"Iya, tenang saja. Aku akan menunggu di sini," sahut Winter.
Song Lianyu dibawa ke ruangan pemilik toko pil. Di depan sebuah ruangan, gadis itu mengetuk pintu.
"Masuklah!" jawab suara dari dalam. Terdengar dari suara sepertinya seorang perempuan, pikir Song Lianyu.
Song Lianyu dipinta untuk duduk di kursi yang cukup nyaman untuk diduduki. Dia duduk tepat di depan seorang wanita yang tampak cantik dan dewasa dengan meja sebagai pembatas. Di atas meja ada teko beserta empat cangkir yang terbuat dari giok ungu dan beberapa mangkuk makanan ringan.
"Nona, yang ingin berbisnis dengan tokoku?" tanya pemilik toko itu langsung.
"Iya," jawab Song Lianyu mengangguk. Entahlah dia harus memanggil wanita itu dengan panggilan apa. Soalnya mau dipanggil bibi takut, dia marah. Dipanggil ibu, nant