“Sera ... Sebelumnya kami berdua minta maaf-“
“Cukup Mom,” potong Sera. Ia mengenggam kuat tangannya dan menyalurkan rasa perih di hatinya. “Cukup, Kalau emang hal itu benar, nggak usah jelaskan apapun ke aku.” Sera masih memandangi air laut yang luas itu tanpa melihat kedua orang tuanya yang sekarang sedang berada di belakangnya.
“Sera, dengarin penjelasan Mommy dulu,” Lucia masih memelas memohon kepada putri tunggalnya, ia meraih tangan Sera dan mengenggamnya. Sera yang merasakan perasaan tidak nyaman langsung melepaskan genggaman tangan Lucia tersebut.
Sera menahan air matanya, dadanya terasa sesak, matanya perih bukan main, kakinya lemas, tubuhnya mulai bergetar menahan rasa yang aneh pada dirinya. Ia sekarang benci dengan kedua orang yang sekarang seperti tidak dikenalinya, ia bahkan merasa asing dengan kedua orang yang di belakangnya dan tidak mengetahui mereka sebenarnya siapa.
“Sera, kamu tau ka-“ ucapan Felik dipotong cepat oleh Sera, “Biarkan aku pergi dulu.” Sera berlari dengan cepat meninggalkan kedua orang tuanya, ia bahkan tidak melirik keberadaan mereka berdua, hatinya terlalu sakit menerima kenyataan bahwa ia bukan merupakan anak kandung dari Lucia dan Felix. Dan bodohnya Sera baru mengetahui hal itu sekarang dari riwayat asli Mommy dan Daddynya. Sera baru mengetahui jika Mommynya ternyata mandul dan begitu juga dengan papanya yang tidak dapat bereproduksi karena sebuah kecelakaan.
Pahitnya lagi, Sera tidak pernah diberitahukan hal itu oleh kedua orang tuanya, bahkan ia harus mendengar semuanya dari orang lain. Sera sekarang mengendarai mobilnya pergi melaju menjauh dari manapun, ia hanya menjalankan mobilnya pada jalanan aspal yang dikelilingi hutan-hutan, ia berbelok ke sembarangan arah tanpa melihat tujuan dan menangis sejadi-jadinya.
Ya, Sera tau apa yang ia lakukan sekarang sangat egois, itulah dirinya. Sifat egois yang tidak pernah dikeluarkannya sekarang semuanya lepas tidak terkendali. Sera menyetir dengan pandangan penuh air mata, ia hanya melihat jalanan buram, dan untungnya saja mobil yang dipakainya dapat menghindarkan kemungkinan kecelakaan.
“Gue bukan tidak menerima semuanya, hanya saja rasanya ini terlalu aneh. Bagaimana mungkin kita yang memiliki banyak persamaan ternyata tidak sedarah sama sekali?” Sera menggelengkan kuat kepalanya, ia tidak mengerti dengan keadaan yang sekarang menimpanya, terlalu sulit untuk dipikirkan dengan kata-kata.
***
“Jadi? Lo minta pendapat dan saran gue?” Zadith bertanya kepada Sera yang sekarang menutup mukanya dengan bantal. “Iya, kayaknya gue terlalu egois. Apa gue balik lagi aja ya?” gumam Sera tidak terlalu jelas karena mukanya ditutupi bantal.
“Lo berhak marah,” ujar Zadith. Sera melirik Zadith dengan mata sembapnya, “Tapi bukan menjadi orang yang egois seperti ini,” lanjut Zadith yang membuat Sera kembali membenamkan wajahnya pada bantal dengan posisi mendekap kakinya.
“Iya deh iya, gue salah. Gue yakin ini sugesti dan rasa egois doang, sebenarnya gue nggak benar-benar peduli mereka siapa, tetapi tetap aja rasanya menjadi asing karena gue tau realita aslinya. Lo sering hadapin hal sejenis ini kan?” Sera bertanya di akhir kalimatnya yang membuat Zadith tersenyum tipis, “Ya, begitulah. Lo pasti tau sendiri bagaimana keluarga kerajaan bukan? Orang tua gue tidak punya waktu untuk bermain bersama gue, bahkan hanya sekedar menyapa. Mereka terlalu sibuk mengurus semuanya dan gue tau itu untuk rakyat, tetapi tetap saja gue meringis terkadang.” Zadith kembali mengingat masa kecilnya yang penuh hal menyakitkan tersebut.
“Oh iya, omong-omong orang tua lo ngapain kesini?” tanya Zadith yang menjadi penasaran mengapa orang tua temannya itu jauh-jauh datang ke sekolah mereka.
“Oh itu, sepertinya ingin bertemu sama gue. Tetapi sepertinya juga ada urusan dengan paitia sekolah,” jawab Sera.
“Omong-omong, kenapa lo curhat ke gue? Sebelumnya kan kita belum kenal terlalu dekat?” tanya Zadith dengan sedikit ragu mempertanyakan hal seperti itu akan menyunggu Sera.
“Cuma ada lo di sini,” jawab Sera singkat yang membuat Zadith mengerutkan keningnya sedikit tidak mengerti maksud Sera. “Maksud lo? Gue sendiri?” celetuk Zadith.
“Sebaik gue masuk ke Kingdom, gue nggak melihat apapun, kamar yang lain juga kosong semua. Cuma lo satu-satunya orang yang ada di Kingdom sebelum gue datang, bahkan gue juga tida melihat pelayan lain, semuanya pada kemana sih?” tanya Sera di akhir perkatannya.
“Mana tau tau gue, orang gue di kamar seharian. Lagian lo bilang apa? Gue sendirian? Emang yang lain pada kemana?”
“Yaelah lo! Gue nanya lo malah nanya balik,” ketus Sera. Zadith hanya mengelus dadanya sabar, ia tau sekarang kondisi Sera masih labil, ia harus bida menghadapinya.
“Yuk ke restoran, habis itu temui kedua orang tua lo. Buatkan mereka juga hadiah dan minta maaf,” ajak Zadith. Sera hanya terdiam lama tidak merespon dan terlihat berpikir, “Yaudah deh, yok.”
***
Nayla terlihat sedang duduk di bawah pohon dan diterangi sinar rembulan yang sangat indah, sekarang lagi fase bulan purnama dan sudah menjadi kebiasaan Nayla selalu keluar malam dan mengamati bulan, tentunya dengan mengamati rasi yang ada pada setiap bulan purnama.
"Gila aja sih, di sini benar-benar bebas polusi dan secerah itu?" ungkap Nayla takjub. Ia benar-benar puas tinggal di Starlight School selama sebulan, karena disuguhi berbagai keindahan dan keasrian alam.
Bahkan di siang hari terik sekalipun, kelembapan di pulau Starlight cukup tinggi, suhunya pun sekitaran 20°C. Benar-benar terawat dengan baik, sehingga siapapun pasti bakalan betah bersekolah di Starlight School.
"Sebagus apa mata Lo liat bulan sama mengamati bintang tanpa teleskop?" tanya Rei yang tiba-tiba saja datang ke tempat Nayla duduk. Mereka berdua sedang berada di Kingdom, Nayla dengan Angkasa terpaksa menginap untuk beberapa hari karena emang mereka memiliki urusan yang sangat penting dengan Rei dan Xander.
"Gue kan cuma menikmati, sebagus apapun teleskop dan seluas apapun pandangan objek yang didapatnya, tetap aja lebih indah jika dipandang tanpa bantuan alat apapun, mata tetap alat optik ciptaan Tuhan yang terbaik menurut gue." Nayla membalas perkataan Rei tanpa melihat temannya itu. Ia masih setia melihat-lihat dan mengabsen rasi bintang, lalu mengindetifikasi nama nama bintang.
"Apa alasan Lo suka sama angkasa luar?" tanya Rei kembali. Rei tidak biasa melihat seseorang dapat dengan mudah mengindetifikasi nama-nama bintang bahkan rasinya dan ia bahkan hapal tempat letaknya. Apa lagi kalau dia bukan sangat menyukai angkasa luar?
“Tidak ada yang spesial, semua orang juga menyukai bintang,”
“Tapi tidak dengan hapal dengan semua nama bintang dan rasinya,”
Nayla menoleh ke arah Rei, “A-ah ... itu, gue dulu pernah punya cita-cita jadi astronaut dan sewaktu sekolah dasar udah pernah belajar ilmu astronomi dan udah khatam dalam waktu tiga tahun,” ujar Nayla.
“Berarti lo tau dong makna rasi-rasi bintang?” tanya Rei random yang mendapati anggukan dari Nayla, “Ya begitulah, gue juga suka cerita mitologi yunani kuno. Tentang 48 rasi bintang yang unik, dan belakangan ini gue nostalgia dengan rasi Pegasus. Ia terlihat sangat indah bukan?”