Bioskop tersebut ada di sisi lain pantai. Dengan beberapa kursi lebar berbentuk tempat tidur agar penonton bisa duduk sambil berselonjor, yang dialasi dengan matras empuk. Di dalam air, berdiri beberapa tiang penyangga sebuah layar putih besar yang nantinya akan menayangkan film yang diputar.
Beberapa kursi tampak sudah terisi oleh beberapa pasangan. Lampu-lampu berwarna kuning berjejer di atas pasir, memberikan pencahayaan redup agar suasana terasa romantis.
'Kita tidak terlambat, kan,' bisik Devon seraya mengulurkan tangan pada Davina.
'Nope,' ujar Davina seraya menyerahkan tangannya untuk digenggam Devon, dan mereka berdua melangkah menuju salah satu tempat yang diarahkan oleh petugas.
Mereka naik ke atas tempat duduk yang mirip tempat tidur tersebut, lalu bersandar di tumpukan bantal besar. Ada sebuah selimut besar di sana bagi yang merasa tidak tahan dengan angin malam.
'Apa sekarang perutmu terasa sakit?' tanya Devon.
Davina menoleh dengan bingung, lalu menggeleng. 'Nggak kok. Memangnya kenapa?'
Devon membentangkan selimut, lalu menyelimuti kaki Davina. 'Soalnya tadi kamu makan dengan terburu-buru karena takut terlambat.'
Sesaat Davina tersentuh dengan perhatian Devon. Jadi karena itu Devon khawatir padanya.
'Nggak kok, aku baik-baik aja,' ujar Davina tersenyum.
'Syukurlah,' ujar Devon.
'Omong-omong, apa layarnya nanti nggak akan bergoyang karena ditiup angin?' tanya Davina sambil menunjuk layar di hadapan mereka.
'Semua itu sudah diatur dan diperhitungkan oleh mereka. Kemarin saat aku nonton, semua baik-baik saja kok,' jawab Devon.
Davina mengangguk. Sambil menunggu film diputar, ia kemudian menatap ke sekeliling. Lalu tiba-tiba saja matanya menatap sosok yang hendak melewati tempat duduk mereka. Bukan hanya Davina saja, melainkan sosok itu ternyata juga melihat mereka.
Sialan! Devon seketika mengumpat di dalam hati.
'Hai, Davina. Devon,' ujar Erick lalu melangkah mendekati mereka. 'Kalian sudah berbaikan sekarang. Syukurlah...'
Devon lagi-lagi ingin mengumpat. Sejak di restoran tadi ia sudah berusaha membuat Davina dan dirinya tidak bertemu Erick. Sebisa mungkin Devon mengalihkan Davina agar tidak melihat ke arah pria itu. Lalu kini, setelah ia susah payah menghindarinya, Erick muncul begitu saja di hadapan mereka.
'Kak Erick jalannya cepat banget sih,' ujar perempuan yang menyusul di belakang Erick. Ada tiga perempuan lain yang mengekorinya.
Erina dan tiga temannya kini berdiri berjejer dengan Erick. Mereka berlima menatap ke arah Devon dan Davina.
'Hai, Devon. Kita bertemu lagi,' ujar Erina.
'Kamu nonton juga ya?' tanya Rania pada Devon.
Menurut ngana? ujar Davina dalam hati. Apa dia pikir Davina dan Devon hanya iseng-iseng saja duduk di sini?
'Kami juga mau nonton lho,' sambar Jenny. Bahkan sebelum Davina atau Devon memberi respons.
Gue nggak peduli, ujar Davina dalam hati. Sementara ekspresinya terhadap empat gadis itu hanyalah senyum tipis yang sejujurnya enggan ia berikan. Meski kini Davina sudah duduk bersama Devon, keempat gadis itu tampaknya masih saja berusaha menarik perhatian suaminya. Davina benar-benar kesal.
'Tadi aku lihat kalian di restoran. Tapi aku nggak enak mau nyapa,' ujar Erick ke Davina.
'Kenapa nggak nyapa?' tanya Devon. Meski bertanya, sebenarnya ia ingin sekali mengusir para pengganggu di hadapannya ini. Ia tidak ingin Erick mencuri-curi pandang ke Davina.
'Kalian kelihatannya sedang asyik mengobrol,' jawab Erick.
'Harusnya tadi kamu samperin aja,' ujar Davina. 'Kita bisa makan malam sama-sama.'
Devon seketika melirik Davina. Ekspresi istrinya itu saat berbicara dengan Erick benar-benar membuatnya kesal. Bagaimana pula Davina bisa berbicara dengan cara seperti itu pada pria di hadapannya ini? Yang boleh menerima senyuman itu hanya Devon. Erick tidak boleh mendapatkannya.
Oke, Devon merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu agar pengganggu di hadapan mereka ini menyingkir. Meski tahu bahwa Davina sudah punya suami, Devon bisa merasakan bahwa Erick masih sangat tertarik pada istrinya.
'Eh iya, kalian duduk di mana?' tanya Davina.
Ketika Davina dan Erick mengobrol, Devon menarik syal dari leher istrinya dengan alasan ada serangga. Davina terkejut dan memegang kain itu sebelum sepenuhnya lepas. Beberapa orang sudah terlanjur melihat bekas kedekatan mereka yang ingin ditutupnya.
'Dev, syalku.'
Devon sempat tersenyum kepada Erick. Davina melihatnya dan langsung memahami alasan yang tidak dikatakannya. Ia mengambil kain kembali, menutup leher sendiri, lalu memberi jarak pada kursi mereka.
Erick berpamitan setelah menyadari suasana berubah. Erina dan teman-temannya mengikuti menuju tempat yang ditunjukkan petugas. Tidak ada kemenangan yang dirasakan Davina ketika rombongan itu akhirnya pergi. Ia justru masih marah kepada orang yang duduk di sebelahnya.
'Malu banget,' bisik Davina sambil menutup wajah dengan telapak tangan. 'Aku sudah nyaris lupa dengan keberadaan tanda yang kamu tinggalin semalam ini.'
'Nggak apa-apa,' ujar Devon sok menenangkan. 'Kenapa harus malu? Mereka tahu kok kalau kita suami istri.'
'Ya malu lah. Bekas beginian dilihat orang-orang. Mereka pasti mikir yang nggak-nggak.'
Devon hendak mengatakan mereka memang sedang bulan madu. Davina memotong sebelum kalimat itu selesai.
'Menikah nggak membuat kamu boleh memperlihatkan apa yang ingin kututupi. Aku nggak mau dibuat tontonan.'
Devon menatapnya, lalu akhirnya menurunkan senyum. 'Aku cemburu melihat Erick.'
'Itu bukan alasan.'
Ia diam. Ketika ia kemudian mendekat hendak mencium, Davina memalingkan wajah dan mengatakan tidak. Kali ini Devon berhenti. Ia merapikan selimut pada kakinya sendiri, membiarkan Davina menentukan apakah ingin tetap duduk di dekatnya.
Film mulai diputar sebelum mereka memperoleh kata yang dapat membuat suasana kembali ringan. Davina tetap menonton. Menjelang bagian tengah, udara semakin dingin dan ia meminta ujung selimut yang belum dipakai. Devon menyerahkannya tanpa menarik tubuhnya mendekat. Davina bersandar setelah beberapa saat karena memang ingin merasa hangat, tetapi tidak mengatakan pelanggaran tadi telah hilang. Devon tidak mencoba mencium lagi.