Ayahnya terlihat lebih kecil di ranjang itu.
Itu hal pertama yang Arka rasakan saat melangkah masuk. Lelaki yang ia kenal selalu kokoh, yang punggungnya menyangga karung-karung semen, yang tangannya kapalan oleh bertahun-tahun kerja, kini terbaring di antara seprai putih dengan selang infus di punggung tangan dan kabel-kabel kecil yang menempel di dadanya, terhubung ke mesin yang menggambar garis hijau naik turun. Wajahnya pucat. Tapi matanya terbuka, dan begitu melihat Arka, sudut bibirnya bergerak.
"Ka," katanya. Suaranya serak, lemah, tapi itu suara ayahnya. "Kamu di sini."
Arka mendekat, menarik kursi plastik ke sisi ranjang, duduk. Ia ingin marah—kenapa Ayah nyuruh aku nyanyi padahal Ayah begini—dan ingin menangis dan ingin memeluk lelaki itu sekaligus, tapi yang keluar hanya, "Ayah kenapa nggak bilang? Aku bisa langsung ke sini."
Ayahnya menggeleng pelan di atas bantal. "Justru itu Ayah nggak mau kamu bilang. Kamu udah kerja keras berminggu-minggu buat panggung itu. Masa gara-gara Ayah, semuanya batal." Ia berhenti, menarik napas yang terdengar berat. "Kamu jadi nyanyi?"
"Jadi, Yah."
Sesuatu menyala di mata lelaki itu. "Gimana? Gimana panggungnya?"
Arka menelan sesuatu di tenggorokannya. "Rame, Yah. Ribuan orang. Panggungnya gede banget." Ia berusaha tersenyum. "Kita bawain empat lagu. Yang terakhir... Tangan Kasar."
Mata ayahnya berkaca. Ia mengangkat tangannya yang berselang infus, dengan susah payah, dan Arka menyambutnya, menggenggamnya. Tangan itu masih kasar. Masih sama. Tapi sekarang ada plester dan jarum di punggungnya.
"Maaf Ayah nggak bisa nonton," bisik lelaki itu. "Ayah udah pakai baju paling bagus tadi pagi. Mau berangkat. Tinggal pakai sepatu." Ia menutup mata sebentar. "Terus tiba-tiba semuanya gelap."
"Nggak apa-apa, Yah. Yang penting Ayah sekarang—"
Ponsel di saku Arka bergetar. Ia mengabaikannya. Bergetar lagi. Ia ingin mematikannya, tapi melihat nama di layar, ia ragu. Damar.
"Angkat aja," kata ayahnya, mata masih terpejam. "Mungkin teman kamu."
Arka menjawab, menempelkan ponsel ke telinga. "Mar."
Suara Damar terdengar tegang, latar belakang riuh, masih dari alun-alun. "Ka! Lu gimana? Ayah lu gimana?"
"Udah sadar. Masih lemah, tapi sadar." Arka menatap wajah ayahnya. "Lagi diperiksa jantungnya."
"Syukurlah—syukurlah, Ka." Damar menghela napas lega yang terdengar jelas. Lalu nadanya berubah, ragu. "Ka, ini... gue nggak tahu timing-nya pas atau nggak. Tapi pengumuman juri udah keluar barusan."
Arka terdiam. Di telepon, ia bisa mendengar suara MC menggema, suara kerumunan, dunia yang baru beberapa jam lalu adalah seluruh hidupnya.
"Kita nggak juara satu," kata Damar. "Juara satunya band dari kota sebelah, yang udah sering manggung itu. Tapi—" ia berhenti, dan Arka mendengar Bima berteriak sesuatu di latar belakang, "—Ka, kita dapet. Kita masuk. Penghargaan khusus juri. Best Original Song. Buat Tangan Kasar."
Arka menutup mulutnya dengan tangan yang bebas.
"Juri yang ngomong langsung di panggung," lanjut Damar, suaranya bergetar antara haru dan tidak percaya. "Dia bilang lagunya jujur. Dia bilang itu lagu yang paling bikin dia inget kenapa dia masuk dunia musik. Ka, dia nyebut nama band kita di depan ribuan orang. Senja Terakhir. Best Original Song. Dan lu nggak ada di sana pas namanya dipanggil."
Arka tidak bisa bicara. Air matanya jatuh, dan ia tidak tahu itu air mata apa—bangga, sedih, sesal karena tidak ada di panggung saat itu, atau lega karena tidak ada di panggung saat itu karena ia ada di sini, di sisi ranjang ini.
"Ka? Lu masih di sana?"
"Masih, Mar." Suaranya pecah. "Makasih. Makasih udah... udah jagain."
Ia menurunkan ponsel sedikit, dan menatap ayahnya. Lelaki itu memandanginya, menunggu.
"Yah," kata Arka pelan. "Lagu Ayah... Tangan Kasar... dapet penghargaan. Best Original Song. Dari juri label."
Untuk sesaat ayahnya tidak bergerak. Lalu wajah lelaki itu meremuk perlahan—bukan kesakitan, tapi sesuatu yang lain, sesuatu yang Arka belum pernah lihat di wajah ayahnya. Air mata mengalir ke pelipisnya, ke bantal putih.
"Lagu yang Ayah dengerin tiap malam itu," bisik ayahnya, "menang?"
"Bukan menang juara satu, Yah. Tapi—"
"Itu menang, Ka." Tangan ayahnya menggenggam tangannya lebih erat dari yang Arka kira sanggup. "Buat Ayah, itu menang."