Amplop itu kop pengadilan pidana, bukan bunga, bukan paman. Sinta tidak buka. Dodi dan Intan datang bersama, resmi, ruang kecil. Bukan vonis. Penetapan jadwal: pembacaan putusan, tiga minggu. Bukan angka hukuman. Bukan palu hari itu. Tangga baru. Sidang yang ramai akan makin lapar; ini masih pintu, hanya lebih dekat.
Nirwa tidak menyentuh amplop lebih dari sekali. Sekali cukup. Dua kali duet dengan lapar palu. Lapar boleh di keran. Tidak di lobi. Kertas di meja, tidak di dada. Dada keran nanti. Ruang kecil AC-nya terlalu dingin. Dingin jujur. Jujur cukup. Ia duduk tegak, bukan karena kuat, karena lutut sudah belajar tidak ke lantai di depan orang. Enam jam semalam hampir. Cukup untuk mendengar tanggal tanpa merayakannya.
'Ibu tidak datang ke pembacaan sebagai tontonan kecuali dipanggil,' kata Intan. 'Datang kalau resmi. Kalau tidak, gedung. Jangan jadi penonton palu. Penonton naskah. Dodi jaga kop perusahaan. Saya jaga cerai. Ibu jaga tidak campur dan jaga badan. Enam jam. Telur. Ini bukan selesai. Ini tanggal. Tanggal bukan palu.' Nirwa duduk, kertas di meja, tidak di dada. 'Saya tidak penonton. Saya tidak jaksa. Saya tidak rilis segera. Segera judul. Tiga minggu. Vonis antri di tanggal itu. Saya papan. Saya tidak merayakan tanggal.' Dodi: 'IR diam. Kalau analis tanya tanggal, proses hukum, tidak berkomentar isi vonis. Isi milik hakim. Hakim belum. Arman akan tanam "CEO mengatur kalender lagi". Kita tidak bantah atur. Bantah atur judul. Diam.' Nirwa: 'Diam. Kertas. Tidak pesta tanggal. Tidak belas. Tidak klarifikasi rapi. Tidak sapu.' Sinta dipanggil untuk jadwal — tahu tanggal, bukan untuk rilis. Pucat, kerja. Nirwa menatap kertas lama, tidak membuka lagi.
Siang Nirwa ke papan delay, sengaja, sebelum portal menebak amplop. Palet. Lestari kaku, lima menit: tertahan tetap, jangan longgar karena 'tanggal vonis sudah ada jadi aman'. 'Tanggal bukan izin cangkang,' kata Lestari. Nirwa: 'Jangan longgar. Terima kasih kaku.' Pak Harun truk. IR siaga diam. Wiryo belum akun — masih siang. Nirwa pantry, air, tidak duduk di lantai. Lutut menurut. Rahmi pesan: *Jangan jadi jaksa. Jangan merayakan tanggal. Telur. Aku jaga prosedur kursi. Kamu jangan masuk. Dessy diam. Jangan telepon.* Nirwa: *Tanggal. Bukan palu. Telur. Tidak masuk kursi.* Satu dada, tiga jalur, sekarang tanggal vonis di kepala, masih bukan isi. Ia tulis di kertas pribadi, bukan rilis: tanggal, tiga kop plus hakim. Tidak dicampur. Campur makan malam. Makan malam sudah mati.
Sore portal bocor tanggal pembacaan, sumber dekat. Arman tanam 'kalender diatur'. Intan satu kalimat: proses hukum, tidak berkomentar. Nirwa tidak tambah. Pasar goyang singkat, datar. Ruang sebelah. Tidak bingkai. Pertanyaan mundur. Tidak. Lestari angka. Nirwa delay. Lorong menempel. Tidak meratakan. Bunga tidak. Tanggal bukan pesta. Kepala ritel menelan berita, pilih palet. Nirwa minta forecast. Ketukan. Sinta tahan tiga wawancara 'kapan angka hukuman'. Tolak. Angka milik hakim. Hakim belum. Wiryo dua baris hormat: hukum, suasana, pengawasan. Nirwa baca sekali, folder, tidak duet. Dessy diam. Paman belum surat. Belas sudah ditolak. Tanggal tidak mengubah tolakan jadi lunak. Lunak rumah tua. Rumah tua tidak. Ia ke pantry, gelas, angguk, pergi. Lutut menurut. Enam jam akan ditagih malam. Tagih ia bayar tanpa cuti. Cuti jeda. Jeda gagal dua kali. Tidur kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Tanggal kerja. Bukan pesta. Bukan palu. Antri. Kering. Nanti. Sekarang truk.
Sore ia cuci muka. Cermin: pucat, utuh. Utuh cukup. Menang belum. Menang palu. Palu belum. Tanggal hanya pintu. Pintu ia tidak naiki sebagai penonton. Tidak. Ia buka pintu kamar kecil, muka kerja. Kerja palet. Palet jujur. Jujur cukup untuk tidak merayakan kalender orang.
Sebelum pulang ia lewat operasional sekali, bukan parade. Satu pertanyaan suku cadang, jawaban angka, pergi sebelum muka belas. Belas 'Bu sudah ada tanggal'. Ada pintu. Pintu bukan palu. Palu hakim. Hakim antri. Antri tiga minggu. Tiga minggu ia jalani di papan, bukan di selasar. Selasar akan lapar angka hukuman. Angka milik hakim. Hakim belum. Ia tidak mengisi lapar itu. Mengisi pidato. Pidato 'kita hampir selesai' judul yang sama dengan 'kita sudah menang', hanya lebih malu. Ia pilih diam. Diam kerja. Kerja palet. Palet tidak punya tanggal vonis. Tanggal vonis milik amplop. Amplop sudah ia baca sekali. Sekali cukup.
Malam Intan di telepon, Nirwa dapur, telur, teh. 'Tiga minggu. Ibu tidak nonton palu. Saya jaga. Ibu tidur enam. Vonis di tanggal itu, isi belum. Isi hakim. Hakim banyak. Banyak nanti. Cerai tetap antri, tidak ikut tanggal pidana. Forum. Pisah.' Nirwa: 'Enam. Saya coba. Saya tidak rujuk. Saya tidak belas. Saya tidak sewa. Saya tidak penonton. Saya tidak sapu. Lima. Tanggal bukan undangan pesta. Tanggal kerja.' Tutup. Ia masak telur pelan. Makan berdiri, lalu duduk. Cuci. Tidak TV. TV kalender hakim. Mejanya piring. Piring jujur. Kunci. Laci cincin. Daftar: *vonis tiga minggu tanggal; isi belum; spin atur kalender; cerai antri; kursi tidak dikejar; capek.* Enam baris. Nirwa Tanjung tidak mengira menang. Ia mengira urutan. Urutan akan ia bawa ke papan, ke gudang yang baca truk, ke Lestari yang kaku, ke keran. Ia matikan lampu. Rumah besar. Ratu di kamar tamu. Bukan pesta. Bukan vonis. Bukan rumah tenang. Yang milik malam ini: tanggal, telur, tahta yang tidak ia sewa. Tahta masih. Kerja besok. Truk. Tidak gerbang. Tidak balkon. Tidak judul segera. Kertas. Antri. Kering. Cukup. Tidak damai. Damai antri di belakang palu yang belum jatuh. Palu itu tangga. Tangga ia tidak naiki sebagai penonton. Tidak. Satu kata. Cukup. Ratu kerja. Jendela. Kota. Angka. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Tanggal bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Tanggal antri. Isi belum. Palu belum. Belum. Tahta masih.
Rumah besar. Ia tidak nyala TV. TV kalender hakim. Mejanya ranjang tamu. Ranjang kerja. Kerja cukup. Cukup untuk tidak merayakan tanggal. Merayakan pesta. Pesta ditolak. Palu antri di tiga minggu. Tiga minggu ia jalani di papan. Papan truk. Truk jujur. Jujur masih.