Dan di sinilah Zevanya berada sekarang.
Route Cafe.
Bersama dengan Ganendra Widiatama, mantan lelaki yang dulu mengejar salah satu sahabatnya, Zeva duduk saling berhadapan.
Tak lupa, dua cangkir latte berbeda varian telah disajikan sebagai pemanis obrolan.
Seulas senyum terbit di bibir Zeva, "Long time no see, Gane."
"Sepertinya, banyak perubahan dari penampilanmu sejak terakhir kali di Jakarta."
Dengan raut datar, pria berjas abu berambut klimis itu bersuara, "Saya tidak tahu kalau kau juga berada di sini."
"Sama seperti pendapatmu, kau juga berubah banyak. Zevanya yang saya ketahui dulu, dia cenderung tomboy dan tidak fashionable."
Gadis bercoat jacket nude itu tertawa renyah mendengar komentar menggelitik dari Ganendra. Ternyata, pria berwajah datar ini juga bisa melawak.
Tangan Zeva menyeka sudut matanya yang berair saking gelinya, "Lo masih inget aja."
"Namanya juga cewek. Ada masa di mana dia sadar kalau dandan dan keahlian fashion sangat diperlukan."
Alis Gane terangkat sebelah, "Maksudmu?"
Zeva melambaikan telapak tangan, "Lupakan."
"Lo sendiri gimana kabarnya? Gue malah nggak ngeuh pas lo pamit pergi lima tahun yang lalu."
Kepala Gane mengangguk singkat, "Saat itu memang saya terburu-buru. Ada projek besar menanti di Amsterdam."
"Dan memang, saya lebih dahulu. Justru, saya yang lebih tidak tahu kalau kau ikut pindah ke Amsterdam," sindir Gane halus.
Bukannya tersinggung karena diklaim mengikuti apa yang sudah lebih dahulu dilakukan Gane, Zeva malah tersenyum enteng.
Gadis cantik itu mengaduk coffee latte-nya dengan pelan, "Gue rasa semua orang berhak pergi ke mana aja deh."
"Mungkin destinasinya sama, tapi kan tetap aja tujuannya berbeda."
Lantas, pandangan Zeva beralih pada wajah lelaki tampan itu, "Lo sendiri gimana?"
"Pasti punya alasan khusus menetap di Amstedam kan?"
Zeva memiringkan kepalanya sambil menyeringai, "Jangan-jangan, ini salah satu usaha lo untuk move on dari sahabat gue ya?"
Tawa sinis dilempar, "Itu sangat tidak masuk akal!"
"Saya bukan anak-anak yang akan kabur ketika ada masalah! Kau pasti tahu betul jika saya sudah mengikhlaskan Viola Queen dengan pria pilihannya!"
Bibir Zeva berkedut menahan tawa, "Ya elah, Gane. Gitu aja sensitif amat."
"Santai aja kali. Lagian nggak mungkin lah cowok setajir lo patah hatinya sampai kabur ke negara orang segala kan? Kayak kurang kerjaan aja!"
Dari makna kalimatnya, Ganendra tahu betul jika gadis yang dulu dikenalnya bar-bar juga bermulut pedas ini sedang menyindir kisah asmaranya yang tidak pernah beruntung.
Selalu kandas di tengah jalan.
Meski begitu, Gane tetap berusaha bersikap tenang. Dia tidak terpengaruh atau tak akan peduli lagi dengan celotehan Zeva yang semakin berani.
Kedua tangan Gane bersidekap dengan pandangan lurus ke depan, "Lalu bagaimana denganmu?"
"Apa kau masih betah sendiri? Saya bahkan curiga kalau kau tidak tertarik pada lelaki. Apalagi mengingat karaktermu yang tomboy dan tidak bisa diatur!"
Refleks, bola mata gadis itu mendelik tak terima. Dari semua macam omongan miring yang pernah didengarnya, entah kenapa ucapan Gane ini terdengar sangat menjengkelkan!
Zeva menggebrak meja, "Heh! Sembarangan aja lo ya!"
"Lo cewek apa cowok sih?! Lemes banget mulutnya! Urus aja hidup lo sendiri! Mentang-mentang kaya, seenaknya aja kalau ngomong!" sungutnya menggebu-gebu.
Samar-samar, sudut bibir Gane tertarik ke atas. Inilah karakter asli Zevanya yang ia kenal dari salah satu orang di masa lalunya. Gadis bar-bar dengan mulut mercon andalannya.
"Jika tidak ingin dilempar batu oleh seseorang, maka jangan pernah coba-coba melakukannya. Saya hanya mengikuti alur permainanmu, tapi kau justru yang meledak-ledak."
Zeva menggeram tertahan. Telapak tangannya sudah mengepal di bawah meja. Kalau saja ini bukan di cafe mewah, bisa dipastikan satu tonjokan singgah di wajah tampan itu.
"Pantesan aja Viola ogah sama lo! Ternyata begini sifat asli lo sebenarnya! Kasar, suka merendahkan wanita, dan sok berkuasa!"
Mendengar nama wanita yang dulu pernah singgah dihatinya disebut, Gane menyorot Zeva tajam. Lebih menghunus dari sebelumnya.
"Tidak perlu bawa-bawa Queen dalam perbincangan kita, Zevanya!"
Bukannya takut, Zeva justru mendongakkan dagu, "Kenapa memangnya?"
"Lo masih berharap sama dia? Hello! Ini udah lima tahun, Bro! Viola juga udah punya twins baby! Move on woy! Move on!"
Lagi-lagi Zeva mampu memancing emosi pria berhati dingin itu. Tidak hanya dari sikapnya yang sangat minus etika, tapi juga ucapan yang kelewat batas.
Rahang Gane mengeras, "Saya tidak butuh nasihatmu!"
"Dan satu hal lagi, move on tidak semudah yang kau katakan! Oh saya baru ingat! Kau tidak mungkin bisa merasakan apa yang sudah saya alami. Karena kau, tidak memiliki hati nurani!"
Seperdetik kemudian, satu tamparan keras mampir di pipi mulus Ganendra Widiatama. Dengan napas terengah-engah, Zeva meluapkan murkanya.
"JAGA BICARA LO! GUE NGGAK SEBURUK YANG LO PIKIRKAN! DAN APA LO BILANG TADI? NGGAK PUNYA HATI? GUE BAHKAN BARU SAJA NGRASAIN PATAH HATI! GUE DISELINGKUHI SAMA CALON TUNANGAN SENDIRI! PUAS LO HAH?!"
Seketika, Gane terdiam membisu. Bola mata hitam legamnya menyorot wajah memerah milik Zeva.
Tanpa disadari, apa yang dilontarkan oleh Zeva telah berhasil menyibak isi hati gadis bar-bar itu yang kelabu bagai mendung tanpa hujan.
Zeva yang tengah berusaha meredam amarahnya pun turut mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia baru sadar jika apa yang terjadi adalah boomerang untuknya sendiri.
''Arrghh! Bodoh! Bisa-bisanya gue bisa kecolongan curhat sama cowok triplek ini sih?!'
"Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi," ucap Gane tiba-tiba memecah keheningan.
Lelaki dengan setelan jas abu formal itu menegakkan punggungnya. Sorot mata Gane yang lurus menubruk manik hazel Zeva.
"Setiap orang memiliki problematika yang berbeda-beda. Baik itu urusan pekerjaan, keluarga, atau cinta. Dan untuk kasusmu, tidak usah diambil pusing. Toh, saya tidak peduli."
Hembusan napas lega menguar, "Syukurlah."
"Gue pikir, mulut lo bakal lemes. Awas aja lo ya kalau sampai ada yang tahu!"
Sebelah alis Gane terangkat dan entah kenapa itu terlihat sangat menyebalkan di mana Zevanya, "Lalu?"
"Siapa yang akan peduli dengan kisah mirismu itu?"
Kontan saja, Zeva menggebrak meja di hadapannya dengan cukup keras, "Heh! Gini-gini gue terkenal tahu!"
"Coba aja lo tanya sama orang-orang di se-antero Amsterdam ini, tahu nggak sama Asmara? Pasti mereka tahu siapa orangnya!"
Kening Gane seketika menyerngit dalam, "Asmara? Si penulis novel romance itu?"
Mendapat respon yang sudah ada di dalam dugaannnya, air muka Zeva seketika berubah sumringah. Senyum secerah mentari menghiasi wajahnya.
"Nah kan! Lo aja tahu soal Asmara. And now, lo lagi berhadapan langsung sama orangnya yang asli."
Zeva merentangkan tangannya dengan raut gembira, "Gue adalah Asmara, penulis novel My Love from Amsterdam yang sekarang lagi diangkat jadi film layar lebar."
Sontak saja, Gane melebarkan kelopak matanya. Sebuah kejutan tak terduga yang lebih mirip kabar buruk ini jelas tidak bisa dipercaya.
Bagaimana mungkin gadis bar-bar bermulut pedas inilah yang ternyata berada di balik deretan novel romansa indah milik Asmara?
Mustahil!
Zeva pasti berhalusinasi!
"Jangan sekali-kali kamu mengaku sebagai orang lain, Zevanya! Tindakan ini merupakan pelanggaran yang bisa diseret ke ranah hukum!"
Tawa renyah meluncur begitu saja dari mulut Zevanya, "Ya Ampun, Gane. Siapa juga yang ngaku-ngaku sih?"
"Gue emang Asmara. Kalau nggak percaya, nih buktinya!"
Tangan kanan Zeva menunjukkan tiket ekslusif yang diberikan Mr. Lewkeys. Tak sampai di sana, Zeva menyingkap syal berbulu yang menutupi leher jenjangnya. Barulah, kalung emas berbandul tulisan latin 'Asmara' nampak di depan mata.
"Lo lihat kan? Faktanya, gue memang Asmara!"
Senyum di bibir Zeva kian melebar pasca melihat raut wajah Gane berubah kecut.
Sepertinya, pria itu benar-benar kalah telak!
"Harusnya lo bersyukur bisa makan siang sama penulis novel My Love from Amsterdam langsung. Oh atau, mau minta tanda tangan sekalian?"
Melihat kadar kesombongan Zeva yang melejit hebat, Gane mendesis tertahan. Selama ini, tidak ada wanita yang berani menguji emosinya.
Justru sebaliknya, mereka justru berlomba-lomba membuat dirinya bahagia dan merasa tersanjung.
Namun sekarang, gadis bar-bar itu berhasil menginjak-injak harga dirinya. Dan, Gane tidak akan tinggal diam begitu saja.
"Percuma kau berdiri di bawah nama Asmara yang terkenal jika ternyata kisah novel buatanmu itu menyimpan fakta tragis!"
Kedua tangan Gane bersidekap tak kalah angkuh, "Setahu saya, kisah My Love from Amsterdam adalah romansa yang indah."
"Tapi bukankah kau bilang jika baru saja patah hati dan diselingkuhi calon tunanganmu?"
Smirk miring terbit di bibir Gane, "Kira-kira, bagaimana pendapat mereka jika mengetahui kisah yang sebenarnya?"
"Mungkinkah reputasimu akan tetap sebaik sekarang? Atau justru, sebaliknya hm?"
Raut wajah Zeva seketika berubah. Kebanggaan yang berkobar di dalam jiwa lenyap dalam hitungan beberapa detik saja. Tergantikan dengan ekspresi pias yang begitu ketara.
"L-lo ..."
Gane tertawa remeh, "Di mana keberanianmu yang tadi, Nona Asmara?"
"Saya punya rekan bisnis di dunia penyiaran. Saya rasa, ini berita yang sangat menarik untuk diangkat ke publik."
Tidak.
Zeva tidak rela jika karirnya hancur hanya karena reputasi nama baiknya tercoreng!
Susah payah Zeva melalui perjuangan yang menguras waktu, tenaga, dan pikiran. Demi sebuah karya yang luar biasa, Zeva rela lakukan usaha sekeras apa pun.
Kepala Zeva menggeleng cepat, "Nggak!"
"Lo nggak boleh macem-macem sama gue! Jangan rusak karir gue!"
Dengan air muka memelas, Zeva mengatupkan kedua tangannya di depan d**a, "Gue minta maaf, Gane."
"Gue tahu lo bisa melakukan segalanya, tapi please ... jangan hancurkan mimpi gue."
Melihat ketidakberdayaan Zevanya, senyum penuh kemenangan tercetak jelas di wajah angkuh seorang Ganendra Widiatama.
"Tenang saja. Karirmu akan aman, asal kau bersedia menerima tawaran menarik dari saya."
Senyum miring terukir di bibir Gane, "Bagaimana?"
"Kau setuju, Nona Asmara?"