjang hingga punggung, sedikit ikal di ujung. Wajahnya cantik tapi serius, gaya khas kutu buku. Ia mengenakan sweater turtle neck biru tua, rok panjang beige, dan loafers hitam. Di pangkuannya, tote bag penuh buku.
"Heh, apa nih? Nona kutu buku terganggu?" goda Kyle.
"Kyle! Dasar kau!" Seru Lisa, wajahnya memerah seketika.
Lisa mendengus pelan, menatap tajam sambil mendorong kacamatanya naik. Pipi kirinya sedikit menggembung, menahan kesal yang hampir meledak.
"Kalau aku boleh jujur, mereka berdua kelihatan akrab banget, ya?" bisik Karin menggoda Hana, menyenggol bahunya. "Andai aja orang di sampingku seberani Kyle, mungkin dia bisa seakrab itu juga dengan seseorang." Tatapannya melirik Raven.
Wajah Hana langsung memerah, buru-buru menunduk pura-pura membaca.
Suara berat namun tenang terdengar dari depan, memecah suasana.
"Kalau kalian bisa sedikit menjaga sikap, perjalanan ini pasti lebih nyaman. Bukan begitu?"
Itu Kevin. Wajah rupawan, rahang tegas, dan mata abu-abu gelap membuatnya populer di kampus. Rambut hitamnya rapi berkilau, senyumnya tipis dan sulit ditebak. Ia selalu tampil kalem, berbicara seperlunya, tapi ucapannya sering membuat orang mengikuti tanpa sadar. Hari itu ia mengenakan kemeja putih slim fit dengan lengan tergulung, celana chino hitam, sepatu kulit cokelat, dan jam tangan klasik.
Kyle mendengus. "Yaelah, Tuan Muda. Ini bus, bukan hotel bintang lima. Kalau nggak betah, naik jet pribadi aja."
Tawa kecil terdengar dari beberapa mahasiswa. Kevin tetap tenang, menatap Kyle dengan senyum tipis.
"Kalau aku punya jet pribadi, jelas aku tak mau duduk di sebelah orang berisik seperti kamu... atau temanmu yang kerjanya cuma tidur." Ujung matanya melirik Raven.
Raven membuka sedikit matanya. "Aku bisa dengar, Kevin."
Kevin tersenyum puas. "Baguslah. Jadi kau tahu, sebaiknya jaga image. Kau kan duduk dekat 'idola kampus' kita." Tatapannya mengarah pada Hana, membuat gadis itu buru-buru menunduk.
Karin langsung menyambar. "Hei, kalau kamu cuma bikin suasana nggak enak, mending diam aja. Sok ngomongin image, padahal ditolak Hana mentah-mentah."
Sindiran tepat sasaran. Semua tahu Kevin pernah ditolak Hana, gosip panas yang masih sering dibicarakan. Wajah Kevin sempat menegang, tapi cepat disamarkan dengan senyum wibawa.
"Aku tidak keberatan ditolak, Karin. Justru itu bukti Hana punya selera tinggi. Dia pasti mencari seseorang yang pantas. Bukan..." Sekilas, matanya kembali melirik Raven.
"Dasar rubah..." Gumam Karin kesal.
Raven diam, menutup matanya lagi. Namun sesuatu bergejolak dalam dirinya.
Sebelum perselisihan berlanjut, suara lantang pembina mereka memotong
"Hey! Tolong semuanya jaga ketenangan! Simpan energi kalian untuk besok!"
Suasana bus mereda. Kyle nyengir kecut, Lisa kembali menatap jendela, dan Hana masih menunduk diam.
"Raven, tolong awasi temanmu yang disamping itu. Aku juga sudah capek ngatur dia," kata pembina setengah bercanda.
Raven mendesah, bibirnya melengkung tipis. "Baik, Pak."
Ia menoleh ke arah Kyle, menatapnya tajam tapi santai. Kyle tertawa kecil, menggaruk kepalanya.
"Heh... apa salahnya kalau sedikit bersemangat?" Bisiknya.
Raven hanya menggeleng. Rambut hitam pekatnya berkilau kebiruan saat tertimpa cahaya. Tatapannya tajam, mata hitamnya memancarkan ketenangan yang dingin. Tubuhnya proporsional tidak mencolok, tapi jelas terlatih. Dengan hoodie hitam polos, jaket denim, jogger gelap, dan sneakers abu-abu, penampilannya tampak sederhana, namun aura misterius yang mengitarinya sulit diabaikan.
Bus terus melaju, meninggalkan jalanan kota yang semakin jauh. Suasana di dalam mulai mereda, hanya terdengar obrolan kecil yang terputus-putus. Kyle akhirnya terdiam, kepalanya bersandar di kaca sambil memainkan ponselnya.
Raven balik menatap ke luar jendela sambil menutup mata lagi, mencoba mengabaikan keributan tadi. Namun, sisa bayangan mimpi itu masih melekat. Sosok pria berjubah hitam dengan tatapan hampa seakan belum sepenuhnya hilang.
Di balik kelopak matanya, ia kembali melihat sekilas goresan kuas di atas kanvas. Wajah samar yang tersenyum... dan entah kenapa, sosok itu perlahan menoleh seakan menatap langsung padanya.
Jantung Raven berdegup cepat. Ia membuka mata tiba-tiba, menatap langit-langit bus. Hanya ada bayangan samar pepohonan yang terpantul di kaca.
"...Apa maksud semua ini?" Bisiknya lirih.
Hanya ia yang mendengarnya.
Di luar jendela, kabut tipis mulai turun, seolah mengikuti bus yang melaju menuju tujuan yang belum mereka ketahui akan mengubah segalanya.