Ciuman mereka berlanjut, dan Davina sempat membalas tanpa memikirkan pertengkaran. Ketika kedekatan itu mulai melampaui yang diinginkannya, ia menahan bahu Devon.
'Devon, berhenti dulu.'
Suaranya terlalu pelan pada percobaan pertama. Ia mengangkat wajah, mencari mata pria itu agar dapat didengar.
'Please. Stop.'
Devon berhenti. Davina menarik napas dan memperbaiki pakaian, menunggu sampai ia tidak lagi berada terlalu dekat.
'Kenapa?' tanya Devon.
'Jangan lakukan sesuatu yang akan kita sesali.'
'Tapi tadi kamu membalas.'
'Aku tahu. Sekarang aku ingin berhenti. Aku hanya ingin melakukannya dengan orang yang mencintaiku.'
Tubuh Devon menegang. Ia akhirnya menyingkir tanpa meneruskan. Davina berbaring membelakanginya, merasa lega sekaligus sedih karena perlu menyebut cinta untuk menjelaskan sesuatu yang sebenarnya cukup dihentikan dengan satu kata. Devon tidak menyentuhnya lagi malam itu.
***
Ketika bangun keesokan paginya, Davina menemukan wajah Devon persis berada di hadapannya. Pria itu tidur menghadapnya. Pakaiannya sudah diganti dengan piyama, bukan lagi jubah mandi seperti semalam. Matanya terpejam, sementara napasnya tampak teratur.
Diam-diam Davina mengamati wajah suaminya. Dimulai dari alis tebal Devon yang membingkai matanya, turun ke hidungnya yang mancung, lalu berhenti di bibirnya yang sering kali mengucapkan kata-kata menyebalkan. Secara keseluruhan wajah tampan Devon bisa disebut maha karya yang indah yang diciptakan Tuhan. Andai pria ini tidak punya temperamen buruk dan mendeklarasikan perang dengannya sejak awal, mungkin Davina bisa jatuh hati pada wajah tampannya.
Davina menarik napas dalam-dalam. Mengapa mereka harus berakhir seperti ini? Lebih parahnya lagi, semalam ia mulai menyesal telah merencanakan rencana balas dendam. Mereka berdua nyaris saja terhanyut, lalu dengan terpaksa mengakhiri semuanya sebelum terlambat,
Andaikan sejak awal Devon tidak langsung menunjukkan rasa tidak suka padanya. Andai saja pria itu tidak mendeklarasikan permusuhan. Mungkin mereka bisa mencoba saling mengenal dan mengakrabkan diri. Setelahnya, apakah bisa saling mencintai atau tidak, bisa mereka putuskan setelah mencoba. Namun kenyataannya berbeda. Devon langsung memutus hal itu semuanya. Tidak ada coba-coba. Yang ada hanya mereka harus menjalani ini semua meski harus saling menyakiti.
Davina bangkit dan beranjak dari ranjang. Semakin lama ia menatap Devon, semakin banyak pengandaian yang berkecamuk di pikirannya. Ia lalu membuka pintu secara perlahan, dan melangkah keluar kamar menuju teras lantai dua. Sebentar lagi matahari akan terbit. Davina pun menaiki anak tangga tanpa alas kaki, lalu membuka pintu kaca menuju teras.
Dinginnya udara pagi langsung menyambutnya ketika Davina melangkah ke teras lantai dua tersebut. Sambil memeluk dirinya, Davina melangkah di lantai kayu dan duduk di kursi teras yang beralaskan bantalan empuk dan memiliki atap rendah berbentuk kubah dari daun kering. Teras atas vila ini memiliki pemandangan yang bagus. Jika duduk di sisi ini pagi hari, kamu akan melihat matahari terbit. Dan jika duduk di sisi yang berseberangan pada sore hari, kamu bisa menikmati matahari terbenam.
Matahari perlahan bergerak naik. Memancarkan sinar keemasannya. Davina tersenyum tipis dan beranjak dari kursi menuju sisi pagar pembatas untuk menikmati sinar matahari yang perlahan membuat semuanya tampak jelas.
Ketika cahaya tersebut semakin terang, Davina pun menutup matanya. Membayangkan jika ia menikmati hal ini dengan seseorang yang memeluknya dari belakang, memberikannya kehangatan di tengah udara pagi yang masih terasa dingin ini. Seseorang yang teramat mencintainya, dan begitu memujanya. Hal yang ia sadari tidak akan pernah ia miliki karena telah terikat dengan seorang Devon Mahawira. Tidak ada perceraian dalam pernikahan ini. Sekalipun Davina menemukan pria yang mencintainya, ia tidak bisa bercerai dari Devon. Setidaknya selama orangtuanya hidup. DM Corp akan terpecah jika ia melakukan itu, dan para pesaing akan sangat senang jika sampai hal itu terjadi.
Di tengah perasaannya yang mendadak mellow itu, tiba-tiba dua buah lengan muncul dari belakang dan memeluk Davina erat. Davina terkejut. Namun ia belum sempat menoleh ketika sebuah suara berbisik di telinganya.
'Kamu bisa masuk angin jika berpakaian seperti ini di luar,' bisik Devon.
'D-devon, lepas.' dada Davina mendadak berdebar. Ia baru saja membayangkan hal ini, namun seketika jadi kenyataan. Ia tidak bisa membiarkan perasaan meletup-letup penuh kebahagiaan ini menguasainya karena Devon bukanlah pria yang ia harapkan. Devon tidak mencintainya.
'Aku juga ingin melihat matahari terbit,' jawab Devon.
'Tapi kamu bisa lepaskan aku.'
'Tidak mau,' ujar pria itu. 'Akan sangat merepotkan jika kamu sampai masuk angin.'
'Aku tidak akan masuk angin,' kata Davina.
'Untuk berjaga-jaga, jika kamu sampai masuk angin, aku yang akan dibuat repot.'
'Tapi...'
'Hey, aku sudah bilang kan semalam. Bisakah selama di sini kita lupakan apa yang terjadi di antara kita dan nikmati saja semua ini bersama-sama?'
Davina menjauhkan tangan Devon, lalu melepaskan diri. Ia pun memutar tubuh menghadap pria itu.
'Hanya selama di sini?' tanya Davina.
'Ya, setelahnya kita bisa kembali seperti semula,' jawab Devon.
Davina diam. Kembali seperti semula katanya. Mereka akan hidup sendiri-sendiri meski sudah berstatus suami istri. Bukan ini yang Davina mau.
Davina menarik napas dalam-dalam. Devon tetaplah Devon. Hanya akan melakukan sesuatu untuk kepentingan dirinya sendiri. Davina tidak akan pernah sudi jika hanya dijadikan pemuas nafsu.
Ia pun mengangkat dagu, lalu menatap Devon. 'Terserah kamu saja,' ujarnya lalu beranjak meninggalkan pria itu seorang diri di sana.