"Ini satu tiket ekslusif untukmu. Kamu bebas ajak siapa saja melihat film perdana-mu launching."
Bagai sinar mentari yang berkilau indah, bola mata hazel milik Zevanya berbinar terang.
Setelah pergulatan revisi dan berbagai macam rintangan yang ada, akhirnya salah satu novel karyanya benar-benar diadopsi menjadi sebuah film layar lebar.
Suatu kebanggaan yang besar bagi Zevanya. Dia tidak menyangka jika di penghujung tahun ini, ada berkat yang menyertainya.
Dengan lengkungan sabit yang terpatri di wajahnya, Zevanya berjabat tangan dengan Mr. Lewkeys, sang sutradara yang berbaik hati padanya.
"Terima kasih banyak atas kerja samanya selama ini Mr. Lew. Saya sungguh bahagia!"
Lelaki berusia hampir setengah abad itu balas tersenyum, "Sama-sama, Asmara."
"Kalau begitu, saya pamit. Pastikan besok kamu datang bersama orang yang spesial."
Kepala Zevanya mengangguk antusias. Tidak sabar menunggu hari esok yang entah kenapa terasa sangat lama.
Sepeninggal Mr. Lewkeys, netra hazel itu kembali menyorot spanduk besar yang berada di center bioskop teather room ini.
My Love from Amsterdam.
Zevanya tersenyum bangga. Kisah cintanya dengan sang kekasih, Steve Willden, mampu menghipnotis atensi banyak orang.
Dan luar biasanya lagi, kini novel romance karyanya dapat disaksikan khalayak luas dalam seri film layar lebar.
Meski harus memasang nama pena sebagai sosok Asmara, hati Zeva tetap dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran.
Setidaknya, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.
"Aku harus segera ke rumahnya Steve! Dia pasti sangat bahagia mendengar kabar mengejutkan ini!"
***
Hampir empat puluh lima menit berlalu sudah. Perjalanan dari pusat kota Amsterdam menuju ke Orthenseweg terasa berbeda kali ini.
Jika biasanya Steve yang menghampiri, tapi berhubung hati Zeva tengah berbunga-bunga maka biarlah dia yang langsung datang ke apartment sang kekasih.
Kepala Zeva mendongak. Menatap gedung bertingkat dua puluh lima ini dengan decak kagum.
"Kalau tinggal di apart mewah kayak gini, gaji gue nyukup nggak ya?" pikir Zeva sambil geleng-geleng kepala.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Zeva mulai melangkahkan kaki. Memasuki lobby apartment yang cukup luas nan mewah ini.
Seperti sudah hafal di luar kepala, ayunan langkah Zeva tertuju pada lift di ujung ruangan.
Memasuki bilik aluminium itu, jemari Zeva dengan cekatan menekan angka dua belas di tombol lift tersebut.
"Lantai dua belas, nomor delapan."
Lantas, Zeva bersandar di sisi kiri lift. Menunggu hingga pintu bilik aluminium ini terbuka lebar di tempat yang Zeva inginkan.
Begitu bunyi 'klik' terdengar, Zeva langsung melangkah keluar. Arah pandangnya tertuju pada deretan pintu unit apartment di lorong lantai dua belas ini.
"Nomor delapan ... Nomor delapan ..."
Gumaman kecil itu keluar dari mulut Zevanya. Takut kalau salah masuk, netra hazelnya kembali memastikan angka yang tertulis di depan pintu cokelat ini.
"Bener kok. Ini unit-nya Steve," ucap Zeva sangat yakin.
Walau sudah tahu password unit apartment kekasihnya, Zeva tetap tak mau menggunakan privillage itu.
Seperti tamu pada umumnya, etika Zeva bergerak cepat tuk menekan bel di sebelah kanan pintu.
Awalnya, tak ada sahutan yang dapat Zeva dengar. Mencoba tetap berpikir positif, Zeva tekan kembali bel hingga sebanyak tiga kali.
Namun sayang, hening tetap menyelimuti keadaan. Zeva yang berada di depan pintu pun hanya bisa mengerutkan keningnya, bingung sekaligus heran.
"Apa lagi di kamar mandi ya?" pikir Zeva.
Daripada merepotkan tuan rumah yang siapa tahu benar-benar ada di kamar mandi, Zeva pun memutuskan menunggu.
Saking baiknya, Zeva bahkan sampai tak sadar jika sepuluh menit telah berlalu. Dan selama itu pula, pintu masih setia tertutup rapat.
"Eh? Udah lama juga ternyata. Tapi kok, Steve nggak muncul-muncul ya?"
Pikiran Zeva mulai berkecamuk berbagai hal. Mungkinkah jika Steve sudah duluan pergi ke Amsterdam tuk menghampirinya seperti biasa?
Helaan napas panjang menguar. Kobaran api semangat di hatinya perlahan luntur.
"Kalau sampai beneran udah ke rumah, sia-sia gue ke sini dong."
Zeva menatap sayu tiket ekslusif yang sedari tadi berada di genggaman tangan kirinya.
"Terus ini gimana?"
Punggung Zeva bersandar pada tembok di sisi pintu cokelat ini. Sibuk memikirkan bagaimana yang harus ia lakukan.
Hingga, secercah ide cemerlang melesat di otak jeniusnya. Senyum manis mengembang sempurna di bibir Zeva.
"Great idea! Gue jamin ini akan jadi kejutan terindah buat Steve!"
Mengabaikan etika bertamu seperti yang awal Zeva tanamkan selalu, kini jemarinya bergerak lincah menekan deretan angka yang dijadikan Steve sebagai password unit apartment-nya.
Dan berhasil!
Pintu cokelat ini akhirnya terbuka juga. Semangat yang bercampur rasa tidak sabar mendomasi lubuk hati Zevanya.
"Let's make a surprise for him!"
Kedua kaki Zeva perlahan melangkah masuk ke dalam ruangan luas berdominasi maroon ini.
Eits! Jangan salah sangka lebih dahulu!
Sejak awal mengenal Steve hingga setahun berpacaran, Zeva hafal betul jika maroon adalah warna favorite sang kekasih.
Terbukti dari seluruh perabot yang ada di unit apartment ini tak luput dari nuansa membara, maroon.
Manik mata hazel itu mengedar sempurna. Ruang tamu dan meja makan jadi pemandangan pertama.
"Langsung trabas ke kamarnya aja kali ya?"
Zeva tak mau menyia-nyiakan waktu. Dia kontan pergi ke pintu bergorden maroon di sebelah ruang tamu.
Itu kamar Steve!
Ditariknya perlahan nan hati-hati knop pintu itu dengan tangan menggenggam tiket ekslusif tersebut. Dan di detik berikutnya, Zeva muncul dengan tangan direntangkan bahagia.
"KEJUT—ASTAGA, STEVE!!"
Zeva spontan membekap mulutnya tak percaya, "APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"
Sontak saja, aktivitas pergulatan panas dari pria dan wanita bertubuh elok tanpa sehelai benang pun terpaksa terhenti.
Sang pemimpin permainan itu buru-buru bangkit dari tubuh wanita di bawahnya. Membuat seorang wanita bertubuh polos di bawahnya melayangkan protesan manja.
"Ihh kok berhenti sih, Honey! Aku belum sampai tahu!"
Tanpa menggubris protesan dari wanita simpanannya, Steve segera menghampiri sang kekasih yang mematung shock dengan sorot penuh kekecewaan.
"Z-zeva ... I-ini ng-nggak seperti yang kamu pikirkan kok, Babe."
Tangan kanan Steve hendak meraih pipi Zeva, tapi dengan tangkasnya, gadis bercoat jacket nude itu menghindar.
"Omong kosong!" sentak Zeva dengan nada meninggi.
Kilat amarah di iris hazelnya begitu ketara. Rahang Zeva mengeras begitu kembali menyorot sosok wanita kurang belaian di atas ranjang kekasihnya itu.
"Jadi ini alasannya kenapa lo selalu datang duluan ke rumah gue? Karena ada simpanan lo di sini? Iya?!"
Zeva menunjuk seluruh sudut ruang kamar Steve yang penuh dengan barang-barang berwarna maroon yang cukup menarik atensi.
"Dan alasan di balik semua warna maroon di apart ini karena itu favorite cewek simpanan lo?! Karena ini tempat kalian beradu keringat?! Apa yang gue omongin benar kan?!"
Steve langsung kelabakan bukan main. Dia mencoba memutar otak, mencari alasan tuk membenarkan kesalahannya.
"K-kamu salah, Babe! Aku nggak mungkin tega berkhianat sama kamu. Aku cin-"
"CUKUP, STEVE!" bentak Zeva sambil mengacungkan telunjuknya.
Sorot mata hazel itu menggelap. Lava murka yang tak pernah diluapkan pun meledak begitu hatinya dihancurkan.
"GUE BERUSAHA KASIH KEPERCAYAAN KE LO, TAPI INI BALESANNYA HAH?!"
Steve menyugar rambutnya frustasi, "Babe, jangan salah sangka dulu!"
"Aku lakukan ini demi kamu. Aku nggak mau ngrusak kamu. Kalau kamu mau diajak main, aku nggak mungkin sewa cewek lain."
Dengan tatapan memohon, Steve memasang air muka memelas seperti orang yang belum makan ratusan tahun.
"Aku ini cowok, Babe. Aku butuh itu. Aku nggak sanggup kalau harus nunggu kita nikah."
Jari Steve menyentuh ulu hatinya, "Harusnya kamu berterima kasih sama aku."
"Karena tindakanku ini, aku nggak hancurkan masa depanmu. Kamu tetap menjadi gadis yang utuh."
Kontan saja, Zeva mendelik tajam. Apa Steve bilang tadi? Berterima kasih padanya?
Sudah jelas-jelas salah, tapi pria sialan ini masih berani membela diri?
Dan parahnya lagi, Steve justru berlagak playing victim demi mendapatkan belas kasihnya.
Ini benar-benar menjijikan!
"Setelah apa yang udah lo lakukan, lo masih nyalahin gue? Lo gila ya?!"
Steve mengerang tertahan, "Iya! Aku emang gila!"
"Aku gila karena cinta sama kamu! Aku rela sewa cewek lain supaya nggak hancurkan prinsipmu!"
Telapak tangan Zeva terkepal erat. Giginya bergemeletuk, menahan kesabaran yang benar-benar sudah di ambang batas.
Selama ini hanya ada cinta dan kasih yang Zeva berikan, tapi tidak lagi sekarang!
Zeva terlanjur muak dengan topeng munafik Steve!
"Gue nggak peduli! Mau sebanyak apa pun lo membenarkan tindakan busuk itu, gue nggak sudi meneruskan hubungan sialan ini! Kita putus!"
Dan di detik selanjutnya, dua tamparan keras mampir ke pipi kanan dan kiri Steve. Meninggalkan bekas kemerahan dan perih yang mulai menjalar.
"Itu tanda terima kasih gue atas kemunafikan lo selama ini, Cowok Sialan!"
Sebelum benar-benar pergi dari hadapan pria haus lubang itu, Zeva berdecih remeh.
"Ingat, Tuhan nggak pernah tidur! Cepat atau lambat, lo pasti akan dapat karmanya!"