Kami meninggalkan tempat produksi setelah Bu Sari merasa cukup kuat untuk pulang. Murti meminta maaf kepada pemilik tempat karena pemeriksaan mesin tidak berjalan lancar. Ia mengatakan mungkin ada masalah pada alat, lalu berjanji mereka akan mencoba lagi di lain waktu.
Aku berjalan di sampingnya menuju mobil. Tidak satu pun dari kami berbicara. Aku ingin menanyakan apa yang ia pikirkan, tetapi takut jawabannya akan mengubah hubungan kami. Murti adalah teman lama dan calon partner bisnis. Aku tidak ingin kejadian aneh di rumah merusak kepercayaan yang baru tumbuh.
Di dalam mobil, Murti menyalakan mesin dan menunggu beberapa detik sebelum mulai jalan. Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat daripada biasanya.
“Kamu benar-benar tidak merasa pusing?” tanyanya.
“Tidak.”
“Mesin itu berhenti setiap kali kamu mendekat.”
“Aku tahu. Tapi aku tidak melakukan apa-apa.”
“Aku tidak bilang kamu sengaja.” Murti menarik napas. “Aku cuma mencoba memahami.”
Aku menatap keluar jendela. Aku juga mencoba memahami, tetapi tidak punya jawaban. Aku tidak ingin menceritakan tentang akar hitam di kotak kayu. Akhza dan aku baru sepakat mencari tahu lebih dulu. Kalau Murti tahu, ia mungkin menganggapku tidak layak berada di tempat produksi.
“Ada sesuatu yang terjadi di rumah?” tanyanya lagi.
Aku menoleh. “Kenapa kamu tanya begitu?”
“Sejak tadi kamu kelihatan tegang. Dan waktu kita mengunjungi tempat itu, kamu beberapa kali diam seperti sedang takut.”
Aku menggeleng pelan. “Aku memang sedang banyak pikiran. Tapi soal mesin itu aku tidak tahu penyebabnya.”
Murti tidak memaksa. Ia mengemudi dalam diam sampai kami berhenti di sebuah kedai kecil untuk membeli minuman. Kami duduk di dalam mobil, masing-masing memegang gelas. Aku mengamati uap tipis yang naik dari minuman Murti. Aku ingin membuat suasana kembali seperti biasanya, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
“Aku tidak ingin kamu merasa diusir,” katanya. “Aku hanya perlu memastikan tempat itu aman untuk para pekerja.”
“Aku mengerti. Aku juga tidak mau Bu Sari sakit.”
“Mesinnya bisa saja memang bermasalah. Tapi kejadian tadi berulang. Aku tidak bisa pura-pura tidak melihat.”
Aku menunduk. “Aku juga tidak tahu kenapa.”
Murti menghela napas. “Kalau kamu belum siap cerita, aku tidak akan memaksa. Tapi kalau ada sesuatu yang perlu aku tahu sebelum kita lanjut menyewa tempat itu, aku ingin kamu jujur.”
Aku hampir menceritakan akar hitam dan kotak kayu. Kata-kata itu sudah sampai di ujung lidah, tetapi aku menghentikannya. Aku takut Murti akan menganggapku membawa bahaya ke usahanya. Aku juga belum tahu apakah akar itu benar-benar menyebabkan mesin berhenti.
“Aku akan cerita kalau aku sudah tahu lebih banyak,” jawabku.
Murti menatapku cukup lama. “Baik. Tapi aku tidak bisa menjanjikan keputusan soal tempat produksi sebelum kita mencoba lagi.”
Aku memahami sikapnya. GO MM masih baru, dan ia bertanggung jawab atas orang-orang yang akan bekerja di sana. Aku tidak ingin menambah masalah. Namun kata-katanya membuatku khawatir usaha kami akan berhenti sebelum benar-benar berjalan.
Suasana di antara kami terasa canggung.
“Aku percaya kamu tidak sengaja,” katanya akhirnya. “Tapi aku juga harus memikirkan Bu Sari dan Rika. Kalau mereka bekerja di sana, aku tidak mau ada yang sakit.”
“Aku mengerti. Kita bisa periksa mesin lagi tanpa aku hadir.”
“Kita lihat nanti. Aku tidak ingin langsung mengambil keputusan.”
Aku mengangguk. Jawabannya masuk akal, tetapi tetap menyakitkan. Aku takut ia mulai menganggapku sumber masalah. Selama ini Murti selalu terbuka dan tegas. Sekarang ia menatapku dengan keraguan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Dalam perjalanan, aku mencoba menyusun kata-kata yang mungkin bisa menjelaskan apa yang terjadi. Aku tidak tahu apakah menyebut akar di kotak kayu akan membantu atau justru membuat Murti semakin takut. Aku pun belum pernah melihat hubungan yang jelas antara akar itu dan tempat produksi. Yang kualami di rumah berbeda, tetapi rasa tak berdaya yang muncul sama. Ia mungkin merasa aku menyembunyikan sesuatu, dan diamku bisa memperburuk keadaan.
Namun aku belum punya bukti bahwa akar itu memengaruhi siapa pun. Aku tidak ingin menuduh benda yang tak kupahami atau membuat Murti membatalkan usaha karena dugaanku. Aku memilih menunggu sampai berbicara dengan Akhza terlebih dahulu.
Murti mengantarku sampai depan rumah. Sebelum aku turun, ia mengingatkan bahwa jadwal kunjungan berikutnya belum dipastikan. Ia akan menghubungi para penjahit dan bertanya apakah mereka bersedia mencoba lagi. Aku mengucapkan terima kasih, lalu berjalan masuk dengan perasaan berat.
Aku membuka lemari untuk memeriksa kotak kayu. Kotak itu masih berada di rak atas dan tetap tertutup. Aku tidak menyentuhnya. Namun bau tanah samar-samar terasa ketika pintu lemari terbuka.
Aku menutup pintu cepat-cepat. Aku tidak tahu apakah bau itu benar-benar berasal dari kotak atau hanya pikiranku sendiri. Setelah mencuci tangan, aku duduk di ruang tengah dan mencoba menelepon Akhza. Ia tidak mengangkat karena sedang rapat.
Malamnya, aku menceritakan kejadian di tempat produksi kepada Akhza. Ia mendengarkan dengan wajah serius. Aku juga menceritakan bahwa Murti mulai memandangku berbeda.
“Kita belum tahu apakah itu ada hubungannya dengan akar,” katanya. “Tapi kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan.”
“Aku takut Murti tidak mau bekerja sama lagi.”
“Beri dia waktu. Dia juga harus melindungi orang-orang yang bekerja dengannya.”
Aku paham. Aku tidak menyalahkan Murti karena khawatir pada Bu Sari. Namun aku juga tidak ingin kehilangan kepercayaan sahabatku karena sesuatu yang tidak kupahami.
Sebelum tidur, aku memeriksa kotak kayu dari luar lemari tanpa membukanya. Aku ingin menghubungi panti dan bertanggung jawab atas bunga yang kuambil. Jika kejadian ini benar-benar bermula dari kesalahanku, aku tidak bisa terus diam. Namun untuk saat ini, aku harus menghadapi akibatnya satu per satu. Aku tidak bisa meminta Murti percaya begitu saja tanpa memberinya penjelasan yang jujur. Aku harus mencari cara untuk melindungi usaha kami dan para pekerja. Keputusan berikutnya tidak bisa kutunda terus-menerus.