Aku membuka mata dengan panik, terengah-engah seolah baru saja tenggelam dalam lautan mimpi buruk.
Dan ternyata... aku memang masih di dalam mimpi buruk itu.
Langit-langit kamar ini terlalu tinggi, terlalu putih. Suara detik jam terdengar tajam di telinga. Aku duduk tegak, jantungku masih berdetak cepat. Mimpi semalam begitu nyata—ibuku berdarah-darah, memanggil namaku. Aku kecil, bersembunyi di balik sofa, dan ada pria bertopeng menodongkan pistol.
Lalu semua gelap.
Aku memegang kepala. Entah kenapa... aku mulai percaya, ada bagian dari diriku yang telah dikunci rapat selama ini. Dan sekarang, satu per satu mulai terbuka.
Kutoleh ke jendela besar. Masih pagi. Cahaya mentari menerobos lewat celah tirai beludru.
Aku berdiri, berjalan ke arah pintu. Seperti dugaanku, masih terkunci. Kuketuk. Tak ada yang menjawab. Kuketuk lebih keras, lalu berteriak.
"Buka pintunya! Aku ingin keluar! Aku harus pulang! Kalian tidak bisa menahanku seperti ini!"
Suara sepatu mendekat. Pintu dibuka. Lucia berdiri di sana, membawa nampan dengan secangkir teh dan roti panggang.
"Selamat pagi, Nona Tesha," ucapnya lembut.
"Aku bukan nona siapa-siapa," kataku ketus. "Dan aku tidak akan sarapan sampai aku tahu apa yang sebenarnya kalian mau dariku."
Lucia meletakkan nampan di atas meja kecil dan berkata pelan, "Tuan Adrian akan menjelaskannya sendiri padamu. Dia ingin berbicara hari ini."
Aku mendengus. "Oh, jadi setelah menculikku, mengurungku, sekarang dia ingin bicara baik-baik?"
Lucia menunduk. Matanya tampak cemas. "Dia mungkin terlihat menakutkan, tapi dia bukan orang jahat."
Aku nyaris tertawa. "Lucia, orang baik tidak menculik wanita dari jalanan."
Sebelum Lucia sempat menjawab, pintu terbuka lagi. Kali ini... Adrian Moretti berdiri di sana.
Dengan kemeja hitam yang disisakan dua kancing terbuka, celana panjang mahal yang pas di tubuhnya, dan jam tangan logam gelap yang berkilau, dia tampak seperti definisi sempurna dari bahaya berwajah tampan.
Lucia menunduk cepat dan melangkah pergi.
Aku berdiri kaku, mencoba mengontrol gemetar di kaki. Tapi detak jantungku seperti palu godam di d**a.
"Selamat pagi," katanya datar.
"Kalau kau pikir aku akan menyapamu balik setelah menculikku, kau pasti terlalu percaya diri," sahutku sinis.
Adrian menatapku sejenak, lalu menarik kursi dan duduk di hadapanku. Dia mengeluarkan selembar foto dan meletakkannya di meja.
"Aku tak akan memaksamu percaya. Tapi setidaknya... lihat ini."
Aku melihat foto itu. Seorang wanita muda, berambut panjang kecokelatan, tersenyum ke arah kamera. Wajahnya... terlalu familiar.
Dadaku seperti tertusuk sesuatu yang tajam.
Aku mengambil foto itu. "Ini... siapa?"
"Serena De Fiore. Ibumu."
"Aku tidak kenal dia."
"Tapi dia mengenalmu. Foto itu diambil seminggu sebelum dia dibunuh."
Aku menggigit bibir bawahku. "Dan kau harap aku langsung percaya begitu saja?"
Adrian mengeluarkan sebuah kalung kecil dari sakunya. Liontin perak berbentuk hati. Ia meletakkannya di atas meja.
"Dia meninggalkannya untukmu. Ada inisial di dalamnya. T.D.F."
Tanganku refleks meraih liontin itu. Saat kubuka... ada foto kecil seorang bayi. Dan di balik tutup liontin terukir: Tesha De Fiore.
Dunia runtuh di sekelilingku.
Lidahku kelu. Mataku berkaca-kaca. "Ini... ini lelucon, kan?"
"Bukan," katanya pelan.
Aku menjatuhkan liontin itu. "Kenapa aku tidak tahu?! Kenapa ayahku... lelaki yang membesarkanku... tidak pernah bilang?!"
"Karena dia sedang melindungimu. Dia adalah bodyguard ibumu. Namanya Marco. Setelah ibumu dibunuh, dia kabur membawa bayi kecil—kamu. Dia menyamar jadi ayahmu dan menjauh dari dunia mafia."
"Kenapa dia tidak memberitahuku siapa aku sebenarnya?!"
Adrian menatapku dalam-dalam. "Karena dia tahu, identitasmu adalah kutukan. Kau pewaris sah De Fiore. Dan semua orang ingin kau mati."
Aku duduk di lantai, tubuhku lemas. Napasku pendek-pendek. Segalanya terasa terlalu cepat, terlalu gila. Aku hanya gadis biasa yang ingin hidup tenang. Aku kuliah, kerja part-time, pulang malam… lalu tiba-tiba diculik dan diklaim sebagai pewaris mafia.
"Jadi... apa rencanamu, Adrian?" bisikku lirih. "Menyimpanku di sini sampai kapan? Membunuhku kalau aku membangkang?"
Dia mendekat, lalu berlutut di hadapanku. "Aku tidak akan membunuhmu. Tapi aku juga tidak bisa melepaskanmu. Dunia terlalu kejam untukmu di luar sana."
"Jangan sok tahu!" bentakku. "Aku hidup 19 tahun tanpa kalian, tanpa dunia mafia kalian. Aku bisa urus diriku sendiri!"
Adrian menggeleng pelan. "Tidak bisa lagi. Karena keberadaanmu sudah diketahui. Dan sekarang... kau target."
Aku mendongak, menatap matanya.
"Kenapa kau begitu peduli, huh? Kau bahkan anak dari musuh ibuku! Keluargamu... keluarga Moretti... yang membunuh ibuku, bukan?!"
Untuk pertama kalinya... ekspresinya berubah. Ada luka di sana. Luka yang dalam.
"Serena adalah teman ibuku," katanya pelan. "Dan dia bukan dibunuh oleh Moretti. Tapi oleh seseorang dari dalam De Fiore. Kau pikir perang ini hanya antara dua keluarga? Tidak, Tesha. Musuh terbesarmu justru darah dagingmu sendiri."
Aku terdiam. Napasku tercekat. Tidak. Tidak mungkin. Ini semua... terlalu rumit.
"Lalu kenapa... kenapa kau repot-repot menyelamatkanku?" tanyaku akhirnya. "Kenapa tidak biarkan saja mereka membunuhku?"
Adrian tidak langsung menjawab. Dia berdiri perlahan, membelakangi jendela. Cahaya matahari menyorot siluet tubuhnya yang tinggi dan kokoh.
"Aku tidak bisa menjelaskan sepenuhnya. Tapi saat aku menemukanmu... dan melihat wajahmu... aku tahu aku tidak bisa membiarkan mereka menyentuhmu."
"Kau tidak mengenalku."
"Tapi aku mengenal tatapan matamu."
Aku terpaku.
"Lima belas tahun lalu, saat ibumu dibunuh, aku ada di sana. Aku bersembunyi di balik pilar. Aku melihat semuanya. Aku melihat bayi kecilmu menangis saat Serena roboh bersimbah darah."
Dadaku sesak. Mataku panas. Aku memeluk diriku sendiri.
"Aku melihatmu pertama kali... dan sejak itu, aku tidak pernah bisa melupakan matamu."
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Adrian mendekat. Tangannya terulur, menyentuh pipiku. Jemarinya dingin. "Aku telah hidup di dunia penuh darah dan kebencian. Tapi matamu... membuatku ingin percaya ada hal lain."
Tangisku pecah.
"Aku tidak ingin jadi bagian dari ini semua..."
"Aku tahu."
"Aku takut, Adrian."
Dia mendekapku tiba-tiba. Tubuhnya hangat. Detak jantungnya terasa di dadaku. Untuk pertama kalinya, sejak hari itu dimulai, aku merasa... sedikit aman.
"Aku janji akan melindungimu. Meski itu berarti... harus melawan keluargaku sendiri."
Dan saat dia memelukku lebih erat, aku sadar...
Aku tidak hanya terperangkap dalam sangkar emas.
Aku mulai terikat oleh pria yang seharusnya menjadi musuhku.
Dan itu… jauh lebih berbahaya dari perang mana pun.
***
Aku masih terdiam di pelukannya.Sesak yang tadi menyesak di dadaku perlahan berubah jadi hangat yang membingungkan.Aku harusnya mendorongnya,melarikan diri,berteriak dan memukulnya karena telah menculikku dan mencabik kehidupanku yang tenang.
Tapi entah kenapa,pelukannya justru menenangkan.
Ini gila.
Aku yang waras tidak akan nyaman dipeluk penculik.Apalagi pria mafia yang mengaku hidup di antara darah dan dendam.
Tapi saat ini,suaranya yang pelan di dekat telingaku membuat semuanya terasa sedikit...lebih ringan.
"Aku tahu kau tidak percaya padaku,"bisiknya."Dan kau punya hak untuk itu.Tapi jangan percaya siapa pun di luar sana,apalagi mereka yang mengaku keluargamu."
Aku menggigit bibirku.Masih tak bisa menjawab.
"Aku akan buktikan sendiri siapa mereka sebenarnya."
"Apa maksudmu?"aku mendongak,menatap matanya.
"Ada rencana.Rapat rahasia.Di keluarga De Fiore.Pamanku...mereka ingin meresmikan siapa pewaris kekuasaan selanjutnya.Tanpa kau."
"Jadi mereka pura-pura tidak tahu aku hidup?"bisikku.
"Mereka tahu.Karena itulah kau dikejar.Bukan untuk diakui.Tapi...dihilangkan."
Aku menelan ludah.
"Aku bisa buktikan padamu bahwa kau tak bisa kembali ke kehidupan lamamu.Karena saat kau melangkah keluar...seseorang akan menunggu dengan peluru di tangannya."
Aku terduduk di tempat tidur.
Dunia ini terlalu rumit.Terlalu berbahaya.Dan aku...terlalu biasa untuk berada di tengahnya.
"Aku cuma ingin jadi mahasiswi biasa.Aku ingin bangun pagi,pergi ke kampus,minum kopi murah dari warung ujung jalan dan pulang ke kontrakan kecilku yang pengap.Aku tidak minta semua ini,"ucapku pelan,mataku mulai panas lagi.
"Aku tahu,Princess,"gumam Adrian."Sayangnya,kehidupanmu bukan kehidupan yang bisa kau pilih."
Ia berdiri perlahan lalu berjalan ke arah pintu."Aku akan memberimu waktu.Aku tak akan memaksa apapun.Tapi ingat,satu hal saja,Kau hidup karena aku memutuskan melindungimu.Dan keputusanku itu akan membuat banyak orang ingin membunuhku juga."
Langkahnya menjauh.
"Adrian,"panggilku sebelum ia keluar.
Ia menoleh.
"Apa yang kau dapatkan dari semua ini?"
Dia diam sejenak.Suaranya rendah saat menjawab,"Mungkin...penebusan."
Klik.Pintu menutup kembali.
Malamnya aku berdiri di depan jendela besar di kamarku.Jendela itu menghadap taman belakang yang dijaga dua pria bersenjata.Mereka tidak pernah bergerak jauh dari posnya.Seperti patung hidup.Yang siap menembak siapa pun yang mencoba masuk...atau keluar.
Langit cerah.Bintang-bintang bertaburan.
Di dunia lamaku,aku biasa duduk di atap kontrakan sambil melihat langit dan menulis puisi kecil di notes-ku.Tapi sekarang...aku bahkan tidak bisa melihat langit tanpa perasaan terkekang.
Aku mengusap liontin kecil yang kini kugantungkan di leherku.Tesha De Fiore.Begitu katanya.
Siapa aku sebenarnya?
Siapa ibuku?
Siapa pria yang selama ini kupanggil ayah?
Dan...apa Adrian benar-benar ingin melindungiku...atau hanya sedang memainkan pion dalam perangnya sendiri?
Tiba-tiba pintu kamar terbuka tanpa ketukan.Aku langsung menoleh dan menemukan Adrian berdiri di ambang pintu,tanpa jas,hanya kemeja putihnya yang basah karena gerimis di luar.
"Kenapa kau datang malam-malam begini?"tanyaku waspada.
"Ada yang ingin kutunjukkan,"ujarnya singkat.
"Aku tidak ingin lihat apapun darimu sekarang."
"Percayalah.Kau ingin melihat ini."
Aku ragu.Tapi rasa penasaranku lebih kuat dari ketakutanku.
Ia mengulurkan tangan."Ikut aku."
Setelah beberapa detik bimbang,aku meraih tangannya.
Kami berjalan menyusuri lorong panjang di lantai bawah vila.Sunyi.Tak ada satu pun pelayan.Sampai kami berhenti di depan sebuah pintu besi berlapis kode keamanan.
Adrian memasukkan serangkaian angka dan membuka pintunya perlahan.
Ruangan itu seperti bunker.Dingin,dipenuhi berkas-berkas,kotak logam,dan...layar-layar CCTV.
Di tengah ruangan ada layar besar yang menampilkan rekaman dari kamera tersembunyi di sebuah tempat yang tampak seperti kantor tua.Terlihat beberapa pria berbicara serius.
"Apa ini?"
"Ini...rapat rahasia keluarga De Fiore yang kuintai lewat orangku."
Aku melangkah mendekat.
Suara dalam rekaman itu mulai jelas.
"...kita harus selesaikan anak perempuan itu,"kata salah satu pria."Dia ancaman.Kalau publik tahu dia hidup,kita kehilangan semuanya."
"Marco menyembunyikannya dengan terlalu rapi,"kata yang lain.
"Lebih cepat dia mati,lebih baik."
Tubuhku membeku.
Mereka membicarakanku.
Adrian menatapku,matanya tajam."Sekarang kau mengerti?Mereka bukan keluargamu.Mereka pemburu.Dan kau...buruan mereka."
Aku duduk perlahan,lemas.
Tanganku gemetar.
"Aku akan kirim semua ini ke jurnal pribadi digitalmu.Kau boleh menyimpan,melapor,melakukan apapun.Tapi aku ingin kau tahu...aku tidak menculikmu karena aku jahat.Aku menculikmu...karena aku tidak ingin melihatmu mati seperti ibumu."
Aku menoleh menatapnya,dengan air mata menggantung di kelopak mataku.
"Kalau begitu...kenapa hatiku masih bingung mempercayaimu?"
Adrian mendekat,berlutut di hadapanku.
"Aku tidak butuh kepercayaanmu sekarang,Aku hanya butuh kau tetap hidup,Cinta bisa menunggu,Tapi nyawamu tidak."
Dan untuk pertama kalinya,dalam gelap dan sunyinya ruangan itu,aku merasa...aku mungkin sedang jatuh ke dalam sesuatu yang lebih rumit dari perang lebih dalam dari dendam dan lebih mematikan dari peluru.
Aku mungkin sedang jatuh...pada pria yang seharusnya tak pernah kujamah.