Studio itu bernama Garasi Suara, dan Arka tertawa kecil saat membaca papan namanya, karena dunia kadang lucu seperti itu. Tempatnya di basement sebuah ruko, kedap suara dengan busa telur murah di dinding, tapi punya satu hal yang tidak mereka miliki: peralatan rekam yang benar.
Mereka menyewanya empat jam. Empat jam, hasil patungan dari toples kafe selama sebulan, ditambah sisa uang jajan dan—Arka tidak bilang ke yang lain—upah Arka membantu di bengkel tetangga dua hari Minggu berturut-turut.
"Empat jam," kata Mas Bagas, operator studio sekaligus pemiliknya, melihat jam dinding. "Mahasiswa, ya? Saya kasih harga mahasiswa. Tapi jam tetep jam. Lewat satu menit, ngitungnya satu jam lagi. Saya nggak mau jahat, tapi ini usaha."
Empat jam terasa banyak sampai mereka mulai. Lalu waktu berubah jadi musuh.
Mereka memutuskan merekam satu lagu: Tangan Kasar. Lagu paling penting, lagu yang Reza bilang emas. Tapi merekam dengan benar berarti merekam tiap alat terpisah—drum dulu, lalu bass, lalu keyboard, lalu gitar, lalu vokal di paling akhir, satu demi satu menumpuk di atas yang lain.
Bima yang pertama. Dan di sinilah idealisme bertabrakan dengan keterbatasan jam. Take pertama, Bima salah di bridge. Take kedua, timing-nya lari di awal. Take ketiga bagus, tapi Senja bilang ada satu ketukan yang kurang pas.
"Ini udah bagus kok," kata Bima, keringatan, melirik jam. "Empat puluh menit cuma buat drum, Sen."
"Tapi belum yang terbaik," kata Senja.
"Yang terbaik itu nggak ada," potong Damar, pelan tapi tegas. "Yang ada cuma yang cukup baik dalam empat jam. Kita nggak punya mewahnya sempurna."
Kalimat itu menggantung. Senja diam. Arka melihat perang kecil di matanya—antara musisi yang mau setiap not pas, dan kenyataan bahwa setiap menit adalah uang yang tidak mereka punya. Akhirnya Senja mengangguk. "Take ketiga," katanya. "Pakai itu."
Begitulah mereka belajar pelajaran pahit rekaman pertama yang benar: kadang yang masuk ke pita bukan versi terbaikmu, tapi versi terbaik yang sempat. Bass Damar masuk di jam kedua, mulus karena Damar memang paling tenang di tekanan. Keyboard Senja lebih lama, ia ingin lapisan piano di akhir terdengar persis seperti di kepalanya, dan Mas Bagas dua kali mengetuk kaca, menunjuk jam.
Tinggal empat puluh menit saat giliran vokal Arka.
Ia masuk ke bilik kecil itu, headphone menempel di telinga, lirik yang sudah ia hafal di luar kepala terpampang di layar. Tapi begitu musik mengalir di telinganya dan ia membuka mulut, sesuatu menahannya. Take pertama, suaranya kaku, terlalu hati-hati, seperti orang yang takut salah.
"Ka," suara Mas Bagas dari luar, lewat interkom. "Bagus, tapi datar. Lu nyanyiin lirik, bukan ngerasain."
Tiga puluh menit. Arka memejamkan mata. Ia tidak lagi membaca layar. Ia memikirkan ayahnya di ranjang rumah sakit, memikirkan pesan suruh Arka nyanyi, memikirkan tangan kapalan yang menambal atap garasi diam-diam. Ia membuka mulut lagi, dan kali ini ia tidak menyanyikan lirik. Ia menyanyikan ayahnya.
Di luar bilik, ketiga temannya diam. Senja menutup mulut dengan tangan, gestur yang sama seperti pertama kali ia mendengar lagu itu di garasi. Mas Bagas yang sudah mengetuk kaca berkali-kali kini berhenti, hanya menatap layar, membiarkan rekaman jalan.
Take itu selesai tepat saat jam menunjuk batas. Hening.
"Itu," kata Mas Bagas pelan, melepas headphone-nya, "yang saya cari." Ia menoleh ke mereka. "Lewat dua menit. Tapi yang ini—gratis dua menitnya. Saya nggak tega ngitung."
Mereka keluar dari basement itu membawa satu file di flash disk butut. Satu lagu. Belum sempurna—ada drum yang sebenarnya bisa lebih rapi, ada keyboard yang Senja masih kurang puas. Tapi nyata. Untuk pertama kalinya, suara mereka tidak lenyap setelah dimainkan; ia tersimpan, bisa diputar ulang, bisa didengar orang yang tidak ada di garasi.
Di parkiran, Senja memutarnya dari ponsel. Suara mereka, dari speaker kecil yang pecah, mengisi udara malam. Mereka mendengarkannya sampai habis, empat orang berdiri mengelilingi satu ponsel, dan tidak ada yang bicara sampai lagu selesai.
"Kita punya rekaman," bisik Bima, seolah belum percaya.
"Kita punya rekaman," ulang Arka. Dan ia memikirkan ayahnya, yang akan bisa mendengar lagu itu kapan pun ia mau, dengan suara yang jauh lebih jernih daripada video buram di grup warga yang dulu memulai segalanya.