Balasan resmi dikirim sebelum tengah hari. Liram menjelaskan bahwa pembicaraan belum menjadi perjanjian akhir; masih ada poin yang perlu ditinjau kedua pihak. Namun keputusan penting telah dibuat: aliansi dapat diteruskan tanpa perkawinan, dan Putri Elf memilih tetap berada di negerinya.
Lyla bertanya apakah sang Putri meminta pesan terakhir untuknya. Liram menjawab tidak. Surat terakhir itulah salam perpisahannya, dan mereka tak boleh meminta lebih hanya karena Lyla merasa kehilangan.
“Aku mengerti,” kata Lyla. “Aku tak akan mengirim pesan lagi kecuali dia sendiri membuka percakapan.”
Aresh menghormati pilihannya. Ia tak bertanya apakah Lyla ingin berdiri di sisinya saat dokumen dikirim atau apakah ia ingin orang tahu mereka saling mencintai. Lyla sendiri meminta menemani Aresh ke ruang pengiriman karena ia ingin menyaksikan berakhirnya urusan diplomatik yang pernah membuatnya cemburu.
Ia berjalan bersama Aresh dan Liram. Tidak ada kereta atau perjalanan panjang; Putri Elf telah pulang sebelumnya. Lyla menemani mereka hanya sampai surat diserahkan kepada kurir istana untuk dikirim melalui jalur resmi. Ia tak mengatur kata-kata, dan tak berbicara atas nama sang Putri.
“Terima kasih sudah membiarkanku ikut,” ujar Lyla.
“Aku ingin kau hadir jika itu pilihanmu,” jawab Aresh.
“Dan kalau nanti aku tak ingin ikut, kau tak akan menganggapnya sebagai penolakan?”
“Tidak.”
Mereka kembali ke istana. Liram mengarsipkan draf akhir dan mencatat poin yang masih perlu dibahas. Aresh memerintahkan agar status Putri Elf ditulis sebagai mitra diplomatik, bukan mantan calon permaisuri. Ia tak ingin dokumen kerajaan mengurangi identitas sang Putri menjadi hubungannya dengan dirinya.
Lyla menyetujui keputusan itu. “Dia datang membawa tujuannya sendiri. Biarkan catatan istana mengingat itu.”
Sore hari, Lyla berbicara dengan Tala di taman. Ia mengakui merasa sedih bahwa kunjungan sang Putri sudah berakhir. Mereka sempat memiliki percakapan yang baik, tetapi mungkin tak akan bertemu lagi.
“Apakah Anda ingin mengirim salam?”
“Aku sudah mengirim balasan. Sekarang aku harus menghormati jaraknya.”
“Benar.”
Lyla menyadari bahwa pilihan sang Putri tidak harus berakhir dengan permusuhan atau janji persahabatan selamanya. Ada orang yang datang, meninggalkan pengaruh, lalu melanjutkan hidupnya sendiri. Lyla ingin mengingatnya sebagai seseorang yang berani berkata tidak dan menentukan syaratnya.
Aresh bergabung setelah menyelesaikan rapat. Ia mengatakan proses audisi calon istri sudah benar-benar ditutup, dan tidak akan dibuka kembali. Lyla menjawab ia tak lagi merasa menjadi mak comblang.
“Aku masih belum tahu apakah misi selesai,” katanya. “Tapi aku tak akan membuat daftar kandidat lagi.”
“Aku tidak menginginkannya.”
“Bagus. Formulirku juga sudah habis.”
Aresh tertawa. Mereka berjalan ke balkon perpustakaan. Lyla membawa buku catatan tentang misi, sementara Aresh tidak membawanya. Ia ingin membahas hal lain malam itu.
“Aku memilih menemanimu hari ini,” katanya. “Bukan karena aku harus menjaga hubungan kerajaan. Aku hanya ingin menutup bagian ini dengan hormat.”
Aresh mengangguk. “Aku menghargai pilihanmu.”
Lyla masih merindukan Bumi dan belum memilih tinggal. Namun, ia kini memahami bahwa mendampingi seseorang tidak berarti mengambil alih keputusannya. Ia telah menyaksikan Putri Elf menentukan jalannya, dan ia ingin melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri.
Lyla pulang ke kamarnya setelah matahari terbenam. Ia merasa perpisahan dengan Putri Elf telah selesai dengan cara yang pantas, meskipun tidak ada pertemuan terakhir secara langsung. Mereka sudah bertukar kata-kata melalui surat dan tak seorang pun memaksa hubungan itu berlanjut.
Ia bertanya kepada Tala apakah ia salah karena masih merasa kehilangan seseorang yang baru dikenalnya sebentar. Tala berkata tidak. Singkatnya sebuah pertemuan tidak menentukan pentingnya percakapan.
Lyla menyimpan surat sang Putri di map pribadi. Ia tidak ingin memasukkannya ke arsip istana, sebab surat itu bukan dokumen kerajaan. Ia menuliskan tanggalnya dan meletakkannya bersama catatan pribadi tentang kunjungan.
Aresh mengirim kabar bahwa surat resmi telah diterima untuk dikirim. Lyla mengucapkan terima kasih dan bertanya apakah ia ingin berbicara. Aresh menjawab ya, tetapi hanya jika Lyla masih punya tenaga.
Lyla memilih duduk bersamanya sebentar. Mereka berbicara tentang hari itu, lalu berhenti ketika Lyla merasa lelah. Aresh mengucapkan selamat malam tanpa meminta percakapan lain.
Sebelum tidur, Lyla menuliskan satu catatan terakhir tentang kunjungan Putri Elf: “Ia datang untuk membicarakan kerja sama, menolak perkawinan, memilih pulang, dan menentukan sendiri cara melanjutkan komunikasi.” Ia tak menambahkan bahwa sang Putri memilih mundur demi Lyla. Itu bukan yang dikatakan sang Putri.
Lyla menyadari betapa mudahnya menjadikan dirinya pusat cerita orang lain. Ia ingin berhenti melakukannya. Aresh memiliki pilihannya, Naran memiliki pilihannya, Putri Elf memiliki pilihannya, dan Lyla memiliki pilihan yang masih harus ia pahami.
Tala datang mengucapkan selamat malam. Lyla berterima kasih karena Tala tidak memaksanya mengirim pesan tambahan. Ia menutup buku catatan dan merasa bagian ini telah ditutup dengan hormat, meskipun tak semua kesedihan hilang.
Saat tiba di kamarnya, ia menyimpan buku catatan dan beristirahat. Ia tak perlu mencari tanda bahwa sang Putri akan membalas atau menganggap keheningan sebagai jawaban. Jika ada kabar, ia akan mendengarnya melalui Liram.
Ia memilih menutup hari dengan membaca beberapa halaman, lalu memadamkan lampu. Perpisahan itu sudah dihormati; kini ia dapat kembali memikirkan pertanyaannya sendiri tentang Bumi dan Avantera.
Lyla membiarkan penutupan itu berlangsung sederhana. Ia tak mengubah salam perpisahan menjadi janji, dan tak meminta keheningan setelahnya diberi arti lain. Ia hanya menyimpan surat, menghormati pilihan sang Putri, lalu kembali menjalani harinya.