Hari tanggal. Intan: *Jangan datang. Jangan nonton. Gedung.* Nirwa: *Gedung.* Telur. Teh. Keran lima menit. Cermin: 'Bukan wasit. Bukan penonton. Papan.' Satpam. Sinta. Radio mati. Blokir siaran. Nirwa tidak meminta dinyalakan. Hampir dada. Dada keran sudah. Lorong belah, menempel karena lapar palu. Dua cuaca. Ia di tengah. Tidak meratakan. Lestari lima menit: tertahan tetap, jangan longgar karena 'hari palu'. 'Palu hakim. Hakim hari ini. Invoice bukan milik hakim,' kata Lestari. Nirwa: 'Tahan. Terima kasih kaku. Jangan rilis pulih. Jangan rilis menang. Jangan rilis angka. Kerja.' Lestari: 'Saya kaku. Terima kasih tidak menjadikan saya kemenangan Ibu.' Pemisahan. Nirwa ke papan. Palet. Kepala ritel menelan berita selasar, pilih suku cadang. Nirwa minta forecast. Ketukan. Kerja. Bukan balkon pengadilan.
Pagi itu Nirwa makan telur, air, kopi tidak. Tangan. Di mobil ia tidak latihan muka di kaca. Latihan naskah. Naskah istri menonton palu. Naskah ditolak. Badan lebih utuh dari lutut lantai. Enam jam semalam hampir. Cukup untuk tidak ke tangga orang lain. Tidak damai. Di tas map delay. Mulut Nirwa tutup. Sinta di gedung, bukan di selasar. Beda kop. Beda sabun.
Siang Dodi datang, resmi, tidak duduk lama. Muka kerja, bukan muka pesta. 'Jatuh. Terbukti. Ibu tidak perlu angka. Angka milik putusan. Putusan milik hakim. Kita tidak rilis. Kita tidak ulang. Gilang hadir. Ibu tidak. Wartawan lapar muka Ibu dan lapar angka. Kita tidak kasih keduanya. IR diam. Saya diam. Kalau analis tanya, proses hukum di forum itu, tidak berkomentar isi. Kerja.' Nirwa mencatat tiga baris, bukan rilis. Ia tidak menulis angka hukuman. Ia tidak bertanya. Bertanya jadi wasit. Wasit ditolak. 'Tidak nonton. Tidak rilis. Tidak angka. Tidak pesta. Truk.' Dodi: 'Bagus. Kalau Ibu muncul sekarang, judulnya istri merayakan palu. Merayakan naskah. Naskah Arman. Ibu palet.' Nirwa: 'Saya palet. Tahta di sini. Tidak sewa. Tidak nonton. Tidak merayakan jatuh.' Setelah Dodi pergi ia ke jendela, kota siang, napas empat. Palu di suatu gedung yang bukan ini. Tahta di sini. Beda alamat. Beda ia jaga dengan tidak menonton, dengan tidak menghafal isi. Menghafal jadi jaksa. Jaksa ditolak. Palu sudah. Sudah bukan undangan. Undangan yang sah: delay. Delay ia buka. Buka kerja.
Setelah Dodi pergi, Nirwa tidak membuka foto selasar. Foto duet. Duet ditolak. Ia ke papan, berdiri sampai kepala ritel selesai menunjuk palet. Satu pertanyaan suku cadang. Jawaban jujur. Ia pergi. Di lift seseorang hampir, 'Bu, kami dengar palu...' Tidak selesai. Nirwa angguk, tidak pidato. Pidato palu di lift kultus data orang lain. Data milik ruang sidang. Lift milik orang yang mau ke lantainya. Beda. Beda sabun.
Sinta ragu. 'Bu, portal sudah pasang selasar. Saya tidak tampilkan. Dua cuti "hadir sebagai publik". Tolak. Tiga wawancara "kapan angka" dan "sikap istri". Tolak.' Nirwa: 'Tepat. Kapan milik putusan. Istri kop Intan. CEO diam di luar rilis. Kerja. Kalau ingin dukung, palet tepat, bukan balkon.' Sinta ketik. Nirwa pantry, air, sepuluh detik, tidak duduk di lantai. Lutut menurut. Ia kembali ke meja. Jendela. Kota. Palu ramai. Ramai bukan undangan. Delay ia buka lagi. Buka kerja.
Sore Pak Harun: *Orang tanya TV palu. Saya bilang tidak tahu, kerja.* Nirwa: *Bagus.* Rahmi pesan: *Aku tidak nonton. Kamu di papan, bagus. Jangan jadi jaksa. Jangan merayakan jatuh. Jatuh hakim. Kamu truk. Makan. Enam. Wiryo sepi. Jangan isi. Jangan ulang angka di kepala.* Nirwa: *Papan. Telur. Tidak nonton. Tidak jaksa. Tidak pesta. Tidak ulang.* Ia ke operasional sebentar, bukan parade: satu pertanyaan, angka, pergi. Supervisor tidak sempat doa. Nirwa suka itu. Muka kerja lebih mahal daripada judul palu. Lorong pulang: logistik angguk, keuangan menempel. Ia tidak meratakan. Cuaca dua. Dua ia biarkan. Tengah. Map. Kerja.
Sore ia cuci muka di kamar kecil CEO. Cermin: pucat, utuh. Utuh cukup. Menang belum. Menang naskah. Palu hakim. Hakim sudah. Isi tidak ia ulang. Tidak. Ia buka pintu, muka kerja. Kerja palet. Palet jujur. Jujur ia bawa sampai lampu lorong ganti. Palet. Suku cadang. Dua belas ribu orang di angka, bukan di kamera. Kamera selasar sudah cukup makan muka orang lain. Muka sekarang kerja.
Malam Intan di telepon, Nirwa dapur, telur, teh. 'Jatuh. Ibu tidak nonton, bagus. Saya tidak ulang isi di telepon. Isi hakim. Cerai tetap antri, tidak ikut palu. Forum. Pisah. Jangan rujuk di kepala. Rujuk naskah orang lapar. Jangan pesta. Pesta naskah.' Nirwa: 'Enam. Saya coba. Saya tidak rujuk. Saya tidak belas. Saya tidak sewa. Saya tidak penonton. Saya tidak sapu. Saya tidak ulang angka. Enam. Palu bukan undangan pesta. Palu kerja di sana. Saya kerja di sini. Beda.' Tutup. Ia masak telur pelan. Makan berdiri, lalu duduk. Cuci. Tidak TV. TV palu. Mejanya piring. Piring jujur. Kunci. Laci cincin. Daftar: *palu jatuh tanpa saya; tidak ulang isi; tidak pesta; cerai antri; kursi sah; capek.* Enam baris. Nirwa Tanjung tidak mengira menang. Ia mengira urutan. Urutan akan ia bawa ke papan, ke gudang yang baca truk, ke Lestari yang kaku, ke keran. Ia matikan lampu. Rumah besar. Ratu di kamar tamu. Bukan pesta. Bukan rujuk. Bukan rumah tenang. Yang milik malam ini: palu yang tidak ia tonton, tahta yang tidak ia sewa. Tahta masih. Kerja besok. Truk. Tidak gerbang. Tidak balkon. Tidak judul segera. Kertas. Antri. Kering. Cukup. Tidak damai. Damai antri. Palu sudah. Sudah bukan miliknya untuk diulang. Tidak. Satu kata. Cukup. Ratu kerja. Jendela. Kota. Angka. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Palu bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong belah. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Palu hakim sudah. Isi tidak ia ulang. Kursi orang sudah sah. Nama ia di kop. Rantai jujur. Jujur belum pulih. Pulih waktu. Waktu belum. Beda. Beda ia jaga. Jaga itu kerja. Kerja itu tahta. Tahta masih. Masih. Kerja. Cukup. Tidak nonton. Tidak pesta. Tidak. Ya.