INASDAQ Sekuritas, Treasury Tower, Jakarta Pusat – Oktober 2021
[11:06 AM]
Beberapa minggu berlalu sejak Baskara ditahan dan rekening Lingkaran dibekukan. Aku masih dinonaktifkan dan diminta datang ke kantor hanya untuk urusan pemeriksaan. Berkas tentang buku Julian, dokumen Oliver, ancaman Hartanto, serta transaksiku telah berpindah ke beberapa meja penyelidik.
Dua nasabah Evalean yang pernah aku tangani menghubungi kantor untuk menanyakan apakah kerugian mereka akan diganti. Aku tidak menjawab atas nama otoritas. Aku menyampaikan pertanyaan mereka kepada Bu Sekar dan meminta izin agar bagian layanan nasabah memberi informasi yang benar.
“Saya tidak mau mereka menunggu tanpa kabar,” kataku.
“Sampaikan bahwa proses masih berjalan. Jangan menjanjikan penggantian,” jawab Sekar.
Aku mengirim penjelasan itu kepada kedua nasabah. Salah satunya membalas bahwa ia masih marah karena pernah mengikuti rekomendasiku. Aku tidak membela diri. Aku meminta maaf atas bagian yang memang menjadi tanggung jawabku dan mengatakan bahwa aku akan menjawab jika penyelidik meminta keterangan tambahan.
Penasihat hukum mengabari bahwa rekening tabungan pribadiku mulai ditelaah. Catatan menunjukkan dana itu terpisah dari pinjaman Hartanto dan berasal dari investasi pribadi serta komisi yang dapat ditelusuri. Nilai portofolio meningkat dari posisi-posisi yang sudah aku miliki sebelum akses transaksi dinonaktifkan; aku tidak membuat transaksi baru selama pemeriksaan. Belum ada keputusan final mengenai berapa yang akan diakui sebagai milikku.
Aku tidak lagi membuka aplikasi saldo setiap malam. Angka tidak akan mempercepat keputusan dan tidak akan mengubah akibat dari pilihanku.
Siang itu, Pak Wirasetya mengirim undangan rapat evaluasi. Bu Sekar mengatakan hasil pemeriksaan internal dan keterangan dari otoritas sudah diterima. Ia tidak menjelaskan kesimpulannya lewat telepon.
“Besok pagi,” katanya. “Datang bersama pengacara. Akan ada keputusan tentang status Anda dan penempatan tim.”
Aku menutup panggilan. Ada dua hal yang aku inginkan: namaku tidak dikaitkan dengan manipulasi yang tidak aku lakukan, dan aku bisa kembali bekerja tanpa mengulang cara lama.
Aku tidak tahu apakah keduanya bisa terjadi bersamaan. Besok aku akan mendengar putusannya.
***
[9:18 AM]
Pak Wirasetya membuka rapat dengan membacakan hasil pemeriksaan. Bukti transaksi dan keterangan para saksi tidak menunjukkan bahwa aku mengatur atau melakukan manipulasi saham Evalean. Namaku muncul sebagai pialang yang mengeksekusi pesanan Julian, bukan sebagai pihak yang menentukan rencana penjualan.
Aku dinyatakan bersih dari tuduhan manipulasi. Namun keputusan itu tidak menghapus kesalahanku sendiri. Aku menerima teguran tertulis karena tidak melaporkan pinjaman Hartanto sejak awal dan karena berbohong kepada kepatuhan mengenai sumber dana.
“Saya menerima keputusan itu,” kataku.
Bu Sekar menjelaskan bahwa keuntungan dua miliar rupiah dari dana pinjaman akan disita melalui proses yang berlaku dan dipakai untuk mengganti sebagian kerugian nasabah Evalean. Dua nasabah yang pernah aku tangani termasuk dalam daftar penerima. Pokok pinjaman tiga miliar telah aku kembalikan, tetapi keuntungan yang tumbuh dari dana tersebut tidak boleh aku nikmati.
Aku menandatangani berita acara. Ada bagian dalam diriku yang masih ingin menghitung berapa banyak uang yang hilang. Aku membiarkannya lewat tanpa membuka kalkulator.
Pemeriksaan atas tabungan pribadi menunjukkan dana itu terpisah dari pinjaman dan berasal dari transaksi yang dapat ditelusuri. Setelah biaya serta kewajiban yang tersisa diperhitungkan, saldonya berada di sekitar satu miliar rupiah. Aku masih memiliki uang, tetapi jumlah itu tidak lagi terasa seperti bukti bahwa aku lebih baik daripada orang lain.
Pak Wirasetya memintaku kembali ke tim tiga setelah aksesku dipulihkan. Ia mengatakan pengalamanku di sana akan membantu kantor dan bahwa kesalahan kepatuhan harus menjadi pelajaran.
“Saya berterima kasih atas kesempatan itu, Pak. Tapi saya ingin kembali ke tim lima.”
“Kenapa?”
“Di sana saya bisa membangun ulang cara bekerja tanpa terus berpura-pura bahwa saya sudah tahu semuanya.”
Ia mempertimbangkan jawabanku, lalu menyetujuinya dengan masa pemantauan dan pelatihan tambahan. Aku akan kembali bekerja setelah akses dibuka secara bertahap.
Saat keluar dari ruang rapat, Bu Sekar mengingatkanku bahwa teguran itu akan tetap tercatat. Aku menjawab bahwa aku mengerti. Kali ini aku tidak meminta catatan tersebut dihapus demi kenyamananku.
***
The Capital Residence, Jakarta Pusat – November 2021
[6:42 PM]
Beberapa minggu setelah keputusan itu, aku mulai bekerja kembali di tim lima dengan akses yang dibatasi. Aku tidak mengeluh. Setiap pesanan harus melalui pemeriksaan tambahan, dan setiap transaksi pribadiku catat dengan lebih teliti daripada sebelumnya.
Dua nasabah Evalean mengirim pesan setelah menerima kabar tentang penggantian sebagian kerugian. Salah satu dari mereka menulis bahwa ia masih kecewa kepadaku, tetapi setidaknya kini ada proses yang bisa ia pahami. Aku membalas bahwa ia berhak merasa begitu dan bahwa aku tidak mengharapkan ucapan terima kasih.
Pada malam yang sama, aku membuka kembali nomor Dokter Zui Madrim. Aku sudah menunda konsultasi neurologi selama berbulan-bulan, selalu mencari alasan bahwa jadwal kantor atau biaya lebih penting. Kali ini aku menelepon klinik dan membuat janji dengan biaya dari rekening pribadi yang sudah dinyatakan sah.
Petugas memberiku tanggal konsultasi untuk minggu berikutnya. Aku mencatatnya di kalender, lalu membacanya dua kali. Tidak ada rasa takut yang hilang seketika. Namun aku tidak lagi memakai uang sebagai alasan untuk menunda sesuatu yang mungkin membantuku memahami diri sendiri.
Aku mengirim pesan kepada Irene dan Oliver, mengajak mereka makan malam di Sudeot Tjerita. Aku ingin berterima kasih karena mereka tetap memberiku ruang untuk bicara setelah aku berkali-kali menutup pintu. Aku juga ingin menceritakan soal janji dokter tanpa menjadikannya permintaan agar mereka mengurusku.
Irene membalas lebih dulu: “Kami datang. Jangan pilih tempat yang terlalu mahal hanya untuk membuat kesan.”
Oliver menambahkan, “Setuju. Gue tetap mau menu yang enak, tapi bukan tagihan yang bisa dipakai buat beli satu meja.”
Aku tertawa kecil membaca pesan itu. Aku belum yakin apakah tawa tersebut berarti lega, senang, atau sekadar mengenali lelucon. Tidak semua hal harus segera aku beri nama.
Aku memesan meja untuk tiga orang dan menyiapkan uang dari rekening pribadi untuk membayar makan malam. Bukan untuk menunjukkan bahwa aku mampu, melainkan karena kali ini aku ingin memberi tanpa mengikat siapa pun dengan utang budi.
***
Sudeot Tjerita, Jakarta – November 2021
[7:11 PM]
Irene dan Oliver datang tepat waktu. Aku sudah memilih meja dekat jendela, cukup jauh dari keramaian. Setelah menyapa, Oliver langsung membuka menu dan bertanya apakah aku benar-benar akan membayar.
“Ya,” jawabku. “Dengan uang yang sudah diperiksa asalnya.”
“Bagus. Gue nggak mau besok ada berita Arsenio membeli restoran untuk menutupi skandal.”
Irene tertawa. Aku ikut tertawa, meski sedikit terlambat menyadari bahwa suasana itu terasa ringan. Tidak ada yang menanyakan harga jam tangan atau nilai saldoku. Kami membicarakan pekerjaan Oliver, kebiasaan Irene mengoleksi jam, dan hal-hal kecil yang dulu selalu aku anggap tidak penting.
Ketika makanan datang, aku mengatakan bahwa aku sudah membuat janji dengan Dokter Zui untuk konsultasi neurologi. Biayanya aku bayar sendiri dari rekening pribadi.
Irene memandangku dengan lega yang ia coba sembunyikan. “Kamu akhirnya benar-benar membuat janji.”
“Saya tidak tahu apakah konsultasi itu akan mengubah banyak hal.”
“Setidaknya kamu memberi diri sendiri kesempatan untuk mencari tahu.”
Oliver mengangkat gelasnya. “Untuk langkah yang tidak perlu menghasilkan uang dulu baru dianggap berguna.”
Kami bersulang. Aku memandang mereka berdua dan mencoba mengenali apa yang muncul di dadaku. Dulu aku akan memeriksa perasaan itu seperti memeriksa angka pada layar: mencari definisi, menguji penyebab, lalu memutuskan apakah ia pantas dipertahankan.
Kali ini aku membiarkannya tinggal.
Uang tetap penting. Uang membayar tempat tinggal, perawatan, dan banyak keputusan yang tidak bisa dihindari. Tetapi uang tidak bisa menghapus kebohongan yang sudah aku ucapkan, mengembalikan kerugian orang lain, atau memilihkan siapa yang akan duduk bersamaku malam itu.
Aku membayar tagihan dengan uang yang bersih. Tidak ada kemenangan besar di dalamnya. Hanya makan malam, dua teman, dan sebuah janji yang akhirnya aku tepati kepada diri sendiri.
Saat keluar dari restoran, Irene berjalan di sebelahku dan Oliver beberapa langkah di depan. Angin malam menyentuh wajah. Aku merasakan hangat yang kecil dan nyata—bukan dari saldo, bukan dari pujian, melainkan dari tahu bahwa aku tidak sendirian dan tidak perlu berpura-pura.
Untuk pertama kalinya, aku bisa menyebutnya tanpa menghitung nilainya.
TAMAT