Davina masih memandang sisa cahaya di permukaan laut ketika petugas mempersilakan mereka duduk. Ia baru menyadari satu tangannya tetap berada di atas lengan Devon. Perlahan ia melepas, menoleh, lalu tersenyum karena pria itu sedang berusaha merapikan rambut yang kembali ditiup angin. Penampilannya tidak sesempurna saat pertama berdiri memperlihatkan kejutan.
'Kamu seharusnya memilih tempat yang anginnya mau mendengarkanmu,' goda Davina.
'Aku sudah coba mengajukan permohonan. Ditolak.'
Ia tertawa. Devon menarik kursi, menunggu sampai ia duduk, kemudian mengambil tempat di seberang. Ada hidangan yang pernah dilihat pada daftar restoran dan beberapa pilihan yang belum dicobanya. Davina menanyakan nama satu makanan kepada petugas, lalu mencoba setelah mendengar penjelasan. Ia tidak perlu berpura-pura mengenal agar kelihatan pantas berada di meja mahal.
Devon memperhatikannya dengan senyum yang membuat ia ingin membalas. Untuk beberapa menit mereka makan sambil membicarakan snorkeling. Davina menyebut ikan yang gagal dilihat karena Devon lebih sibuk menunjukkan arah berbeda. Pria itu bersikeras ikan yang dimaksud memang ada, hanya lebih cepat berenang daripada kemampuan Davina menoleh.
'Jadi tetap aku yang salah?'
'Ikan itu tidak bisa kita ajak berdebat.'
Davina tertawa, lalu teringat betapa berbeda suaranya ketika meminta Devon berhenti mengejar sehari sebelumnya. Rasa nyaman tidak menghapus ingatan itu. Ia meletakkan garpu, memandang tenda serta lilin yang disiapkan dengan indah, dan menemukan kalimat yang sejak tadi belum ingin keluar.
'Aku suka makan malam ini. Tapi jangan jadikan hadiah karena aku mengganti pakaian sesuai kemauanmu.'
Senyum Devon berkurang. Ia hendak menjawab sesuatu, lalu mengusap sisi gelas. 'Tadi aku memang bilang begitu.'
'Aku ingat. Aku juga ingat kamu menarik pakaianku setelah aku bilang jangan. Kamu berhenti waktu aku menangis. Seharusnya nggak perlu sampai begitu.'
Devon menatap hidangan yang belum habis. Ia tidak suka pembicaraan tersebut datang di tengah sesuatu yang sudah diusahakan dengan baik. Davina dapat melihat rahangnya menegang, dan untuk sesaat ia menyiapkan diri mendengar bahwa ia merusak suasana. Namun Devon hanya memindahkan gelas, memberi tempat bagi kedua tangan pada meja.
'Aku membuatmu takut,' katanya. 'Bukan sekadar kamu terlalu sensitif.'
Davina mengangguk, masih menunggu.
'Aku juga menarik syalmu semalam karena ingin Erick melihat. Aku memakai alasan serangga supaya kamu tidak sempat menolak.'
'Aku tahu.'
Ia menoleh cepat. Davina menahan keinginan tersenyum pahit. Ia tidak ingin Devon kagum karena istrinya berhasil menebak seperti mereka sedang bermain lagi. Ia ingin suaminya mengetahui ia dapat mengenali ketika jalan memilihnya diambil dengan dalih yang dibuat-buat.
'Aku minta maaf,' kata Devon setelah beberapa saat. 'Aku tidak tahu cara mengatakan ini supaya kamu percaya.'
'Kamu nggak harus menemukan kalimat yang langsung membuatku percaya. Berhenti kalau aku bilang berhenti. Jangan mengejek setelahnya. Itu bisa dilakukan meskipun kamu belum mencintaiku.'
Devon mengangguk. Ia kemudian mengatakan ancaman yang dilontarkan di dapur pada pagi keberangkatan juga tidak pantas. Ia marah karena Davina meninggalkan kamar, lalu sengaja mencari sesuatu yang dapat membuatnya merasa lebih kuat. Davina mendengar kata-kata itu tanpa harus menghibur agar Devon tidak terlalu menyesal.
'Aku masih tertarik padamu,' katanya. 'Aku juga masih ingin liburan ini menyenangkan. Dua hal itu tidak berarti aku akan menganggap semuanya bercanda.'
'Aku dengar.'
Petugas mendekat menanyakan apakah hidangan berikut dapat disajikan. Davina melihat piringnya, memilih menghabiskan sedikit yang tersisa dahulu, lalu meminta beberapa menit. Devon menunggu tanpa mengisi semua diam dengan penjelasan. Ketika akhirnya ia mengambil garpu, Davina ikut makan. Mereka belum mempunyai sesuatu yang dapat disebut penyelesaian sempurna, tetapi ia tidak lagi perlu menahan kalimat agar meja tetap terlihat romantis.
Sesudah hidangan berikut datang, ia mengingat satu pertanyaan yang tertinggal dari taruhan parasailing.
'Foto SMP itu. Kamu dapat dari siapa?'
Devon mengembuskan napas. 'Hawa, saudaraku. Dia melihat unggahan lama yang dibagikan lagi di antara kenalan sekolah. Aku meminta salinan setelah mendengar namamu.'
'Dan kamu pikir itu lucu?'
'Awalnya aku ingin tahu. Lalu kupakai membuatmu kesal ketika mendengar nama Darrel.'
Davina memegang serbet cukup lama. Ia tidak mengetahui gambar tersebut masih beredar. Ia meminta Devon menunjukkan salinan yang dimilikinya sebelum memutuskan langkah terhadap unggahan lama itu. Devon membuka foto yang dimaksud, menyerahkan layar untuk diperiksa, lalu menghapus salinannya setelah Davina meminta. Ia mengirim pesan kepada Hawa agar tidak meneruskan gambar, dengan penjelasan bahwa kejadian itu membuat Davina pindah sekolah dan bukan bahan lelucon keluarga.
'Aku nggak pernah pacaran sama Darrel,' ujar Davina. 'Tugas MOS itu membuat orang merasa boleh mempermalukan yang lebih muda.'
'Aku tahu. Aku tidak akan memakainya lagi untuk mengejekmu.'
Davina mengangguk. Permintaan berikut kepada orang yang memasang unggahan dapat dilakukan setelah ia mengetahui tempat serta jalurnya. Malam ini ia tidak harus menuntaskan semua masa SMP dari satu ponsel. Devon menyimpan perangkat setelah pembicaraan selesai, lalu menanyakan apakah ia masih ingin makanan penutup.
Sebelum Davina menjawab, angin mengangkat ujung serbet Devon hingga hampir mengenai gelas. Pria itu menangkap terlalu cepat dan justru menjatuhkan sendoknya sendiri. Davina menutup mulut, terlambat menyembunyikan tawa. Devon menatapnya, lalu menertawakan hasil usahanya setelah meminta alat pengganti kepada petugas. Davina baru menyadari ia belum pernah melihat suaminya menerima kegagalan kecil tanpa menyebut seseorang yang harus disalahkan. Ia mengambil gelasnya sendiri agar tidak tersenggol ketika keduanya mencoba merapikan meja.
'Mau. Kalau kamu mau berdamai dengan istrimu, jangan mencoba mengambil bagian cokelatku.'
Devon menatap dua piring yang baru tiba. 'Aku belum melakukan apa-apa sudah dituduh.'
'Pencegahan.'
Ia tertawa, menggeser piring miliknya agar jauh dari jangkauan Davina yang justru hendak mencicipi. Perdebatan kecil mengenai cokelat membuat mereka tersenyum lagi. Davina tidak melupakan pembicaraan sebelumnya. Ia hanya merasakan bahwa ia masih boleh menikmati sesuatu tanpa perlu menyatakan sudah memaafkan seluruhnya.
Ketika lilin mulai pendek, mereka berdiri untuk kembali ke vila. Devon menawarkan lengan, dan Davina memilih menggenggam tangannya. Di pasir yang tidak rata, langkah mereka beberapa kali tidak bersamaan. Ia menunggu sampai Devon menyesuaikan, lalu meneruskan perjalanan tanpa membicarakan bagaimana keadaan mereka setelah pesawat membawa pulang ke Jakarta.