Liram menyiapkan balasan resmi, tetapi ia menyarankan agar Aresh membaca sendiri naskah terakhir sebelum dikirim. Lyla berada di ruangan karena Aresh menanyakan apakah ia ingin ikut mendengar. Ia memilih hadir, namun duduk di kursi dekat jendela, tidak di sisi takhta.
Liram membaca draf: Avantera menerima kemungkinan melanjutkan pembicaraan aliansi melalui surat dan pertemuan resmi. Tidak ada kewajiban untuk mengikat hubungan kerajaan melalui perkawinan. Aresh menyatakan ia tak dapat menawarkan pernikahan kepada Putri Elf dan tidak mengharapkan sang Putri menunggu atau mengubah pilihannya.
“Bagian ini cukup jelas,” kata Lyla.
Aresh menatapnya. “Ada kalimat tentang urusan pribadi. Aku ingin menulis bahwa perasaanku telah berubah, tetapi aku tidak ingin namamu tercantum.”
“Kalau menyebut seseorang membuatnya lebih jelas, boleh. Tapi jangan sebut aku tanpa izin.”
“Tidak akan.”
Liram mengusulkan kalimat netral: Aresh memiliki perasaan pribadi kepada seseorang, namun hal itu tidak akan memengaruhi syarat aliansi dan tidak mengikat pihak mana pun. Aresh menyetujui. Lyla mendengar tiap kata dan tak merasa perlu mengoreksinya.
“Apakah aku harus merasa tidak nyaman karena kau menulis tentang perasaanmu?” tanyanya.
“Tidak. Ini bukan pengumuman kepada istana. Surat ini menjawab pertanyaan yang diajukan sang Putri.”
“Kalau begitu, aku tidak keberatan.”
Aresh menandatangani. Liram menyegel surat dengan lambang kerajaan. Sebelum dikirim, ia sekali lagi memastikan bahwa sang Putri telah meminta jawaban tertulis. Tidak ada utusan yang membawa pesan pribadi tanpa persetujuan pihak yang bersangkutan.
Lyla memperhatikan ketelitian itu. “Kau selalu memastikan izin untuk setiap bagian?”
“Dalam urusan diplomatik, satu kata bisa ditafsirkan sebagai janji,” kata Liram. “Lebih baik jelas daripada menimbulkan harapan yang keliru.”
Aresh mengangguk. Ia tak terlihat lega atau kecewa. Ia telah menjawab dengan jujur, dan kini keputusan berikutnya berada pada Putri Elf.
Lyla berjalan bersama Aresh sampai ke balkon perpustakaan. “Aku ingin tahu apakah kau merasa sedih tidak bisa menawarkan pernikahan kepadanya.”
“Aku tak pernah merasa ingin menikah dengannya. Aku sedih karena harapannya mungkin terganggu oleh harapan orang lain. Tapi aku tak merasa kehilangan hubungan yang belum pernah ada.”
“Dan tentang hubunganmu denganku?”
“Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Namun aku tahu kau belum memilih tinggal. Aku tidak akan menulis surat seolah-olah kau telah memilihku.”
Lyla menatap tangannya sendiri. “Aku berterima kasih.”
Aresh berdiri tidak terlalu dekat. “Kau boleh mengubah pikiranmu kapan saja. Perasaanku tidak membuat pilihanmu menjadi kewajiban.”
Mereka berbincang tentang kehidupan istana jika Lyla ingin bertahan tanpa gelar. Aresh menjelaskan ia dapat mencari cara agar Lyla punya kegiatan dan tempat sendiri, tetapi tidak akan memutuskan peran itu untuknya sebelum ia memilih. Lyla berkata ia tak ingin diberi pekerjaan hanya supaya merasa punya alasan tinggal.
“Kalau aku memilih menetap, aku ingin memilih kegiatan karena aku tertarik, bukan karena semua orang menganggapku harus berguna.”
“Itu masuk akal.”
Mereka menyepakati untuk tidak mengumumkan apa pun kepada istana tentang hubungan mereka. Pengakuan cinta adalah percakapan pribadi, bukan pengumuman kerajaan. Lyla ingin waktu untuk memahami perasaannya sendiri setelah mendengar semua jawaban Orion.
Ketika Liram kembali, ia mengabarkan surat sudah dikirim. Belum ada balasan. Lyla merasa cemas, tetapi ia mengingat bahwa sang Putri berhak menjawab kapan saja atau bahkan tidak melanjutkan komunikasi.
“Aku berharap dia merasa bebas,” kata Lyla.
“Jawaban kita memberi ruang untuk itu,” ujar Aresh.
Lyla mengangguk. Ia tak tahu apakah surat itu akan membawa balasan atau mengakhiri kerja sama. Namun, setidaknya tak seorang pun diminta menikah sebagai pembayaran atas hubungan kerajaan.
Liram mengumpulkan draf agenda lama dan menandai bagian yang harus dibuang. Lyla menawarkan membaca daftar perubahan, tetapi hanya untuk memastikan tidak ada namanya dalam dokumen. Ia tidak ingin ikut menentukan kebijakan luar negeri.
Draf lama menyebut jamuan untuk membicarakan masa depan kedua kerajaan dan kemungkinan ikatan keluarga. Liram mengganti kalimat itu menjadi pembahasan perdagangan, keselamatan jalur perjalanan, dan peninjauan rancangan oleh pihak yang terdampak. Aresh meminta agar tidak ada istilah yang membayangkan Putri Elf akan kembali untuk menikah.
“Apakah tidak ada yang menganggap pernikahan akan mempermudah semuanya?” tanya Lyla.
“Sebagian orang mungkin berharap begitu,” jawab Aresh. “Namun itu tidak menjadikan harapan mereka sebagai keputusan.”
“Bagaimana jika mereka menolak aliansi tanpa pernikahan?”
“Maka kita akan menilai aliansi itu berdasarkan manfaat dan risikonya. Bukan dengan menekan seseorang.”
Liram mengingatkan bahwa usulan kerja sama belum disetujui. Draf baru hanya menyiapkan cara membicarakannya. Aresh meminta setiap pihak diberi kesempatan meninjau sebelum keputusan akhir.
Lyla membaca ulang bagian tentang wilayah perbatasan. Ia senang usulan itu meminta masukan dari warga yang akan terdampak. Ia tak menambahkan komentar lain karena tak ingin mengubah peran menjadi pejabat tanpa mandat.
Ketika draf selesai, Liram menyimpannya sebagai agenda kerja. Tak ada undangan baru atau tanggal kunjungan yang dibuat. Sang Putri sudah memilih melanjutkan komunikasi lewat surat, dan istana akan menunggu keputusannya sendiri.
Liram membawa dokumen lama yang menyebut pernikahan sebagai “pilihan utama” untuk menguatkan hubungan. Aresh memerintahkan frasa itu dicoret, bukan sekadar dipindah ke bagian lain. Ia tak ingin dokumen baru tetap menyimpan anggapan bahwa pernikahan adalah tujuan yang harus dicapai.
“Kalau ada orang bertanya kenapa kita menghapusnya?” tanya Liram.
“Katakan karena kedua pihak belum memilihnya dan tidak ada kesepakatan yang mengharuskannya.”
Lyla memperhatikan cara Aresh menjawab tanpa menuduh pihak Putri. Ia tidak menyalahkan adat atau harapan kerajaan Elf; ia hanya menjelaskan batas yang telah disepakati.
Mereka lalu meninjau bagian lain agar tidak ada ungkapan yang menyiratkan sang Putri akan tinggal di Avantera. Agenda menyebut komunikasi lanjutan melalui surat, sesuai permintaan sang Putri sendiri. Liram akan mengirim dokumen setelah Aresh mengesahkannya.
Aresh menandatangani surat setelah Liram membacakan setiap kalimat. Lyla menyaksikan dari kursinya, tidak memberi persetujuan atas nama Putri Elf. Ia tahu jawaban yang jujur kadang tetap mengecewakan, tetapi setidaknya tidak membangun harapan yang keliru.