Pengumuman Liram tersebar di istana sebelum malam. Beberapa pelayan terlihat terkejut, sementara yang lain tampak lega bahwa tidak ada lagi kandidat yang akan datang untuk mengikuti audisi. Lyla mendengar bisik-bisik di koridor, tetapi tak ada yang menyebut namanya secara langsung.
Ia berjalan menuju taman bersama Tala. “Aneh rasanya. Dulu aku merasa harus membuat semua orang menemukan pasangan yang cocok. Sekarang aku tak tahu apa peranku.”
“Anda tidak harus memiliki peran besar setiap saat,” kata Tala.
“Aku tahu. Tapi kalau misi selesai, aku mungkin pulang. Kalau belum, aku perlu tahu apa yang harus kulakukan.”
“Orion akan menjelaskannya.”
Lyla berhenti di dekat bangku. “Aku ingin menghubunginya lagi, tapi bukan sekarang. Aku perlu memastikan semua pertanyaan tentang pilihan dan waktuku siap.”
Tala mengangguk. Lyla lalu berbicara tentang Putri Elf. Ia mengakui bahwa ia masih merasa cemburu saat membayangkan Aresh membangun hubungan dengan orang lain, meski sang Putri telah memilih mundur dari hubungan romantis. Perasaan itu belum sepenuhnya hilang, tetapi Lyla tak ingin mengubahnya menjadi klaim.
“Apakah Anda merasa Aresh sudah memilih Anda?” tanya Tala.
“Dia memilih untuk mengenalku dan mengakui cintanya. Tapi dia belum meminta pernikahan, dan aku belum memilih tinggal. Jadi tidak ada yang perlu diumumkan.”
“Jawaban yang jelas.”
“Sulit, tapi jelas.”
Aresh menemui mereka setelah selesai berbicara dengan Liram. Ia mengonfirmasi bahwa proses pencarian istri resmi sudah ditutup. “Tidak akan ada audisi berikutnya,” katanya.
“Bagus. Aku tidak sanggup membuat formulir baru.”
“Aku juga tidak ingin melihatnya.”
Lyla tersenyum. “Kau bisa bilang sejak awal.”
“Aku berharap kau menyadari sendiri bahwa aku tidak menginginkan audisi.”
“Itu harapan yang terlalu tinggi untuk seseorang yang mengira ‘tidak pingsan’ adalah kriteria pasangan.”
Aresh tertawa pendek. Setelah itu, ia menjadi serius. Ia berkata bahwa ia tak akan menganggap penutupan audisi sebagai keputusan Lyla untuk tinggal. Lyla berterima kasih, lalu mengingatkan bahwa ia tetap ingin mendapatkan penjelasan dari Orion tentang misi.
“Aku akan meminta waktu bicara dengannya,” ujar Lyla. “Aku ingin tahu kapan misi dianggap selesai jika kau sudah mengenali keinginanmu. Aku juga ingin tahu apa akibatnya jika aku memilih pulang.”
“Aku akan berada di dekatmu jika kau menginginkannya.”
“Ya. Tapi aku yang akan bertanya.”
“Baik.”
Mereka duduk di bangku taman. Lyla tak perlu menghibur Aresh karena audisi berakhir, dan Aresh tak perlu meyakinkannya bahwa perasaannya akan mengalahkan semua keraguan. Mereka hanya berada bersama-sama, menerima bahwa hubungan mereka belum punya bentuk resmi.
Malam itu Liram membawa surat terakhir dari Putri Elf yang membenarkan ia tak mengharapkan jawaban pribadi lagi. Lyla membacanya sendiri. Sang Putri mengucapkan terima kasih atas kejujuran Aresh dan Lyla, lalu berharap mereka menemukan pilihan yang tepat bagi diri masing-masing.
Lyla menyimpan surat itu di map pribadi, bukan di arsip kerajaan. “Dia memilih menutup bagian ini dengan baik,” katanya.
“Dan kita akan menghormati itu,” jawab Aresh.
Lyla kembali ke buku catatannya dan menulis: “Aku bukan lagi mak comblang resmi. Aku belum tahu apakah misi selesai. Aku masih bebas memilih.” Tiga kalimat itu terasa lebih jujur daripada semua rencana yang pernah ia buat.
Di luar jendela, malam Avantera turun perlahan. Lyla belum menemukan jawaban akhir, tetapi ia tak lagi mengira bahwa cinta, misi, dan pernikahan adalah satu hal yang sama. Ia akan melanjutkan pencarian dengan pertanyaan yang tepat—dan tidak membiarkan siapa pun menjawabnya untuk dirinya.