Nirwa mulai memasang mata-matanya — bukan orang, melainkan perhatian.
Ia mulai membaca ulang notulen enam bulan terakhir, dan pola itu melompat keluar seperti sinyal di layar radar: tentangan Gilang tidak pernah sendirian. Selalu ada dua komisaris — Pak Wiryo dan Bu Dessy — yang menguatkan argumennya dalam lima menit berikutnya. Selalu berurutan. Selalu dengan frasa yang seolah sudah dibahas sebelum rapat.
Rapat tidak pernah menghasilkan frasa yang sama dua kali — kecuali kalau rapat sesungguhnya sudah terjadi sebelumnya, di tempat lain.
Nirwa meminta asisten pribadinya, Sinta — perempuan muda yang loyalitasnya sudah teruji bertahun-tahun — menarik jadwal-jadwal tidak resmi. Hasilnya: tiga kali 'makan malam komunitas CFO' dalam dua bulan, dihadiri Gilang, Wiryo, dan Dessy. Dan satu nama lagi yang membuat alis Nirwa terangkat: Karina.
Sepupunya.
Karina, putri dari adik ayah Nirwa, pemilik perusahaan konsultan kecil yang dua tahun terakhir rajin sekali menjadi vendor Grup Tanjung — atas rekomendasi CFO. Karina yang sejak kecil selalu mengukur dirinya dengan Nirwa: sekolahnya, mobilnya, pernikahannya. Karina yang selalu memeluknya paling erat di acara keluarga.
Nirwa menyimpan nama itu di laci kepalanya. Belum ada bukti apa-apa. Tapi instingnya — insting yang membangun dua belas anak usaha — sudah berdiri tegak seperti rambut di tengkuk.
Rapat dewan berikutnya mengonfirmasi semuanya.
Agendanya evaluasi kinerja tahunan. Dan di tengah rapat, Pak Wiryo — komisaris paling senior di blok Gilang — mengangkat tangan dengan gaya yang sudah dipersiapkan.
'Dewan yang terhormat, saya mengusulkan agenda tambahan: kajian kepemimpinan.' Ia mengedarkan pandangan. 'Bukan berarti Ibu Nirwa tidak cakap. Tetapi tata kelola modern menyarankan pemisahan peran keluarga dan profesional. Mungkin sudah waktunya kita mempertimbangkan CEO profesional dari luar — dan Ibu Nirwa tetap di posisi pemegang saham pengendali yang terhormat.'
Ruangan itu sunyi. Semua mata menunggu reaksi sang ratu.
Dan Nirwa memberikan reaksi yang tidak mereka duga: ia tersenyum.
'Usulan yang sah dan tercatat,' katanya tenang. 'Mari kita jawab dengan tata kelola juga: bentuk tim kajiannya, tetapkan parameternya, dan pastikan semua data kinerja delapan tahun terakhir ikut dibaca — bukan cuma opini ruangan ini.' Ia menutup mapnya. 'Ada lagi?'
Tidak ada yang menjawab. Rapat ditutup. Tetapi Nirwa tahu: peluit kudeta sudah ditiup. Bukan serangan mendadak — perang urat saraf, dirancang untuk membuatnya lelah, emosional, dan akhirnya salah langkah di depan dewan.
Di rumah malam itu, Gilang memeluknya dari belakang saat ia mencuci piring.
'Berat ya rapat hari ini,' bisiknya lembut. 'Aku dengar-dengar ada usulan kajian kepemimpinan. Kamu kuat, kan?'
Nirwa merasakan pelukan suaminya seperti merasakan kulit ular: hangat, melingkar, dan menghitung detak jantungnya.
'Aku kuat,' jawabnya, tersenyum ke balik bahu. 'Apalagi kalau kamu di sampingku.'
'Selalu, Sayang. Selalu.'
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun pernikahan mereka, Nirwa Tanjung berbohong kepada suaminya — dan suaminya tidak tahu bahwa istrinya sudah belajar dari guru terbaik: dirinya sendiri.
Di ranjang, ia berbaring menatap langit-langit dan mulai menyusun papan permainannya sendiri. Gilang punya faksi, jadwal, dan naskah. Baik.
Maka sang ratu akan membiarkan pertunjukan itu berjalan — sambil menulis akhirnya sendiri.