Akhza mengangkat pot keladi dari atas alas koran. Aku berdiri di sampingnya, siap menahan daun agar tidak tersangkut. Tanaman itu cukup berat. Kami menurunkannya perlahan sampai seluruh bagian pot berada di atas alas.
“Tanahnya kita keluarkan sedikit-sedikit,” katanya. “Kalau akarnya tidak bermasalah, kita masukkan kembali.”
Aku mengangguk. Akhza menggemburkan tanah di sisi pot menggunakan sekop kecil. Aku menahan batang tanaman dengan hati-hati. Setelah beberapa kali mengangkat tanah, gumpalan akar mulai terlihat. Akar keladi berwarna cokelat muda dan terasa kuat. Di antara akar itu ada serat hitam yang melingkar seperti tali.
“Za...”
Akhza berhenti. Kami sama-sama menatapnya. Ia membuka tanah di sekitar serat tersebut tanpa menariknya. Akar hitam itu ternyata lebih tebal daripada yang terlihat dari atas. Bentuknya beruas, ujungnya meruncing, dan bagian yang tertanam di dasar pot tampak lembap.
“Ini bukan akar keladinya,” kataku.
“Sepertinya bukan.” Akhza mengambil sarung tangan lain dan mengangkat gumpalan tanah di sekelilingnya.
Bau busuk yang pernah kucium di teras muncul lagi. Aku menutup hidung dan mundur. Serat hitam itu terlepas dari tanah, tetapi tidak ada akar tanaman lain yang tersambung dengannya. Pada bagian pangkalnya melekat serpihan kecil berwarna biru keabuan.
Aku teringat bunga di panti. “Warnanya sama seperti kelopak itu.”
Akhza tidak menjawab. Ia memeriksa pot dengan saksama, memastikan tidak ada serat lain yang tertinggal. Setelah itu ia meletakkan akar hitam di atas koran. Aku berusaha tidak memandangnya terlalu lama.
“Kita buang saja,” katanya. “Jangan disimpan di rumah.”
Ia membungkus akar itu dengan koran, memasukkannya ke kantong plastik, lalu membawanya ke tempat sampah luar. Aku tetap di teras untuk memastikan pot keladi tidak rusak. Kami mengganti sedikit tanah yang berantakan dan mengembalikan tanaman ke posisi semula.
Kurang dari lima belas menit kemudian, aku melihat gumpalan hitam di dekat pot. Awalnya aku mengira itu sisa akar biasa. Namun saat mendekat, bentuknya sama persis dengan yang baru dibuang. Kantong plastik di tempat sampah luar masih berada di sana, tetapi akar hitam itu tergeletak di lantai teras.
“Za!” panggilku.
Akhza keluar dari dapur. Aku menunjuk benda itu. Ia memeriksa tempat sampah, lalu kembali memandang akar tersebut. Wajahnya tampak tegang. Ia tidak langsung menyentuhnya.
“Mungkin tadi tertinggal di koran,” katanya.
“Tidak. Kamu sendiri yang memasukkannya ke kantong.”
“Aku tahu. Tapi kita coba periksa lagi.”
Dengan sarung tangan, ia membungkus akar itu menggunakan kertas baru. Kali ini ia memasukkannya ke kantong lain dan meletakkannya di tempat sampah di luar pagar. Aku menemaninya sampai ia kembali masuk. Kami mengunci pagar dan menunggu beberapa menit.
Ketika kami kembali ke teras, akar tersebut sudah berada di samping pot keladi. Tidak ada bekas kertas atau plastik. Aku menutup mulut. Akhza berdiri kaku. Ia menatap akar itu lama-lama, kemudian melihat ke arahku.
“Aku tidak tahu bagaimana benda itu bisa kembali,” ucapnya.
Aku merasa lega mendengar ia akhirnya mengakui bahwa ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Namun rasa lega itu cepat berubah menjadi takut. Kalau dibuang tidak bisa, bagaimana kami harus menyingkirkannya?
“Kita jangan membuangnya lagi,” kataku. “Mungkin lebih baik kita simpan dulu di tempat tertutup.”
Akhza memandang akar itu dari jarak beberapa langkah. Aku mengambil waktu untuk memeriksa pot keladi sekali lagi. Tanah di sekelilingnya sudah kami rapikan, tetapi aku tidak menemukan bekas gumpalan yang tertinggal. Akar yang kembali itu juga tidak tampak membawa tanah dari tempat sampah.
“Jangan sentuh dengan tangan kosong,” katanya.
“Aku tidak akan.”
Kami saling pandang, mencoba memahami kejadian yang sama tanpa punya penjelasan. Akhza biasanya cepat menemukan cara praktis untuk menyelesaikan masalah. Kali ini ia hanya berdiri dan mengamati, sama bingungnya denganku.
Ia mengambil senter kecil dari laci perkakas dan mengarahkannya ke benda tersebut. Cahaya membuat permukaannya terlihat mengilap, seperti basah, padahal tidak ada air di lantai. Ia memeriksa ujung-ujungnya tanpa menyentuh.
“Tidak ada tanah yang tertinggal di sini,” katanya. “Tadi kita sudah membungkusnya.”
Aku menatap tempat sampah luar melalui celah pagar. “Kalau begitu, kenapa benda ini kembali ke sini?”
Ia tidak menjawab. Kami berdiri diam, mendengarkan suara kendaraan di jalan. Tidak ada orang yang masuk ke halaman. Pagar terkunci, dan pintu depan berada tepat di belakang kami. Mustahil seseorang mengambil akar itu dari tempat sampah lalu meletakkannya kembali tanpa kami sadari.
Akhza memeriksa kantong sampah di luar pagar. Kantong yang berisi akar masih terikat, tetapi ketika ia membukanya, isinya hanya kertas koran yang kusut. Akar itu tidak ada di dalamnya. Ia mengikat kembali kantong tersebut dan membawanya ke tempat sampah.
Aku mulai gemetar. “Kamu sudah melihat sendiri.”
“Aku melihat benda itu kembali. Aku tidak tahu bagaimana.” Suaranya tetap pelan, tetapi kali ini ia tidak menyebut kemungkinan akar tertinggal.
Aku ingin menyentuh lengannya, tetapi tanganku terasa dingin. Akhza berdiri di sampingku sampai napasku kembali teratur. Kami sama-sama tahu membuangnya sekali lagi belum tentu menyelesaikan apa pun.
Akhza berpikir sejenak. Ia mengambil kotak kayu kecil dari lemari penyimpanan. Kotak itu biasa kupakai menyimpan barang-barang kecil. Kami membuka tutupnya bersama-sama, lalu menyiapkan kertas bersih di dalamnya.
Akhza mengangkat akar itu dengan sekop, sementara aku menahan kotak. Benda tersebut masuk ke dalam tanpa bergerak. Kami menutup kotak dan menguncinya dengan pengait kecil. Aku tidak suka menyimpan akar itu, tetapi membiarkannya di lantai terasa lebih buruk.
“Taruh di lemari paling atas,” kata Akhza. “Jangan dekat makanan atau kamar.”
Aku membawa kotak itu ke lemari penyimpanan dan meletakkannya di rak atas. Setelah menutup pintu lemari, aku mundur beberapa langkah.
“Aku akan menghubungi panti begitu kantor menemukan nomornya,” kata Akhza. “Kita perlu tahu bunga apa itu dan kenapa bisa muncul di pot.”
Aku mengangguk. Pot keladi kembali berdiri di tempatnya. Daunnya masih terlihat sehat, seolah tidak ada akar asing di dalamnya. Namun kini aku tahu bunga yang pernah kucuri bukan benar-benar hilang. Akar hitamnya telah menemukan jalan ke rumah kami.