Devon menghentikan tangannya dan mundur. Davina memegang pakaian sendiri dengan jari gemetar. Ketika Devon menawarkan membantu, ia menggeleng. Pria itu akhirnya mengambil handuk dan meletakkan dalam jangkauan tanpa menutup jalan ke pintu.
'Aku cuma bercanda,' katanya.
'Aku sudah bilang jangan berkali-kali.'
'Aku nggak bermaksud membuatmu menangis.'
'Tapi kamu terus melakukan. Aku takut, Dev.'
Devon ingin menyentuh lengannya, lalu berhenti ketika Davina menjauh. Ia mengucapkan maaf, masih terdengar bingung mengapa sesuatu yang dianggap menyenangkan berakhir begini. Davina mengenakan handuk dan duduk terpisah. Ia belum ingin ditenangkan melalui pelukan oleh orang yang baru membuatnya takut.
Mereka sarapan dengan percakapan yang terputus-putus. Devon sempat melontarkan gurauan mengenai banyaknya makanan yang diambil. Davina meletakkan garpu.
'Kalau mau minta maaf, jangan detik berikutnya mengejekku lagi.'
Devon menutup mulut. Kali ini ia membiarkan Davina mengambil waktu tanpa menyebut wajahnya lucu atau menganggap air mata bagian dari godaan. Makanan tetap perlu dimakan, tetapi tidak membuat perbuatan tadi otomatis menjadi hal yang boleh mereka ulang.
Menjelang siang, Davina memilih tetap berenang di sekitar vila dengan jarak yang membuatnya nyaman. Devon tidak menyentuh pakaiannya lagi. Setelah selesai, ia menawarkan mengurus makan siang serta apa pun yang masih ingin dilakukan Davina hari itu. Ia tidak mendapat jawaban bahwa semua telah dimaafkan. Davina hanya mengatakan ia ingin melihat apakah kali ini janji sederhana dapat ditepati.
***
'Kamu benar-benar ingin membuat pinggangku encok ya,' omel Devon sambil menarik napas.
Pagi tadi selesai sarapan mereka berenang di kolam, lalu dilanjutkan dengan berenang di laut yang ada di sekitar vila. Devon benar-benar menepati janjinya dengan tidak lagi menggoda Davina. Mereka akhirnya bisa berenang dengan damai.
Lalu ketika matahari mulai terasa terik, mereka akhirnya membilas tubuh dan bersantai di dalam vila. Lalu kini, saat tiba jam makan siang, seperti sarapan tadi pagi, mereka memesan makanan untuk diantar ke vila. Semula semua berjalan normal, hingga akhirnya Davina meminta agar mereka makan siang di teras lantai dua.
Saat itulah Devon benar-benar sadar bahwa Davina benar-benar ingin menyiksanya. Mereka tidak hanya akan makan siang di teras atas, melainkan Davina juga meminta digendong hingga tiba di sana. Nanti, setelah mengantar Davina ke atas, Devon harus kembali turun untuk menyemput hidangan makan siang mereka.
Semula Devon ingin meminta petugas saja yang mengantarkan ke atas, namun Davina beralasan ingin melihat Devon memenuhi janjinya. Jadi alih-alih memerintahkan petugas untuk langsung membawa makan siang mereka ke lantai dua, Devon malah meminta semua hidangan diletakkan di pantri yang ada di dapur kecil vila mereka.
Setelah petugas yang mengantar makan siang mereka pergi, kini Devon harus mengantar Davina lebih dulu hingga si tuan putri bisa duduk santai di teras atas. Sambil menggendong Davina ala piggy back, Devon mengeluh di tengah-tengah tangga.
'Kamu benar-benar berat, tahu nggak,' omel Devon lagi. 'Ini pasti karena kamu makan terlalu banyak saat sarapan tadi.'
'Devon, jangan mulai. Kita sekarang masih ada di tengah tangga. Kamu nggak mau kan kita berakhir dengan leher patah hanya karena ribut dengan ucapan kamu barusan?'
'Baik, Tuan Putri,' ujar Devon manyun.
Ia lalu melanjutkan langkah sambil menggendong Davina.
'Tolong bukakan pintunya,' ujar Devon sambil terengah.
Davina mengulurkan tangan dan membuka pintu teras.
Udara panas menyambut mereka ketika Devon melangkah menuju teras.
'Kamu yakin ingin makan siang di sini? Sepanas ini?'
'Kan ada angin yang bikin adem,' bantah Davina. Sebenarnya ia juga lebih suka mereka makan siang di dalam saja. Namun ia tidak ingin berubah pikiran karena masih ingin menyiksa Devon.
'Jadi kamu sekarang sudah bisa aku turunkan belum?' tanya Devon saat mereka berdiri di depan kursi teras yang memiliki atap daun. Di tengahnya ada sebuah tiang penyangga yang terhubung dengan meja kayu.
'Ya, turunkan aku di sini,' ujar Davina.
Devon menurunkan Davina, lalu memegang pinggangnya.
'Bapak Devon mulai encok rupanya,' ujar Davina. 'Ternyata Bapak Devon sudah tidak muda lagi ya.'
Devon seketika menatap Davina tajam.
'Makasih ya,' ujar Davina sambil membelai wajah Devon. 'Sana ambil semua makan siang kita. Aku tunggu di sini.'
Devon menipiskan bibir sambil menatap Davina geram. Namun pria itu tidak membalas dengan sepatah kata pun, melainkan langsung berbalik dan kembali turun.
Setelah tiga kali bolak balik, Devon akhirnya selesai juga menghidangkan semua menu makan siang mereka. Wajah pria itu penuh peluh dan memerah.
'Good job,' ujar Davina lalu meraih wajah Devon dan memberinya kecupan singkat di bibir.
Sesaat pria itu terpaku dengan tindakan Davina, namun sebelum ia sempat bertanya, Davina sudah menyeka dahinya dengan tisu.
'Sampe keringatan begini ya ampun,' ujar Davina sambil menghapus keringat yang bermunculan di wajah Devon.
'Ya, menurut kamu ini ulah siapa?' ujar Devon jengkel. 'Aku harusnya dapat hadiah lebih dari ciuman singkat tadi.'
'Kok jadi pamrih gini sih,' ujar Davina yang telah selesai menghapus keringat Devon. Gadis itu kembali bersandar di kursinya. 'Kan kamu sendiri yang janji akan bikin aku senang. Harusnya nggak boleh minta hadiah.'
'Tapi kalau berharap boleh kan?' ujar Devon.
'Dih, nggak ikhlas,' ujar Davina. 'Udah ah, ayo makan.'
'Eh air minumnya...' Devon menatap hidangan di hadapan mereka dengan ekspresi menderita.
Davina menatap meja, dan akhirnya juga menyadari bahwa Devon lupa membawa air mineral untuk mereka.
'Ehmmm....' ujar Davina, lalu melirik ke arah Devon yang ternyata kini tengah menatapnya.
'Ya sudah, aku ambil,' ujar Devon dengan muka tidak ikhlas. Ia lalu berdiri dan berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah tangga.
Sementara Davina di belakangnya tertawa dengan sangat puas.