Pernyataan Wiryo keluar jam enam pagi di portal bisnis, bukan di infotainment — lebih berbahaya. Bahasa negarawan, pisau di sela kata. Nirwa membaca sendiri di layar, tidak minta Sinta meringkas dulu. Ia perlu mendengar nada Wiryo di kepalanya, sama seperti dulu mendengar frasa yang terlanjur sama di notulen. Pola. Selalu pola.
Sinta membacakannya di mobil Nirwa, suara ditahan. Wiryo tidak membela penggelapan. Ia 'mengutuk setiap penyimpangan'. Lalu ia menambahkan: proses di dewan terasa 'diorkestrasi'; tujuh hari transparansi 'sah, tetapi sayangnya bertepatan dengan eksekusi personal'; tata kelola modern tetap membutuhkan 'pemisahan emosi keluarga dari kursi CEO'. Tidak ada nama Karina. Ada pisau yang lebih halus: Nirwa terlalu rapi untuk orang yang baru terluka.
'Itu naskah Arman,' kata Intan di telepon konferensi, jam tujuh. 'Atau naskah Wiryo yang belajar dari Arman. Kita tidak gugat pernyataan. Kita minta dewan rapat: sikap resmi terhadap anggota yang masih duduk sementara afiliasinya dengan mosi dan dengan pihak terperiksa.'
Rahmi di saluran yang sama: 'Aku yang minta rapat. Hari ini sore, tertutup. Dessy akan ikut diam atau ikut Wiryo. Kalau ikut Wiryo, kita tahu blok itu belum mati. Kalau diam, mereka potong ekor Gilang.'
Nirwa mendengarkan di kursi belakang, setelan hitam, kota macet. 'Aku tidak marah di koran,' katanya. 'Aku marah di notulen. Siapkan: aku tidak mundur dari CEO. Aku tidak 'pisah emosi' dengan cara menyerahkan kursi kepada orang yang kemarin mengangguk pada mosi. Kalau Wiryo ingin kajian kepemimpinan, kajian itu sekarang termasuk: siapa yang makan malam tidak resmi dengan CFO selama enam bulan.' Sopir menaikkan kaca. Sinta mengetik. Nirwa melihat kaca spion: wajahnya tidak pecah. Bagus. Pecah boleh di keran, bukan di macet.
Sinta menoleh dari depan. 'Bu, itu perang.'
'Perang sudah mulai sejak fase satu di lift,' kata Nirwa. 'Kemarin kita menangkan satu pertempuran. Hari ini mereka pindah ke narasi. Narasi tidak boleh kita hadapi dengan air mata. Kita hadapi dengan notulen.'
Siang, legal menahan tiga permintaan wawancara 'human interest'. Nirwa menandatangani penolakan. Ia makan, rapat kredit singkat, lalu masuk ruang dewan sore itu dengan map yang lebih tipis daripada Senin — karena Senin sudah palu, hari ini pisau.
Wiryo hadir. Dessy hadir. Dua independen hadir. Dua loyalis ayah hadir. Rahmi hadir. Kursi CFO kosong, dan kekosongan itu berbunyi. Nirwa tidak mengisi kursi itu dengan orang hari ini. Mengisi hari ini adalah pesta. Kursi kosong adalah bukti. Ia biarkan bukti itu duduk bersama mereka.
Wiryo membuka dengan nada negarawan yang sama. 'Saya tidak membela pidana. Saya membela proses. Perusahaan ini tidak boleh terlihat seperti satu keluarga yang mengeksekusi keluarga lain di atas panggung.'
Nirwa menunggu sampai ia selesai. Lalu, tenang, 'Proses itu Ibu Rahmi yang jaga: tujuh hari, auditor, wewenang komisaris. Eksekusi jabatan CFO adalah wewenang saya sebagai pemegang saham pengendali setelah dewan menolak mosi. Pidana adalah aparat. Tiga jalur, tidak dicampur. Yang mencampur adalah pernyataan pagi ini — yang menyiratkan saya terlalu rapi. Saya rapi, Pak Wiryo, karena saya tidak mau dua belas ribu orang ikut jatuh ke dalam rumah tangga saya. Itu bukan orkestrasi. Itu pekerjaan.'
Dessy mempelajari kukunya, sama seperti Senin. Tidak bicara. Rahmi mengetuk meja. 'Usul: komite tata kelola independen meninjau makan malam tidak resmi enam bulan terakhir. Termasuk yang dihadiri Pak Wiryo. Bukan pidana. Tata kelola. Setuju?'
Dua independen: setuju. Loyalis: setuju. Dessy, setelah jeda, setuju pelan. Wiryo: 'Saya tidak takut tinjauan.' Setuju dengan rahang.
Rapat ditutup. Bukan kemenangan di layar. Kemenangan di notulen: blok itu belum mati, tetapi sudah terikat tinjauan. Nirwa keluar lebih dulu, tidak berfoto. Di koridor Dessy menyusul dua langkah, lalu mundur. Nirwa tidak menoleh. Menoleh adalah undangan. Dessy belum memilih kalimat. Nirwa tidak membantu.
Malam, di rumah yang terlalu besar, Intan kirim satu paragraf: Arman akan ajukan keberatan pada status barang bukti, dan 'mungkin' upaya damai pidana yang konyol. Nirwa membalas: *Tidak damai. Tidak mediasi cerai. Tidak wawancara.* Lalu ia meletakkan ponsel. Dapur, teh, bangku rendah. Ia tidak merayakan notulen. Merayakan notulen adalah pesta kecil yang Wiryo bisa baca dari jauh. Ia minum, cuci cangkir, kunci pintu. Selesai.
Cincin masih di laci. Kunci baru di saku. Wiryo sudah pecah diam. Karina sudah di teras. Gilang sudah di berita acara. Nirwa berdiri di jendela, kota menyala, dan berbisik pada kaca — bukan 'aku akan tahu', melainkan 'aku sudah tahu, dan mereka belum selesai'.
Cliff itu sederhana dan tajam: perang di ruang rapat belum tutup dengan pecatnya raja palsu. Sisa faksi sedang menulis naskah baru, dan naskah itu akan memakai kata 'emosi' sebagai peluru untuk perempuan yang terlalu tenang. Nirwa mematikan lampu ruang makan. Besok Sabtu; ia hampir ke kantor, lalu tidak. Ia akan ke brankas, ke Intan, ke Rahmi. Istirahat adalah barang yang belum ia beli. Yang ia beli malam ini hanya kunci, dan kunci itu cukup untuk tidak membuka gerbang kepada siapa pun yang datang dengan kata keluarga, kata proses, atau kata sayang.
Di sofa — bukan kamar utama — ia tidur tiga jam, bangun, menulis daftar tinjauan makan malam, lalu tidur lagi. Ratu yang merebut tahta senin belum boleh pulang ke pesta setahun. Ia masih di minggu pertama. Minggu pertama adalah medan yang paling banyak membunuh orang yang sudah mengira menang. Nirwa Tanjung tidak mengira menang. Ia mengira bekerja. Itu bedanya, dan beda itu akan ia bawa ke rapat berikutnya, ke penyidik berikutnya, ke headline berikutnya — sampai sisa faksi kehabisan naskah, atau sampai ia kehabisan napas. Ia belum kehabisan napas. Kopi pagi belum diseduh. Kota belum menyala. Rumah masih terlalu besar. Ia masih di dalamnya, sendirian, dan sendirian itu belum kesepian. Masih perang.