Di Suatu hari, Kerajaan Mahanubhawa sedang merayakan pesta yang sangat meriah. Pesta tersebut dirayakan karena pangeran Naufal Pratama anak sulung dari raja Luthfy Pratama sedang berulang tahun ke 20. Semua orang sangat bersenang-senang malam itu dengan makanan dan minuman yang lezat.
Pangeran Naufal menyambut para tamu undangan dengan ramah, saat pangeran Naufal sedang berjalan mengelilingi ruangan pesta dia melihat adiknya yang sedang berjalan kearahnya. Pangeran Fardi Pratama adalah nama adik pangeran Naufal. Pangeran Fardi memberikan kakaknya kado yang besar.
Karena penasaran dengan kado besar yang diberikan adiknya, pangeran Naufal langsung membuka kadonya dan dia terkejut ada sebuah pedang yang panjang dan cukup berat didalam kado. pangeran Fardi berkata dia telah berkerja keras membuatkan pedang itu khusus untuk kakak tercintanya.
Terharu dengan kado yang ia dapatkan, pangeran Naufal meluk adiknya dan mengucapkan terimakasih atas kadonya. Pangeran Naufal berjanji akan menggunakan pedangnya dengan baik dan pangeran Naufal bersumpah akan melindungi adiknya dengan pedang yang ia buatkan.
Pangeran Naufal langsung menyimpan pedang di sabuknya dan lanjut menyapa tamu undangan bersama adiknya pangeran Fardi. Saat pangeran Naufal dan pangeran Fardi keluar sejenak untuk berbicara antara kakak dan adik mereka berdua melihat banyak prajurit yang sedang mengarah kerajaan Mahanubhawa.
Pangeran Naufal dan pangeran Fardi bergegas ke tempat acara dan sesampainya disana mereka memberitahukan ke semua orang untuk mengungsi. Semua orang tertawa lalu ayah dan ibu pangeran Naufal dan pangeran Fardi menghampiri kedua anaknya.
Mereka berdua berkata jangan mengatakan hal yang tidak bagus, kedua anaknya mengatakan hal yang sebenarnya tetapi kedua orangtuanya tidak mempercayai hingga suara benturan yang luar biasa terdengar dari luar. Raja, ratu, dan kedua pangeran melihat jendela keluar.
Penyerangan telah dimulai, Ayah para pangeran membubarkan acaranya, sang ratu dan kedua pangeran membantu para tamu undangan untuk mengungsi. Sedangkan sang raja mengumpulkan seluruh prajuritnya dan memimpin peperangan dalam kasti dan peperangan itu terjadi dengan dashyat.
Sang ratu dan kedua anaknya berhasil membawa tamu undangan ke tempat pelarian yang dimana ada banyak perahu disiapkan untuk situasi genting seperti sekarang. Para tamu undangan satu persatu menaiki perahu kayu kecil dan tersisa satu perahu yang tersedia, pangeran Naufal meminta sang ibu dan adiknya untuk menaiki kapal.
Pangeran Fardi bertanya bagaimana dengan pangeran Naufal dan pangeran Naufal membalas dia akan membantu ayahnya perang. Lalu pangeran Fardi tidak menginginkan pangeran Naufal pergi sendirian dan ingin ikut dengan kakaknya tetapi pangeran Naufal melarangnya karena terlalu berbahaya dan mereka berdua di dorong sama mamanya ke perahu lalu sang mama memotong tali yang menahan perahu kayu itu.
Sang pangeran berteriak memanggil mamanya dan mereka memberikan tangan bermaksud untuk mamanya ikut naik perahu tetapi mamanya menolak dan berkata "Sebagai Ratu, mama tidak bisa meninggalkan bapak kalian dan mama menugaskan kalian berdua untuk harus terus hidup! Selama kalian hidup kerajaan Mahanubhawa tidak akan kalah!"
"Abang... Jagalah adikmu dengan baik." Setelah kata itu berakhir sang ratu pergi meninggalkan kedua anaknya yang kebawa arus danau yang menjauhi kastil. "Ya ma... Abang berjanji akan melindungi adik yang Abang sayangi." Tidak kemudian ada ledakan besar dan menghancurkan setengah bagian kastil.
Sang pangeran Fardi menangis setelah melihat tempat tinggalnya hancur dan terbakar. Pangeran Naufal meluk adiknya dan mencoba menenangkannya, setelah beberapa menit di danau akhirnya kapal mereka sampai di daratan dan mereka berdua turun dari perahu dan menjauh dari kastil.
Pangeran Fardi masih bersedih setelah melihat tempat tinggalnya diserang. Pangeran Naufal menggandeng tangan adiknya dengan erat supaya tidak berpisah. Sesaat mereka berhenti dan pangeran Naufal berbicara dengan adiknya untuk mempercayai bapak dan mama tidak akan kalah dengan mudah.
Pangeran Naufal juga berjanji akan melindungi adiknya yang tampan dan imut karena mamanya juga meminta tolong ke Abang untuk menjaga adiknya yang masih kecil. Setelah diyakinkan oleh Abangnya pangeran Fardi siap melangkah maju ke depan bersama Abangnya.
Dipertengahan jalan kedua pangeran disambut oleh pasukan musuh, pangeran Naufal mengeluarkan pedang barunya dan menyuruh adiknya untuk berlindung di belakangnya. Dengan teknik yang ia pelajari dari temannya pangeran Naufal dapat mengalahkan prajurit-prajurit musuh.
Lalu ada satu orang yang muncul dari belakang mereka, orang itu menggunakan pakaian seperti adat Jepang yang berwarna biru.
Dengan santainya orang itu perlahan mendekati pangeran Naufal dan pangeran Fardi. Kedua pangeran bisa merasakan hasrat yang menyeramkan dari orang tersebut. Saat pangeran Naufal berkedip sesaat orang itu sudah ada di depannya dan orang itu merebut dan membuang pedang pangeran Naufal.
Pangeran Naufal mencoba untuk memukulnya tetapi pukulan pangeran Naufal dengan mudahnya di tangkap dan orang itu memukul pangeran Naufal dengan cepat hingga pangeran Naufal tidak dapat melihat dan menahan serangannya dan pangeran Naufal jatuh berlutut, merintih kesakitan.
Sang adik, pangeran Fardi menyemangati abangnya tetapi orang itu menyerang pangeran Fardi hingga ia tidak menyadarkan dirinya. Orang itu mengangkat pangeran Fardi, setelah melihat adiknya terluka pangeran Naufal murka dan berlari kearah orang itu untuk merebut adiknya kembali.
Dengan satu tangan orang itu memukul perut pangeran Naufal dengan keras di sambung dengan jontos runjam (Uppercut) dagu pangeran dan mencekik leher Pangeran Naufal. Pangeran Naufal tak bisa berbuat apa-apa kecuali mendesah kesakitan. Perlahan nafas yang masuk berkurang, kedua matanya mulai menutup dan akhirnya pangeran Naufal pingsan dicekik sedangkan orang itu membawa pangeran Fardi pergi entah kemana.