Pagi itu aku kembali mencoba menelepon Mbah Pur setelah sarapan. Akhza sudah berangkat kerja. Aku masih memakai baju lengan panjang, dan lengan kananku terasa kaku saat mengangkat ponsel. Kali ini panggilanku tersambung setelah nada dering ketiga.
“Assalamu’alaikum, Mbah. Ini Monica.”
“Wa’alaikumsalam. Monika, ya?” Suaranya terdengar tua tetapi jelas. “Sudah lama kamu tidak menelepon.”
“Iya, Mbah. Maaf. Saya perlu bicara tentang sesuatu yang cukup penting.”
Mbah Pur tidak langsung bertanya. Ia hanya menyuruhku menjelaskan dengan tenang. Aku memandang ke arah lemari di ruang tengah sebelum mulai bercerita. Aku mengatakan bahwa beberapa bulan terakhir banyak tanaman mati, pohon melati di teras menghitam, dan aku menemukan kelopak bunga berwarna biru keabuan di tanah yang dibawa seorang perempuan. Aku menceritakan pula tentang akar hitam yang kembali setiap kali dibuang, lalu kusimpan dalam kotak kayu.
Aku belum menceritakan seluruhnya. Kata-kata tentang sosok yang pernah kulihat dan tawaran di cermin terasa sulit kuucapkan lewat telepon. Namun aku menyampaikan bahwa perempuan yang datang membawa tanah itu mengenakan gaun bermotif bunga dan bahwa rekan kerja Akhza mengaku melihat sosok serupa di rumah kami.
Di seberang, Mbah Pur menarik napas panjang. “Kamu pernah mengambil sesuatu dari tempat yang tidak seharusnya?”
Pertanyaan itu membuat tenggorokanku terasa kering. “Saya belum pernah cerita soal itu, Mbah.”
“Kalau begitu, datanglah ke sini. Ceritakan langsung. Jangan lewat telepon.”
Aku bertanya apakah beliau punya waktu hari itu. Mbah Pur menjawab bahwa ia berada di rumah dan bisa menerimaku setelah siang. Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Sebelum menutup telepon, ia berkata agar aku tidak membawa benda apa pun ke rumahnya dulu.
“Jangan buka kotaknya. Jangan buang isinya. Simpan saja di tempat tertutup sampai kita bicara,” pesannya.
Aku mengiyakan. Pertanyaan tentang apakah ia pernah mengambil sesuatu terasa seperti Mbah Pur tahu ada bagian cerita yang belum kukatakan. Aku duduk di sisi meja dan mencoba menenangkan diri sebelum pergi. Selama bertahun-tahun Mbah Pur hanya menjadi suara yang kuhubungi saat Mama merasa ada keputusan yang perlu dipertimbangkan. Aku belum pernah datang untuk membicarakan sesuatu yang begitu pribadi. Aku khawatir beliau akan bertanya mengapa aku menunggu sampai keadaan memburuk, dan aku tidak punya jawaban selain karena aku takut.
Aku tidak ingin datang tanpa persiapan, jadi aku menuliskan urutan kejadian di buku catatan. Aku mencatat kapan Nisrina datang, bagaimana ia menaburkan tanah, kapan akar ditemukan, dan apa yang Hera katakan. Catatan itu kubuat bukan untuk membuktikan hal gaib, melainkan supaya aku tidak mengubah detail karena gugup.
Sebelum berangkat, aku berusaha menentukan bagaimana akan menjelaskan masalah ini kepada Mbah Pur. Aku tidak ingin langsung mengatakan bahwa semua kejadian pasti disebabkan hal gaib. Aku akan menyebutkan apa yang kulihat dan kualami, lalu membiarkannya memberi tanggapan. Aku mencatat juga bahwa akar itu berasal dari pot keladi pemberian atasan Akhza, bukan dari tanah yang ditabur Nisrina secara langsung. Hubungan dua hal itu belum terbukti.
Aku sempat membuka lemari dan melihat kotak dari kejauhan. Aku tidak membawanya. Mbah Pur belum meminta melihatnya, dan kotak itu tertutup rapat. Aku merasa lebih aman ketika menjauh dari benda itu. Aku kembali ke meja, memasukkan buku catatan ke tas, lalu mengecek alamat rumah Mbah Pur agar tidak salah jalan.
Sepanjang perjalanan aku memikirkan kapan terakhir kali berbicara dengan beliau. Dulu Mama yang mengenalkan kami, terutama saat aku mulai menjalankan toko daring. Mbah Pur pernah memberi saran memilih hari baik dan mengingatkanku agar tidak menjual pakaian secara langsung. Aku mengikuti saran itu, walau setelah usaha GO MM dimulai, aku dan Murti berencana memasukkan produk ke distro. Aku belum tahu apakah beliau akan memandang rencana itu sebagai kesalahan baru.
Menjelang siang, aku menelepon Akhza. Aku memberitahunya bahwa aku akan menemui Mbah Pur, guru spiritual yang dulu pernah ia dengar namanya. Aku sengaja tidak berkata bahwa Mbah Pur meminta bertemu setelah mendengar tentang akar dan perempuan bergaun bunga.
“Kamu mau pergi sendiri?” tanyanya.
“Tempatnya tidak jauh. Aku bisa naik kendaraan daring.”
“Kalau kamu merasa nggak enak badan, telepon aku. Jangan memaksakan diri.”
“Iya.” Aku menatap lengan bajuku. “Aku akan hati-hati.”
Aku kembali hampir mengaku tentang benjolan. Namun pembicaraan itu hanya berlangsung sebentar karena Akhza harus kembali bekerja. Aku menutup telepon dengan perasaan bersalah, tetapi tetap berangkat sesuai janji.
Perjalanan menuju rumah Mbah Pur melewati jalan yang cukup ramai. Aku membawa buku catatan dan dompet, tanpa membawa kotak akar. Aku merasa lebih tenang karena beliau sendiri yang memintaku tidak membawanya. Sesampainya di sana, aku disambut seorang perempuan paruh baya yang mengatakan bahwa Mbah Pur sedang menungguku di ruang depan.
Rumah itu sederhana. Di teras ada beberapa pot tanaman dan bangku kayu. Aku melepas alas kaki sebelum masuk. Mbah Pur duduk di ruang depan, mengenakan kerudung sederhana. Ia mempersilakanku duduk dan menuangkan air putih. Aku menolak dengan sopan karena tenggorokanku terasa kering, tetapi tanganku gemetar saat memegang gelas.
Mbah Pur tidak mendesakku untuk langsung bercerita. Ia bertanya kabar Mama dan menanyakan toko daringku. Aku menjawab seperlunya. Setelah beberapa menit, ia melihat buku catatan di pangkuanku.
“Kamu sudah menulis urutannya?”
“Iya, Mbah. Saya takut ada yang terlupa.”
“Bagus. Ceritakan dari awal. Jangan tambah-tambahkan dan jangan kurangi karena takut.”
Aku membuka halaman pertama. Aku akan mulai dengan kedatangan Nisrina dan tanah tujuh kuburan. Sebelum melanjutkan, aku kembali melihat wajah Mbah Pur. Tatapannya tenang, tetapi ia seperti sudah menunggu pengakuan yang belum pernah berani kubuat.
Sebelum turun dari kendaraan, aku membaca ulang catatan yang kubuat. Aku mencoret satu kalimat yang berbunyi “kutukan bunga” karena itu kesimpulan, bukan kejadian yang kulihat sendiri. Aku menggantinya dengan daftar peristiwa konkret. Setelah itu aku menarik napas, menutup buku, dan masuk ke rumah Mbah Pur dengan niat menceritakan semuanya tanpa melebih-lebihkan.