Semakin aku masuk ke dalam hutan, semakin gelap juga tempat yang aku lewati. Dalam kegelapan ini aku hanya bisa mengandalkan indra perasa, insting, serta pendengaranku. Selain itu semuanya sia-sia saja.
Walaupun aku bisa menggunakan penglihatan malam, tetapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang memblokirnya dari luar. Hal ini seakan-akan seperti aku masuk ke sebuah tempat yang sama sekali tidak mengizinkanku untuk menggunakan Mana.
“Ini sedikit merepotkan... Fear?”
Ahh… aku lupa jika ia saat ini sedang tidur.
Selain itu tingkat hawa Tenebris juga semakin menebal. Sepertinya sebentar lagi aku bisa melihat makhluk ini, huh?
BHAMSSS!!!
“Hoo….” Aku pun berhenti sesaat dan menoleh ke belakang, “Rupanya ‘hadiah’ kecil yang aku tinggalkan juga sudah mulai beraksi. Aku harap mereka menyukainya.”
Setap obor yang aku pasang di sekitar pagar pembatas peternakan sudah aku imbuhi dengan sihir kecil. Meski terbilang kecil, sebenarnya semua sihir itu berlapis.
Bola angin pengejar, jaring angin yang tajam, perisai tali api tipis, dan terakhir adalah penguatan mental. Semua itu terdapat dalam setiap obor di sana, berkat ini juga aku tidak terlalu khawatir meninggalkan kesatria tua itu sendirian.
Yah, anggaplah ini hadiah kejutanku untuk dirinya dan juga para serigala hutan itu. Mengingat bagaimana betapa agresifnya mereka mengincar mangsa, aku yakin makhluk buas yang mungkin telah terkontaminasi oleh aura Tenebris itu tidak akan menyadarinya sama sekali.
“Hmm. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja, ya… semoga….”
Aku pun kembali meneruskan penelusuran ke dalam hutan.
Berkat semua indraku yang menjadi lebih sensitif, aku juga jadi semakin berhati-hati dalam melangkah.
Aku merasa semua suara yang berada di sekitarku menjadi lebih hening daripada sebelumnya. Angin pun terasa tipis dan ruang gerakku semakin terbatas.
Selain itu aku merasakan ada sebuah area kosong di depan sana. Namun, begitu aku menapaki lahan itu, sebuah geraman yang keras menggetarkan tempat itu.
“Huh?”
Aku pun mencari asal suara itu dengan teliti.
Dalam area luas seperti ini, sepertinya akan sedikit sulit untuk melacaknya karena lahan terbuka dapat membuat suara menjadi bergaung.
Mungkin saja kemungkinannya kecil, tetapi dengan segala pertimbangan dari indikasi sebelumnya. Aku cukup yakin jika suara itu berasal dari mangsaku—Tenebris. Jika serigala melolong untuk memanggil bala bantuan, maka makhluk apa lagi yang akan menggeram sekencang itu?
Tidak lama kemudian sesosok siluet besar muncul dari arah kananku. Awalnya aku hanya melihat bagian kecilnya keluar dari balik pohon besar hingga sosok sesungguhnya dari makhluk itu menampakkan dirinya tepat di hadapanku.
Aku pun membuat suara ketukan pada dahan pohon di sampingku untuk mendeteksi dan memeriksa monster ini melalui insting pendeteksi aura.
Sekilas makhluk ini memang terlihat seperti beruang hutan yang besar. Namun, dengan aura hitam pekat yang menyelimuti tubuhnya itu, aku ragu jika hewan yang biasa berhibernasi pada musim gugur ini akan memandangiku dengan kedua mata merah darahnya.
GHROAARHHH!!!
“Tenanglah kawan...—Wow!”
Belum sempat aku menganalisa sosoknya itu, ia langsung menghantamkan dua tangannya ke arahku. Untungnya refleksku cepat, jadi aku langsung melompat mundur menghindarinya.
“Sepertinya percakapan biasa tidak akan mempan, eh?”
Setelah itu aku langsung menerjangnya.
Pedang kayu yang telah aku imbuhi dengan Mana Fear sedikit mengeluarkan cahaya berpendar. Sesekali meredup, tetapi dari cahaya biasa yang tipis nan mengeluarkan aura merah-keunguan ini. Pedang milikku setara dengan pedang sihir roh—kurangnya hanya tidak akan bertahan lama, tetapi lihatlah seberapa lihai aku dapat menggunakannya.
Aku pun mengayunkan pedangku secara horizontal dari bawah. Makhluk ini—sebut saja Tenebris, ia pun kembali menggeram lalu berteriak ke arahku.
Seranganku berhasil mengejutkan tubuh besar itu hingga membuatnya hampir terjungkal. Meski daya kejut dari seranganku tidak sekuat pada masa puncaknya, tetapi aku yakin bisa mengatasinya dengan cukup mudah.
Seperti yang diharapkan dari rekan kecilku ini, kekuatanmu memang yang terbaik, Fear.
Tenebris kembali bangkit dengan tubuh raksasanya. Ketika tatapannya tertuju padaku, makhluk ini langsung melompat tinggi sambil melepaskan aura kegelapan dari sayatan keempat cakar tangannya.
“Wuwuwuhoaaa!!”
Sontak aku pun langsung berguling ke samping kiri untuk menghindari nasib tragis yang bisa saja akan menimpaku.
“Fiuhhh... selamat, selamat, selamat... dasar bulu besar!” rutukku sambil menguatkan tubuh bagian bawah lalu kembali menerjangnya dengan ayunan pedang.
Satu tebasan, dua tebasan... hingga empat buah tebasan beruntun berhasil aku torehkan ke tubuhnya. Namun, segera setelah itu juga makhluk besar ini langsung membalasku dengan teriakan gelombang aura kegelapan miliknya.
Saat ini aku sedikit kaget dengan kecepatan refleksnya. Mungkin benar seranganku kurang efektif jika dibandingkan dengan menggunakan pedang sungguhan, tetapi bagaimana ia bisa memiliki kecepatan seperti itu?
Bukankah aneh? Tubuhnya besar, berisi, berbulu lebat dengan aura hitam. Namun, daya tanggap serta serangannya seakan-akan aku sedang melawan seorang kesatria berpengalaman yang memiliki perawakan besar.
Lupakan saja, sebaiknya aku kembali fokus dengan pertarungan ini.
Aku pun melompat tinggi lalu menjentikkan jari, “Venthisd,” bisikku cepat.
Sebuah gelembung angin meletup tepat di hadapanku lalu dengan menyentilnya, aku menciptakan ledakan suara yang langsung menyerang gendang telinga sang Tenebris.
Venthisd sendiri merupakan sihir tingkat dasar berelemen angin. Dengan memanfaatkan kejutan udara setelah aku melompat tinggi, aku mengumpulkan partikel-partikel udara lalu mengumpulkannya di depanku.
Ketika partikel udara itu menciptakan gelembung angin. Aku hanya perlu menyentilnya agar efek dari gesekan antara udara dan Mana meledak hebat. Setelah itu aku memanfaatkan suara yang ada di sekitarnya untuk melepaskan gelombang suara yang sangat nyaring.
Dan teknik yang terbentuk dari rasa malas dan iseng ini entah mengapa cukup efektif dan berhasil menggulingkan sang Tenebris. Ya, kalian tidak salah membacanya. Tenebris... makhluk besar itu kini sedang berguling-guling ke belakang.
“Ini baru namanya kejutan. Ternyata sihir iseng yang aku ciptakan di saat-saat senggang ada gunanya juga. Hahahaha.”
Namun, sepertinya aku tidak boleh senang dulu karena samar-samar aku merasa Tenebris itu mulai kesal. Aku bisa melihat aura hitamnya semakin kental dan pekat bersamaan beberapa tanduk yang muncul dari punggungnya pun ikut membesar.
“Ohooo. Mulai serius, nih? Ayo, siapa yang takut.”
Aku bisa merasakan Fear sedang bergerak di lenganku. Sekumpulan bola cahaya kecil itu kini memunculkan dirinya dalam mode menguap lebar.
Penampilannya tidak ada yang aneh seperti anak kecil pada umumnya. Meskipun ia merupakan entitas roh, tetapi raganya masih terlihat seperti gadis manja dengan rambut berantakan.
“Hei... sudah puas tidurnya? Sekarang bantu aku mengalahkan makhluk besar itu, Fear,” tuturku lalu mengacak-ngacak rambut merah marunya.
“Uuuuu! Makhluk apa?... Ekkkk!—ouchh!”
Entah mengapa tanganku bergerak sendiri dan langsung menjitak kepala kosongnya itu. Mungkin tanganku ini memiliki kesadaran sendiri dan sudah dikondisikan untuk menjitak kepalanya ketika mengeluarkan kata-kata yang aneh.
Sudah tahu keberadaannya lebih ditakuti oleh kebanyakan orang di kerajaan, tetapi masih menjerit kecil seperti tupai kaget yang melihat kacangnya dicuri.
“Sadarlah roh bodoh!”
“Uuuu. Kuro jahat, kapan aku jadi bodoh?” tanyanya sambil mengelus kepalanya sendiri.
“Itu karena kamu takut sama yang kayak gitu! Udah tahu kamu lebih mengerikan ketimbang Tenebris,” tuturku lalu menunjuk makhluk yang sepertinya sedang memasuki mode mengamuk.
Mengamuk? Apakah makhluk itu kini benar-benar marah? Tetapi aku melihatnya seperti hewan yang bersiap menerjangku kapan saja karena waktu tenangnya terganggu olehku.
“Jadi gimana? Sanggup? Aku kasih bonus dua permen ekstra kalau kamu mau membantuku”
“Permen ekstra?”
Aku mengangguk mantap. “Kalau tidak mau ya udah. Padahal aku sudah mau berbaik hati,” sahutku sambil menghembuskan napas.
“Mau, mau, mau! Baiklah, aku jadi bersemangat!”
Hehehehe... dasar naif. Di sogok sama permen saja langsung setuju.
Setelah itu tubuh Fear mengeluarkan cahaya samar. Warnanya yang merah-keunguan itu menyinari hampir seluruh tempat ini dan bahkan bagi Tenebris yang sebelumnya marah perlahan-lahan mundur.
Tubuhku terasa dipenuhi oleh kekuatan dan semua pembatas yang tadi sempat menghalangi aliran Mana kembali seperti biasa. Kini aku bisa dengan leluasa menggunakan pengendalian Manaku dengan baik.
Mungkin Fear yang berada di dalam kondisi lemah membuat tempat ini menjadi kuat dan begitu juga sebaliknya. Ketika aku sendiri mencoba mengeluarkan Mana, sihir seperti apa pun yang aku coba lepaskan tidak bereaksi.
Namun, begitu kekuatan Fear sedikit demi sedikit pulih, kondisi itu justru sama sekali tidak berpengaruh padaku.
Sepertinya hutan ini memang di desain untuk mengontrol pergerakan aliran Mana di dalam tubuh seseorang sehingga orang itu sama sekali tidak bisa menggunakan kekuatannya. Alhasil bukannya mendapatkan hasil, melainkan tubuhnya yang akan menjadi santapan lezat nan gratis bagi para makhluk di dalam hutan ini.
“Aku sudah melepaskan belenggu rantai anti-Mana di sekitarmu, Kuro. Hehehehe. Jangan lupa permen ekstranya, ya,” tutur Fear sambil menekankan kata-kata terakhir selagi mulutnya tersenyum bahagia.
“Ok, ok. Aku janji, kok. Pasti akan aku tepati,” sahutku dengan seringai kecil. “Kita lihat apakah aku atau kau! Makhluk bulu hitam yang akan menang setelah mendapatkan peningkatan kekuatan,” lanjutku lalu mengerahkan semua Mana ke dalam pedang kayu.
GROARGHHH!!!
Begitu teriakan amarahnya itu lepas dan menghancurkan tempat di sekitarnya, Tenebris pun langsung berlari ke arahku dengan kecepatan penuh. Di sisi lain aku pun melesat cepat menerjangnya lengkap dengan pedang kayu yang penuh akan kekuatan Mana.
“AAargHghhhghhh!!! Lenyaplah makhluk pengerat!!”
Jarak kami semakin dekat dan di saat itu juga kami saling melepaskan serangan masing-masing. Tenebris dengan kekuatan penuh dari tubrukan besar tubuhnya, sedangkan aku mengayunkan pedang secara vertikal dari bawah ke atas.
Dalam balutan suasana hutan yang menjadi senyap tiba-tiba, serangan kami saling beradu. Alhasil terjadilah sebuah luapan energi yang meledakkan area sekitarnya, bahkan aku sendiri bisa mendengar pohon-pohon tumbang dalam sekejap.
Begitu serangan kami saling bertabrakan, aku langsung menoleh ke arah pedang yang kini berada dalam genggaman tanganku. Darah... darah... darah, tidak ada deskripsi yang pas untuk menyebutnya dalam satu kata.
Setelah itu aku pun mengayunkan pedang untuk kedua kalinya demi membersihkan sisa darah yang melekat pada bilahnya. Bersamaan dengan itu tubuh Tenebris langsung terbelah dua dan hancur menjadi gumpalan hitam.
“Ignith,” bisikku halus sambil mengambil napas lalu menyentak permukaan tanah lembut dengan ujung bilah.
Sebuah percikan muncul dan langsung menjadi api merah-keunguan yang menyebar menjadi jaring laba-laba. Jaring api kecil itu dengan cepat mengelilingi gumpalan hitam yang berusaha melarikan diri.
Melahap, merayap, dan membersihkan. Hanya dalam hitungan detik, semua gumpalan hitam itu akhirnya hangus menjadi abu.
“Akhirnya selesai. Sekarang yang perlu kulakukan adalah pergi kembali menuju—“
Namun, perhatianku tiba-tiba saja teralihkan oleh sebuah suara tepuk tangan.
“Keluar. Aku tahu kau ada di sana.”
Sebenarnya ini hanya gertakan kecil. Aku sama sekali tidak bisa merasakan hawa keberadaannya sama sekali, bahkan bagi Fear yang merupakan roh saja langsung melayang cepat ke arahku.
Merinding? Fear... takut?
Ini benar-benar berada di luar perkiraanku. Ternyata memang benar Tenebris merupakan dalang dari semua kejadian ini, tetapi aku tidak menyangka akan ada sesuatu yang lebih dari sekedar Tenebris.
Selain itu parahnya lagi Fear ketakutan dengan sesuatu ini. Orang? Aku tidak yakin sebelum sosok itu menunjukkan dirinya kepadaku.
“Malam itu... ahh. Saat ini dirimu masih menjadi Phenix tanpa apinya, bertambah kuatlah sebelum waktunya tiba.”
Suara? Apakah ini benar-benar suara dari orang yang sedang bersembunyi di dalam gelapnya hutan? Atau bisa saja ia menggunakan sihir angin untuk menyamarkan nadanya.
“Keluar... atau itu—“
“Tenang. Saya ada di sini, tepat di belakang Anda,” bisiknya halus tepat di telinga kananku.
Sontak saja aku melepaskan ayunan cepat, tetapi sosok itu kembali lenyap sambil memberiku pesan perpisahan.
“Beri aku sayap api dewasa itu. Hingga ramalan bulan penuh tiba, belum saatnya untuk dirimu mempersembahkan penjelmaan sakral ke dalam dunia ini... Ha... ha-ahahahaha!!!”
Sial! Bahkan refleksku yang sudah bertambah kuat tidak bisa menghentikannya. Apakah ini yang mereka katakan masih ada langit setelah langit, huh?
Setelah itu aku kembali menyarungkan pedang kayu sambil mendongak ke langit.
“Siapa orang itu? Mengapa ia tahu tentang ‘Phenix’ di dalam tubuhku?”
Melepas pikiran aneh itu, aku pun menggeleng cepat lalu segera bergegas kembali menuju Desa Kirius.
Kemunculan sosok misterius itu entah mengapa berhasil membuat Fear ketakutan. Sebenarnya siapa? Dan mengapa ia muncul di sini?
Sosok itu sama sekali tidak mengeluarkan niat jahat ataupun hawa pembunuh. Aura yang muncul di sekitarnya lebih mirip seperti sesuatu yang aku kenal, tetapi aku tidak tahu tepatnya di mana itu.
Mungkin dengan melihat keadaan desa saat ini bisa menyegarkan pikiranku.
Tidak lama kemudian aku pun tiba di Desa Kirius. Di sana aku melihat semua penduduk sedang memegang garpu jerami sedangkan si kesatria tua itu sedang membersihkan pedang dan juga perisai kayu semi metaliknya.
Aku pun berjalan mendekati mereka dan tepat ketika aku kembali, anak gembul yang waktu itu pernah menodongku dengan tongkat kayu berteriak keras.
“Lihat! Kakak itu sudah datang!”
“Hehehehe! Oiii, anak muda! Lihat tangkapan besar yang kami dapatkan ketika kau pergi,” ucap si kesatria tua dengan tampang songong.
Sebenarnya ini juga berkat bantuanku lalu mengapa pria tua tengik ini menyodorkan kepala serigala hutan kepadaku? Secara tidak langsung bukan kah itu juga merupakan kerja kerasku, bukan?
Yah. Mau bagaimana lagi, yang terpenting sekarang mereka selamat, dan kelihatannya tidak ada korban jiwa.
Tidak lama kemudian aku disambut oleh mereka dengan senyum lebar dan tawa lepas. Wajah mereka juga terlihat lega dan tangis kegembiraan pecah begitu aku menceritakan Tenebris yang aku kalahkan di dalam hutan.
Momen seperti inilah yang membuatku rela mengambil misi tanpa imbalan jelas. Meskipun tidak semuanya sesuai dengan rencanaku, tetapi aku masih harus mensyukuri hal sederhana ini sebiasa mungkin.
Jika aku bisa membantu seseorang dengan kekuatanku, maka dengan senang hati aku akan membantunya. Dalam kutip kalaupun aku sedang dalam keadaan kondisi hati yang senang, ok.
Bahkan ketika kami sedang berpesta menyantap hidangan khas Desa Kirius, Fear sepertinya masih bersembunyi di dalam lenganku. Dampak dari kemunculan sosok misterius itu bukan hanya membuat roh gadis kecil ini ketakutan, tetapi juga membuatku sadar jika sebenarnya masih ada sosok yang lebih kuat di luar sana.
Dan berkatnya juga aku yakin bahwa sebenarnya aku ini masih belum apa-apanya jika dibandingkan dengan para orang-orang kuat yang mungkin masih menyembunyikan identitasnya hingga saat ini.