Dua hari berlalu tanpa surat dari Putri Elf. Liram mengatakan bahwa ia tak akan mengirim pengingat; pihak sang Putri perlu waktu meninjau dokumen. Lyla menyetujui, meski ia merasa penasaran.
“Kalau dia tidak membalas, kita tidak boleh menganggap diam sebagai persetujuan,” katanya.
“Benar,” jawab Aresh. “Tanpa jawaban, tak ada kesepakatan.”
Lyla kembali membantu katalog perpustakaan. Ia memperbaiki beberapa catatan berdasarkan usul yang telah disetujui Liram. Ia menyukai kegiatannya, tetapi saat waktu yang ia tetapkan habis, ia menutup buku kerja dan pergi.
Di taman, ia melihat Naran memberi arahan kepada para prajurit. Ia tak menghampirinya, sebab Naran sedang bertugas. Setelah latihan selesai, Naran sendiri menghampirinya.
“Bagaimana pekerjaan perpustakaan?” tanyanya.
“Menyenangkan. Aku bisa berhenti saat lelah dan melanjutkan nanti.”
“Bagus.”
Mereka berbicara tentang hal ringan. Lyla tak menyebut amber, dan Naran tak pula membahas perasaannya. Mereka berdua sepertinya setuju bahwa tak semua percakapan harus kembali ke hal yang pernah menyakitkan.
Lyla kemudian bertanya apakah ia nyaman jika mereka duduk bersama di bangku. Naran menjawab ya. Mereka duduk tanpa menyentuh satu sama lain. Lyla bercerita bahwa ia sedang belajar meminta izin sebelum membantu orang lain.
“Kadang aku masih merasa canggung,” katanya. “Tapi aku lebih baik canggung daripada membuat orang tidak nyaman.”
Naran mengangguk. “Permintaan izin menunjukkan bahwa Anda tidak menganggap orang lain sebagai milik Anda.”
Lyla menerima kata-kata itu. Ia teringat betapa dulu ia menyentuh telinga Naran karena mengira tindakan itu lucu. Kini ia memahami bahwa rasa gemasnya bukan hal yang perlu diikuti.
Saat mereka berpisah, Naran mengatakan ia ada rapat. Lyla mengucapkan semoga lancar dan membiarkannya pergi. Ia merasa persahabatan mereka mulai menemukan bentuk baru: lebih tenang, tidak penuh harapan romantis, dan tidak dibangun dari rasa bersalah.
Malamnya, Aresh bertanya apakah Lyla ingin mendengar kabar diplomasi. Belum ada balasan. Lyla berkata ia ingin tahu jika ada kabar, tetapi tak perlu ada orang yang memeriksa setiap jam.
“Liram juga sudah setuju,” kata Aresh. “Kami akan menunggu.”
Lyla merasa lega. Ia tidak mau menjadikan sang Putri sumber ketegangan baru dalam hidupnya. Sang Putri telah menyatakan batas dan pilihannya. Lyla pun harus mengurus pilihan sendiri.
Ia berbicara dengan Aresh tentang tiga kemungkinan yang sedang ia pikirkan: kembali ke Bumi, tinggal sendiri di Avantera, atau tinggal sambil membangun hubungan dengannya. Aresh tidak menilai satu pilihan lebih baik daripada lainnya.
“Kalau aku memilih tinggal tanpa menjadi pasanganmu, bagaimana perasaanmu?”
“Aku mungkin sedih, tapi itu tetap pilihanmu. Aku tidak akan meminta kau pergi hanya karena hubungan kita tak sesuai harapanku.”
Lyla mengangguk. Ia percaya Aresh bersungguh-sungguh, tetapi tahu kepercayaan perlu waktu. Mereka sepakat membicarakan hal tersebut lagi jika Lyla memilih tinggal.
Lyla memilih menulis salam perpisahan malam itu. Ia menceritakan bahwa ia menikmati percakapan di perpustakaan dan mengucapkan terima kasih karena sang Putri memperlakukannya sebagai orang yang punya pilihan sendiri. Ia tidak meminta mereka bertemu lagi atau berjanji akan selalu mengingat satu sama lain.
Saat menulis, Lyla menyadari ia merasa sedih. Putri Elf bukan lagi tokoh yang mungkin menikahi Aresh; ia adalah seseorang yang sempat menjadi teman bicara dan kini memilih pulang. Perpisahan itu tetap berarti walau hubungan mereka singkat.
Tala bertanya apakah Lyla ingin menunda pengiriman hingga besok. Lyla membaca surat sekali lagi dan merasa isinya sudah tepat. “Aku ingin mengirimnya sebagai pesan pribadi. Tapi kalau dia tidak membalas, aku akan menghormatinya.”
Tala membantu mencari amplop yang sesuai, tetapi Lyla sendiri menyegel surat itu. Ia kemudian meminta Liram mengirimkannya terpisah dari berkas resmi. Liram memberi tanda bahwa pesan ini tidak menjadi bagian perjanjian.
Aresh bertanya apakah Lyla ingin ia mengirim pesan juga. Lyla menjawab bahwa ia sebaiknya hanya menjawab hal yang diminta sang Putri. Ia tak ingin Aresh menambahkan kata-kata demi membuat perpisahan terasa lebih indah.
“Kalau dia meminta salam, aku akan menjawab. Kalau tidak, aku tak akan mengirim pesan lain.”
Lyla menghargai sikap itu. Ia tak ingin sang Putri merasa harus terus merespons karena semua orang di istana mengirim pesan.
Setelah surat dikirim, Lyla berjalan ke taman. Ia merasa lega telah menutup percakapan dengan jujur. Ia masih belum tahu apakah akan bertemu sang Putri lagi, tetapi tak perlu meminta janji untuk merasa bahwa pertemuan mereka pernah bermakna.
Lyla membaca kembali pesan sang Putri dan bertanya kepada Liram apakah ia boleh menyimpan salinannya. Liram menjelaskan bahwa surat pribadi menjadi milik penerima, bukan arsip kerajaan. Lyla memutuskan menyimpan surat itu sendiri.
“Aku tak mau membaca ulang untuk mencari pertanda,” katanya kepada Tala. “Aku ingin menyimpannya karena percakapan kami memang berarti.”
Tala setuju. Lyla meletakkan surat itu dalam map pribadi dan menutupnya. Ia tak membandingkan kata-kata sang Putri dengan sikap Aresh atau mencari tahu apakah ada maksud tersembunyi.
Ketika Aresh bertanya apakah ia ingin menyampaikan sesuatu lagi, Lyla menjawab tidak. Ia sudah membalas dengan jujur dan kini membiarkan sang Putri pergi. Aresh mengatakan ia pun tak akan menambahkan pesan kecuali ada urusan diplomatik.
“Dengan begitu, kita menghormati penutup yang ia minta,” ujar Lyla.
Mereka membahas bagaimana proses diplomatik akan berjalan setelah surat dikirim. Liram akan menandai setiap usulan yang masih terbuka, dan Aresh tak akan menyebut perjanjian sebagai final sampai kedua pihak menyetujui rincian. Lyla mendengar, lalu kembali pada buku.
Ia merasa ada kelegaan karena hubungan kerajaan bisa diteruskan tanpa mengikat kehidupan pribadi. Pada saat yang sama, ia sedih karena pertemuan dengan Putri Elf mungkin hanya menjadi kenangan. Ia membiarkan kedua perasaan itu ada tanpa berusaha menghapus salah satunya.
Lyla menyadari bahwa menunggu jawaban bukan berarti ia harus berhenti menjalani hari. Ia kembali pada katalog dan menyelesaikan bagian yang sudah dipilihnya, lalu pergi makan siang ketika waktunya tiba. Penantian itu tetap ada, namun tidak lagi menjadi pusat seluruh kegiatannya.