Catatan tertua di gudang itu bukan ditulis di kertas. Lana baru menyadarinya saat lilin di tangannya hampir padam dan jemarinya meraba sesuatu yang dingin di antara tumpukan kendi—sehelai kulit kerbau yang sudah mengeras seperti papan, dengan goresan-goresan yang dulu ia kira retakan. Bukan retakan. Aksara. Tulisan tangan yang lebih tua dari Mbah Surti, lebih tua dari rumah ini, ditulis dengan ujung besi yang dipanaskan.
Mbah Jum yang menerjemahkannya, dua hari kemudian, di dipan bambu dusun seberang. Tangan tua itu menelusuri tiap goresan dengan ujung kuku, bibirnya bergerak tanpa suara dulu, seolah mencicipi kepahitan kata-kata sebelum mengucapkannya.
"Ini tulisan Eyang Kromo sendiri," kata Mbah Jum akhirnya. "Atau yang dituliskan untuknya. Pengakuan."
"Pengakuan apa?"
"Tentang tumbal pertama, Nduk."
Lana menahan napas. Di luar, kabut sore mulai naik dari Kali Suwung, merayap ke pekarangan seperti sesuatu yang punya niat.
Mbah Jum membaca pelan, menerjemahkan dari Jawa kuno ke bahasa yang bisa dipahami Lana, dan sambil ia membaca, dunia di sekitar Lana seolah surut, dan ia melihatnya—bukan dengan mata, tapi dengan sesuatu di belakang mata, seperti mimpi yang dipinjamkan.
Karangwungu, lebih dari seabad lalu. Bukan desa yang Lana kenal. Tanah retak-retak, padi mati berdiri kuning di sawah. Bau bangkai ternak. Anak-anak dengan perut buncit dan mata cekung duduk di emperan. Pagebluk dan kemarau datang bersamaan, seperti dua tangan yang mencekik dari atas dan bawah.
Eyang Kromo Sentiko—lelaki gagah yang punggungnya mulai membungkuk oleh putus asa. Anaknya sekarat. Istrinya, Nyi Rantamsari, menunggui anak itu siang malam, menyeka demam dengan kain yang sudah tak ada air untuk dibasahi.
Dan Ki Jagad datang. Dukun pengelana dengan tongkat dan mata yang tak pernah benar-benar menatap satu titik. Ia menunjuk ke mata air di balik rumpun bambu, mata air yang dulu dianggap keramat dan kini ikut mengering.
"Yang di bawah lapar," kata Ki Jagad. "Beri ia makan, ia kenyangkan tanahmu."
Lana mendengar suara itu dalam kepalanya, suara Mbah Jum yang berubah menjadi suara lain, parau dan jauh.
Eyang Kromo bertanya: apa yang harus diberi.
Dan jawabannya membuat Lana mual bahkan dalam penglihatan: yang paling dicintai. Bukan kambing, bukan kerbau, bukan tetangga. Yang paling dicintai. Sebab hanya yang dicintai yang punya cukup "berat" untuk mengikat perjanjian. Cinta adalah mata uangnya.
Eyang Kromo menolak. Selama berhari-hari ia menolak. Tapi anaknya makin sekarat, dan desa makin mati, dan suatu malam ia berdiri di tepi mata air dan mendengar bisikan dari bawah air yang bukan suara Ki Jagad.
Lana tahu bagaimana cerita ini berakhir bahkan sebelum Mbah Jum membacanya. Tapi mendengarnya tetap terasa seperti dipukul.
Eyang Kromo menipu istrinya. Nyi Rantamsari, perempuan yang melahirkan anak-anaknya, yang menunggui mereka sekarat. Ia membawa istrinya ke mulut sumur yang baru digali tepat di mata air—sumur yang kelak jadi yang ketujuh—dengan dalih ritual untuk menyembuhkan sang anak. "Turunlah, ambil air pertama dengan tanganmu sendiri," katanya. "Hanya air dari tangan ibu yang bisa menyembuhkan."
Dan Nyi Rantamsari, karena cinta pada anaknya, turun.
Mbah Jum berhenti membaca. Tangannya gemetar. Lana sadar pipinya basah dan tak ingat kapan ia mulai menangis.
"Sebelum air menutup mulutnya," Mbah Jum melanjutkan, suaranya nyaris bisikan, "ia tahu. Ia melihat ke atas, ke wajah suaminya yang menutup beton di atasnya. Dan ia mengutuk."
"Mengutuk apa?"
Mbah Jum menatap Lana lurus, dan untuk pertama kalinya ada ketakutan murni di mata tua itu.
"Katanya: 'Tiap dari kalian akan mencintai sebelum membunuh. Tiap penjaga akan menyerahkan yang paling dikasihi ke dalam gelap ini, turun-temurun, sampai darah kalian habis atau berani turun sendiri. Aku menunggu kalian semua di sini.'"
Hening. Kabut sudah sampai ke ambang pintu dusun, menggantung di sana seperti ragu masuk.
"Itu sebabnya," kata Lana pelan, menyusun potongan yang selama ini berserakan. "Itu sebabnya tumbal selalu... selalu orang yang dicintai. Bukan musuh. Bukan orang asing. Mereka harus mencintainya dulu."
"Mata uangnya cinta, Nduk." Mbah Jum melipat kembali kulit kerbau itu dengan hati-hati, seperti melipat jenazah. "Yang di bawah tidak makan daging. Ia makan ikatan. Ia makan kehilangan. Itu sebabnya ia bisa hidup begitu lama dari hanya satu nyawa per generasi—karena yang ia kunyah bukan tubuh, tapi cinta yang patah."
Lana menatap telapak tangannya yang berbau lumpur. Ia memikirkan Bayu. Ia memikirkan betapa, akhir-akhir ini, ia mulai menunggu Bayu datang tiap pagi, mulai merasa lega tiap melihat sepedanya di pekarangan. Dan kesadaran itu turun ke perutnya seperti air dingin.
Mencintai sebelum membunuh.
"Mbah," katanya, suaranya pecah, "kalau benar begitu... maka entitas itu tidak menungguku menyerahkan orang asing. Ia menunggu sampai aku punya seseorang yang benar-benar kucintai. Supaya berat. Supaya manis."
Mbah Jum tidak menjawab. Dan diamnya itulah jawaban yang paling Lana takuti. Di luar, kabut akhirnya masuk, dan lilin di antara mereka redup—bukan oleh angin, sebab tak ada angin, tapi seolah ada yang menyedot panasnya dari jauh, dari bawah, dari tempat seorang perempuan masih menunggu di dasar sumur yang ia kutuk dengan napas terakhirnya.