Aruna berlari kecil melewati ujung gang sambil memegangi tas dan map cokelat di dadanya.
“Ya Tuhan… jangan sampai ketinggalan,” gumamnya, napas mulai terengah.
Di depan sana, bus kota sudah mendekati halte. Beberapa penumpang bersiap naik. Aruna mempercepat langkah, hampir tergelincir di genangan air sisa hujan semalam.
Hari pertama kerja. Ia tidak boleh terlambat.
“Ayo, Mbak! Cepat kalau mau naik!” seru kernet bus.
“Iya! Tunggu sebentar!”
Aruna masuk tepat sebelum pintu tertutup. Seketika ia disambut udara pengap bercampur aroma parfum, keringat, dan pendingin ruangan yang bekerja setengah hati.
Penuh. Tentu saja.
Aruna menyelipkan tubuh di antara penumpang lain, berpegangan pada tiang besi dekat pintu tengah. Map cokelatnya ia peluk erat agar tidak tertekuk. Ia melirik jam di ponsel.
Masih aman. Kalau jalanan lancar, ia bisa sampai sebelum orientasi dimulai. Ia menarik napas. Kota di luar jendela mulai hidup; motor berdesakan dan klakson bersahutan. Aruna menunduk menatap map di pelukannya.
AKSARA NEXUS TEKNOLOGI
Nama perusahaan itu seharusnya membuatnya lega. Namun ingatannya kembali pada pengumuman tentang CEO yang baru pulang dari luar negeri. Aruna menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Semua perusahaan tentu punya CEO.
“Mikir yang baik-baik saja, Run,” bisiknya.
Bus mengerem. Tubuh Aruna terdorong ke depan. Bahunya hampir menabrak penumpang lain kalau ia tidak cepat mencengkeram tiang. Map di pelukannya bergeser, membuat beberapa kertas hampir keluar.
“Aduh,” gumamnya sambil merapikan map.
Seorang ibu paruh baya yang duduk tak jauh darinya menoleh. “Hari pertama kerja, ya, Mbak?”
Aruna agak terkejut, lalu tersenyum sopan. “Kelihatan sekali, ya, Bu?”
Ibu itu tertawa kecil. “Kelihatan dari mapnya. Biasanya yang pegang map serapat itu kalau bukan mau wawancara, ya baru masuk kerja.”
“Iya, Bu. Baru masuk kerja.”
“Semoga lancar.”
“Aamiin. Terima kasih, Bu.”
Doa sederhana dari orang asing itu membuat hati Aruna sedikit hangat. Mungkin hari ini memang akan baik-baik saja.
Beberapa halte terlewati, tetapi bus tetap padat. Aruna berdiri hampir dua puluh menit sampai kakinya mulai pegal. Lalu, seorang pria muda yang duduk di dekat jendela berdiri.
Kursi kosong. Aruna menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada orang tua atau penumpang yang tampak lebih membutuhkan di dekatnya.
“Mbak, duduk saja,” kata ibu paruh baya tadi.
Aruna tersenyum ragu. “Tidak apa-apa, Bu?”
“Iya. Dari tadi berdiri, kan?”
“Terima kasih.”
Aruna duduk di kursi dekat jendela dengan lega. Ia meletakkan map di pangkuan, lalu mengusap sudutnya yang sedikit lecek.
Bus berhenti lagi di halte berikutnya. Beberapa penumpang naik, termasuk wanita muda berblouse merah marun, rok hitam ketat, dan sepatu hak tinggi. Rambutnya rapi, bibirnya merah bata, parfumnya tajam.
Aruna tidak sengaja menatapnya. Wanita itu juga menatap Aruna. Lebih tepatnya, menatap kursi yang sedang diduduki Aruna. Sorot matanya berubah tajam, seolah Aruna sudah melakukan kesalahan besar hanya karena duduk di sana.
Aruna segera mengalihkan pandangan ke luar jendela. Ia tidak ingin mencari masalah. Hari ini sudah cukup menegangkan. Namun wanita itu berdiri tepat di sebelah kursinya. Kuku merah gelapnya mengetuk pelan besi pegangan.
Tring.. Tring.. Tring..
Aruna mencoba fokus pada ponsel. Ada pesan dari Mona.
Mona: Kak, jangan lupa update kalau sudah sampai. Kalau ketemu bos ganteng jangan langsung jatuh cinta.
Aruna hampir tersenyum, tetapi suara di sebelahnya membuat senyum itu tertahan.
“Enak ya, dapat kursi,” gumam wanita itu cukup keras.
Aruna pura-pura tidak mendengar.
“Kadang orang memang punya keberuntungan lebih. Naik belakangan, tapi bisa duduk duluan.”
Aruna menoleh perlahan. “Maaf, Mbak bicara dengan saya?”
Wanita itu tersenyum tipis. “Memang di sebelah saya ada siapa lagi?”
Beberapa penumpang melirik. Aruna menarik napas pelan.
“Saya duduk karena kursinya kosong,” jawabnya sopan.
“Oh, tentu. Semua orang juga akan bilang begitu.” Mata wanita itu turun ke map Aruna. “Kelihatannya buru-buru mau kerja. Hari pertama?”
Aruna tidak menjawab. Ia merasa tidak perlu memberi informasi pada orang asing yang jelas-jelas mencari perkara.
Wanita itu mendengus. “Sombong juga.”
Aruna merapatkan bibir. Dalam hati, ia mengulang nasihat Mama Amel.
Jangan terpancing. Hari ini harus baik-baik saja.
Bus kembali berhenti. Kali ini, seorang ibu hamil naik dengan langkah pelan. Wajahnya pucat, satu tangannya memegang perut yang besar, sementara tangan lainnya membawa tas kain kecil. Ia tampak kesulitan mencari pegangan karena bus terlalu penuh.
Aruna langsung berdiri.
“Bu, duduk di sini saja,” katanya lembut.
Ibu hamil itu menoleh, wajahnya lega. “Tidak apa-apa, Mbak?”
“Iya, Bu. Silakan.”
Aruna bergeser memberi ruang. Namun, sebelum ibu hamil itu sempat duduk, wanita berblouse merah marun tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke kursi kosong tersebut. Gerakannya cepat. Terlalu cepat untuk disebut tidak sengaja.
Aruna terpaku.
Ibu hamil itu juga terdiam. Tangannya masih memegangi perut. Wajahnya berubah canggung. Wanita itu menyilangkan kaki dengan santai, lalu mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya.
“Mbak,” panggil Aruna, masih berusaha menahan suara. “Kursi itu tadi saya berikan untuk ibu ini.”
Wanita itu mendongak seolah baru sadar ada masalah. “Oh, ya?”
“Mbak melihat sendiri.”
“Melihat apa?” Wanita itu mengangkat alis. “Yang saya lihat cuma kursi kosong.”
Beberapa penumpang mulai memperhatikan. Ibu hamil itu mencoba tersenyum canggung.
“Tidak apa-apa, Mbak. Saya berdiri saja,” kata ibu itu pelan.
Aruna menoleh cepat. “Jangan, Bu. Ibu duduk saja.”
Lalu ia kembali menatap wanita di kursi. “Mbak, tolong berdiri. Ibu ini lebih membutuhkan.”
Wanita itu melirik perut ibu hamil tersebut, lalu tertawa kecil. “Kamu yakin dia hamil?”
Suasana bus mendadak sunyi.
Aruna mengerjap. “Maksudnya?”
“Sekarang banyak orang perutnya besar. Belum tentu hamil. Bisa saja kebanyakan makan.” Wanita itu menatap ibu hamil itu dari atas ke bawah. “Kalau semua yang perutnya besar harus dikasih kursi, repot juga.”
Wajah ibu hamil itu langsung memerah. Matanya menunduk.
Dada Aruna panas. Ia bisa saja diam saat disindir. Namun melihat wanita hamil dipermalukan seperti itu membuat kesabarannya pecah.
“Mbak,” kata Aruna. Suaranya tidak tinggi, tetapi tegas. “Kalau Mbak lelah, semua orang di bus ini juga lelah. Tapi ada orang yang lebih membutuhkan tempat duduk daripada kita.”
Wanita itu menatap Aruna tajam. “Kita? Jangan sok menyamakan diri dengan saya.”
Aruna tersenyum tipis. “Benar. Saya memang tidak mau disamakan dengan orang yang merebut kursi ibu hamil lalu menghina tubuhnya.”
Beberapa penumpang berbisik. Wajah wanita itu berubah merah.
“Kamu pikir kamu siapa?” bentaknya. “Sok pahlawan sekali. Baru juga mau kerja, sudah merasa paling bermoral?”
Aruna menggenggam mapnya kuat-kuat. “Saya bukan siapa-siapa. Tapi setidaknya saya tahu sopan santun tidak ditentukan dari baju mahal atau parfum tajam.”
Seorang bapak ikut bersuara, “Mbak, sudah. Kasih saja kursinya. Ibu itu kelihatan lemas.”
“Iya, kasihan,” tambah penumpang perempuan lain. “Jangan keterlaluan.”
Wanita itu menoleh ke sekeliling dengan wajah tersinggung. “Jadi kalian semua menyalahkan saya?”
“Bukan menyalahkan,” kata Aruna. “Mengingatkan.”
Sopir bus ikut menoleh lewat kaca tengah. “Kalau ribut, turun saja, Mbak. Jangan bikin penumpang lain tidak nyaman.”
Harga diri wanita itu jelas terluka. Ia memelototi Aruna, lalu berdiri dengan gerakan kasar.
“Silakan,” katanya sinis pada ibu hamil itu. “Duduk. Semoga puas jadi pusat perhatian.”
Ibu hamil itu tidak langsung bergerak. Aruna menyentuh pelan lengannya. “Tidak apa-apa, Bu. Duduk saja.”
Dengan mata berkaca-kaca, ibu itu duduk. “Terima kasih, Mbak.”
Aruna tersenyum. “Sama-sama.”
Bus kembali berjalan. Suasana perlahan normal, meski beberapa penumpang masih mencuri pandang ke arah wanita berblouse merah marun yang kini berdiri kaku tidak jauh dari Aruna.
Wanita itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun tatapannya berbicara cukup banyak.
Benci. Malu. Dendam.
Aruna memilih tidak membalas. Ia kembali berdiri, memeluk mapnya. Jantungnya masih berdebar. Ia tidak suka berkonflik, tapi ia tidak menyesal.
“Mbak,” panggil ibu hamil itu dari kursi.
Aruna menoleh.
“Semoga kerja pertamanya lancar, ya.”
Doa itu membuat emosi Aruna melunak. “Aamiin. Terima kasih, Bu.”
Bus melewati kawasan perkantoran. Gedung-gedung tinggi mulai bermunculan di kiri kanan jalan. Aruna melirik jam. Masih ada waktu. Ia hanya perlu turun dua halte lagi, lalu berjalan sekitar lima menit menuju gedung Aksara Nexus Teknologi.
Namun diam-diam, wanita berblouse merah marun terus memperhatikannya.
Bukan wajah Aruna lagi. Melainkan map cokelat yang dipeluknya.
Saat bus berguncang, posisi map itu bergeser. Logo di sudut kanan atas terlihat jelas.
AKSARA NEXUS TEKNOLOGI
Mata wanita itu menyipit. Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran tadi, bibirnya membentuk senyum. Bukan senyum ramah. Bukan pula senyum malu karena sadar telah salah.
Itu senyum seseorang yang baru saja menemukan cara untuk membalas.
Bus berhenti di halte kawasan bisnis. Aruna segera bergerak menuju pintu. Ibu hamil tadi melambai kecil. Aruna membalas dengan senyum, lalu turun dari bus.
“Tidak apa-apa,” gumamnya. “Masih aman. Hari ini tetap bisa baik-baik saja.”
Ia merapikan blazer, memastikan rambutnya tidak berantakan, lalu mulai berjalan ke arah gedung perkantoran.
Namun baru beberapa langkah, suara hak sepatu terdengar di belakangnya.
Tak. Tak. Tak.
Awalnya Aruna tidak peduli. Banyak orang turun di halte yang sama. Tapi langkah itu seperti sengaja mengikuti ritmenya.
Aruna mempercepat langkah. Suara hak sepatu itu ikut cepat. Ia menoleh.
Wanita berblouse merah marun dari bus berjalan di belakangnya, lengkap dengan senyum miring yang membuat tengkuk Aruna meremang.
Aruna berhenti. “Mbak turun di sini juga?”
Wanita itu berhenti beberapa langkah darinya. Matanya turun ke map Aruna, lalu naik lagi ke wajahnya.
“Jadi kamu juga kerja di sana?” tanyanya.
Aruna menegang.
Wanita itu menunjuk map dengan dagu. “Aksara Nexus Teknologi.”
Aruna tidak langsung menjawab.
“Iya,” jawab Aruna akhirnya. “Saya karyawan baru.”
Senyum wanita itu melebar.
“Oh. Karyawan baru.”
Cara wanita itu mengulang kata tersebut membuat Aruna merasa seperti sedang mendengar ancaman yang dibungkus pita.
“Kalau begitu,” lanjut wanita itu sambil membetulkan tali tasnya, “kita akan sering bertemu.”
Aruna mengerutkan dahi. “Maksudnya?”
Wanita itu melangkah mendekat, cukup dekat hingga aroma parfumnya terasa menusuk.
“Namaku Dona Febrianti Anggara,” katanya pelan. “Staf divisi administrasi proyek. Dan kalau mapmu itu benar, kemungkinan besar… kamu akan satu lantai denganku.”
Darah Aruna terasa turun ke ujung kaki.
Tidak mungkin.
Dona menatap wajah Aruna yang memucat dengan puas.
“Tadi kamu pintar sekali mempermalukan orang di bus,” ujarnya manis, tetapi matanya tidak ikut tersenyum. “Kita lihat, apa kamu masih sepintar itu di kantor.”
Aruna menggenggam mapnya lebih kuat. “Saya tidak mempermalukan siapa pun. Saya hanya meminta Mbak bersikap sopan.”
“Sopan?” Dona tertawa kecil. “Di kantor nanti, kamu akan belajar sesuatu, Aruna. Orang yang terlalu sok benar biasanya paling mudah dibuat salah.”
Aruna terdiam.
Di kejauhan, logo Aksara Nexus Teknologi tampak menjulang di gedung kaca yang megah.
Tempat itu seharusnya menjadi awal baru bagi Aruna. Namun kini, sebelum ia bahkan sempat menginjakkan kaki di lobi, seseorang sudah menunggunya dengan dendam.
Dona melangkah melewati Aruna, lalu berhenti sebentar di sampingnya.
“Selamat datang di hari pertamamu,” bisiknya. “Percayalah, ini akan jauh lebih menarik dari yang kamu kira.”
Setelah itu Dona berjalan lebih dulu menuju gedung.
Aruna berdiri mematung beberapa detik, menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh. Jantungnya berdebar, tetapi kali ini bukan karena mimpi buruk atau nama lama.
Ini nyata. Masalah baru sudah berdiri di depan pintu hidup barunya.
Aruna menunduk, melihat map cokelat dalam pelukannya, lalu menarik napas dalam-dalam.
“Tidak apa-apa,” bisiknya, meski suaranya tidak setenang yang ia harapkan. “Aku hanya perlu bekerja dengan baik.”
Namun saat ia mengangkat wajah dan melihat Dona menghilang di balik pintu kaca gedung Aksara Nexus Teknologi, Aruna tahu satu hal.
Hari pertama yang harus baik-baik saja itu mungkin sudah mulai retak bahkan sebelum benar-benar dimulai.