Bu Rahmi menerima undangan makan siang Nirwa dengan satu komentar khasnya: 'Kamu tidak pernah mengundang orang tanpa kepentingan, Nirwa. Jadi katakan lebih awal: aku mau direkrut untuk apa?'
Mereka duduk di restoran kecil milik teman lama, jauh dari gedung-gedung tempat mata-mata korporat biasa makan siang. Rahmi — enam puluh dua tahun, mantan regulator, komisaris independen paling ditakuti di Grup Tanjung — menatap Nirwa dengan mata yang sudah membaca terlalu banyak kebohongan seumur hidupnya.
Nirwa meletakkan map tipis di meja. Tanpa kata.
Rahmi membacanya selama sebelas menit tanpa berkomentar. Lalu ia melepas kacamatanya, dan untuk pertama kalinya dalam ingatan Nirwa, perempuan besi itu tampak benar-benar sedih.
'Dua belas kontrak, tiga perusahaan cangkang, satu sepupu,' katanya pelan. 'Dan suamimu menandatangani semuanya.'
'Dan sekarang dia menggalang dewan untuk menyingkirkan satu-satunya orang yang akan menemukan ini.' Nirwa menjaga suaranya tetap rata. 'Saya tidak datang meminta simpati, Bu. Saya datang karena dalam sembilan kursi dewan itu, hanya ada satu orang yang tidak bisa dibeli dan tidak bisa ditakut-takuti. Saya butuh tahu posisi Ibu.'
Rahmi menyandarkan punggung dan mempelajari Nirwa lama. 'Kamu tahu apa yang paling mengesankan dariku saat ini? Bukan dokumen-dokumen ini. Tapi bahwa kamu mengetahuinya — tentang Karina, tentang apartemen itu, semuanya — dan kamu duduk di sini membicarakan tata kelola perusahaan alih-alih membakar rumahmu sendiri.' Ia menggeleng kagum. 'Ayahmu akan bangga atau ketakutan. Mungkin dua-duanya.'
'Ayahku mengajarkan satu hal: jangan pernah membalas sebelum musuh selesai menghitung kerugiannya sendiri.'
'Hm. Dia memang begitu.' Rahmi mengetuk meja dengan jarinya, berpikir. 'Dengar, Nirwa. Aku tidak bergabung dengan faksi. Tidak pernah. Tapi ada bedanya antara faksi dan kebenaran — dan dokumen-dokumen ini adalah kebenaran. Kalau kudeta suamimu berhasil, perusahaan ini jatuh ke tangan perampok. Maka posisiku bukan membelamu.' Ia menatap tajam. 'Posisiku membela perusahaan. Kebetulan saja itu artinya membelamu.'
'Itu posisi yang paling saya butuhkan, Bu.'
Maka lahirlah aliansi paling tidak terduga dalam sejarah Grup Tanjung: sang CEO dan sang komisaris besi, bertemu dua kali seminggu di restoran kecil itu, menyusun pertahanan seperti dua jenderal tua.
Rencana mereka punya tiga kaki. Kaki pertama: mengunci dua suara independen yang mengambang — bukan dengan imbalan, tetapi dengan fakta; Rahmi yang akan mempresentasikan temuan itu kepada mereka di waktu yang tepat. Kaki kedua: memperkuat bukti ke tingkat yang tidak bisa dipatahkan pengacara mana pun — auditor forensik eksternal, rantai dokumen yang sah, semuanya lewat jalur yang bersih. Kaki ketiga, dan yang paling sulit: waktu.
'Dia akan bergerak sebelum akhir kuartal,' kata Rahmi. 'Kudeta butuh momentum laporan keuangan. Mosi tidak percaya paling mudah dijual saat orang-orang sedang menatap angka.'
'Maka kita biarkan dia bergerak.' Nirwa menatap tehnya. 'Kudeta yang gagal di meja dewan adalah akhir dari kudeta itu selamanya, Bu. Saya tidak mau menang diam-diam. Saya mau dia berdiri, menunjukkan semua kartunya, di depan semua orang — dan kalah.'
Rahmi tersenyum kecil. 'Kamu memang anak ayahmu.'
Malam itu Nirwa pulang ke rumah dengan langkah ringan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu. Gilang sedang di teras, menelepon dengan suara pelan, dan langsung memutus sambungan saat melihatnya.
'Dari siapa, Sayang?' tanya Nirwa, melepas sepatu.
'Wiryo. Urusan dewan.' Gilang menciumnya. 'Kamu kelihatan senang hari ini.'
'Hari yang baik,' jawab Nirwa, dan itu bukan bohong. 'Sangat baik.'
Ia berjalan melewati suaminya menuju kamar, dan Gilang tidak melihat — tidak pernah melihat — bahwa istrinya tidak lagi berjalan seperti orang yang dikhianati.
Ia berjalan seperti orang yang sudah memilih tanggal eksekusi.