Buku itu menipunya selama berminggu-minggu.
Lana sudah membaca catatan Mbah Surti berkali-kali—yang terselip di soko guru, yang tersembunyi di gudang—dan ia kira ia sudah menemukan semuanya. Tapi pagi itu, saat menyalin ulang halaman demi halaman ke buku barunya (rutinitas baru yang ia paksakan untuk menjaga kewarasan), ia memperhatikan sesuatu pada salah satu buku tertua: tebal sampul belakangnya tidak sesuai dengan jumlah halamannya.
Ia mencongkel dengan ujung pisau lipat. Sampul kulit itu terbelah jadi dua lapis, dan di antaranya, terlipat rapat seperti rahasia yang ditahan napas, ada lembar-lembar tipis. Tulisan Mbah Surti, tapi berbeda—lebih kecil, lebih rapat, ditekan keras ke kertas seolah ditulis dengan amarah atau ketakutan, atau keduanya.
Lana membawa lembar-lembar itu ke cahaya jendela. Membacanya pelan, sebab tinta sudah pudar dan beberapa kata harus ditebak.
Halaman pertama dimulai tanpa tanggal:
"Aku menulis ini bukan untuk siapa pun. Mungkin untuk diriku, supaya aku tidak lupa bahwa aku pernah mencoba. Bahwa aku tidak hanya menerima."
Lana membalik, jantungnya mulai berpacu.
"Mereka bilang penjaga tidak boleh punya pilihan. Sekali generasi, satu nyawa, atau garis darah habis. Mbah-ku dulu bilang begitu. Ibuku bilang begitu sebelum ia menyerahkan adikku ke bawah dan tak pernah lagi tersenyum sampai mati. Tapi aku—aku tidak mau."
"Aku punya anak perempuan. Satu-satunya. Dan menurut aturan, dialah yang berikutnya menanggung. Dialah yang harus jadi penjaga setelah aku, yang harus membayar tumbal, yang—lebih buruk—mungkin jadi wadah. Sebab tanda itu sudah ada padanya sejak lahir. Telapaknya berbau lumpur waktu ia menangis pertama kali. Bidan dukun yang menolong persalinan menjatuhkannya saking takut."
Lana berhenti membaca. Tangannya dingin. "Anak perempuan." Mbah Surti punya satu anak perempuan.
Ibunya.
Ia memaksa diri melanjutkan.
"Maka aku menyembunyikannya. Aku titipkan ke kota, ke saudara jauh yang tak tahu apa-apa tentang Karangwungu. Aku larang ia pulang. Aku tulis surat dengan kata-kata kasar supaya ia membenciku, supaya ia tidak rindu, supaya ia tidak pernah ingin kembali. Aku biarkan ia mengira aku nenek yang kejam, ibu yang dingin. Lebih baik ia membenciku dan hidup, daripada mencintaiku dan tenggelam."
Mata Lana panas. Selama ini ia mengira Mbah Surti memang dingin—nenek yang tak pernah datang, yang tak pernah menjawab surat, yang membiarkan ibu dan Lana hidup susah di kota tanpa pernah mengulurkan tangan. Selama ini ia membawa luka itu seperti batu di dada. Dan ternyata batu itu adalah perisai. Kekejaman itu adalah cinta yang menyamar.
Tapi ada baris berikutnya, dan baris itu menghancurkan segala kelegaan:
"Tapi rencanaku gagal."
Hanya itu, di akhir halaman. Tiga kata, ditekan begitu keras hingga ujung pena merobek kertas.
Lana membalik dengan tergesa, mencari halaman berikutnya, tapi lembar setelahnya robek—bukan dilepas rapi, tapi disobek kasar, seolah Mbah Surti tak sanggup menyimpan apa yang ia tulis selanjutnya, atau seseorang tak ingin Lana membacanya.
Hanya tersisa potongan kecil di pangkal sobekan, beberapa kata yang selamat:
"...menariknya pulang... aku tak bisa menahan... empat puluh hari itu... dan aku berdiri di tepi sumur sambil... maafkan aku, Gusti, maafkan aku, aku ibunya tapi aku..."
Lalu kosong.
Lana duduk di lantai joglo dengan lembar-lembar itu di pangkuan, dan sesuatu yang dingin merayap naik dari perutnya. "Rencanaku gagal." "Menariknya pulang." "Empat puluh hari." "Aku ibunya tapi aku—"
Tapi aku apa?
Ia tidak ingin tahu. Sebagian dirinya, sebagian yang masih punya ibu di suatu tempat dalam ingatan kabur masa kecil, sebagian itu menjerit untuk berhenti membaca, untuk membakar lembar-lembar ini, untuk terus percaya bahwa ibunya kembali ke kota dan hilang di sana, di antara orang-orang asing, dalam kecelakaan yang tak pernah dijelaskan.
Tapi sebagian lain dirinya—bagian arsitek, bagian yang membaca denah dan tahu di mana dinding tidak akan menahan beban—sebagian itu sudah melihat bentuk kebenaran di balik kabut, dan tahu bahwa ia tidak akan bisa lagi tidak melihatnya.
Empat puluh hari. Itu tempo tumbal. Itu yang dijelaskan Mbah Jum.
Dan Mbah Surti, dalam generasinya, tidak melewatkan tempo itu. Tidak menunda. Catatan ini bukan pengakuan seorang penjaga yang melanggar aturan.
Ini pengakuan seorang ibu yang membayar.
Lana melipat lembar-lembar itu dengan tangan gemetar dan menyimpannya di dada, dekat jantung, di tempat di mana, dulu, ia menyimpan kebencian pada nenek yang ternyata mencintainya terlalu dalam untuk membiarkannya tahu. Dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Karangwungu, Lana takut bukan pada apa yang ada di sumur—tapi pada apa yang akan ia temukan kalau ia terus menggali tentang ke mana, sebenarnya, ibunya pergi.