INASDAQ Sekuritas, Treasury Tower, Jakarta Pusat – September 2021
[10:52 AM]
Pegawai yang masuk ke pantry hanya mengambil kopi lalu pergi. Setelah pintu menutup, Irene kembali menatapku. Ia tampak kecewa karena pembicaraan kami terputus, tetapi aku juga tidak berniat berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
“Kamu bilang Oliver mengenal Julian,” ujarku. “Apa hubungan mereka?”
“Aku belum bisa menceritakan semuanya.”
“Kalau begitu, jangan meminta saya mengambil keputusan berdasarkan cerita yang tidak kamu sampaikan.”
“Oliver tidak ingin namanya ikut terseret.”
“Ini sudah menyangkut pekerjaan saya dan pemeriksaan kepatuhan. Kalau ada fakta yang relevan, seharusnya disampaikan kepada pihak yang menangani.”
Irene mengerutkan kening. “Kamu pikir semua hal bisa selesai dengan laporan?”
“Tidak. Tapi laporan setidaknya membuat orang memeriksa bukti, bukan menyebarkan kabar.”
Ia menarik napas panjang. “Julian pernah terlibat dalam kejatuhan perusahaan yang dekat dengan Oliver. Aku tidak tahu seberapa besar perannya. Oliver tidak mau membahasnya lebih jauh, tapi dia bilang orang-orang kehilangan banyak uang.”
“Apakah ada laporan resmi? Nama perusahaan? Tahun kejadian?”
“Belum ada yang bisa kuberikan.”
“Jadi saat ini kamu juga belum punya kepastian.”
“Aku punya cukup alasan untuk khawatir.”
Aku mengusap wajah. “Saya tidak meminta kamu berhenti khawatir. Tapi jangan menganggap saya tidak mampu menjaga diri.”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Namun kamu datang ke sini untuk menyuruh saya menjauh tanpa menjelaskan apa pun.”
Irene membuka mulut, lalu menutupnya. Ia tampak hendak membalas, tetapi aku sudah terlalu lelah dengan peringatan yang tidak disertai fakta. Aku juga tidak suka ketika hubungan pribadi dipakai untuk menekan keputusan profesionalku.
“Sudah, Irene. Saya harus kembali bekerja.”
“Sen—”
“Tolong beri saya ruang.” Suaraku lebih tajam daripada yang aku maksudkan. “Jangan ikut campur dulu.”
Irene terdiam. Wajahnya berubah, tetapi ia tidak membalas. Ia meraih tas kecilnya dan keluar dari pantry lebih dulu.
Aku berdiri sendiri beberapa saat. Ada rasa bersalah yang muncul karena caraku berbicara, namun aku belum siap mengejarnya dan menarik kembali batas yang baru saja aku pasang. Aku membilas gelas, meletakkannya di rak, lalu kembali ke meja.
Selama sisa pagi, Irene tidak datang lagi. Kami bekerja dalam ruangan yang sama, tetapi tidak saling menyapa. Aku tahu aku telah melukai perasaannya. Aku juga tahu bahwa menerima keputusan orang lain tanpa penjelasan hanya karena aku takut kehilangan kedekatan bukan cara yang sehat.
Yang belum aku tahu adalah apakah ia akan memilih bicara lagi, atau membiarkan jarak ini bertambah.
***
[3:22 PM]
Sepanjang hari, aku beberapa kali melihat Irene berbicara dengan Vivi dan Pak Reyhan. Ia tidak sekali pun menoleh ke arahku. Aku ingin meminta maaf atas nada bicaraku di pantry, tetapi tidak ingin mengubah permintaan maaf menjadi cara untuk memaksanya mengungkapkan sesuatu yang belum siap ia ceritakan.
Aku menyelesaikan pekerjaan sampai jam bursa berakhir. Setelah itu, aku kembali memeriksa catatan tentang pertemuan dengan Julian. Semua sudah dilaporkan. Tidak ada pesanan baru dan tidak ada komunikasi tambahan.
Sebelum pulang, aku menemui Pak Reyhan. “Pak, saya ingin bertanya soal pertemuan dengan Julian.”
“Pertemuan yang di lobi kemarin?”
“Iya. Dia memberi saya alamat tempat praktiknya dan meminta saya datang. Saya tidak mau membahas pemeriksaan di sana. Tapi saya ingin bertanya apakah saya boleh menemuinya sebagai percakapan pribadi.”
Pak Reyhan tidak langsung menjawab. “Kamu sudah bicara dengan Sekar?”
“Belum. Saya ingin memastikan dulu jalurnya.”
“Kalau ada kemungkinan pembicaraan itu terkait transaksi, minta persetujuan kepatuhan. Jangan berangkat diam-diam lalu baru melapor.”
“Saya tidak akan melakukannya.”
Aku mengirim pertanyaan kepada Bu Sekar melalui kanal resmi. Aku menjelaskan bahwa Julian mengundangku ke Medals Psychology Center, bahwa aku ingin bertanya tentang peringatannya, dan bahwa aku tidak berniat menerima saran atau melakukan transaksi. Aku menunggu jawabannya sebelum membuat keputusan.
Balasan datang menjelang malam. Sekar menyatakanku boleh bertemu Julian selama tidak membahas data rahasia, tidak menerima atau menjalankan rekomendasi saham, dan melaporkan isi pertemuan setelahnya. Jika Julian mengaitkan pembicaraan dengan transaksi yang sedang diperiksa, aku harus mengakhiri percakapan dan melapor.
Aku membaca aturan itu dua kali. Batasnya jelas. Aku tidak boleh menjadikan izin tersebut sebagai jalan belakang untuk menghindari pemeriksaan. Aku membalas bahwa aku memahami dan akan mematuhinya.
Di lift, aku melihat Irene masuk bersama beberapa orang dari tim. Ia berdiri agak jauh. Aku ingin mengatakan bahwa aku menyesal telah berbicara ketus, tetapi lift terlalu ramai dan aku tidak ingin menjadikannya tontonan. Saat pintu terbuka di lobi, ia berjalan lebih dulu.
Aku pulang membawa izin terbatas dan hubungan yang sedang renggang. Setidaknya, kini aku bisa mencari penjelasan tanpa menyembunyikan langkahku dari kepatuhan.
***
Medals Psychology Center, Jakarta – September 2021
[4:10 PM]
Dua hari kemudian, setelah memastikan jadwalnya tidak bertabrakan dengan pekerjaan, aku datang ke Medals Psychology Center. Aku telah memberi tahu Bu Sekar tentang waktu pertemuan dan menyimpan salinan persetujuannya. Aku tidak datang sebagai nasabah untuk bertransaksi. Aku hanya ingin meminta penjelasan tentang peringatan Julian.
Tempat itu berada di bangunan yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk lantai bursa. Resepsionis memintaku mengisi daftar tamu. Aku menuliskan nama dan tujuan secara singkat, lalu menunggu di ruang depan. Tidak ada papan saham atau layar harga di sana. Hanya kursi, beberapa majalah, dan suara pendingin udara.
Julian keluar dari lorong setelah beberapa menit. Ia tidak memakai setelan yang sama seperti di kantor. Ia menyapaku dan mempersilakan duduk di ruang konsultasi yang pintunya tetap terbuka.
“Saya datang karena Anda meminta saya datang,” kataku. “Saya sudah mendapat izin terbatas dari kepatuhan. Saya tidak akan membicarakan data nasabah atau pemeriksaan internal.”
“Baik.”
“Saya ingin tahu mengapa Anda memperingatkan saya tentang Evalean.”
Julian menatapku tanpa menjawab. Ia kemudian bertanya apa yang aku rasakan ketika melihat saham itu jatuh.
“Panik bukan jawaban yang saya cari.”
“Bukan itu yang saya tanyakan.”
“Saya khawatir pada nasabah saya. Saya juga kesal karena tidak tahu bagaimana Anda bisa benar.”
“Dan soal diri Anda sendiri?”
“Saya tidak datang untuk konsultasi psikologi.”
“Tidak. Anda datang mencari jawaban.”
Aku menahan napas, berusaha menjaga percakapan agar tidak berubah menjadi interogasi yang berputar-putar. “Kalau Anda tidak ingin menjawab, katakan saja.”
Julian menyandarkan punggung. “Saya belum bisa menjelaskan soal Evalean.”
“Karena Anda tidak tahu, atau karena tidak mau?”
Ia tidak menjawab. Aku melihat jam di dinding. Aku masih memiliki waktu sebelum harus kembali ke kantor, tetapi tidak ingin menghabiskan seluruh sore dengan pertanyaan yang sama.
“Kalau begitu, kita bicara soal alasan Anda mengundang saya.”
Julian meletakkan kedua tangannya di atas meja. “Saya ingin menawarkan sesuatu. Bukan sebagai nasabah Anda dan bukan lewat akun perusahaan.”
Aku langsung waspada. “Kalau ini soal saham, saya tidak akan menerima.”
“Saya belum menyebut saham.”
“Namun Anda mengarah ke sana.”
Ia terdiam sejenak. “Dengarkan dulu.”
Aku mengangguk satu kali, tanpa berjanji akan menyetujui apa pun. Julian menyampaikan tawarannya dengan suara tenang, seolah ia sudah tahu aku akan menolak. Aku mendengarkan sampai selesai sebelum menjawab.