“Kau sudah sadar?” suara dingin dan juga sinis menyapa indra pendengaran Yesha ketika ia memasuki ruang makan.
“Kamu sudah pulang?” bukannya menjawab, Yesha justru bertanya balik. Keterkejutan terlihat jelas di wajahnya melihat Rezvan berada di ruang makan.
Berdasarkan ingatan dari pemilik tubuh, Rezvan seharusnya berada di luar kota hingga dua hari ke depan.
Ya, Yesha telah bertransmigrasi atau dilahirkan kembali ke tubuh seorang wanita bersuami duda dengan tiga orang anak beberapa jam yang lalu.
Yesha menghampiri meja makan dan duduk di samping Ravindra, anak bungsu Rezvan. “Bukankah kamu masih pulang besok lusa?”
“Apakah ucapanku yang terakhir merupakan candaan untukmu?” Rezvan mengabaikan ucapan Yesha dan kembali mengingatkan wanita itu mengenai apa yang sudah ia katakan sebelumnya kepada Yesha.
Tujuan Rezvan pulang lebih awal bukan karena ia mengkhawatirkan wanita itu, tetapi untuk memastikan wanita itu tidak mati di rumahnya. Rezvan tidak ingin rumahnya dijadikan tempat untuk bunuh diri.
“Maksudmu?” tanya Yesha tidak mengerti.
Yesha memang memiliki semua ingatan pemilik tubuh, tetapi saat ini ingatan yang masuk ke kepalanya hanya ingatan yang sangat jelas dan kuat. Untuk hal-hal kecil, Yesha tidak menemukannya pada ingatan pemilik tubuh.
Rezvan menatap tajam Yesha yang seketika bergidik ngeri. Yesha tidak pernah melihat tatapan setajam itu dikehidupan sebelumnya.
“Bukankah aku sudah memperingatimu sebelumnya? Aku tidak melarangmu untuk bunuh diri, tetapi tidak di rumahku! Ini adalah yang terakhir, tidak ada lagi yang ketiga kalinya,” ucap Rezvan penuh penegasan di setiap kata-katanya.
Ini adalah yang kedua kalinya Yesha berusaha mengakhiri hidupnya. Sebelumnya Yesha berusaha memotong urat nadinya, beruntung wanita itu berhasil diselamatkan. Dan sekarang Yesha kembali berusaha bunuh diri dengan meminum banyak obat tidur sekaligus hingga overdosis, beruntung Hanna menemukan Yesha dengan cepat dan memanggil dokter sehingga nyawa wanita itu bisa diselamatkan.
Tidak masalah bagi Rezvan kalau Yesha ingin mengakhiri hidupnya, tetapi tidak di rumahnya. Sebab Rezvan tidak ingin ada berita mengenai kematian Yesha di rumahnya.
“Itu tidak akan terjadi lagi. Aku janji!” ucap Yesha cepat dan mantap.
Ia bukanlah pemilik tubuh, sehingga ia tidak akan melakukan hal-hal bodoh untuk menghabisi nyawanya sendiri karena masalah sepele. Apalagi ia sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya meninggal. Jadi, tidak akan pernah ada percobaan bunuh diri untuk yang ketiga kalinya ataupun selanjutnya.
Rezvan sedikit terkejut dengan nada tegas Yesha menjawab ucapannya. Selama ini wanita itu selalu menanggapi kata-katanya dengan lirih. Tidak pernah sekali pun berkata tegas dan mantap seperti saat ini.
“Baguslah kalau begitu.” Rezvan masih berkata dengan nada datar dan tajam, mengabaikan perubahan pada diri Yesha “Jika sampai hal ini terulang kembali, aku sendiri yang akan membunuhmu.”
Rezvan tidak peduli apakah Yesha berubah atau tidak. Sejak awal ia tidak pernah menyukai istrinya itu. Yang ia inginkan hanyalah agar Yesha tidak berusaha bunuh diri di rumahnya lagi.
Yesha tersenyum kecut mendengar ucapan Rezvan.
“Anak-anak, ayo kita berangkat!” Rezvan bangkit dari duduknya diikuti oleh Raka dan Revan.
“Kalian berangkat sekarang?” tanya Yesha.
Rezvan dan kedua anak kembarnya mengabaikan pertanyaan Yesha, pergi begitu saja meninggalkan ruang makan. Seketika ruang makan hening, hanya menyisakan Yesha dan Ravindra.
Yesha tidak terkejut dengan sikap Rezvan dan anak kembarnya. Mereka memang selalu mengabaikan pemilik tubuh. Tidak hanya dirinya, berdasarkan ingatan pemilik tubuh, Rezvan dan anak kembarnya pun mengabaikan Ravindra. Hal itu benar-benar membuat Yesha tidak habis pikir, kenapa ada seorang ayah yang tega mengabaikan darah dagingnya sendiri?
Yesha tersentak dari pikirannya kala Ravindra turun dari kursi. Tanpa kata, anak itu meninggalkan ruang makan.
Yesha menghela napas pelan. Ia melanjutkan sarapan sembari memikirkan berbagai macam cara untuk membuat suami dan ketiga anak tirinya bisa menerima kehadirannya.
Di kehidupan sebelumnya, Yesha belum menikah. Walaupun begitu, Yesha tidak akan menyerah menghadapi keempat orang itu. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini. Ia akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan ketiga anak tirinya.
Usai sarapan, Yesha pergi ke pemakaman kedua orang tuanya di kehidupan sebelumnya. Beruntung ia dilahirkan kembali di kota yang sama dengan kota kelahirannya. Sehingga ia bisa tetap mengunjungi makam kedua orang tuanya.
Setelah mengunjungi makam, Yesha pergi ke tempat detektif swasta. Detektif yang sering ayahnya datangangi dikehidupan sebelumnya. Ia akan mencari tahu mengenai pemilik tubuh dan Rezvan.
Sesampainya di tempat tujuan, Yesha disambut seorang wanita yang langsung membawanya menemui sang detektif, Zaidan, di ruang kerjanya di lantai dua.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Zaidan setelah mempersilakan Yesha duduk.
“Saya ingin Anda mencari tahu semua tentang Yesha Altezza dan Rezvan Wibisana,” ucap Yesha langsung ke intinya.
Yesha tidak takut Zaidan memandangnya aneh karena mencari informasi mengenai dirinya sendiri, sebab saat ini ia sudah mengenakan penyamaran. Sebelum tiba di tempat ini, Yesha terlebih dahulu membeli pakaian dan rambut palsu untuk menyamar.
“Saya ingin informasi sedetail mungkin dari kedua orang ini,” lanjut Yesha. “Saya ingin mendapatkan informasi mereka berdua secepatnya. Kalau bisa, dalam dua hari saya sudah mendapatkannya. Untuk masalah biaya, saya akan membayar berapa pun. Anda tinggal sebutkan saja berapa biayanya.”
Yesha memang memiliki ingatan pemilik tubuh mengenai kehidupan pemilik tubuh dan orang-orang di sekitarnya. Namun, ingatan itu tidak jelas untuk saat ini. Ingatan yang masuk di kepalanya begitu samar-samar.
Yesha hanya tahu sedikit mengenai mereka semua. Karena itulah, untuk berjaga-jaga, Yesha ingin mengetahui semua tentang pemilik tubuh dan suaminya. Di mulai dari keluarga, teman, pergaulan dan segalanya. Karena Yesha tidak ingin ada orang yang memanfaatkan dirinya seperti dikehidupan sebelumnya.
Sebenarnya Yesha bisa saja bertanya kepada Hanna, tentunya menggunakan alasan bahwa ia kehilangan ingatan akibat overdosis dari percobaan bunuh dirinya. Akan tetapi, Yesha tidak ingin mengambil risiko. Ia lebih merasa aman menyewa seorang detektif swasta. Dengan begitu, ia bisa mengetahui semua informasi sekecil apa pun tentang latar belakang Rezvan dan pemilik tubuh.
“Baiklah. Anda tidak perlu menunggu dua hari. Saya berjanji malam ini juga informasi atas dua orang itu akan saya kirimkan ke email Anda.” Zaidan berkata dengan percaya diri.
Bagi Zaidan, mencari informasi seseorang adalah hal sederhana. Ia bisa mendapatkannya dalam waktu singkat.
“Terima kasih, Detektif. Saya akan menunggu informasi dari Anda.” Yesha menyerahkan secarik kertas bertuliskan alamat surelnya dan sebuah cek kosong. “Anda bisa mengirimkan informasi ke alamat ini. Dan Anda tidak perlu sungkan untuk mengisi berapa pun biaya yang Anda inginkan.”
Zaidan mengambil kertas dan cek itu tanpa sungkan. “Saya berjanji malam nanti, paling lambat jam sepuluh, Anda akan menerima semua informasi mereka berdua.”
“Sekali lagi terima kasih, Detektif. Kalau begitu saya permisi dulu.”
“Ya. Silakan.” Zaidan memberi isyarat dengan tangannya.
Yesha pun meninggalkan ruang kerja Zaidan. Dengan menggunakan taksi, Yesha kembali pulang ke rumah. Taksi berhenti tepat di depan gerbang rumah.
Seseorang memanggil Yesha dengan sangat lantang tepat saat ia keluar dari taksi.
Yesha menoleh ke arah suara. Matanya terbelalak kala mengenali siapa orang yang baru saja memanggilnya.