Kamis, ruang dewan, notulen yang tidak kosong. Wiryo membuka dengan jas dokter yang sama, kertas yang lebih tebal. 'Usul ini bukan mosi pecat. Nama Ibu tetap. Pasar butuh pemisahan emosi yang terlihat. Tiga bulan dampingan, ambang keputusan bersama, komite operasional. Setelah rantai pidana reda, wewenang kembali. Tempo. Bukan kudeta.'
Nirwa menunggu titik. Tempo. Reda. Kembali. Tiga kata yang terdengar seperti sewa kursi. Sewa bukan tata kelola. Air mineral di meja, bukan sampanye. AC. Ia membuka map delay dulu, sengaja, supaya ruangan melihat angka sebelum mendengar dada. 'Catat,' katanya. 'Saya tolak sewa. Nama di kartu tanpa wewenang adalah boneka. Pak Wiryo pernah takut perusahaan dipimpin seperti berkas. Usul ini memimpin perusahaan seperti orang sakit yang harus dituntun. Saya tidak sakit. Rantai basah. CFO interim kaku. Kredit berjalan. Saham tidak ambruk. Yang ambruk adalah naskah suasana yang tidak dapat voting, lalu diganti naskah dampingan. Beda baju, sama tangan.' Ia menatap kursi kosong komisaris muda, tidak lama. Kekosongan tercatat tanpa pidato. Pidato kekosongan adalah kejar.
Ia minta Lestari membacakan kertas tandingan. Lestari membaca kaku, covenant, telat dua hari, risiko vakum, tidak membela Nirwa, membela angka. Dodi menambahkan jejak: kertas dari tiga fungsi, bukan satu naskah meja CEO. Seorang loyalis ayah bertanya, pelan, apakah tiga bulan benar-benar sementara. Lestari: 'Sementara di kertas sering jadi kebiasaan di meja. Saya tidak bisa bela covenant dengan kebiasaan.' Rahmi: 'Usul perubahan kewenangan. Voting. Bukan suasana.'
Dessy hadir. Pucat. Tidak mempelajari kuku. Komisaris muda tidak hadir, izin. Dua independen. Dua loyalis ayah. Wiryo. Nirwa. Hitungan di kepala Nirwa: jangan menghitung terlalu cepat, jangan kelihatan menghitung. Menghitung muka adalah naskah. Sinta tidak di dalam — notulen resmi dewan, bukan asisten. Nirwa merindukan ketukan Sinta di luar pintu, lalu tidak. Merindu asisten di voting adalah dada. Dada di keran tadi pagi, tujuh menit, lebih lama dari biasanya. Ia masih utuh. Utuh cukup untuk menolak sewa.
Wiryo menatap Dessy, sebentar, seperti orang menagih utang yang tidak ditulis. Dessy menatap meja. Rahmi ketuk. 'Yang setuju usul penyesuaian kewenangan?'
Wiryo: setuju. Satu independen — yang tidak basah — tidak. Yang lain: tidak. Loyalis: tidak. Dessy diam tiga detik yang mahal, lalu: 'Tidak.' Suara kecil, cukup untuk notulen. Wiryo tidak menoleh. Tidak menoleh barang. Nirwa tidak berterima kasih. Terima kasih undangan. Rahmi: 'Ditolak. Komite tata kelola lanjut. Kerahasiaan lanjut. Tidak ada komite operasional dampingan. CEO tetap pada wewenang yang ada, dengan CFO interim dan jalur audit yang sudah berjalan. Tutup.'
Sebelum tutup Wiryo masih sempat satu kalimat, untuk notulen, bukan untuk tepuk. 'Saya mencatat keberatan saya pada kecepatan. Sejarah akan baca.' Nirwa menatapnya, tenang. 'Sejarah baca kertas, Pak. Bukan akun. Notulen hari ini kertas. Keberatan Bapak tercatat. Wewenang tidak pindah.' Rahmi ketuk lagi. Selesai. AC. Kursi bergeser. Nirwa tidak berjabat tangan. Jabat tangan adalah duet. Ia kumpulkan dua map, berdiri, keluar lebih dulu, tidak berfoto. Di koridor Dessy tidak menyusul. Wiryo tidak menyusul. Kekosongan itu berbeda dengan kekosongan kursi CFO dulu. Kekosongan ini adalah faksi yang kehabisan baju dokter, belum kehabisan naskah. Nirwa ke lift, cermin: utuh. Utuh cukup. Menang belum. Menang adalah kata portal. Notulen: ditolak. Itu yang ia beli. Di basement Sinta menunggu, tidak tanya. Nirwa: 'Kanal tertulis: tidak ada perubahan jabatan. Kerja. Jangan spekulasi.' Sinta ketik di tablet, tangan sedikit gemetar, lalu tidak. Gemetar boleh. Rilis tidak. Nirwa masuk mobil, radio mati, napas empat. Palu hari ini notulen. Bukan dada. Dada nanti, keran. Sekarang kota, macet, dua map di pangkuan.
Sore Sinta: 'Lantai baca Ibu menang. Saya kanal tertulis: tidak ada perubahan jabatan; kerja; jangan spekulasi dewan.' Nirwa paraf. IR tidak rilis kemenangan. Kemenangan dirilis jadi 'CEO meraih'. Meraih adalah emosi. Emosi peluru. Lestari mampir, lima menit, resmi: 'Covenant aman hari ini. Saya tidak percantik. Besok invoice masih saya tahan yang berbau.' Nirwa: 'Tahan. Terima kasih kaku.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan tetap, bahkan pada hari notulen baik. Nirwa makan nasi kotak. Pintu ke Sinta. Empat mata masih ditolak, termasuk yang ingin 'mengucapkan selamat'. Selamat adalah bunga. Bunga dikembalikan. Ia ke papan delay, sengaja, supaya tangan tidak ke ponsel mencari apa kata portal. Papan: palet, suku cadang, satu truk yang datang tepat. Tepat bukan pesta. Tepat kerja. Kepala ritel ingin bahas dewan. Nirwa: 'Dewan di luar agenda. Delay di dalam. Pilih.' Mereka pilih delay. Lorong pulang: logistik angguk, keuangan masih menempel, kurang rapat. Ia tidak meratakan dengan senyum. Senyum Kamis adalah klip.
Malam Rahmi restoran, singkat, sendok. 'Dessy menolak sewa kursimu. Itu bukan jasmu. Itu takutnya pada meja yang bisa diisi Wiryo. Takut kadang sabun. Jangan kau peluk. Peluk jadi tekan.' Nirwa: 'Tidak peluk. Tidak telepon.' Rahmi: 'Wiryo belum mati. Dia akan pindah ke 'pengawas yang kalah secara elegan'. Elegansi itu akun. Kamu diam di luar notulen.' Mereka makan, pelan, kuah, bukan parfum. Nirwa hampir bertanya apakah komisaris muda akan kembali. Tidak bertanya. Bertanya adalah kejar. Kejar intimidasi yang dijual. Rahmi membayar terpisah. Nirwa pulang, dapur, teh, cincin di laci, tidak dipakai. Ia tulis: *jeda ditolak. Dessy tidak. bunga paman sudah kembali. Roni bukan meja.* Tidur lima jam, lebih baik. Tubuh mengisi. Pukul lima tetap bangun, kebiasaan. Telur. Teh. Gedung. Lorong belah masih belah. Ia berjalan di tengah. Tahta masih dudukannya, bukan karena suasana, karena angka dan satu kata Dessy yang tidak ia miliki. Tidak memiliki itu tata kelola. Memiliki satu kata orang takut adalah kudeta versi lain. Ia tidak kudeta diri. Ia nyala lampu, jaket, kota, map delay. Kerja. Minggu faksi belum tutup. Notulen Kamis sudah. Beda. Beda itu yang ia jaga sampai portal selesai berbohong soal menang. Di meja, kopi pahit. Ia tidak merayakan. Merayakan notulen adalah pesta kecil yang Wiryo baca dari jauh. Ia buka angka. Truk. Cukup.