'Kamu berusaha keras untuk menggodaku ya,' ucap Devon dengan tatapan mencela.
Tatapan itu sangat menusuk hati. Namun, Davina menolak kalah. Sekuat tenaga ia berdiri tegak dan tak gentar.
'Menggodamu? Yang benar saja,' ujarnya sambil tertawa pelan.
Davina melangkah menuju tempat tidur dan duduk dengan dagu terangkat. Pakaian tidur yang sengaja dipilihnya membuat Devon mengalihkan pandangan, meski hanya sebentar. Ia telah cukup lama mendengar bahwa suaminya tidak tertarik. Malam ini ia ingin Devon menelan ucapan tersebut, tetapi ia belum memikirkan apa yang akan dilakukan jika permainan mereka berjalan terlalu jauh.
Devon melepas jas, lalu disusul dengan kancing kemeja putihnya satu per satu. Davina dapat melihat jelas bahwa pria itu berusaha keras untuk tidak menatap ke arahnya.
'Tapi suka atau tidak, kamu harus menerima kenyataan bahwa mulai sekarang kita akan terus bersama-sama,' ujar Davina lagi.
Devon menatapnya dengan senyum sinis.
'Terus bersama-sama? Akan kupastikan mulai malam ini kita tidur di tempat terpisah.'
'Oke. Silakan tidur di lantai kalau begitu,' balas Davina.
'Bukan aku, tapi kamu. Ada kamar lain yang kosong dan sofa di ruang tamu.'
'Aku akan tetap tidur di sini.'
'Ini kamarku.'
'Kamar pengantin kita, kalau-kalau kamu lupa.'
Devon meletakkan jas yang baru dilepasnya. Resepsi sudah selesai satu jam lalu, tetapi ia masih berbicara seolah Davina tamu yang datang tanpa undangan. Davina menahan sakit hati dan menolak berdiri hanya karena diperintah. Mereka kini suami istri. Ia ingin tempat untuk dirinya di rumah ini, sekalipun belum memperoleh tempat di hati pria tersebut.
'Aku berhak mengusirmu, little girl,' desis Devon.
'Dan aku juga berhak menolak, husband.'
Devon mendekat. 'Karena kamu sudah berusaha keras menggodaku, akan kuberikan apa yang kamu mau.'
Davina terkejut ketika Devon mendorongnya ke kasur. Ia menahan dada pria itu, mendongak dengan marah yang berusaha ditutupi tawa.
'Aku belum bilang kamu boleh mendorongku.'
Devon tidak langsung menjawab. Ia malah menciumnya sebelum Davina sempat menyelesaikan protes. Davina menegang, lalu mendorongnya menjauh sampai ada ruang di antara mereka. Ketertarikannya kepada Devon tidak membuat perlakuan tiba-tiba itu terasa menyenangkan.
'Jangan tentukan sendiri apa yang kuinginkan,' katanya.
Pria itu menatap dengan wajah yang sulit dibaca. Davina seharusnya pergi saat itu. Namun, sakit hati serta keinginannya membalas ucapan Devon membuat ia tetap tinggal. Kali ini ia sendiri yang mendekat, dan Devon menyambutnya. Kedekatan intim sempat terjadi di antara pasangan dewasa itu, lalu Davina menghentikannya sebelum mereka melangkah lebih jauh.
Ia berdiri dan merapikan pakaian. Tidak ada rasa menang yang sepenuhnya bersih dari gugup, tetapi ia masih tersenyum kepada Devon yang tampak bingung.
'Aku berubah pikiran. Aku akan tidur di kamar lain saja. Sampai jumpa besok pagi, suami.'
'Davina!'
Davina sudah melangkah menuju pintu. Ia masuk ke kamar kosong dan menutupnya, baru kemudian membiarkan bahunya turun. Devon mungkin kesal karena permainan dihentikan. Ia sendiri juga belum mengetahui mengapa pernikahan yang semula diharapkan indah harus dimulai dengan menghitung siapa lebih dahulu merasa kalah.