Sabtu. Nirwa tidak ke gedung. Sinta pesan: *Lantai lapar sisa palu. Saya kanal kerja. Ibu jangan masuk.* Nirwa: *Tidak masuk.* Telur. Teh. Keran singkat. Cermin: 'Bukan wasit. Bukan pesta. Kertas lain.' Kantong kuas ia buka di lantai kamar tamu, bukan di meja makan delapan tahun. Meja makan masih gelap. Lantai tamu cukup. Kertas. Tiga cat. Kuas murah. Ia tidak tahu mau gambar apa. Tidak tahu adalah jujur. Jujur lebih mahal daripada naskah 'ratu berbakat'. Ia coret biru yang terlalu banyak air. Coret jelek. Jelek ia biarkan. Tidak foto. Tidak kirim Rahmi. Tidak kirim Sinta. Kertas milik lantai. Lantai bukan koran.
Pagi itu ia hampir buka portal. Tidak. Dua kali duet. Ia pakai kaos yang bukan setelan. Setelan papan. Kaos rumah. Rumah besar. Perang sudah. Palu sudah. Raja palsu sudah jatuh di tangga orang lain. Di sini kertas basah. Basah cat, bukan basah rantai. Beda. Beda sabun. Sabun ia jaga: cat tidak ia bawa ke kop. Kop Senin. Sabtu kertas. Ia duduk di bangku rendah, bahu kurang sakit daripada pantry. Pantry kerja. Lantai tamu bukan kerja. Bukan kerja aneh. Aneh ia biarkan. Aneh bukan naskah. Naskah ditolak. Coret kedua, kuning, lebih jelek. Ia hampir tertawa. Tidak. Tertawa judul. Ia taruh kuas. Duduk. Napas empat. Kota di jendela kamar tamu, bukan jendela CEO. Sama kota. Beda alamat dalam rumah. Beda ia jaga.
Sebelum Dina, ia mandi. Mandi, lalu keran singkat, bukan lima belas menit. Kolom. Badan yang ingin jadi wasit lebih menurut setelah air. Menurut bukan damai. Damai antri. Ia tidak mengulang isi palu di kepala. Mengulang jaksa. Jaksa ditolak. CEO Senin. Sabtu orang di kaos. Orang boleh jelek di kertas. Jelek tidak ia jual. Jual kultus. Kultus ditolak. Ia lihat kertas biru yang terlalu banyak air. Air jujur. Jujur Sabtu. Ia tidak merapikan. Merapikan cantik. Cantik ditolak di lantai tamu. Lantai tamu boleh kacau. Kacau kecil. Kecil bukan perang. Perang sudah.
Siang Dina telepon, teman kuliah, bukan saham. Nomor yang jarang. Jarang belas sah. 'Aku dengar berita. Aku tidak tanya. Kamu makan? Bukan restoran orangmu. Warung. Aku yang bayar. Jangan bawa map.' Nirwa di lantai, cat di jari. 'Warung. Tidak map. Tidak berita. Satu jam.' Dina: 'Satu jam cukup. Kalau kamu batal, aku tidak marah. Aku cuma lapar sama kamu, bukan lapar judul.' Tutup. Nirwa cuci jari. Sabun rumah. Beda sabun. Ia ganti kaos yang kurang bercat. Tidak setelan. Setelan naskah CEO di warung. Naskah ditolak. Mobil sendiri, radio mati. Warung Dina: nasi, sambal, tidak kuah Rahmi. Rahmi tagih telur. Dina tidak tagih. Dina cerita tetangga, anjing yang makan sepatu, film jelek. Nirwa makan. Tidak pidato palu. Tidak pidato dewan. Dina: 'Kamu kelihatan manusia. Manusia boleh jelek di kertas. Aku tidak tanya kertas apa.' Nirwa: 'Cat. Jelek. Tidak foto.' Dina hampir tertawa. Tertawa warung. Warung boleh. 'Bagus. Jelek itu milik kamu, bukan milik koran.' Mereka bayar — Dina bayar, Nirwa tidak rebut. Rebut naskah kuat. Kuat ditolak di warung. Satu jam. Cukup. Tidak damai. Damai antri. Antri yang lebih jujur daripada pesta palu.
Di warung Nirwa hampir bilang palu. Hampir judul. Ia telan nasi. Nasi lebih jujur. Dina tidak menunggu pengakuan. Tidak menunggu adalah belas yang sah. Belas yang tidak sah: 'kamu hebat, kamu menang'. Dina tidak ucap. Dina minta sambal. Sambal kecil. Kecil cukup. Nirwa angguk. Angguk manusia. Manusia Sabtu. Sabtu bukan balkon. Balkon ditolak. Ia pulang sebelum satu jam jadi wawancara. Wawancara naskah. Naskah ditolak. Dina: 'Lain kali. Tidak harus cerita. Cukup makan.' Nirwa: 'Cukup makan. Terima kasih tidak tanya.' Tutup pintu warung. Kota siang. Radio mati. Rumah. Sudut. Kertas. Jelek. Jelek ia jaga.
Sore rumah. Kertas basah sudah kering, jelek tetap. Ia tidak buang. Buang malu. Malu naskah ratu. Ia taruh di sudut, menghadap dinding. Dinding cukup. Tidak pamer. Pamer kultus. Kultus ditolak. Ia masak telur, teh, tidak TV. TV sisa palu. Mejanya piring. Cuci. Kunci. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *Sabtu bukan gedung; cat jelek; Dina warung; palu tidak diulang; capek terkendali.* Lima baris. Kolom: *telur. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak nonton palu. Saya tidak pesta. Saya jelek di kertas. Jelek cukup untuk Sabtu. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Perang. Belum kesepian. Kesepian antri di belakang kertas yang menghadap dinding. Ia tidur. Kamar tamu. Kuas di gelas air. Air keruh. Keruh jujur. Jujur Sabtu. Senin truk.
Sore hujan kecil. Hujan sebagai hujan. Ia tidak membuka portal 'menang'. Membuka duet. Duet ditolak. Ia cuci kuas di wastafel kamar tamu, air biru-kuning, bukan keran dada. Keran dada nanti. Nanti singkat. Singkat ia coba. Coba cukup. Kuas keruh ia biarkan di gelas. Keruh bukan rantai. Rantai Senin. Sabtu cat. Beda. Beda ia jaga sampai tidur. Tidur tagihan. Tagihan ia coba tanpa cuti ke gedung. Cuti Sabtu sudah. Sudah bukan jeda. Jeda gagal dulu. Sabtu ini kertas. Kertas jelek. Jelek milik lantai. Lantai bukan koran. Koran biar mereka. Mejanya piring. Piring jujur.
Malam ia hampir masuk kamar utama. Gagang. Lepas. Palu bukan kunci kamar delapan tahun. Kunci masih tunda. Tunda bukan rujuk. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Kamar tamu. Kanvas kecil yang belum ia beli. Kertas dulu. Kertas cukup. Cukup untuk malam. Kerja Senin. Palet. Tidak selasar. Tidak judul menang. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima Minggu ia bangun, kebiasaan. Telur. Teh. Tidak gedung. Ia coret satu kertas lagi, lebih jelek, lalu berhenti sebelum jadi tugas. Tugas papan. Papan Senin. Minggu ini kertas. Kertas ia biarkan. Biarkan aneh. Aneh milik lantai tamu. Lantai tamu bukan tahta. Tahta di kop. Kop kerja. Kerja masih. Masih. Palu sudah. Sudah bukan mulutnya. Tidak. Ya.