Pesan dari Arunika Records akhirnya membalas, dan isinya membuat mereka sekaligus girang dan bingung: tim label ingin mendengar materi rekaman band, bukan cuma video manggung. "Kirim demo aja dulu," begitu bunyinya. "Dua tiga lagu yang menurut kalian paling kalian banget."
"Demo?" Bima mengernyit di garasi sore itu. "Kita kan nggak punya alat rekaman."
"Nggak harus studio," kata Senja. "Demo itu rekaman mentah. Yang penting kedengeran lagunya, aransemennya, suara Arka. Banyak band rekam demo pakai HP doang."
Karena garasi punya gema yang aneh—suara memantul dari seng dan tembok semen—mereka memutuskan rekaman di kamar. Tapi kamar siapa? Kamar Arka berbagi dengan Lala dan tipis dindingnya. Kamar Bima dempet dengan dapur. Akhirnya pilihan jatuh ke kamar Damar, yang paling jauh dari jalan dan paling sepi.
Sore itu mereka berdesakan di kamar Damar yang sempit. Mereka menumpuk bantal dan selimut di dinding untuk meredam pantulan suara—trik yang dibaca Senja entah di mana. Bima tidak bisa membawa drum lengkap, jadi ia membawa cajon pinjaman dan menabuhnya dengan tangan. Damar memetik bass tanpa amplifier, hanya colok ke ponsel lewat aplikasi. Senja membawa keyboard kecil. Dan Arka, dengan gitar tua ayahnya, duduk di tengah, di depan satu ponsel yang disandarkan ke tumpukan buku.
"Take satu," kata Damar, menekan tombol rekam. "Gang Sempit. Jalan."
Mereka memainkannya. Setengah jalan, terdengar suara motor lewat di luar, menderu masuk ke rekaman.
"Stop," kata Senja. "Ada motor."
Take dua: Bima salah masuk. Take tiga: senar gitar Arka berbunyi sumbang karena kepanasan di kamar. Take empat: ibu Damar mengetuk pintu menanyakan apakah mereka mau minum, dan suaranya terekam jelas, "Mas, ini ada teh." Bima ngakak sampai guling-guling, dan take itu bubar.
"Susah juga ya," kata Bima, mengelap keringat. Kamar itu pengap, empat orang berdesakan, AC tidak ada, hanya kipas angin yang justru harus dimatikan saat rekam karena berisik.
"Makanya orang bikin studio," kata Damar sambil tertawa. "Bukan tanpa alasan."
Tapi mereka tidak menyerah. Mereka belajar pelan-pelan. Belajar bahwa diam itu mahal—setiap suara kecil tertangkap. Belajar bahwa tempo harus dijaga ketat karena tidak ada yang bisa menutupi kesalahan nanti. Belajar bahwa suara Arka yang penuh emosi justru paling sulit direkam, karena setiap kali ia menyanyi dengan jujur, ada yang bergetar dan kadang pecah, dan ponsel murah itu menangkap pecahannya tanpa ampun.
Menjelang maghrib, mereka punya satu take Gang Sempit yang utuh. Tidak sempurna—ada noise samar, ada nada yang sedikit goyang—tapi utuh. Lalu mereka rekam Lampu Jalan. Lalu, setelah ragu sebentar, Arka berkata, "Tangan Kasar juga."
Garasi—maksudnya kamar—itu hening. Lagu untuk ayah. Lagu yang dulu hampir membubarkan keluarganya, lalu menyatukannya kembali. Lagu yang ayahnya, kini terbaring lemah di rumah tak jauh dari situ, dengarkan tiap malam dari video buram.
"Yakin, Ka?" tanya Senja pelan.
Arka mengangguk. "Itu lagu kita yang paling kita banget. Mereka mintanya itu, kan."
Mereka merekamnya sekali, lalu sekali lagi. Take kedua, suara Arka di bagian akhir nyaris patah, persis seperti hari di festival, dan tidak ada yang berani bilang ulang. Mereka membiarkannya begitu. Kadang yang nyaris patah justru yang paling utuh.
Malam itu, di rumah, Arka mendengarkan hasil rekaman lewat earphone retak, berulang-ulang. Suaranya jelek di banyak tempat. Tapi ada sesuatu di sana, di antara noise dan nada goyang, yang nyata. Dari kamar sebelah, ia mendengar batuk ayahnya, lalu suara ibunya menyuruh ayahnya minum obat.
Ia mengetik pesan ke grup.
Arka: Besok kita pilih take terbaik, terus kirim ke Arunika.
Bima: SIAPPP. Gokil sih kita rekaman di kamar. Sumpah deh kalo kita gede nanti, gue ceritain ini.
Damar: Pelan-pelan, Bim.
Senja: Bagus kok, Ka. Suara kamu bagus.
Arka menatap layar lama. Lalu ia menulis, menghapus, dan akhirnya hanya mengirim: makasih, guys. Ia meletakkan ponsel, mematikan lampu, dan dalam gelap, suara batuk ayahnya menjadi metronom baru yang menemaninya tidur.