Sorak para penonton mulai menggema di sekeliling arena pertarungan dengan semangatnya. Pertarungan antar kesatria di depan sana berhasil memikat perhatian penonton hingga jumlah yang luar biasa.
Suara aduan pedang saling berbenturan terlihat menyerupai kilat putih. Melesat luwes dengan lembut, tetapi kasar di saat yang sama.
Petarung kali ini adalah seorang perempuan berambut putih lengkap dengan pakaian rapi. Matanya yang biru-violet persis seperti permukaan air yang tenang. Menggenggam Rappier di tangan kanan, permainan senjatanya sangat lincah jika dibandingkan lawannya.
Sedangkan di sudut yang berlawanan adalah seorang lelaki berambut hitam yang membawa sebuah pedang di tangan kanan dan perisai yang kokoh di tangan kirinya. Sayangnya pergerakannya terbatas akibat zirah yang menutupi tubuhnya secara menyeluruh.
Perempuan berambut putih itu menari-nari di atas arena dengan anggun. Melesatkan setiap serangan dan hantaman dengan cepat. Sedangkan lawannya hanya bisa melangkah mundur dengan pasrah.
Sesekali kesatria itu menghunuskan pedangnya, tetapi nyatanya meleset semua. Di sisi lain merpati putih melompat seperti kelinci lincah lalu memberi tekanan bagai elang pemburu.
Berkat kemampuannya dalam memainkan senjata, sang kesatria besar kembali terdorong mundur. Terlihat dari napasnya yang terengah-engah, raut wajahnya pun menjadi kompleks. Tidak lama kemudian ia pun menunduk dan jatuh terduduk seperti kesatria.
Memanfaatkan momentum yang muncul, sang perempuan bergerak cepat lalu menghunuskan senjatanya tepat ke arah leher pria itu lalu berhenti begitu jaraknya hanya satu senti dari kulit.
Mulut sang kesatria besar sedikit menggeram, tetapi pada akhirnya ia menyerah dengan melepaskan semua atribut tempurnya. Dan sorak-sorai pun kembali terdengar mengisi penuh arena itu dengan kehidupan.
▼▼▼
Aku bisa mendengar suara orang-orang di luar sana dengan sangat jelas menggema di sini. Dalam ruangan kecil yang diperuntukkan untuk para peserta, aku duduk sendiri sambil memegangi pedang kayu.
Terdiam dalam lamunan dan juga bayang-bayang. Aku menghembuskan napas pelan sembari membayangkan apa yang terjadi di luar sana.
Memang benar ini adalah pertandingan bergengsi yang memikat banyak sekali antusias serta rasa kebanggaan. Namun, sejauh ini aku tidak merasakan hal itu lagi.
Sesekali aku juga melirik pintu di samping kiriku. Pintu yang terbuat dari kayu dengan penahan metal dan beberapa baut usang. Benda itulah yang nanti akan terbuka dan menunjukkan arah kepadaku.
Sayup-sayup suara penuh antusias di luar sana mulai mereda dan keheningan kembali masuk ke dalam ruangan. Aku yang duduk sendiri tanpa ada siapa pun, menunggu sesuatu muncul.
Aku tidak tahu apa itu perlu kupikirkan. Namun, satu hal yang pasti ialah ruangan ini, tempat ini, sensasi serta atmosfer ini… semua yang lama telah hilang kembali lagi merayap masuk ke dalam pikiranku.
Aku kembali menghirup napas pelan-pelan lalu mengeluarkannya. Tidak lama kemudian konsentrasiku mulai membuyar begitu suara langkah kaki terdengar dari balik pintu kayu itu.
Sebuah suara tiba-tiba saja memanggilku dan memberitahuku untuk pergi menuju arena. Aku pun bangkit lalu meregangkan lengan beberapa saat.
"Hmm... sepertinya kali ini giliranku."
Aku pun membuka pintu dan berjalan di lorong yang cukup panjang. Pemandangan ini… sangat membuatku terkenang dengan masa lalu. Aku pun tiba di ujung lorong dan cahaya matahari menyapaku bersamaan dengan sorakan yang tidak menyenangkan.
Aku tak menyangka hal pertama yang aku dapatkan begitu tak terduga. Layaknya ejekan dan hinaan yang sangat khas, aku terkekeh kecil mendengarnya. Sembari terus melangkah kuhiraukan semua itu dan berdiri diam di sisi lain arena.
"Hahaha... lihat! Apa kau tidak jera?"
"Woii... sebaiknya kau mundur atau tidak kau akan di tendang keluar arena, ahahaha"
"Hahaha... Kesatria Gagal, ingat julukanmu. Sudah pasti kau akan langsung kalah."
Ini memang sangat menggelikan karena mereka masih mengingatku hingga saat ini. Aku jadi terharu, bahkan setelah bertahun-tahun tampaknya gelarku juga masih bertahan.
Selain itu… tempat ini masih tidak berubah sama sekali. Benar… tempat ini sama sekali tidak pernah berubah dari semenjak pertama kali aku mengikutinya. Sama seperti sambutan dan juga orang-orang yang tidak pernah mengira bahwa aku akan kembali ke tempat ini untuk terakhir kalinya.
Lawanku kali ini adalah seorang lelaki berjanggut dengan aksen seperti orang mabuk. Ia menggenggam sebuah kampak dengan lengan kanannya. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku merasa seperti anak kecil ketika berdiri di hadapannya.
"Anu... bisakah paman bermain pelan denganku?"
"Hahaha... ada apa pria kecil? Apakah kau takut dengan paman ini? Tenang saja, aku akan bermain pelan dan tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh"
"Ahahaha. Tidak, tidak… hanya saja paman perlu berhati-hati dengan kaki paman,” ucapku dengan seringai kecil.
“Apa? Kaki?”
Suara bunyi gong pun terdengar lantang dan pria besar di depanku dengan ganasnya langsung menerjang. Hahh… padahal aku sudah berbaik hati memperingatinya, tetapi ia sama sekali tidak menggubris hal itu.
Aku sendiri sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini dan ingin bermain lembut dengannya, tetapi apa daya jika ia sama sekali tidak menerima kebaikanku, ‘kan? Kalau begitu aku tidak usah menjadi orang baik lagi.
Mungkin peran seorang laki-laki baik tidak diperlukan lagi pada masa seperti ini. Maafkan aku pria besar, tetapi aku tidak memiliki dendam kepadamu atau hal apa pun yang membuatku melakukan teknik ini.
Mengandalkan teknik langkah kaki, aku menghembuskan napas, begitu kaki kanannya terangkat tinggi pada saat itu juga aku menerjang cepat menggunakan kecepatan kilat.
Setelah itu kutendang kaki kirinya sekuat mungkin hingga tubuhnya mengapung beberapa saat. Memanfaat momentum yang muncul beberapa detik itu aku langsung mendorong tubuhnya dengan telapak tangan kanan sekuat mungkin.
Alhasil dalam waktu yang sekejap tubuhnya terlempar jauh hingga keluar arena lalu menghantam dinding pembatas.
“Bhuaggh!!—”
“Lihat? Seharusnya kau mendengarkan apa kataku… hahh,” ucapku sambil menyeringai kecil.
Akhirnya aku berhasil membungkam orang-orang ini. Bahkan arena ini menjadi hening dengan ekspresi konyol mereka bisa kulihat dari tempatku berdiri dengan jelas. Sungguh menggelikan, bahkan aku ingin tertawa melihat raut wajah mereka.
Namun, keheningan itu akhirnya pecah dengan teriakan antusias seorang laki-laki yang kemudian dengan disusul oleh teriakan lainnya. Alhasil bukan saja telingaku yang dibuat berdengung oleh suara itu, tetapi aku juga bisa merasakan udara di sekitar sini sedikit bergetar.
Sebenarnya aku tidak berharap mendapatkan tepuk tangan atau penghargaan apa pun, apa yang aku inginkan adalah pembalasan. Setelah bertahun-tahun aku memendam perasaan ini, akhirnya hatiku menjadi lega.
"Aku menyerah!!" teriakku lantang lalu berjalan menuju ke luar arena dengan santai.
Dan sekali lagi suasana tempat ini kembali hening selagi langkah kaki ringan ini menuntunku pergi menuju keluar arena dengan ekspresi puas.