Mbah Surti dimakamkan keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar membakar kabut.
Lana berdiri di tepi liang, kaki terbenam dalam tanah merah yang basah, mengenakan kerudung hitam pinjaman dari seorang tetangga yang ia bahkan tak tahu namanya. Warga datang berbondong — lebih banyak dari yang ia kira untuk seorang perempuan tua penyendiri — dan mereka mengisi pemakaman Kidul, yang berada tepat di sisi selatan desa, dekat sebuah sumur batu tua yang mulutnya dikelilingi pagar bambu rendah.
Mereka semua ramah. Itu yang membuat Lana tak nyaman. Setiap orang yang ia papasi mengangguk, menunduk, menyalami dengan dua tangan, mengucap belasungkawa dengan kalimat yang nyaris sama persis — "Sing sabar, Nduk. Mbah Surti wong apik." Yang sabar, Nduk. Mbah Surti orang baik. Tapi tak satu pun dari mereka menatap matanya lebih dari sedetik. Pandangan mereka selalu jatuh, atau melayang ke samping, ke arah kepalanya seakan ada sesuatu di belakangnya yang lebih layak dilihat.
Modin desa, seorang lelaki kurus berpeci putih, memimpin doa. Dan di sinilah Lana, yang dibesarkan jauh dari ritual semacam ini, mulai memperhatikan hal-hal yang ganjil.
Doa-doa itu dihitung. Bukan dengan tasbih biasa. Beberapa tetua di barisan depan menghitung dengan biji-bijian yang mereka jatuhkan satu per satu ke dalam mangkuk tanah — dan mereka menghitung ganjil. Tiga. Tujuh. Sembilan. Dua puluh satu. Selalu berhenti pada angka ganjil, selalu menambahkan satu hitungan ekstra di akhir yang diucapkan nyaris tanpa suara, seperti pungutan, seperti pajak yang dibayar pada sesuatu yang tak terlihat.
Lana melayangkan pandang ke seluruh desa dari titik tinggi pemakaman ini. Dari sini ia bisa melihat hampir seluruh Karangwungu terhampar di lembah: atap-atap genteng tua, sawah bertingkat, dan sumur-sumur — sumur batu yang tampak di sana-sini, masing-masing dikelilingi pagar bambu, masing-masing dengan timba dan kerekan. Tanpa sadar, otak arsiteknya mulai memetakan. Satu di utara dekat menara masjid. Satu di sini, di selatan, dekat kubur. Satu di timur, di pinggir petak sawah. Satu di barat, menempel ke tepi hutan pinus. Satu di tengah, dekat bangunan balai desa. Dan satu lagi, jernih, dekat genangan mata air yang memantul seperti kaca.
Enam.
Dan di ujung pandangannya, di luar lingkaran itu, di balik rumpun bambu kuning yang aneh di belakang joglo neneknya — ada sesuatu lagi. Sebuah lingkaran tanah yang lebih gelap. Tapi tak ada timba di sana. Tak ada kerekan. Tak ada pagar bambu hijau, hanya bambu kuning, dan tak ada satu pun warga yang berjalan ke arahnya, walau itu jarak terdekat dari pemakaman ke joglo.
Tujuh.
Lana hampir membuka mulut, hampir bertanya pada perempuan paruh baya di sebelahnya — "Itu sumur juga, ya, Bu? Yang di belakang rumah—" — tapi sesuatu menahannya. Cara perempuan-perempuan itu menghitung tadi. Tujuh adalah angka yang tak mereka sebut. Mereka menghitung ganjil, tapi melompati tujuh.
Pemakaman selesai. Tanah ditutup. Dan setelahnya, di pelataran rumah duka — joglo Mbah Surti sendiri — digelar tahlil.
Lana duduk di sudut, mati rasa oleh lelah dan oleh tatapan-tatapan yang menempel di kulitnya. Para perempuan tua berbaris di tikar, mengaji, suara mereka naik-turun seperti gelombang. Asap kemenyan mengepul dari tungku tanah di tengah, baunya manis dan tua dan masuk ke paru-paru Lana sampai ia merasa pening.
Lalu ia merasakannya. Satu tatapan yang berbeda dari yang lain. Bukan menghindar. Menempel.
Ia menoleh. Di barisan paling belakang para perempuan, seorang nenek duduk membungkuk, kulitnya seperti kertas tua yang diremas, matanya keruh oleh katarak — tapi kedua mata keruh itu lurus menatap Lana, tak berkedip, sementara bibirnya yang tak bergigi bergerak-gerak di sela bacaan tahlil, mengucapkan sesuatu yang bukan doa.
Lana memaksa diri tersenyum sopan. Nenek itu tak balas tersenyum. Bibirnya terus bergerak, dan Lana, entah karena keheningan sela tahlil atau karena sesuatu yang membuat suara itu menembus segala suara lain, mendengarnya dengan jelas. Bahasa Jawa halus, parau, basah seperti diucapkan dari dalam air:
"Akhire... sing kapitu mulih."
Akhirnya. Yang ketujuh pulang.
Lana membeku. Darahnya terasa surut dari wajahnya. Yang ketujuh. Kata yang sama yang diucapkan tukang ojek kemarin — kamu yang ditunggu. Yang ketujuh.
Ia mau bangkit, mau mendekat, mau bertanya apa maksudnya — tapi seorang perempuan setengah baya tiba-tiba menyelip di antara mereka, merangkul bahu nenek tua itu dengan lembut tapi tegas, membisikkan sesuatu, dan menuntunnya berdiri, membawanya menjauh keluar dari pelataran. Sebelum ditarik pergi, kepala nenek itu menoleh sekali lagi ke arah Lana, mata keruh itu, bibir bergerak sekali lagi tanpa suara.
Dan Lana, yang sepanjang hidup percaya pada apa yang bisa diukur, untuk pertama kalinya merasakan tanah di bawah kakinya — tanah desa ini, tanah leluhurnya — tidak sepenuhnya padat. Seolah di bawahnya, jauh di bawah, ada rongga. Ada air. Ada sesuatu yang menampung. Dan sesuatu itu baru saja, lewat mulut seorang nenek buta, mengucapkan selamat datang.