“Raf, apa maksud lo ngomong begitu di depan Pak Pramono?”
Tampak dua lelaki tampan tengah menikmati angin malam melalui atap yang dibuka secara ajaib oleh Rafif. Sebab, genting rumah yang ditinggali oleh Rafif dan Regina benar-benar canggih. Keduanya merombak habis semua interior agar lebih canggih.
“Yang masalah tadi pas kalian berdua datang?” Rafif bertanya balik dengan alis menukik menawan membuat Lizian mendengkus pelan.
“Iya, Raf,” jawab Lizian menekankan kalimatnya dengan kesal. “Untung aja kita sesama jenis, kalau enggak udah gue cium dari tadi.”
“Idih!” decih Rafif bergidik ngeri, lalu menendang tubuh Lizian agar menjauh dari dirinya. “Geseran lo, brings*k! Naj*s parah dekat-dekat sama hom*.”
“Anj*ng bukan itu maksud gue!” protes Lizian melebarkan mata tidak percaya, lalu mene