Bukan tanpa alasan dia masih setia duduk di tempat tersebut sedari tengah malam, ada hal yang ingin dipastikannya dan dicarinya, ia juga memanfaatkan hal tersebut untuk melihat kondisi di langit cerah yang menemaninya, saat ia melihat ke arah atas, galaksi andromeda terpampang jelas di matanya yang membuat dirinya semakin bersemangat untuk berlama-lama di tempat tersebut. Tidak lupa juga ia menyaksikan peristiwa hujan meteor yang setiap tahunnya selalu ada dan melewati wilayah bagian utara tempatnya tersebut.
“Gue tau lo ada disana, keluarlah George!” serunya tanpa melihat ke arah belakang.
George turun dari atas pohon yang sedari tadi sudah ia naiki untuk memata-matai temannya tersebut, lebih tepatnya mengawasi saja, George hanya bosan berada di Kingdom, maka ia ingin bermain-main di luar menghirup udara segar di malam hari.
“Sejak kapan lo tau gue berada di sana?”
“Sedari lo datang ke sini,”
“Itukan ... UDAH SEJAM YANG LALU!” teriak George tidak terima, ia capek diam-diam bersembunyi, tetapi ternyata temannya itu sudah mengetahui keberadaannya sedari ia datang?
“Lo tetap sama saja George, nggak pernah cocok memata-matai orang,”
“Lo juga Nay, tetap saja lo itu sulit ditebak, kenapa gue nggak pernah dapat baca maksud dari gerak gerik lo? Selalu saja meleset.” George menghampiri Nayla dan duduk tepat di samping Nayla pada sisi tebing curam tersebut.
“Lo aja yang nggak bisa peka George.” Nayla menatap George yang sekarang berada di sampingnya. “Lo masih saja seperti dulu George, nggak pernah berubah.” Nayla tersenyum tipis, senyumannya menyiratkan banyak hal.
“Itu mulu yang lo bilang.”
“Gimana? Lo puas dengan keputusan lo bersekolah disini?” tanya Nayla.
“Tidak sama sekali, gue jadi makin gila karena semakin banyak melihat sisi mengerikan dari dunia.”
“Benarkah? Coba cerita sama gue,”
“Males, lo siapa gue emang?”
“Cepat aja lo cerita, nggak usah banyak basa-basi.”
George gelisah, ia mendongak ke atas untuk melihat rembulan yang terang, “Sekarang masih purnama ya..” lirih George.
“Lebih tepatnya dua hari yang lalu, sekarang udah mau memasuki fase bulan akhir,” timpal Nayla.
“Lo setiap malam selalu ke sini?” tanya George.
“Iya, sudah tiga harian gue selalu ke sini,” jawab Nayla.
Setelahnya hening, tidak ada pembicaraan, keduanya saling terlarut ke dalam pikiran mereka masing-masing. Sampai George membuka suaranya, “Gue tau, lo sedang merencanakan sesuatu kan?”
“Tidak, itu bukan urusan lo.” Nada Nayla berubah menjadi ketus dan itu semakin memancin rasa penasaran George.
“Lo.. ada hubungan ya sama Xera?” Pertanyaan yang dilontarkan oleh George tersebut membuat Nayla terbelalak kaget, ia dengan spontan menatap George dengan pandangan dingin. Nayla meraih kedua pundak George dengan tangannya dan meremasnya kuat, Nayla mendekatkan wajanya ke arah muka George, “Lo! Udah kelewatan batas George, jangan ikut campur urusan siapapun lagi kalau lo masih mau selamat dan bisa merasakan bernapas lagi.”
Nayla menghempaskan cengkramannya, lalu ia pergi meninggalkan George begitu saja. George hanya terdiam saat Nayla pergi, senyuman terukir dari sisi wajahnya.
“Lo terlalu naif Nay.”
***
“Xian, lo ngapain?” Stella tiba-tiba saja datang pada ruang observasi bintang di Kingdom.
“Hanya melihat-lihat rasi bintang apa yang ada di langit malam sekarang,” jawab Xian.
“Lo suka bintang ya?” Pertanyaan Stella membuat Xian tertawa kecil.
“Lo kenapa tertawa? Ada yang salah kah?” tanya Stella kembali, Xian hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Stella yang seperti anak kecil.
“Tidak ada, hanya saja lo terlalu lucu Stel,” ucap Xian tanpa melihat Stella. Ia masih fokus melihat dengan sebuah teleskop bintang. Ia seperti benar-benar serius mencari sesuatu.
“Itu pujian?” tanya Stella seraya menyandar pada sebuah meja yang ada di ruangan tersebut.
“Menurut lo?” tanya Xian kembali, Xian sekarang seperti berbicara dengan anak kecil.
“Ntahlah, gue semakin sulit mengartikan maksud dari kalimat orang sekarang.”
“Kenapa? Lo ada masalah?” Xian bertanya kepada Stella, ia menyudahi kegiatannya memakai teleskop bintang dan menatap Stella yang memasang wajah kesal seperti anak kecil.
“Tidak ada,” jawab Stella. Xian hanya mengangguk, ia paham bahwa Stella tidak ingin membicarakan hal yang privasi.
“Lo mau ngapain kesini? Mau coba teleskop?”
“Nggak, gue mencari Rei, gue kira dia ada di sini, rupanya kagak ada.”
“Oh Rei.. Dia sering ke sini ya?” tanya Xian kembali.
“Iya, setiap hari kalau gue liat, lo sendiri?”
“Gue baru pertama kali ke sini.” jawaban dari Xian hanya ditanggapi dengan anggukan dari Stella.
“Yaudah deh, gue pergi dulu ya.” Stella langsung pergi keluar tanpa mendengar balasan dari Xian. Stella sudah mendapatkan informasi dan tujuannya, maka dari itu ia sebisa mungkin pergi secepatnya sebelum Xian merasakan hal aneh pada sikap Stella.
Saat Stella berada di depan pintu untuk keluar, Xian tiba-tiba berbicara, “Gue tau tujuan lo Stella Alyna Diardio!” seru Xian dari kejauhan. Stella hanya terdiam, ia tau Xian cerdas, tapi sepertinya ia merasa dirinya lebih manipulatif, mengapa Xian bisa membaca gerakkannya? Tanpa membalikkan badan untuk menanggapi pernyataan Xian, Stella segera pergi meninggalkan ruangan itu.
***
Rei baru saja terbangun dari tidurnya, ia merasa dirinya mulai insomnia semenjak bersekolah di Starlight School. Melihat jam yang masih menunjukkan pukul tiga pagi, Rei bangkit dari tidurnya. Ia membuka kulkas yang ada di kamarnya itu dan mengambil segelas s**u, tidak lupa dengan beberapa roti dengan karbohidrat rendah.
“Kenapa gue selalu terbangun jam segini terus sih?” Rei terlihat kesal dengan dirinya sendiri, ia memakan rotinya dengan perasaan yang campur aduk, tidak lama setelah ia merasa sudah cukup untuk mengisi perut kosongnya, Rei menyudahi dengan meminum segelas s**u tanpa rasa dan rendah lemak.
Rei keluar dari kamarnya di Kingdom hanya dengan mengenakan piyamanya, Kingdom lebih seperti rumah bagi para Starzy, maka dari itu Starzy merasa sangat nyaman tinggal di Kingdom. Meskipun mereka yang tinggal di Kingdom ada 27 orang, tetap saja para Starzy jarang berjumpa kecuali waktu sarapan pagi dan makan malam.
“Tumben masih ada yang bangun,” gumam Rei. Ia melihat beberapa lampu di lantai 2 menyala menandakan masih ada yang berkeliaran jam tiga dini hari.
Rei sekarang ingin pergi ke perpustakaan yang berada di sisi paling atas Kingdom, tepat di sebelah ruang observasi. Rei ingin meminjam dan membaca beberapa novel misteri, entah apa yang membuat Rei tiba-tiba ingin membaca novel misteri, mungkin ia merasakan dirinya cukup tertarik dengan kisah mereka yang berhasil memecahkan teka-teki dan menemukan solusi atas permasalahan yang rumit.
Saat Rei ingin memasuki perpustakaan, ia tidak sengaja melihat Stella dan Xian saling berbicara. Rei hanya melihat dari kejauhan sampai ketika Stella ingin perg keluar ruang observasi, “Gue tau tujuan lo Stella Alyna Diardio!” seru Xian dari kejauhan dan cukup keras hingga Rei mendengar perkataan Xian.
Stella setelahnya dengan langka cepat berjalan keluar dan mengarah ke tempat Rei. Rei yang menyadari bahwa Stella berjalan ke arah tempatnya berada segera masuk ke dalam perpustakaan sebelum Stella mengetahui keberadaannya.
“Hei Rei! Sedang apa?” tanya sebuah suara yang tepat berada di belakang Rei.