Kepompong akar hitam yang membungkus Sekar di dasar jurang Gunung Kawi bergoyang perlahan, berdenyut seirama dengan detak jantung entitas kuno yang kini telah menyatu dengan sukmanya. Di dalam ruang kedap yang pekat itu, waktu seolah mencair dan kehilangan bentuk aslinya. Sekar tidak lagi merasakan embusan angin malam atau dinginnya bebatuan kali yang sebelumnya mematahkan tulang-tulangnya. Siksa fisik yang menderanya kini telah bergeser menjadi sebuah proses rekonstruksi gaib yang teramat magis sekaligus mengerikan. Energi hitam yang mengalir dari inti bumi gunung terlarang itu merayap masuk melalui pori-pori kulitnya, bertindak seperti benang-benang gaib yang menjahit kembali organ-organ dalamnya yang sempat hancur.
Setiap derak tulang rusuk yang dipaksa kembali ke posisi semula mengirimkan gelombang kejut yang luar biasa ke dalam pusat kesadaran Sekar. Namun, rasa sakit itu tidak lagi memicu air mata kelemahan. Cairan hitam kental yang disusupkan oleh sang penguasa kegelapan ke dalam pembuluh darahnya bertindak sebagai penawar sekaligus pembakar sisa-sisa kemanusiaannya. Di tengah pergolakan antara kematian raga fana dan kelahiran raga kutukan inilah, pikiran Sekar mendadak terlempar ke masa lalu. Di sela-sela jeritan batinnya karena rasa sakit metamorfosis, sebuah kilasan memori romantis yang teramat tragis menyeruak, berputar seperti film lama di dinding benaknya.
Ia mengingat hari itu, tujuh tahun yang lalu, di sebuah taman kota kecil di pinggiran Malang. Saat itu hujan baru saja reda, menyisakan aroma petrikor yang menenangkan, persis seperti bau tanah basah di lereng gunung ini, namun tanpa bau anyir darah. Bram berdiri di hadapannya dengan pakaian sederhana, sebuah kemeja flannel murah yang warnanya sudah agak memudar di bagian siku. Tangan Bram saat itu begitu hangat, tidak sedingin belati kuningan yang digunakannya untuk menggores telapak tangan Sekar tempo hari. Dengan mata yang berbinar penuh kejujuran dan ketulusan masa muda, Bram menggenggam jemari Sekar, lalu menyelipkan sebuah cincin perak murah yang ia beli dari hasil menyisihkan uang makan mingguannya.
"Sekar, aku memang belum punya apa-apa sekarang. Perusahaan yang kurintis ini bahkan belum menghasilkan sepeser pun keuntungan," bisik Bram saat itu, suaranya bergetar menahan haru sekaligus tekad yang besar. "Tapi aku berjanji, demi langit dan bumi, aku akan bekerja keras sampai melampaui batas kemampuanku. Aku akan membahagiakanmu, mendudukkanmu di rumah paling mewah, dan memastikan tidak akan ada satu pun tetes air mata kesedihan yang keluar dari matamu karena kekurangan harta. Maukah kau mendampingiku dari titik nol, Sekar?"
Kata-kata romantis itu dulu terdengar seperti simfoni paling indah yang pernah singgah di telinga Sekar. Ia mengingat bagaimana ia menangis bahagia di d**a Bram, memeluk pria itu erat-erat, dan bersumpah di dalam hatinya sendiri bahwa ia rela hidup dalam kondisi sesulit apa pun asalkan bisa terus berada di samping Bramantyo. Kehangatan pelukan Bram malam itu, tatapan matanya yang penuh cinta, dan janji suci yang mereka ikrarkan di bawah langit senja terasa begitu nyata. Sekar benar-benar memberikan seluruh jiwa, raga, dan kepercayaannya tanpa sisa. Ia bahkan rela menjual anting dan kalung emas peninggalan almarhumah ibunya hanya agar Bram memiliki ongkos untuk menghadiri rapat penting dengan investor pertamanya.
Namun, jalinan memori manis itu mendadak retak, terbelah oleh suara tawa melengking Ratih yang licik dan kilasan wajah gila harta milik Bram saat mendorongnya ke dalam jurang. Kontras yang teramat ekstrem antara kehangatan cinta masa lalu dan dinginnya pengkhianatan masa kini meledakkan dinding kesadaran Sekar di dalam kepompong. Rasa perih akibat kenyataan bahwa pria yang dulu memeluknya dengan tulus kini berubah menjadi iblis yang menumbalkannya demi uang, memicu lonjakan energi hitam yang luar biasa besar dari dalam sukmanya. Cinta yang tersisa di sudut hatinya mendadak mendidih, menguap, dan mengkristal menjadi sebentuk kebencian murni yang teramat pekat. Bumbu romantis masa lalu itu tidak menjadikannya lemah, melainkan menjadi bahan bakar paling sempurna untuk menyempurnakan kutukannya.
Bersamaan dengan lenyapnya memori manis tersebut, proses metamorfosis kulit dan darah Sekar mencapai puncaknya. Lapisan kulit luarnya yang penuh dengan luka memar, robekan ranting tajam, dan noda tanah kuburan mulai mengering secara instan. Kulit mati itu retak dan mengelupas, luruh ke dasar kepompong seperti abu yang terbakar. Di bawahnya, lapisan kulit baru terbentuk dengan sempurna. Kulit itu teramat bersih, halus tanpa cela layaknya porselen mahal, namun memiliki rona pucat yang tidak wajar—sebuah kulit yang sedingin es dan menolak kehangatan darah manusia. Setiap pembuluh darah di bawah kulit baru itu kini tampak samar berkilau kehitaman, dialiri oleh nektar gaib Gunung Kawi yang membawa daya rusak luar biasa.
Suara derak terakhir dari tulang selangkangannya yang menyatu menandai berakhirnya rekonstruksi fisik. Sekar membuka matanya di dalam kegelapan kepompong. Sepasang matanya kini telah bertransformasi sepenuhnya; tidak ada lagi warna cokelat hangat yang dulu selalu memandang Bram dengan penuh cinta. Kedua matanya kini menjelma menjadi dua buah lingkaran hitam legam yang pekat, menelan seluruh cahaya yang ada, mencerminkan kekosongan absolut dari dasar jurang mistis terlarang. Rambut panjangnya yang semula kusut dan kotor oleh lumut hutan kini terurai indah, berkilau hitam legam dengan keharuman mistis perpaduan antara wewangian melati yang sensual namun mematikan dan samar asap kemenyan.
Dengan satu dorongan kehendak dari dalam pikirannya, Sekar menggerakkan tangan kanannya. Jemarinya yang kini lentik namun memiliki cengkeraman gaib yang kuat menyentuh dinding kepompong akar hitam. Guratan aksara Jawa kuno yang terukir permanen di telapak tangan kanannya memancarkan pendaran cahaya hitam yang pekat. Seketika itu juga, kepompong raksasa yang membungkusnya pecah berantakan, meluruh menjadi serpihan debu gaib yang langsung lenyap disapu angin malam. Sekar menapakkan kakinya ke atas tanah jurang yang lembap. Tubuhnya kini terasa teramat ringan, seolah ia tidak lagi berjalan di atas bumi, melainkan melayang di atas penderitaan duniawi fana.
Ia mendongakkan kepalanya, menatap ke arah atas tebing curam tempat Bram melepaskan genggaman tangannya demi pesugihan. Di atas sana, langit sepertiga malam Jumat Kliwon tampak bergulung dengan kabut hitam yang tebal. Sekar menarik napas dalam-dalam, merasakan hawa mistis gunung mengalir lancar memenuhi paru-paru barunya. Sisa memori romantis tentang cincin perak murah tujuh tahun lalu kembali melintas sekilas, namun kali ini tidak ada lagi air mata. Sekar hanya menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat dingin dan kejam di bibirnya yang pucat.
"Kau berjanji tidak akan membiarkan aku menangis karena kekurangan harta, Mas," bisik Sekar, suaranya terdengar begitu lirih namun memiliki gaung supernatural yang aneh, bergetar di keheningan dasar jurang. "Kau telah menepati janjimu. Kau membelikanku rumah mewah dengan darahku sendiri. Maka sekarang, giliran aku yang akan menepati janjiku untuk mendampingimu... sampai ke liang kubur yang paling hitam."
Sekar mulai melangkah berjalan meninggalkan dasar jurang yang sunyi. Setiap langkah kakinya tidak meninggalkan jejak di atas tanah basah, namun dedaunan mati dan rumput liar yang dilewatinya mendadak layu dan menghitam seketika, seolah seluruh energi kehidupan di sekitarnya dihisap habis oleh aura kematian yang dibawanya. Gema Gunung Kawi kini telah menyatu sepenuhnya di dalam detak jantungnya yang baru. Metamorfosis kulit dan darahnya telah usai dengan sempurna. Wanita naif yang bernama Sekar telah mati di dasar jurang itu, dan sosok yang kini sedang berjalan pulang menuju peradaban kota adalah seonggok petaka hidup yang siap menagih pelunasan utang darah dengan cara yang paling mengerikan.