Keesokan paginya, Yesha pergi ke dapur dengan wajah kuyu. Lingkaran hitam yang samar menghiasi sekitar mata. Semua itu akibat malam tadi ia memaksakan diri membaca informasi pemilik tubuh dan Rezvan hingga larut malam. Belum lagi foto dan nama Vania Septhana yang terus menghantui pikirannya, membuatnya sulit untuk tidur.
“Bibi, tolong letakkan ini semua di meja makan,” perintah Yesha yang baru saja menyelesaikan masakan terakhirnya. “Aku akan membangunkan anak-anak dulu.”
“Baik, Nyonya.”
Yesha meninggalkan dapur menuju kamar Raka dan Revan yang tidur di kamar yang sama. Berdasarkan ingatan pemilik tubuh, kedua anak kembarnya ini sangat sulit untuk dibangunkan. Bahkan para pelayan di rumah sering memasang wajah tertekan setiap keluar dari kamar si kembar. Karena itulah ia akan membangunkan si kembar lebih dulu.
Yesha tertegun saat memasuki kamar si kembar. Tampaknya Rezvan sangat memanjakan si kembar. Terbukti dengan banyaknya lemari mainan yang mengisi kamar. Berbagai macam jenis dan ukuran mainan tersedia. Semuanya tersusun rapi seperti di toko.
“Raka. Sayang, ayo bangun!” Yesha duduk di tepi tempat tidur Raka.
Raka dan Revan kembar identik, meski begitu Yesha dapat mengenali mereka berdua. Sejak ia menempati tubuh Yesha Altezza, ia mengamati dengan teliti kedua anak itu. Karena itulah ia dapat membedakan mereka berdua.
Secara fisik, Raka lebih pendek lima sentimeter dibandingkan Revan. Ia juga memiliki warna mata hitam pekat, berbeda dengan Revan yang memiliki warna mata cokelat gelap. Sementara sifat mereka pun sangat berbeda. Raka anak yang mudah sekali marah dan sedikit cerewet, serta memiliki gengsi yang tinggi dan sulit untuk dibujuk. Berbeda dengan Revan yang pendiam, ia juga tidak gengsi dan sangat mudah untuk dibujuk.
“Sayang, ayo cepat bangun. Sekarang sudah pagi.” Yesha mengelus kepala Raka penuh kasih sayang, sambil sesekali ia mencium keningnya.
Beberapa menit berlalu, tetapi Raka masih sulit untuk dibangunkan. Yesha beralih ke tempat tidur Revan. Meski kamar mereka bersama, tetapi tempat tidur mereka terpisah.
“Revan Sayang, ayo bangun!” Yesha mengelus kepala dan mencium kening Revan seperti apa yang ia lakukan kepada Raka sebelumnya.
Setelah beberapa saat, Revan sedikit menggeliat dengan apa yang dilakukan Yesha. Sebelum akhirnya secara perlahan membuka mata.
“Kenapa kamu masuk ke kamarku?!” teriak Revan dengan mata melotot, terkejut mendapati Yesha duduk di tempat tidurnya.
“Tentu saja untuk membangunkan kalian,” ucap Yesha dengan tersenyum lebar.
“Keluar!” teriak Revan.
Revan bangkit dari tidurnya. Ia meraih tangan Yesha dan menyeret wanita itu agar keluar dari kamarnya. Namun, karena perbedaan tenaga, ia bahkan tidak bisa menarik Yesha yang bersikeras tetap duduk di tepi tempat tidur.
“Raka, bangun!” Revan berteriak kepada Raka yang masih tertidur pulas, berusaha meminta bantuan saudara kembarnya untuk membantunya mengusir Yesha dari kamar mereka. “Raka, cepat bangun!”
Raka yang merasa tidurnya terganggu mulai membuka matanya secara perlahan. Ia hanya diam saat melihat Revan menarik Yesha. Masih belum menyadari apa yang terjadi. Setelah beberapa detik, akhirnya Raka bangkit berdiri dan memandang Yesha dengan mata melotot.
“Apa yang kamu lakukan di kamar kami?!” teriak Raka sembari menunjuk Yesha.
“Bantu aku menyeret wanita ini keluar dari kamar kita,” ujar Revan cepat sebelum Yesha membuka suara.
Raka segera memegang tangan Yesha yang lain dan menariknya, menyeret Yesha agar meninggalkan kamar mereka.
Yesha menggeleng pelan melihat kemarahan kedua anak tirinya. Ia benar-benar tidak menyangka kedua anak tirinya sangat membencinya. Biarpun begitu, di mata Yesha, sikap keduanya justru terlihat lucu dan menggemaskan.
“Baiklah, baiklah.” Yesha mengalah dan bangkit dari duduknya. ”Bunda akan keluar. Dan kalian berdua, cepat pergi mandi.”
Raka dan Revan melepaskan tangan Yesha. Mereka mendengkus kasar dan memalingkan muka dari Yesha.
Yesha meninggalkan kamar si kembar dan pergi ke kamar Ravindra. Ia mengetuk pintu kamar Ravindra terlebih dahulu sebelum melangkah masuk. Keningnya berkerut dalam saat melihat kamar Ravindra yang sangat kecil, sangat jauh berbeda dengan kamar si kembar yang besar. Bahkan di kamar Ravindra tidak ada satu pun lemari mainan. Hanya ada satu boneka usang yang menjadi teman tidur anak itu.
Hati Yesha teriris melihat perbedaan kamar Ravindra dengan si kembar. Ia tidak habis pikir bagaimana Rezvan, sebagai seorang ayah, bisa memperlakukan anak-anaknya dengan sangat berbeda. Apalagi Ravindra masih sangat kecil untuk menerima perlakuan Rezvan yang sangat pilih kasih.
Yesha menghela napas berat sebelum menghampiri tempat tidur Ravindra. Senyum kecil menghiasi wajahnya ketika melihat Ravindra yang tidur sangat rapi sekali, berbeda dengan si kembar yang berantakan.
“Sayang, ayo bangun!” Yesha mengelus rambut hitam pekat Ravindra dan mencium keningnya. “Sudah pagi, Sayang. Ayo bangun!”
Tidak memerlukan waktu lama bagi Yesha untuk membangunkan Ravindra. Hanya dengan dua kali panggilan, Ravindra pun bangun. Ravindra terkejut dengan keberadaan Yesha. Namun, Ravindra hanya diam. Tanpa diperintah untuk kedua kalinya, Ravindra bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.
“Mau bunda bantu mandi?” Yesha mengikuti Ravindra ke kamar mandi.
“Tidak perlu.” Ravindra menutup pintu kamar mandi.
“Baiklah. Kalau begitu bunda tunggu di ruang makan.”
Yesha meninggalkan kamar Ravindra dan pergi ke kamarnya untuk mandi.
Setengah jam kemudian, Yesha meninggalkan kamar dan menuju ruang makan. Di meja makan, Rezvan sudah duduk di kursinya dengan memegang tablet.
Rezvan mengalihkan pandangannya dari tablet saat Yesha menyapanya. Namun, ia tidak mengatakan apa-apa dan kembali fokus pada tabletnya.
Yesha tidak ambil pusing dengan sikap Rezvan. Ia duduk di kursi bagian kanan dari Rezvan. Suasana terasa sunyi senyap. Setelah beberapa menit, Raka, Reva, dan Ravindra memasuki ruang makan.
“Selamat pagi, Anak-Anak!” sapa Yesha dengan senyum lebar.
Raka dan Revan mengabaikan sapaan Yesha. Mereka duduk di tempat mereka masing-masing.
“Pagi!” Ravindra membalas sapaan Yesha dengan datar.
Yesha tersenyum lebar hingga matanya menyipit mendengar jawaban Ravindra.
Di balik sikap pendiam Ravindra, Yesha yakin bahwa anak itu sebenarnya anak yang periang. Tampaknya keadaan yang membuat anak itu berubah pendiam dan tertutup. Dan Yesha yakin jika dirinya terus memberikan perhatian kepada Ravindra, anak itu pasti akan kembali ceria dan bersikap sebagaimana anak seusianya.
“Mari kita makan,” ujar Yesha tersenyum. “Bunda memasakkan makanan kesukaan kalian semua.” Yesha menatap suami dan ketiga anak tirinya. “Mulai hari ini dan selamanya, bunda yang akan memasak untuk kalian semua.”
Raka meletakkan kembali sendok di tangannya dengan keras, lalu mendorong piring di hadapannya. Dengan bersedekap d**a ia menatap Yesha tajam dan berkata, “Aku tidak suka makananmu.” Raka menatap Rezvan. “Papa, Raka mau makanan yang lain.”
“Revan juga, Pa.” Revan tidak mau kalah.
Sementara Ravindra menyantap makanannya tanpa mengatakan apa pun. Baginya, siapa pun yang memasak bukan masalah selama perutnya bisa terisi. Lagi pula selama ini tidak ada yang pernah memperhatikan dirinya. Bahkan ayahnya sendiri pun mengabaikan keberadaannya. Di mata ayahnya hanya ada Raka dan Revan. Tidak pernah ada sosok dirinya.
“Baiklah. Hanna, siapkan sarapan baru!” perintah Rezvan kepada Hanna yang berdiri tidak jauh dari mereka.
“Tunggu dulu!” cegah Yesha cepat sebelum Hanna bergerak dari tempatnya. Ia menatap Hanna yang bingung harus melaksanakan perintah Rezvan atau Yesha. “Kamu tidak perlu memasak makanan baru. Biarkan saja mereka makan apa yang ada di meja makan.”
Rezvan menatap marah Yesha. “Apa hakmu melarang Hanna untuk memasak?” ucapnya sengit.