pagi itu sulit sekali aku beradaptasi dengan keadaan.Bahkan untuk sedekar berkenalan dengan mereka. aku hanya diam duduk di bangku dan memperhatikan sma baruku. Begitu saja hari hari ku menjadi murid baru. Jika bukan karena ibu mungkin aku tidak akan ikut disini aku akan tinggal bersama nenek di Malang. Dan meneruskan pelayanan di gereja sana.Tentu disini sangat berbeda. Dan sulit untukku menerima keadaan yang tidak pernh sesuai dengan ku.
"Maria mengapa kau diam disini?Ayo keluar berkumpul bersama kami". Ajak Theo. Dia adalah satu satu nya teman ku. Dia baik dan lucu. Dia juga lumayan tampan. dia pemimpin basket kelas kami Kelas 2 IPS 1.
"ha? iya." Aku beranjak diri dari bangku dan mengikuti Theo untuk menghargai ajakannya. Lalu aku berkumpul bersama mereka. Dan memulai topik.
"Disini tiap tiap jam istirahat selalu menjadi markas kami Maria". Jelas Theo.
"Oh ya?". Jawabku sambil memasukan tempe kedalam mulut ku dan memakan nya.
"Iya kami berbeda maria jika orang lain menggunakan markas sebagai tempat sembunyi maka kami menggunakan markas sebagai apa teman'?". Lanjut Aldo.
"Tempat ghibahan!". Jawab Semua nya serentak. Lalu kami semua tertawa.
"Siapa yang menjadi topik kalian?".Tanyaku
"Ketua kelas FISIKA 2. Alif Azhar". Bisik Tari
"Wah siapa dia?". Tanyaku
"Dia ketua kelas teladan di seluruh sekolah ini Maria. Dia baik tampan dan juga alim. Banyak yang menyukai nya. Selain tampan dia juga paling disiplin banyak hal. Dia rapih pandai ilmu agama dan di didik menjadi putra pesantren juga". Jelas Tari dengan rinci.
Belum sempat ku jawab.
"Seperti yang tari katakan Alif jung putra sulung seorang ustad yang tak kalah kondang "Muztaqim". Mendengar nama Muztàqim aku menyadari ayah alif adalah idola berat ayahku. Meski kami dari keluarga kristen yang taat ayahku sangat menyukai cara uztad muztaqim menyampaikan cerma nya sangat lucu dan mentoloransi tanpa menjatuhkan pihak tertentu atau meninggikan pihak nya.
"Ayahku idola berat Uztad taqim". Ceritaku
"Wah apa begitu?".Heran Aisyah
"Iya hampir seluruh lemari ayahku penuh dengan khotbah ny. Bahkan semua itu tidak mempengaruhi aktifitas gereja nya". Ceritaku.
"Kringgg!" Bel masuk berbunyi kami memutuskan kembali ke kelas dan memulai pelajaran kembali. Saat aku kembali fokus pada pena buku dan papan. Pandangan ku tersangka kan pada pintu keluar dimana ada seorang laki laki yang terus melambai tangan kearah ku seolah memanggil.
lalu karena tidak ku gubris dan mungkin dia kesal dia masuk kedalam kelasku
"Permisi pak ada surat untuk Maria Shara". Ucap lelaki itu menuju bangku ku dan memberikan surat nya.
Aku menatap heran anak itu dan tersenyum mrnerima surat nya.
"Bacalah maria". Bisik Tari
"ha? tidak nanti saja". Jawabku memasukan surat itu kedalam saku dan berharap bisa membaca nya saat pulang di dalam kamar.
Pelajaran yang membosan kan itu sudah berlalu dan berganti aku yang tidak sabar kelas ibu segera selesai lalu kami pulang bersama. Di dalam mobil saat perjalanan pulang maksud hati aku ingin bercerita pada ibu. Soal surat itu dan betapa aku penasaran siapa alif yang ku rasa populer.
"Ibu". Kataku
"Iya sayang kenapa?. Jawab ibu sambil tetap fokus menyetir.
"Ibu tau tidak ustad yang sangat di idolakan ayah". Tanyaku basa basi.
"Siapa?Taqim?". Jawab ibu.
"Iya itu". Jawabku
"Tau kenapa?". Tanya ibu lagi
"Dia adalah ayah dari lelaki populer di sma bu". Jawabku.
"Wah nanti ceritakan pada ayah mu dia pasti senang dan ingin bertemu dengan Taqim"
aku hanya tersenyum.
"Apa putra nya tampan?". Tanya ibu lagi.
"Entah'. Jawabku.
ibu hanya tersenyum pasrah lalu kami sampai di rumah tanpa dirasa.
aku buru buru masuk kedalam kamar hanya melepas sepatu bukan seragam. Mengunci pintu rapat' dan membaca surat itu dengan hati berdebar. Siapa sebenar nya Crush baru ku.
Tanjung pinang,20 Juli 2018
Assalamualaikum
Tidak sedang meninggi tapi sedang mengagumi. Tidak sedang meminta tapi ingin di sadari.
Cari maka akan kau temukan.
demikian surat yang feark itu aku baca. Siapa dia yang begitu berani merangkai kata sebagus itu. Dan membuatku sepenasaran ini. Siapa kah dia yang menggagumi ku itu?.
"Toktok".
pintu di ketuk ibu ingin aku berkumpul di luar bersama adik dan ayahku. ya sedang berusaha tidak terlalu memikirkan nya dan cukup di tunggu saja sampai sang pemberi surat memberi tau siapa diri nya dan karena apa mengagumi ku.
"Ayah tadi maria menyadari ada putra ustad taqim". Cerita ibu pada ayah.
"Wah benar? siapa putra nya?. Ayah antusias mendengar cerita ibu.
"Tanyakan saja pada putri mu itu. aku akan membuat makan siang". Jawab ibu lalu beranjak dari kursi menuju dapur.
"Ceritakan maria ceritakan". Ayah meminta aku menceritakan kembali apa yang ku dengar dari teman'.
"Aku baru sadar ada anak dari ustad taqim". Jelasku
"Secepat itu waktu berlalu maria". Ayah mengatakan itu seolah menyesali waktu yang terus berjalan maju.
"Waktu akan terus berlalu ayah dan kita tidak pernah tau siapa akan menjadi apa". Sahut ibu yang datang menawarkan teh dan juga sepiring kue yang ia letakkan di ats meja.
Hari itu sungguh aku merasa seperti cerita ini tidak layak di muat di media manapun. Sungguh aku merasa tulisanku ini tidak cukup indah tapi ku rasa cukup memberi nya makna. Kata yang bahkan masih di tulis bahkan setelah cerita itu lama selesai. Kata yang tidak pernah sampai. Kata yang tidak pernah di baca. Suatu hari nanti dia bukan hanya bagian terindah tapi tokoh utama karena selalu dia pemenang nya. Andai ini sampai pada nya. Ketakutan ku untuk menceritakan ny sudah tidak ada lagi. Sekarang aku akan memberitakan nya akan membuatkan nya sebuah buku yang mungkin tidak layak baca. Karena aku tidak sepandai itu merangkai kata. ya aku hanya mencerirkan rasa yang selalu hadir setiap aku di dekat nya. Aku akan menceritakan bagaimana kami bertemu berbicara untuk pertama kali dan bagaimana alif mampu membuatku mencintai islam seperti aku mencintai nya. Bagaimana cintaku pada nya seperti menghianati salib di leher ku dan cinta nya pada ku m enghiananti tasbih di tangan nya. Tapi ya kristus aku mencintai dia yang bukan hamba mu dan mungkin tidak akan sepadan denganku. Tapi cintaku akan alif membuatku keras kepala. Dan tetap memilih nya bagaimana lisanku dapat menutupi ini sedangkan cinta seperti hujan yang merindukan pelangi nya. Seperti senja yang tetap indah meski sementara yakin kan aku rasa ini tidak pernah salah