Tiga hari kemudian, Putri Elf membalas surat Aresh. Liram membacakan bagian yang menyangkut urusan pribadi setelah Aresh mengizinkan. Sang Putri meminta satu jawaban lagi: apakah Aresh ingin mengenal Lyla dengan tujuan membangun hubungan, atau sekadar menyimpan perasaan tanpa niat apa pun.
Lyla merasa pipinya menghangat. “Dia berhak tahu, kalau jawabannya memengaruhi cara dia menilai situasi.”
Aresh mengangguk. “Aku ingin mengenal Lyla lebih jauh dan melihat apakah kami dapat membangun hubungan. Tapi aku tidak akan mengklaim bahwa kami sudah bersama.”
“Jawab seperti itu,” kata Lyla. “Itu paling jujur.”
Aresh menyusun balasan sendiri. Ia menulis bahwa ia memiliki niat untuk membangun hubungan dengan Lyla jika Lyla juga memilihnya, tetapi belum ada kesepakatan atau pertunangan. Ia tidak akan mengharapkan sang Putri menunggu atau merasa ia kehilangan sesuatu karena memilih pulang.
Liram membaca draf itu. Lyla meminta agar namanya tidak dimasukkan ke dalam dokumen kerajaan, tetapi menyetujui penyebutan “Lyla” dalam surat pribadi karena sang Putri bertanya langsung tentang dirinya. Aresh menjelaskan bahwa ia akan menjaga isi surat tetap terbatas pada pertanyaan tersebut.
“Apakah kau ingin aku membaca suratnya sebelum dikirim?” tanya Aresh.
“Tidak perlu. Aku percaya kau akan menjawab sendiri.”
Aresh tampak menghargai kepercayaan itu, tetapi tetap memastikan Lyla tidak merasa terbebani. Lyla berkata ia memilih tidak membaca, bukan karena takut, melainkan karena jawaban itu milik Aresh. Ia tak perlu mengawasi setiap kalimatnya.
Surat dikirim sore itu. Sementara menunggu balasan, Lyla membantu Tala di ruang jahit. Ia berusaha memperbaiki kancing pada salah satu gaunnya sendiri, tetapi hasilnya miring.
“Ini sengaja,” kata Lyla. “Supaya terlihat seperti desain.”
“Kalau begitu, desainnya perlu diperbaiki,” jawab Tala.
Lyla tertawa. Ia merasa lega bisa melakukan hal sederhana yang tidak terkait misi. Namun setelah selesai, pikirannya kembali pada pertanyaan sang Putri. Ia ingin Aresh memilihnya, tetapi belum bisa mengatakan ia akan tinggal. Keinginan dan kesiapan bukan hal yang sama.
“Aku boleh mencintainya sambil belum tahu jawabanku?” tanyanya.
“Perasaan tidak selalu menunggu keputusan,” kata Tala. “Yang penting Anda jujur tentang batas.”
Lyla mengangguk. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tak menggunakan pengakuan cinta sebagai alasan menghindari pertanyaan Orion.
Sebelum kembali ke kamar, ia meminta Tala menyiapkan satu lembar kertas kosong. Lyla menuliskan dua daftar pendek. Di sisi kiri ia mencatat hal-hal yang ia ketahui: Aresh belum bertunangan, Putri Elf berhak mendapat jawaban jujur, dan ia sendiri belum menyatakan keputusan untuk tinggal. Di sisi kanan ia menulis hal-hal yang belum ia ketahui: apa arti misi Orion jika pencarian kandidat dihentikan, apakah pintu pulang masih terbuka, dan apakah ia mampu hidup di Avantera tanpa menjadikan Aresh satu-satunya alasan.
Tala tidak membaca daftar itu. Ia hanya meletakkan kotak kecil di dekat tangan Lyla agar kertasnya tidak terbawa angin dari jendela. Lyla menghargai sikap itu. Ia tidak membutuhkan seseorang yang memutuskan jawabannya, melainkan ruang untuk melihat bahwa pertanyaan-pertanyaan itu memang ada. Setelah itu, ia menyimpan kertas tersebut di buku catatan, bukan di laci terkunci. Ia ingin dapat membacanya lagi ketika rasa takut membuatnya ingin menyederhanakan semuanya.
Malamnya, Aresh datang membawa kabar bahwa surat telah dikirim. Ia tak menanyakan apakah Lyla menyesal membiarkannya menulis. Lyla bertanya apakah Aresh merasa lega setelah menyatakan niatnya dengan jelas.
“Ya. Aku tak ingin sang Putri menafsirkan diamku sebagai kemungkinan lamaran.”
“Itu baik.”
“Dan aku tak ingin kau menafsirkan niatku sebagai tuntutan.”
“Aku tahu.”
Mereka duduk di dekat jendela. Lyla menawarkan teh dan Aresh menerimanya. Tidak ada sentuhan, tidak ada janji baru. Hanya percakapan yang cukup untuk menjaga kejujuran tanpa mendorong keputusan.